Chapter 29: Rank Quest (4)

2542 Kata
Sudah berapa lama dia tertarung seperti ini? Ace tidak tahu, dan tidak bisa memikirkannya. Dia bahkan tidak memiliki waktu untuk sekadar melihat jendela informasi penunjuk waktu. Satu hal yang dia yakini, monster ini telah menjadi jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. “Penambahan bar HP, huh? Bukankah itu curang?” Ace melihat bar HP [King Yedee] yang kini menjadi dua lapis berwarna jingga. Tidak terlalu banyak seperti sebelumnya, tapi ini akan jadi pertarungan yang melelahkan mengingat sebuah evolusi biasanya memberikan kekuatan tambahan atau skill-skill yang belum pernah ditunjukkan sebelumnya. Namun, jika dipikir-pikir, dunia ini hanyalah sebuah game yang dikendalikan system. Evolusi monster adalah hal lazim yang sering terjadi. Namun, bagi Ace, ini bukan sekadar game karena nyawanya tengah dipertaruhkan. Sementara system tidak peduli apakah player itu akan mati atau tidak setelah bar HP-nya habis. Monster itu mengaum seakan memberikan ketakutan, persis seperti [Taunting Cry[ yang dilancarkan [Demonic Orcs] beberapa saat lalu. Akan tetapi, milik [King Yedee] jauh lebih kuat. Dari aura sihirnya saja sudah bisa membuat Ace gemetar. Keringat dingin menetes dari dahi, tapi Ace segera mengusapnya. Seulas senyum tipis terbentuk di wajah Ace ketika mata mereka bertemu. "Dia akan memulai serangan." Ace bergumam sambil mempersiapkan diri. Serangan terjadi lebih cepat dari yang Ace prediksi. Monster itu berlari ke arahnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Bahkan setiap kali kakinya terpijak, lantai es hancur karena tidak bisa menahan tekanan. Menyadari monster itu memiliki kekuatan yang teramat besar, Ace berusaha menciptakan tembok es berlapis dan mempersiapkan serangan. Tembok es yang memiliki enam lapisan hancur dengan mudah oleh kepalan tangan [King Yedee]. Tepat ketika lapisan terakhir retak, Ace menciptakan sebuah pedang besar seperti milik Edgar dan mengayunkannya. Dia meniru beberapa gerakan Edgar yang pernah dilihat selama pertarungan. Walau tidak terlalu mirip, setidaknya dia bisa meniru beberapa gerakan yang tidak membutuhkan kemampuan khusus. “Yah, aku bukan ahli pedang, tapi kuharap ini akan membantu.” Pedang Ace terayun ke sisi kosong monster dengan cepat. Namun, insting binatang buas [King Yedee] berhasil menahan serangan itu. Monster itu bereaksi jauh lebih cepat dari yang Ace perkirakan, seolah benar-benar ingin membunuhnya. Tentu saja kekuatan dan status monster ini telah meningkat sejak mengalami evolusi. Walau bagaimanapun, mereka dikendalikan oleh AI yang dapat merespons serangan lawan dengan mudah. AI yang seolah-olah memberikan akal untuk memilih tindakan selanjutnya untuk mengimbangi player. “Tapi, aku belum selesai.” Ace tiba-tiba membekukan tangan kanannya lagi. Ayunan lengan kanan Ace meninggalkan jejak pada udara yang dilintasinya. Namun, sebelum serangan itu berhasil, Ace merasakan keberadaan di belakang tubuh dan berbalik, melihat pedang [King Yedee] yang merobek punggung dan menjatuhkan Ace ke lantai. Spontan bar HP Ace berkurang drastis. Dia telah terkena serangan telak meski sempat membekukan punggung. “Luar biasa, huh? Aku jadi penasaran berapa damage yang kau miliki.” Tak ingin berlama-lama, Ace segera berguling menghindari pedang monster yang melayang. Merasa serangannya berhasil, monster itu kembali menggenggam pedang. Mungkin berkat evolusi, monster ini bisa mengendalikan sen jata walau tanpa menyentuhnya. Ini akan jadi pertarungan yang lebih sulit daripada yang Ace perkirakan. Keringat menetes dari dahi Ace. Dia melihat jendela status dan mengonfirmasi HP yang tersisa beserta MP-nya. HP-nya telah berkurang banyak, tapi dia memiliki MP yang cukup untuk membentuk setidaknya delapan atau sembilan s*****a. Efek dari aksesoris item yang digunakannya juga benar-benar membantu. [HP: 1802/2867] [MP: 350/ 460] “Aku masih bisa melakukan serangan beruntun.” Tentu saja hidupnya akan berada dalam bahaya yang lebih tinggi setelah ini. Terlebih dungeon ini tidak mengizinkan siapa pun yang masuk untuk keluar sebelum menyelesaikan seluruh quest-nya meski dia memiliki item teleportation sekalipun. Keringat dingin di dahinya kembali mengalir melewati pelipis, lalu turun ke dagu. Sesaat ketika pandangan Ace menilai monster itu, dia merasa tegang. Ace merasa pertarungan ini sedikit tidak adil mengingat seluruh status monsternya telah ditingkatkan berkat evolusi, sementara Ace bahkan tidak diberikan waktu untuk berpikir. Karena daya rusak monster itu telah meningkat, sebisa mungkin Ace harus menghindari serangannya sebelum cooldown skill [Energy Drain] selesai. Dia juga tidak menduga akan menghadapi musuh yang kuat dan cepat. Membuka inventory akan membutuhkan waktu sekitar lima detik dan meminum potion membutuhkan lima detik. Tentu monster itu tidak berniat memberikan Ace sepuluh detik untuk mengisi HP dan MP-nya. Terlebih tidak menutup kemungkinan akan terjadi bug atau delay pada system karena digunakan secara tiba-tiba di kondisi seperti ini. “Aku pasti akan mati bahkan sebelum membuka inventory.” Sedikit lagi. Dia harus bertahan sedikit lebih cepat. Tentu saja tidak mungkin bagi Ace untuk bertahan lebih lama lagi. Dia sudah kehabisan tenaga bahkan sekadar berguling ke samping. Namun, Ace tidak ingin menyerah. Tidak setelah dia melangkah sejauh ini. Ace menatap lurus pada mata monster yang bercahaya, mengambil napas dalam-dalam. Kali ini, dia tidak boleh melewatkan sedikit pun kesempatan untuk menembus pertahanan monster itu. Jarak antara Ace dan [King Yedee] menegang. Rasanya udara di sekitar mulai bergetar di bawah tekanan sihir mereka berdua. [King Yedee] berdiri tegak mengeluarkan auman yang mengguncangkan lantai. Tangannya kembali memegang pedang ketika aura kebiruan berkumpul di kakinya. Monster itu kembali mengayunkan pedang besar ke lantai. Pedangnya membuat sebuah lubang besar seperti terkena ledakan dan meninggalkan jejak hehacuran berupa garis lurus. Ace berteriak dan bersiap untuk serangan selanjutnya. Pedang monster itu datang ke arah Ace berkali-kali dengan tenaga yang kuat. Tidak ada satu pun celah bagi Ace untuk melakukan counter attack. Untuk beberapa alasan, Ace mlihat pergerakan monster ini seperti sword skill tingkat tinggi milik Edgar. Hanya saja milik monster ini jauh lebih cepat dan akurat membuat gerakannya sulit dibaca. Pasti AI monster ini menggabungkan tingkat kekuatan seperti Edgar dengan ketangkasan seperti Niel. Ace berkonsentrasi penuh untuk bertahan dengan menghindar dan menangkis. Namun, serangannya yang sangat kuat sulit sekali untuk dibendung. Equip yang dimiliki Ace sangat jauh dari tank player. HP-nya bahkan jauh lebih dari Hilla yang merupakan tipe penyerang jarak jauh. Terlebih dia melakukan kesalahan dengan mengisi skill point ke magic power secara berlebihan, menyebabkan staminanya rendah. Dia juga menyesal karena meremehkan stat strength dan membuat magic power-nya terlalu tinggi. Pada akhirnya, strength tetap berguna di saat-saat seperti ini. Berkat armor rank tinggi yang dibelinya di kota, serangan-serangan monster itu bisa diminimalisir. "Bahkan dengan armor ini pun kau masih bisa mengurangi seribu poin HP-ku?" Dia bicara seolah monster itu memahaminya. Yah, untuk beberapa alasan, Ace sedikit bingung. Sejauh ini hanya naga itulah yang bisa berbicara kepadanya. Bahkan [Demonic Orcs] atau monster ini pun tidak bisa berkata apa pun kecuali geraman binatang liar. Pedang es miliknya hancur ketika menangkis serangan musuh. Ace melompat ke samping lalu berguling, membiarkan serangan monster itu menghantam lantai. Dia tidak boleh terkena se rangan sedikit pun mulai saat ini. Dengan jantung yang berdetak kencang, Ace mulai berlari menjauh, membuat jarak sebisa mungkin dari monster itu sambil mempersiapkan sebuah skill. “Yah, aku rasa ini akan jadi skill andalanku setelah [Frost Barrage].” Ini bukan lagi pertarungan, melainkan upaya menyambung nyawa. Jika serangan ini berhasil, Ace akan selamat. Tapi, jika satu gerakan saja mengalami kesalahan, Ace akan benar-benar tamat. Setelah merasa cukup jauh, Ace tidak ingin melewatkan kesempatan itu dan menerjang lurus dengan teriakan tajam. Ketika jarak semakin terkikis, Ace segera membentuk pedang panjang lalu menangkis pedang monster yang turun. Ace mengentakkan kaki ke lantai, membentuk rantai-rantai es untuk menahan pergerakan monster. Ace mengayunkan pedangn kanan mendatar. Monster itu dengan mudah menahannya dengan sebelah tangan. Sejumlah percikan cahaya kebiruan berterbangan di antara wajah mereka selama beberapa detik. Namun, jelas ini bukan pertarungan yang adil. Monster ini tidak akan mati meski bar HP-nya habis. Dia tidak punya nyawa. Tapi, bagi Ace, bar HP adalah bukti kehidupan nyatanya. Terlebih bahwa monster ini dikendalikan oleh system yang memberikan kekuatan pada Ace. Sekadar serangan biasa tidak akan mempan kepadanya. Karena itu Ace harus memikirkan cara lain untuk menghadapi monster ini. Monster itu mengaum marah. Dia langsung membalas begitu Ace menunjukkan kelengahan sekecip apa pun. Keadaan di antara mereka belum menunjukkan tanda-tanda akan berubah. Ace mempertajam pandangan pada mata monster, berusaha memahami apa yang AI pikirkan saat ini. Mereka saling bertukar pandang, tapi mata monster itu hanya melempar tatapan dingin dan sunyi. Ace menarik pedang dan menusuk monster dengan satu gerakan kuat. Bar HP [King Yedee] yang kini berada menuju lapisan terakhir terlihat berkurang. Namun, karena titik lemahnya sudah hancur dan tubuhnya diselimuti kristal, serangan Ace tidak terlalu berdampak seperti sebelumnya. [King Yedee] mencoba melakukan serangan balasan dengan menggerakkan lengan kanan. Kali ini, Ace menangkis serangan itu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya membentuk sepasang rantai yang melilit tubuhnya secara diagonal. Saat postur tubuh monster terpengaruh rantai, Ace mencoba melakukan sword skill yang telah ditirunya dari Edgar. Tangan kanan Ace menebas secara horizontal ke arah perut monster itu. Lalu, Ace membentuk satu pedang lagi di tangan kiri dan menebas secara vertical. Dia mengayunkan pedang seakan saraf di kepala telah merekam gerakan Edgar dan Karein dengan sangat baik. Suara dari kristal yang beradu terdengar keras satu demi satu ketika cahaya kebiruan berkelip di udara. Ini adalah skill yang Ace ciptakan setelah mengagumi permainan pedang Karein dan Edgar, menggabungkan keduanya, lalu Ace menamai skill ini sebagai [Infinite Strike] yang memiliki serangan kombo. Tanpa memperhatikan beberapa serangan yang berhasil ditahan oleh monster itu, Ace terus mengayunkan pedang. Mata Ace memanas dan pengelihatannya hanya menangkan cahaya kebiruan yang dihasilkan dari pedang esnya. Meskipun cakar monster itu mengenai tubuh Ace beberapa kali, semua itu terasa sangat jauh. Sesuatu yang membara bergejolak di d**a Ace setiap ayunan pedangnya. Serangan kesepuluh berhasil mengenai bagian tengah tubuh monster itu, memancarkan percikan kebiruan. “Sedikit lagi!” Ace berseru sambil terus melancarkan serangan. Dia tidak bisa bergantung pada system. Untuk saat ini, dia harus memercayai kekuatan imajinya sendiri. Jika seandainya sebuah skill yang diterima player merupakan cerminan semasa hidup, itu artinya system ini sangat mengenal Ace. Dia adalah seorang yang mengandalkan imajinasi selama hidup. Membayangkan segala hal yang diinginkan tanpa pernah mewujudkannya. Namun, di tempat ini, Ace bisa mewujudkan segala hal yang bersarang di benak. Pedang, busur, rantai, perisai, apa pun itu selama Ace memiliki imajinasi, dia bisa membentuk semua itu sesuka hati. “Ya, meski system yang memanggilku, aku tidak akan terus bergantung kepadanya!” Setelah beberapa saat, ayunan pedang Ace bertambah cepat. Udara di sekitar semakin dingin dengan beberapa bagian tubuh monster membeku akibat sihirnya. Ace meneruskan serangan tanpa memedulikan berapa banyak poin HP dan MP yang berkurang. Dia tidak punya waktu untuk merasa ragu atau takut. Dia memaksakan diri untuk mengabaikan rasa sakit yang didapat dari monster dan berkonsentrasi memberikan serangan kepada musuh dengan sekuat mungkin. Sebuah ayunan terakhir dari [Infinite Strike] menusuk d**a [King Yedee]. Monster raksasa itu kembali mengaum ke arah kubah dengan napas kebiruan berembus keluar dari mulut dan hidungnya. “Maju!” Ace tak berhenti. Dengan mengandalkan magic power yang berada di atas segala statusnya, Ace mengeluarkan aura sihir es yang membekukan monster itu melalui pedang. [King Yedee] berhenti bergerak. Bar HP-nya berkurang secara drastis sebelum pecah menjadi polygon yang tak terhitung jumlahnya. Selama itu, pandangan Ace dipenuhi kerlap-kerlip cahaya beragam warna yang tak kalah terang dari cahaya kebiruan di sekeliling ruangan. Tepat setelahn cahaya itu meredup, Ace merasakan perasaan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. “Ini … sudah berakhir?” Dia menang. Kelelahan tiba-tiba menggelayuti tubuh Ace, membuatnya terduduk di lantai, seakan merasa tidak mampu melakukan apa pun lagi untuk beberapa saat. Dia mengumpulkan napas untuk waktu yang lama sebelum mengangkat kepala. Dia melihat sekeliling, tapi gagal menemukan sesuatu yang berbeda di ruangan. Kedua pedang dan rantai-rantai buatannya ikut menghilang. Dengan segera Ace memerika bar HP di ujung pandangan. [HP: 22/2867] [MP: 75/ 460] Ace tertawa ketika melihat bar HP. Ini kedua kalinya bar HP-nya berada di zona merah. Seandainya saja serangan monster itu lebih cepat mengenainya, Ace pasti sudah mati. Dia tidak bisa membayangkan kalau dia tidak memiliki agility yang cukup untuk melakukan skill barusan. Sekarang dia tidak bisa lagi berdiri atau bahkan mengangkat kepala. Beberapa detik kemudian pesan-pesan kenaikan level dan penyelesaian second quest mulai bermunculan di udara. [You leveled up!] [You leveled up!] [You have completed ‘Second Quest: Kill the King Yedee!] Selesai. Namun, Ace tidak bisa lagi berdiri atau menggerakkan tubuh. “Bagaimana jika aku tidur sebentar?” Ace bergumam sebelum pengelihatan Ace menjadi kabur dan gelap. Perlahan merasa kesadaranya menjauh dan Ace tertidur di atas lantai dingin es berselimut kabut. Setelah memejamkan mata selama beberapa menit, rasa lelah di sekujur tubuhnya telah berkurang. Saat duduk, rasa sakit menusuk kepala dan membuat Ace berjengit. Udara di sekitar terasa sangat dingin. Di mana dia sekarang? Ketika membuka mata, di sekitarnya diterangi cahaya kebiruan beserta sebuah kubah jeruji yang terbuat dari es. Setelah beberapa saat, Ace menyadari bahwa dirinya masih berada di dungeon sebelumnya. Jeruji-jeruji es di sekeliling masih berjajar rapi berkat regenerasi yang dilakukan system. Cahaya kebiruan masih beterbangan di sekitarnya. Sepertinya dia kehilangan kesadaran selama beberapa menit. Namun, ini lumayan aneh. Kenapa dia masih berada di sini? Bukankah quest sudah selesai dan harusnya dia kembali ke penginapan? Sewaktu membunuh naga pertama kali, Ace langsung terlempar ke kamar penginapan dan dirawat oleh teman-temannya. Tapi, dia masih berada di ruangan ini meski telah mengalahkan [King Yedee]. Jangan-jangan Ace harus mencari jalan keluar sendiri atau mungkin quest-nya belum selesai? Ketika pemikiran itu terlintas, bunyi peringatan dari system berbunyi di kepala seolah sedang menunggu. Fakta bahwa dirinya masih hidup tak membuat Ace senang atas keadaan, terutama ketika pesan-pesan itu muncul kembali. [You have completed ‘Second Quest: Kill the King Yedee!] [The Third Quest is now avaible] [Will you take on the third quest now?] (Y/N) [The quest will be automatically start in 10 seconds] Sepuluh detik? Mata Ace membulat ketika melihat hitungan waktu mundur. Apakah dia tidak melihat peringatan itu sebelumnya? Pasti karena terlalu lelah, dia mengabaikan pesan-pesan system yang masuk lalu tertidur. “s**l. Ternyata ini belum selesai?” Ace merutuk sambil membuka jendela informasi quest. Jika tahu quest-nya akan berlanjut, Ace pasti memanfaatkan waktu untuk istirahat sebentar dan memulihkan stamina yang dihabiskannya. Namun, dia hanya memiliki delapan detik sebelum lanjut ke quest berikutnya. Level Ace sekarang dua puluh tujuh, tapi karena peraturan system, dia tidak mendapat pemulihan HP dan MP. Waktu cooldown [Energy Drains] juga masih belum selesai. Ketika tersisa lima detik lagi, Ace bergegas membuka inventory dan menegak masing-masing dua potion. Cairan yang mengalir merupakan potion berkualitas menengah dengan rasa seperti campuran teh hijau dan daun mint. Dua botol akan memulihkan HP dan MP-nya dalam sekejap, tapi stamina Ace tidak dapat pulih tanpa istirahat yang cukup. Dia juga harus mempertimbangkan penggunaan [Energy Drains] secara efektif. Bisa saja musuh selanjutnya jauh lebih berbahaya. [The quest will be automatically start in 1 seconds] Satu detik lagi. Ace menarik napas panjang lalu berdiri, membersihkan pecahan kristal yang mengotori jubah putihnya. Dengan kedua tangan saling bertumbuk, Ace telah bersiap menuju pertarungan selanjutnya. [The ‘Third Quest: Obtained the King’s Crowns 0/1 has started] [Third Quest: Obtained the King’s Crowns 0/1] [Difficulty: Rank A] [Reward: Rank Change Permit] [Time Limit: 30 minute] [Failure: Death] [QUEST START!] Di saat pesan itu berakhir, pintu jeruji es telah terbuka dan asap kebiruan muncul di baliknya. Suara dentingan seperti logam terdengar kuat. Ketika Ace menyipitkan mata, sebuah jalan setapak yang dikelilingi api biru menyala terhampar menuju kegelapan tak terbatas. Sensasi dingin yang membuatnya merinding mulai menggelayut di sekitar. Kemudian, sebuah pertanyaan terbesit dalam benak Ace. Apakah … ini pertarungan terakhirnya? Meski begitu, Ace tidak bisa tenang ketika aura sihir yang kuat seolah-olah sedang menngintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN