Chapter 59: Inner System

1617 Kata
Ayahnya telah seutuhnya menghilang. Sesuatu yang ada di dalam hati Ace runtuh. Dia berlutut di tanah seakan dunia hendak runtuh, begitu polygon terakhir turun ke telapak tangan lalu memudar. Dia menjerit dalam sunyi, berusaha sekeras-kerasnya mengumpulkan cahaya yang terpencar kembali, tapi polygon-poligon itu semakin menghilang dan kegelapan kembali menyelimutinya. Dalam sekejap mata, sosok ayahnya muncul di hadapan Ace, dan kini telah direnggut kembali oleh system sampai tidak ada yang tersisa. Ketika tubuh itu menghilang seutuhnya, sebuah rasa dingin merasuki tubuh Ace. Perlahan, rasa dingin ini mulai naik ke leher, lalu berhenti di dalam kepala. Dia merasakan ratusan perasaan yang terus menghantam sekujur tubuh bersama sekelebat kenangan masa lalu yang berputar di dalam kepala, seperti sedang menertawakannya. “Hei, kau dengar aku?” Ace pikir seseorang baru saja memanggilnya dari belakang, tapi suara sosok dirinya yang lain seakan tak terekam dalam pikiran Ace. Rasanya seakan semua perasaannya terbakar habis, seakan dirinya baru saja terjatuh ke dalam jurang tak berdasar lalu ditelan kegelapan. Dia merasa tubuhnya terombang-ambing, terkadang ditarik ke berbagai sisi dengan sensasi magis yang kuat. “Kau harus bertahan! Tetap kenali dirimu sendiri!” Suara itu muncul lagi, tapi langsung teredam oleh suara-suara asing yang kembali membanjiri benak. Suara-suara yang tidak pernah dia dengar, terasa begitu asing, dingin, sekaligus memuakkan. Dia berharap suara-suara itu akan hilang ketika menutup telinganya, tapi semuanya terus mengalir, berusaha menghancurkan tubuhnya.   “Jadi, kita harus membunuh semua player?” “Itulah yang diperintahkan olehnya. Demi kebangkitan kita. Kebangkitan Erfheim!” Kebangkitan Erfheim? Ace berusaha mencerna kalimat itu, tapi otaknya tidak mampu memikirkan apa pun lagi. Semakin dia merasakan dan mendengar semua rasa sakit, kebencian, dan kemarahan, semakin pudar juga kemampuannya untuk merasakan diri sendiri. “Ace Clauser!” Siapa itu? Ace bertanya dalam benak. Tapi, kemudian pertanyaan itu berubah. Siapa … aku? Mendadak indranya mati rasa dan seluruh tubuhnya bagai cangkang kosong yang kehilangan mana. “Ace Clauser! Kau harus bertahan!” Pandangan Ace tertuju pada lingkaran hitam yang kian membesar, seakan hendak menelannya. Apa itu? Di mana ini? Benak Ace terus mempertanyakan hal yang sama. “Tidak! Jangan pergi ke sana!” Tapi, Ace tidak berhenti dan terus berjalan menuju lingkaran sihir itu dengan langkah gontai. Meski samar, semakin lama, lingkaran itu semakin memanggilnya. Seolah-olah lingkaran itu siap menyambut Ace ke dalam pelukan. Dia merasakan jutaan blok kode yang tak terhitung telah terbuka di benak Ace, seakan hendak menghancurkan sekujur tubuh. Sentuhan, suara, pandangan, bahkan eksistensi tubuhnya sendiri telah mengabur. Sekujur tubuh Ace mulai tertelan dalam kegelapan. Di dalam lingkaran itu, Ace mendengar jutaan suara lain yang meminta pertolongan. Apa itu? Apakah mereka adalah monster? Atau player-player yang telah terbunuh? Kalau dia pergi ke sana, apakah dia bisa bertemu lagi dengan ayahnya? Apa yang sebenarnya dia lakukan di sini? Dan siapa dirinya? Siapa … namanya? “Ace, aku percaya padamu.” “Kami akan menunggumu di sini, Ace.” Siapa itu? Ace? Apakah itu namanya? Jika dia membuka mata, apa yang akan terjadi? Apakah— “Kau memiliki teman-teman yang menerimamu sekarang. Jadi, berhentilah menangis dan teruslah maju, Ace.” Suara itu … suara yang selama ini dia rindukan. Indranya tiba-tiba menajam kembali ketika mengingat kematian ayahnya, juga keberadaan teman-temannya di luar sana. Mendadak Ace membuka mata lebar-lebar. Dia bisa melihat. Jelas, dia masih