Chapter 24: At Long Last

1066 Kata
Menyaksikan pertarungan Ace, Allura dibuat setengah terpana. Allura dan Ace berada di perjalanan menuju sisi lain Dawn Grimmer, membiarkan kelompok party berjalan lebih dulu atas permintaan Allura. Sarang bluriz sudah berada jauh di belakang mereka dan dungeon rank A itu sudah tertutup kembali. Butuh waktu cooldown yang cukup lama sampai sebuah dungeon terbuka kembali. Allura menyembunyikan tangannya ke belakang tubuh ketika sampai di sebuah menara tinggi yang berdiri di pinggir kota. Katanya, menara ini pernah dipakai player lain untuk mengintai keadaan di luar, tapi sekarang hanya ada mereka berdua. Pemandangan Dawn Grimmer di bawah matahari terbenam terlihat seperti kerumunan kecil dengan kerlap-kerlip cahaya lentera yang mulai tergantung di pintu-pintu bangunan. Karena tempat ini jarang dikunjungi player, Allura menjadikannya tempat untuk bersantai sejak dirinya terlempar ke Erfheim. Tanpa Ace sadari, Allura melirik lelaki yang berdiri di sampingnya. Tatapan Ace lurus menghadap langit kemerahan yang terbentang tak berbatas. Entah kenapa dia merasa bahwa Ace bersikap lebih dingin sejak masuk ke Erfheim. Mata Allura kembali terpaku pada sepatu bot pendek berwarna cokelatnya. Ketika dia berusaha mengangkat kepala, pandangannya secara otomatis melayang ke arah Ace dan membuatnya gugup. Sewaktu di Hilfheim, dia selalu memulai percakapan dengan Ace yang mengasingkan diri di pojok ruangan. Lelaki ini, yang sering merasa kikuk tiap kali Allura memanggil dan mendekatinya. Namun, Ace sudah berbeda sekarang. Saat ini, Allura merasa Ace telah dipenuhi rasa kekuatan tertentu sehingga sulit bagi Allura untuk berbicara. Pada akhirnya Allura dengan susah payah memecahkan kebekuan. “Aku senang kau pada akhirnya bisa menggunakan sihirmu.” “Ah, ya, itu … agak sedikit mengejutkan.” Ace menggaruk belakang kepalanya canggung. Allura tersenyum simpul. Dia bisa melihat perubahan ekspresi Ace dari ujung pandangan. “Yah, bagaimanapun, pada akhirnya kau telah berjuang sampai titik ini. Sudah berapa lama sejak kita terlempar kemari? Kurasa, kau akan terus berkembang menjadi seseorang yang hebat.” “Kau … juga keren kok.” Saat mengatakan itu, Ace tidak berbohong. Di Hilfheim, Allura adalah perempuan malu-malu yang dikelilingi banyak lelaki tampan. Dia adalah perempuan sempurna yang cantik, pintar, dan terlahir dari keluarga kaya. Namun, tanpa alasan yang tidak Ace ketahui, perempuan itu malah memilih bergaul dengannya. Karena hal itu juga, Allura jadi dikucilkan teman-teman perempuan dan dikatai pecundang. Dia sering mendapat bully ketika memasuki kelas tiga SMA karena kedekatannya dengan Ace. Padahal Ace sudah memperingatkan Allura agar menjauh darinya, tapi perempuan itu menolak. Dia bahkan terus menemui Ace ketika istirahat sampai kelulusan.   Awalnya, Ace menduga kalau Allura hanya prihatin kepadanya. Namun, ketika mendaftar ke universitas, mereka kembali bertemu. Sejak saat itu mereka berdua semakin akrab. Bully yang dialami Allura membaik, tapi Ace tetap mengalaminya seolah-olah masa lalu tidak pernah terlepas darinya. Siapa sangka kalau mereka bertemu kembali di dunia virtual? Ace tidak pernah memikirkannya. Bahkan saat dirinya terlempar kemari pun, dia tidak menyangka perempuan ini ikut merasakannya. Beberapa hari lalu, Ace yang terpukau dengan keberanian Allura. Perempuan itu tanpa rasa gentar maju, memegang tongkat dan buku sihir untuk membantu teman-temannya di garis depan. Padahal di dunia nyata, Allura adalah tipe yang mudah ditakuti. Entah karena langit Dawn Grimmer mulai memerah, Ace melihat Allura tersipu. Sampai pada akhirnya Allura berbisik dengan suara pelan selagi Ace meliriknya. “Ace ….” “Hm?” “Kalau kita benar-benar tidak bisa keluar dari sini, apa yang akan kau lakukan?” Allura memberanikan diri untuk menatap Ace. Pandangan Allura menyisir wajah lelaki yang selalu ada di hatinya, seolah untuk beberapa alasan, dia tidak ingin berada jauh darinya lagi. Allura tidak tahu sejak kapan dia jadi memperhatikan Ace. Hatinya gelisah ketika tidak mendapati keberadaan lelaki itu, terkadang sampai terasa menyiksa. Mungkin dirinya benar-benar konyol. Tapi, salah satu alasan dia tetap berjuang di tempat ini karena keinginannya untuk bertemu kembali dengan Ace. Dan sekarang, setelah pertemuan mereka, Allura ingin terus berada di sisi Ace dan memperhatikannya. Ekspresi Ace berubah jadi bingung. Namun, itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum Ace menjawab, “Mungkin jalan-jalan setiap hari? Atau berdagang? Meski ini dunia virtual, kita tetap bisa mati kelaparan kan? Kalau memungkinkan, aku ingin menjelajahi bagian lain dari Dawn Grimmer.” Tiba-tiba Allura tertawa. “Itu … jawaban yang benar-benar Ace, ya.” “Y-ya?” Merasakan bahwa suasana hati Allura telah membaik, Ace cepat-cepat ikut tersenyum. Mungkin karena kematian sangat dekat dengan mereka, Allura jadi tegang tiap memikirkan kehidupan setiap hari. Ketika dia membuka mata, bersiap memakai armor dan weapon untuk mempertahankan kehidupan. Sebelum kemunculan Ace, Allura memikirkan itu setiap hari. Apakah dia bisa keluar dari sini? Bagaimana jika ternyata semua jiwa akan tetap terkurung sampai mati? Allura membayangkan dirinya yang tidak bisa bertemu keluarga dan juga … Ace. Dadanya menjadi sesak setiap pikiran-pikiran itu muncul, tapi setelah kemunculan Ace, Allura merasa tenang. Kalau dipikir-pikir, sudah berapa lama dia memperhatikan Ace? Sejak terjebak di Erfheim, dia selalu dipenuhi kekhawatiran apakah rekan-rekannya akan terluka pada hari mereka melakukan raid atau tidak. Dan hasilnya, dia selalu merasa gugup dan tenang. “Ace.” Allura memanggil sekali lagi. “Setelah keluar dari tempat ini, maukah … jalan-jalan bersamaku? Aku ingin mengatakan sesuatu.” “Kau … tidak bisa mengatakannya sekarang?” Tanpa Ace sadari, jantung Allura berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Apa yang saat ini Allura pikirkan? “Ah. Itu … adalah sesuatu yang bisa kuucapkan di dunia nyata.” Ace mengangguk seolah dirinya mengerti. “Baiklah. Aku akan menantikannya.” “Terima kasih.” “Ya?” “Karena kata-kata yang Ace ucapkan membuat hatiku jadi tenang. Sejujurnya, aku sedikit ketakutan setiap memulai raid, tapi hari ini, aku melihat kau maju ke garis depan tanpa keraguan. Itu … menghilangkan ketakutanku.” Allura mengangkat kepala dan menunjukkan pada Ace sebuah senyuman. Waktu seakan membeku ketika Ace melihat wajah Allura yang tersenyum seperti anak kecil. Dia menyadari bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya karena senyuman itu. Senyum yang Ace suka sejak pertemuan pertama mereka, sekaligus senyum yang pernah menyelamatkan Ace dari keputusasaan. Seperti langit yang berwarna, mata Allura bersinar ketika menatapnya. Cantik. Selain cantik apalagi kata-kata yang bisa menggambarkan perempuan ini? Fakta bahwa seseorang yang dekat dengannya bisa tersenyum seperti ini memberikan rasa lega yang kuat di hati Ace. Namun, Ace sadar bukan waktunya untuk memikirkan hal-hal semacam itu. Ace sadar mereka sedang berada di permainan maut. “Hmm, haruskah kita kembali? Mungkin saja mereka mengkhawatirkan kita.” Allura mengangguk, kemudian mulai melanjutkan perjalanan. Di bawah matahari terbenam, jalanan Dawn Grimmer yang ramai memantulkan cahaya kemerahan. Kegelisahan Ace tentang dunia ini seakan ikut tenggelam bersama matahari. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN