Energi sihir yang besar berkumpul di telapak tangan Ace. Dinding es bercahaya biru yang kokoh berdiri di hadapan mereka, sementara [Demonic Orcs] itu tetap melancarkan serangan.
Ace merinding membayangkan dinding yang keluar dari tangannya telah menyelamatkan mereka. Saat dia menoleh pada tem an-temannya, mereka juga terkesiap, bahkan Niel.
“Wah, selamat!” Edgar tersenyum lebar, menepuk pundak Ace kuat-kuat. “Sihirmu itu menyelamatkan kita. Kau lumayan keren.”
“Heh, jangan senang dulu,” tukas Lucas. Dia menunjuk retakan-retakan yang mulai muncul di dinding es tersebut. “Lihat, ada masalah yang lebih besar sekarang.”
Tak lama kemudian, dinding es itu tak sanggup menahan serangan sihir lagi. Mereka mulai awas. Rantai-rantai Niel terlepas saat empasan angin yang begitu kuat muncul ketika dinding es sepenuhnya runtuh. Hilla bersiap dengan panah, begitu pula Allura yang kembali memakaikan sihir peningkatan pada mereka.
“Sepertinya pertarungan ini akan sedikit lama.” Lucas seolah memperhitungkan. “Tapi sayangnya stamina kita akan benar-benar terkuras. Jadi, yang paling bagus saat ini adalah melakukan serangan beruntun.”
“Tentu. Itulah yang kami pikirkan juga.” Kairen maju dengan aura kemerahan yang menyelimuti tubuhnya. “Dia datang! Bersiap menyerang! Aku akan maju lebih dulu!”
Anggota party lain mengangguk. Di belakang Kairen, Edgar siap melanjutkan serangan dengan pedang-pedang kecil yang melayang di sisinya, sementara Demian dan anggota lain menunggu instruksi.
Meski situasi ini adalah sebelas lawan satu, mereka tidak bisa bertarung sekaligus. Hal itu dikarenakan aura skill player dengan kecepatan yang lebih cepat dari pandangan bisa menjadi gangguan. Jadi ketika menyerang boss musuh, mereka perlu bekerja sama yang disebut [Party’s Combos].
Setelah ayunan penuh Kairen mengurangi HP [Demonic Orcs] itu sebanyak lima persen, posisi berdirinya agak goyah.
“Ganti!” Kairen berseru sambil menarik pedangnya lalu mundur, membiarkan Edgar maju. Sementara di belakangnya, Niel dan Lucas telah siap menyerang.
Orc itu mengerang dengan suara aneh, tapi Edgar tidak memedulikan hal itu dan langsung melakukan advanced attack. Tusukan dari pedang-pedang kecil yang melayang mendarat satu per satu, mengenai titik target yang telah ditentukan Edgar. HP [Demonic Orc] terus berkurang meski setiap serangan tidak membuat damage yang besar, tapi jumlah serangan yang bertubi membuatnya kesulitan menghindar.
Setelah serangan bertubi Edgar berakhir, dia mengubah pola serangan dan menebas dua kali di kaki musuh. Dengan ujung pedangnya yang bersinar keabu-abuan, dia mengayunkan pedang sekuat tenaga di bagian atas dan bawah membentuk garis diagonal. Itu adalah sword skill level tinggi yang membentuk enam belas combo. Membuka celah serangan sekaligus menghentikan pergerakan lawan dengan anak-anak pedang dengan damage kecil, lalu mengakhirinya dengan serangan besar. Kemampuan Edgar barusan telah mengurangi sekitar lima belas persen dari HP [Demonic Orcs].
Tidak ingin terpana melihat kehebatan skill itu, Ace kembali fokus. Dia memang berdiri di garis belakang dan melindungi Allura, tapi dia telah bisa menggunakan sihirnya sekarang. Sambil mengingat-ingat apa yang diucapkannya ketika dinding itu muncul, pandangan Ace tetap awas.
Edgar berteriak kepada Niel yang telah bersiap dengan rantai-rantai merah kehitaman. “Niel, maju!”
Ketika Niel mengangkat scythe-nya, rantai-rantai itu bergerak menyerang seperti cambuk. Tentu saja [Demonic Orcs] bisa menghindari serangan dengan mudah karena tingkat kecepatan Niel tidak setara dengan sword skill Edgar. Namun, yang terpenting adalah celah yang berhasil diciptakan mereka. Musuhnya jadi terfokus menghindari serangan Niel sementara bagian rantai lainnya berhasil mendapatkan kedua kaki musuh, lalu melilit sekujur tubuh dan tidak bisa membalas serangan.
Lucas segera menerobos dengan sebuah skill dengan kecepatan tingkat tinggi. Dia memelesat untuk membuat sebuah break point dengan sengaja di tenga-tengah pertarungan dan bertukar tempat dengan Demian yang memiliki damage paling besar di sini.
“Hancurkan perisainya! Weak point musuh ini ada di di tangan!” Lucas yang telah kembali ke posisi berseru.
dasarnya, setiap musuh memiliki part point dan weak point. Jika serangan mengenai part point, dampak damage tidak akan terlalu efektif, tapi jika serangan mengenai weak point, dampak damage bisa meningkat sampai tiga kali lipat. Namun, membutuhkan testing beberapa kali serang untuk mendapatkan titik lemah tersebut. Dalam situasi seperti ini, yang paling efektif adalah menggunakan serangan dengan tingkat critical tinggi, seperti Hilla, tapi masalahnya ada pada celah yang sulit digapai.
Seperti musuh yang saat ini mereka hadapi. Dia memiliki defense kuat yang sulit ditembus dengan weak point yang tersembunyi. Mereka harus menyerang beberapa part untuk mengetahui weak point dan serangan Lucas yang memiliki kecepatan tinggilah yang berhasil mendapatkannya.
Setelah memastikan [Demonic Orcs] terkena stun skill Lucas, Demian menerjang dengan cepat ke arah [Demonic Orcs]. Sesuai perkataan Lucas, dia mengincar bagian perisai setelah Niel dan Lucas keluar dari jarak serangan. Karena sihir Demian merupakan tipe AoE, akan sangat berbahaya jika ada player lain di area serangannya. Kecuali kalau player tersebut adalah tanker atau seseorang dengan jumlah HP yang tinggi.
[Fire Burst] yang digunakan Demian untuk menyerang telah berhasil menembus pertahanan musuh. Ketika perisainya pecah, HP [Demonic Orcs] berkurang hampir tiga puluh persen. Monster itu beraksi dengan ganas, mungkin karena AI dari monster ini memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi ketika merespons pola serangan penyerangnya.
Warna nama monster itu berubah dari merah menjadi jingga, menandakan lapisan HP-nya telah berkurang. Biasanya boss akan memiliki tiga sampai empat lapisan HP dengan total seratus persen. Setelah melakukan serangan bertingkat, mereka telah berhasil mengurangi lima puluh persen.
Kairen dan dua anggota [Knight of the Bloods] telah membentuk garis pertahanan ketika monster itu menyerang, sedangkan anggota lain mempersiapkan skill dengan damage besar untuk mengakhiri pertarungan.
“Ace, kau bisa melakukannya lagi kan?” Edgar tiba-tiba mundur ke sisi Ace dan bertanya tanpa mengalihkan pandangan.
Ace menoleh dengan cemas. “Apa yang harus kulakukan?”
“Niel akan menghentikan gerakan dengan rantai, dan aku akan membuka jalanmu. Setelah itu, pastikan kau melesat menuju bagian kanan, serang dia untuk membuat celah sehingga Hilla bisa menembakkan panah tepat ke weak point.”
“Akan kucoba.”
“Kau harus bisa. Ini adalah kombinasi serangan yang terakhir.”
“Tapi—“
“Kami percaya padamu.” Setelah mengatakan hal itu, Edgar melesat tanpa menunggu jawaban Ace, kembali berdiri di sisi Niel yang telah siap menyerang.
Firion yang menggunakan pedang tipis menangis serangan musuh, lalu mundur ke belakang, memberikan ruang bagi Niel dan Edgar.
Niel kembali mengirimkan rantai-rantainya untuk mengekang monster itu, tapi ternyata AI yang mengendalikannya telah bertambah pintar. Dia melompat sebelum rantai-rantai Niel mencapai kedua kaki, tapi Lucas telah menanti di atas. Sebuah tendangan yang diliri listrik menghantam kepala [Demonic Orcs] dan membuatnya terpental ke tanah.
Anggota party dibuat terkesan dengan kecepatan orc bertubuh besar itu dengan gerakan bangkitnya yang cepat. Dia berhasil menghindari ayunan rantai Niel sekali lagi, tapi serangan Edgar telah menyambut.
Edgar mengirimkan empat ayunan pedang kuat yang menurun ke arah kanan, lalu memutar pergelangan tangan dan menebas ke atas, mengikuti jejak tebasan tadi seperti ayunan baseball. Setiap kali pedangnya mengenai tubuh musuh, terdengar suara benturan yang diiringi cahaya keabu-abuan keluar.
Monster itu mengangkat pedang untuk menangis serangan yang dipikirnya akan datang dari arah yang sama, tapi Edgar memutar arah serangan. Dia bergeser ke samping dan membiarkan Demian menyemburkan api dari kedua tangan. Ketika monster itu mundur beberapa langkah untuk menghindar, Edgar mengayunkan pedang secara vertical ke arah kanan bahunya yang tidak seimbang, lalu menabrakan bahunya agar monster itu tidak bisa menghindar.
“Ace, sekarang!” Edgar berseru kepada Ace yang berdiri di tempat seperti orang bodoh.
Ace buru-buru mengangkat kedua tangan, mencoba mengingat-ingat apa yang dia lakukan hingga dinding itu muncul? Ace mencoba mengingat-ingat. Apa yang dia lakukan hingga dinding itu muncul? Dia—ah, dia ingat. Dia memikirkan hal yang dibutuhkannya saat ini, lalu sihir itu muncul. Begitukah? Ace tidak tahu dengan pasti, tapi dia ingin mencoba teorinya itu. Dia memandang monster itu, sambil memikirkan kebutuhannya saat ini. Sebuah serangan yang dapat memberikan celah bagi Hilla.
Rantai-rantai Niel menguat saat monster itu memberontak sementara Demian melakukan [Fire Burst] sekali lagi. Namun, Demian berjengit ketika sebuah tombak es meluncur di atas kepala, menancap di bahu kanan monster yang tidak terlindungi.
“Hei! Kau mau membunuhku ya!” Demian menoleh kesal kepada orang bodoh yang hampir membunuh temannya sendiri.
Ace terkekeh pelan. “Maaf, aku masih payah.”
Demian berdecih. Ini bukan saat yang tepat untuk mengajak pecundang guild mereka bertengkar sementara [Demonic Orcs] itu berontak semakin kuat. Rantai-rantai Niel terlepas dan ayunan pedang musuh hampir mengenainya. Namun, sebelum serangan itu berhasil, Ace menciptakan dinding dan pijakan es untuk melindungi Niel yang terlontar di udara.
“Kau berutang padaku, Niel.”
Niel berdeham, seolah tidak peduli. Dia mengibaskan scythe-nya lagi lalu kembali mengeluarkan rantai, lalu menatap bar HP monster itu yang telah berganti warna menjadi kuning. Lapisan terakhir.
Niel berseru sembari kembali menyerang. “Sekali lagi!”
Firion dan Karein maju bersama ke sisi Niel, sementara Edgar menggunakan sword skill [Flash Moon] untuk mengalihkan perhatian. Di barisan belakang, Hilla telah bersiap menarik busur panah. Aura kehijauan dari lingkaran sihir di bawah kaki telah membungkus tubuhnya.
Monster itu tak mau kalah. Dia menggunakan [Taunting Cry] sekali lagi untuk mengacaukan aliran sihir. Memang benar bahwa aliran sihir itu telah membuat mereka ketakutan di awal pertarungan, tapi mereka juga punya healer di sini.
“[Esta!]” Cahaya putih cemerlang keluar dari buku sihir Allura yang melayang di udara dan membentuk lingkaran yang semakin membesar. Itu adalah jenis support magic yang berfungsi untuk menetralkan aliran sihir, sekaligus kemampuan langka healer dengan rank D ke atas.
Kesal karena [Taunting Cry]-nya gagal, monster itu mengayunkan pedang dengan membabi buta. Edgar mengangkat pedang untuk menangkis serangan, lalu menyerahkan serangan selanjutnya kepada Ace yang tengah berlari sambil menyatukan kedua tangan.
“[Frost Barrage]!”
Lingkaran sihir yang besar tercipta di depan kedua tangan Ace. Kepingan-kepingan es berujung tajam melesat ke arah monster, menusuk secara acak. Pemandangan di depan Ace terlihat seperti kilasan. Satu-satunya yang bisa dia lihat hanya bayang-bayang kebiruan yang bergerak tajam menusuk sesuatu.
Namun, karena perbedaan level antara Ace dan [Demonic Orcs], serangan Ace tidak memiliki damage yang cukup. Terlebih Ace hanya meniru skill [Fire Burst] Demian dan menamainya sendiri. Jadi serangan Ace terlihat sangat menyedihkan. Ya wajarlah, Ace hanya player bodoh yang baru bisa menggunakan sihir, bukan seorang pro player.
[Demonic Orcs] berteriak marah begitu skill Ace terus menghujaninya dengan kepingan es. Sayangnya, selama MP-nya tetap ada, maka skill itu tidak akan berakhir kecuali Ace sendiri yang menginginkannya.
Di belakang sana, mata Allura berbinar-binar penuh kekaguman melihat Ace. Perpaduan [Frost Barrage] dan [Defenses Chain] telah menghentikan pergerakan [Demonic Orcs]. Monster itu bahkan tidak bisa menggerakkan
Sayangnya, pemandangan keren sekaligus konyol itu diakhiri segera oleh Hilla. Dia menarik busur panah dan memelesatkan tiga anak panah yang diselimuti aura hijau tepat ke weak point. Tulisan-tulisan ‘critical hit’ mengambang di udara. HP [Demonic Orcs] berkurang drastis hingga berada di area merah. Karein menggunakan sisa tenaga untuk melakukan tebasan horizontal ke arah kiri. Pedangnya mengenai lengan musuh yang berwarna kemerahan terang, menciptakan garis bersinar merah.
[Demonic Orcs] yang harusnya terpaut dua puluh level dari Ace kini terbaring di hadapan dengan kedua lengan yang terpotong. Sihir Ace telah berhenti. Lalu beberapa detik kemudian, tubuhnya berubah menjadi kepingan cahaya.
[You leveled up!]
Pesan kenaikan level terus berdering di kepala Ace. Berkat perbedaan level, Ace mendapat banyak exp saat monster itu mati.
Ace terengah-engah, melirik bar MP-nya yang tersisa 24/240. Dia merasa seluruh kekuatan di tubuhnya terkuras habis karena mempertahankan [Frost Barrage] yang terus mengonsumsi MP-nya. Dia benar-benar telah mempertaruhkan semuanya dalam serangan ini. Kemudian, sebuah tepukan di bahu membuat Ace menoleh.
“Kita menang!” Hilla tersenyum lebar kepadanya. “Kau benar-benar keren, Ace!”
Hanya perempuan itu yang masih terlihat bersemangat. Selain karena bertugas sebagai backup, Hilla telah banyak membantu sewaktu menghadapi kerumunan lizardman itu dan sekarang kontribusinya dalam membunuh boss juga sangat bagus. Sekejap Ace jadi iri.
[All the monsters in the room have been defeated. The Final Quest will end now]
[You have met the conditions to clear the final quest!]
Sebuah dadu melayang di udara. Sisi-sisinya dipenuhi tanda tanda. Hadiah dungeon edisi terbatas yang akan berputar sesuai angka dadu yang muncul. Hanya dungeon dengan rank B ke atas yang mendapatkan hadiah spesial. Isi di dalamnya bermacam-macam, tapi semuanya adalah item rank atas. Jadi kemungkinan item yang keluar mulai dari rank B sampai rank SSS. Yah, pada akhirnya semua anggota party akan mendapatkan bagiannya.
“Lebih baik kita keluar dulu, huh?” Karein menyarungkan pedangnya kembali, lalu menatap anggota party.
“Yea, kupikir lebih baik begitu.” Demian menyetujui. Dia membersihkan tanah yang menempel di mantel berbulunya sambil melangkah. Mereka telah tampak kelelahan karena menghadapi banyak monster. Tapi, item yang didapatkan juga setimpal dengan perjuangan mereka.
Keadaan di labirin menjadi lebih terang. Mereka membiarkan pembagian item-nya untuk nanti setelah keluar dari labirin. Seluruh energi sihir yang aneh telah menghilang dan sekarang labirin ini tampak seperti labirin biasa yang tidak dihuni oleh makhluk sihir apa pun.
Berkat [Party’s Combos] mereka yang baik, mereka telah menghadapi seluruh monster tanpa ada damage berarti yang mengenai mereka. Untuk pertama kalinya juga Ace menggunakan sihir dan selain itu, dia mendapat banyak kenaikan level. Penggabungan raid dua guild juga berjalan baik dan sepertinya mereka cukup nyaman dengan party ini.
“Ace benar-benar keren tadi!” Allura tertawa dengan nada riang. “Sudah lama sekali sejak kita tidak bertemu di Hilfheim, tapi Ace telah menjadi penyihir yang keren.”
Ace terdiam sesaat. Dia tidak menyangkal bahwa mereka tidak bertemu dalam waktu yang lama ketika berada di dunia nyata. Namun, mereka akan selalu bersama mulai sekarang. Kemudian, Ace berkata, “Aku … tidak sekeren itu, kok. Buktinya damage-ku tidak terlalu berpengaruh pada musuh.”
Allura melihat ke arah Ace sambil berpikir. “Benarkah? Tapi menurutku itu sudah keren, lho. Apalagi Ace berhasil meniru skill Demian. Dan kurasa, Ace akan terus bertambah kuat.”
Itu benar. Dia telah meniru skill Demian. Namun, hal itu dilakukannya untuk dapat berguna bagi party. Sekarang apa yang harus Ace katakana? Dia tidak nyaman ketika seseorang memujinya seperti itu. Di sisi lain, dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraan.
“Kalau begitu ...” Ace memaksa mulutnya terbuka untuk menjawab dengan suara lirih. “Aku akan terus menjadi kuat agar bisa melindungi kalian semua.”
Dulu Ace tidak akan pernah mengatakan hal semacam itu. Dia selalu berkutat dengan kesulitan hidupnya sendiri, selalu mengeluh, dan tidak pernah berbuat apa pun untuk membantu orang lain. Namun, semuanya telah berbeda.
Pada akhirnya Ace tidak menjawab lagi sampai mereka keluar dungeon. Dari balik tubuh teman-temannya, dia melihat pemandangan Dawn Grimmer di bawah matahari terbenam.
Apa yang baru saja Ace katakan adalah kenyataan, tapi dia masih ragu untuk mengatakannya terang-terangan. Dia tidak sekuat Demian, juga tidak sepintar Niel. Kemampuannya pun masih di bawah rata-rata.
“Yah, aku tidak ada keinginan untuk menyerah sekarang.” Ace mengatakan itu dalam hati lalu menyusul teman-temannya.