bisa melihat meski garis-garis tubuhnya mulai kabur. Ketika Ace melirik ke sudut pandangan, dia mendapati bar HP-nya terus menurun dan kini berada di zona kuning. Di hadapan Ace, lubang hitam kian membesar, yang kini tampak hendak menyerapnya. Kemudian, kalimat sosok dirinya yang lain terlintas di benaknya. “Di dalam intisari sihir, kau tidak akan membedakan dirimu sendiri atau orang lain. Baik NPC, monster, dan player akan bersatu untuk memasuki kepalamu, berusaha menghapus eksistensi dirimu sendiri. Ketika itu, jiwamu akan tersesat selamanya.” Ace tersenyum miring ketika menyadari keadaannya barusan. “Kau pikir, aku akan membiarkan hal itu terjadi?” Ace merasa Tuhan dunia bernama Creator ini telah mempermainkan jiwa-jiwa yang tidak bersalah. Ketika memikirkan itu, tiba-tiba sebuah kemarahan yang tak pernah Ace alami sebelumnya muncul di benaknya. “Aku tidak akan membiarkan kau berlaku seenaknya, Creator!” Ace menjerit sekuat tenaga dan melawan system yang dibuat oleh Creator, Tuhan dunia ini yang mutlak. Dia tidak bisa membiarkan system s****n yang telah merenggut waktu banyak orang mempermainkan player lebih dalam lagi. Bagaimana bisa dia jatuh ke dalam kegelapan tanpa melakukan apa-apa? Dia tidak boleh terjatuh sekarang. Tidak peduli apa yang akan terjadi, entah mungkin nyawanya menjadi taruhan, Ace harus mengalahkan monster ini. “Kau sudah sadar?” Suara dirinya yang lain muncul lagi. “Bukankah kubilang jangan lengah?” “Ya, aku sudah sadar. Suaramu itu benar-benar berisik.” “Baguslah. Sekarang, kau harus segera menghancurkan intisari Disaster sebelum barrier-ku benar-benar hancur. Kau tahu apa yang terjadi kalau barrier-ku yang melindungi teman-temanmu hancur, kan?” “Tentu saja. Aku akan menghancurkannya sekarang.” Pandangan Ace tertuju pada  hitam yang berputar-putar serta memancarkan cahaya. “Kumpulkan semua energy sihirmu ke sana.” “Aku mengerti.” Ace mengepalkan kedua tangan, seakan berusaha mengambil kembali seluruh eksistensinya, lalu menciptakan sihir di kedua tangan. Perlahan, kedua tangan Ace terulur ke depan membentuk lingkaran sihir yang tidak sempurna. Mungkin inilah harga dari perlawanan Ace yang benar-benar memalukan terlebih dengan sakit kepala yang teramat nyeri karena suara-suara itu memaksa masuk ke dalam kepalanya. Tubuh Ace seakan dibekukan, rasa dingin dengan cepat menyelimutinya. Pada akhirnya, seluruh mana dalam tubuh Ace bergetar lalu berpendar melalui lingkaran sihir, membentukan ratusan tombak es yang melesat ke lubang hitam itu dengan kecepatan penuh. Awalnya intisari Disater itu berusaha menelan mana Ace, tapi sekali lagi, Ace mengeluarkan semua kekuatan yang dimilikinya beserta kemarahan yang selama ini dipendam.  “Hancurlah!” Muncul beberapa retakan di tepi  lingkaran yang berhenti berputar ketika menerima serangan Ace. Saat itulah, retakan yang tadinya kecil kini melebar lalu pecah tanpa suara. Tepat ketika lingkaran sihir itu retak sepenuhnya, teriakan jutaan suara tiba-tiba menggema di dalam kepala Ace lenyap dalam sekejap. Ace menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memaksakan kesadarannya tetap terjaga lalu melihat ke atas. Kegelapan yang menyelimuti tempat ini berangsur-angsur menghilang. Kini, di hadapan Ace terdapat cahaya putih yang begitu terang sampai rasanya menyilaukan mata. Rasanya, kekosongan yang dirasakannya barusan mulai terisi penuh oleh cahaya itu. Yang tersisa dalam diri Ace hanyalah perasaan ingin bertemu kembali dengan ayahnya. “Apa … ini sudah selesai?” Cahaya memenuhi pandangan Ace. Semuanya kini dilingkupi oleh cahaya putih murni dan menghilang stelah menjadi partikel-partikel cahaya. Ketika Ace perlahan memejamkan mata, dia melihat wajah Allura, serta teman-temannya tengah tersenyum, lalu yang terakhir adalah ayahnya. “Menara Penyihir. Di sanalah kita akan bertemu lagi dan akan kuceritakan semua yang ingin kau ketahui.” Suara ayahnya bergema bagaikan dentang lonceng saat kesadaran terakhir Ace musnah. “Menara Penyihir ….” Ace menggumamkan kalimat terakhir ayahnya. “Orang itu juga mengatakan hal yang sama.” Ace bisa merasakan tubuhnya tersedot ke permukaan. Begitu semuanya semakin tertarik dalam laju yang luar biasa, Ace bisa mendengar sebuah suara sedang memanggil namanya. Ace pikir, itu adalah suara Allura, atau mungkin Hilla, tapi tidak mungkin mereka ada di sini kan? Kemungkinannya hanya ada satu. Dirinya yang lain. “Yo, kau berhasil.” Saat Ace membuka mata kembali, dia menemukan dirinya di dunia yang sama sekali berbeda. Di sini, dia memandang matahari terbenam membuat semua langit tampak kemerahan. Awan-awan jingga berlalu perlahan di balik lantai kristal tebal transparan yang dipijaknya. Saat menengadahkan kepala, dia melihat sebentang langit berwarna matahari terbenam, begitu luas sampai rasanya tak berujung. Samar-samar, Ace bisa mendengar angina yang bertiup. Di mana ini? Padahal belum lama ini dia merasa tubuhnya seakan tercerai-berai bersama intisari Disaster. Apakah dia masih berada di Erfheim? Ataukah dia berada di tempat lain? Ace memeriksa sekujur tubuh. Armor Sarmeet, sarung tangan hitam, celana panjang hitam, dan seluruh perlengkapan lainnya sama seperti sebelumnya. Ace mengangkat satu tangan untuk membuka jendela menu yang menandakan bahwa dirinya masih berada di dalam Erfheim. Akan tetapi, jendela itu kosong. Tidak ada menu karakter atau skill seperti biasa. Apakah dirinya mati? Lalu sekarang jiwanya terjebak di portal seperti yang dikatakan N-101 waktu itu? Kalau memang begitu, Ace tidak tahu harus merasa lega atau menyesal. Jika dia benar-benar mati, apa yang terjadi dengan teman-temannya sekarang? Apakah mereka baik-baik saja? Ketika memikirkan itu, Ace jadi mengkhawatirkan Allura. Apakah perempuan itu akan menangisi kematiannya? Atau jangan-jangan, Allura menyesal karena tidak mencegahnya lalu ikut mati? Apakah— “Hei, kau mengabaikanku.” Saat itu, Ace mendengar seberkas suara di belakang. Ah, dia lupa akan kehadiran sosoknya yang lain. Ace berbalik. Sosok dirinya itu tengah berdiri dengan langin merah di belakangnya. Sosok itu memakai hoodie biru usang yang dikenakan Ace sebelum terlempar ke Erfheim. Rambut biru tiruan itu melambai lembut dalam angin. Dua mata safir di wajah tiruan terasa persis, tapi kedua mata itu kini menatap Ace dengan lembut saat memandangi Ace. Meski wajah mereka sama, ekspresi yang dihasilkan benar-benar berbeda. Sosok itu memasang ekspresi yang berlainan dengan Ace, yaitu tersenyum lebar sampai matanya menyipit. “Kau—Apa yang terjadi?” Suaranya juga terdengar damai. Dia menggerakkan tangan kanan lalu membuka jendela menu seperti yang Ace lakukan barusan. “Kau berhasil menghancurkan intisari Disaster. Teman-temanmu juga selamat.” Itu artinya Allura, Niel, Demian, Hilla, Lucas, dan Edgar yang ingin dilindunginya telah berhasil selamat. Dengan erat, Ace memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir sebelum kembali berkata, “Ini sudah waktunya untuk menceritakan siapa dirimu sebenarnya.” Wajah sosoknya yang lain itu tak berubah. Dia menutup jendela menu, lalu memasukkan tangannya ke saku. “Aku tidak berniat menyembunyikan jati diriku lebih lama lagi, kok.” Sosoknya yang lain itu berjalan menuju Ace, lalu dalam sekejap, penampilannya kini berubah menjadi Ace yang memakai armor Sarmeet. “Yah, sebut saja aku sebagai Inner System dan tempat ini adalah … Player’s Domain.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN