Chapter 58: Singularity

1836 Kata
Tubuh Ace mulai terasa berat dan dia merasa panas menyerang paru-parunya.Seiring dengan indranya yang menghilang, kesadarannya juga dengan cepat memudar.  Semua yang ia lihat, dengar, dan rasakan segera jatuh ke dalam kegelapan yang sangat dalam. Sensasi ini …  sangat mirip seperti yang dia rasakan sewaktu memasuki Hidden Dungeon pertama kalinya. Awalnya Ace sudah mempersiapkan diri jika tempat ini akan menunjukkan banyak kenangan yang menyakitinya. Tapi, entah kenapa, semakin dia bersiap, semakin besar juga kekosongan yang dia rasakan. “Ternyata meski menciptakan tempat yang tidak masuk akal, Creator juga tidak kreatif, huh?” Ace bergumam untuk menenangkan diri sendiri. “Jangan lengah.” Suara sosok dirinya yang lain terdengar. Ketika mengedar pandang, dia tidak melihat siapa pun. “Kau—“ “Aku tidak ada di sini.” Sosok itu berkata seakan bisa membaca pikiran Ace. “Bagaimana kau bisa bicara padaku?” “Kau lupa, ya? Kita ini satu. Jadi kita bisa bicara meski tidak saling bertemu. Kau juga bisa memanggilku kapan pun yang kau mau, tapi sekarang, karena aku harus mempertahankan barrier, aku tidak bisa muncul di sana.” Ace mencelos ketika menyadari sosok itu mulai cerewet padanya. Sejak kapan mereka jadi terasa sedekat ini? Tapi, itu tidak penting. Semakin Ace masuk ke dalam monster, dia merasa kesadarannya terus menurun. “Dengarkan aku, ketika kau masuk ke dalam Disaster, itu artinya kau masuk ke intisari sihir Dungeon. Setiap dungeon memiliki intisari mereka yang berasal dari Menara Penyihir, yang dijaga oleh Apostologia. Semakin tinggi tingkat dungeon, semakin besar juga intisari sihir mereka. Saat ini yang kau masuki adalah Disaster dari dungeon rank S, wadah intisarinya sangat besar yang terhubung dengan Menara Penyihir. Keputusasaan, kebencian, kemarahan, dan segala hal yang berkaitan dengan sisi gelap jutaan player akan merasukimu. Dengan kata lain, ketika kau masuk ke dalam, itu artinya kau akan menjadi setetes air yang jatuh ke lautan lepas. Jika kau tidak hati-hati, jiwamu akan tersesat dan energy sihirmu akan diserap hingga habis. Kau tahu apa artinya kalau energimu habis kan?” Meski tidak begitu yakin, Ace mengangguk. “Aku akan mati.” “Tepat. Di dalam intisari sihir, kau tidak akan membedakan dirimu sendiri atau orang lain. Baik NPC, monster, dan player akan bersatu untuk memasuki kepalamu, berusaha menghapus eksistensi dirimu sendiri. Ketika itu, jiwamu akan tersesat selamanya.” “Kau sudah mengatakan bagian itu.” Ace merotasikan bola matanya dengan bosan. “Jadi, bagaimana cara aku mengalahkan monster itu?” “Kau harus mencari intisari dari Disaster ini. Seperti yang kukatakan, ketika memasuki Disaster, kau akan masuk ke intisari dungeon yang terhubung dengan Menara Penyihir. Ada jutaan Disaster, jadi kau harus mencari [Disaster: Titanious Magmagon] lalu hancurkan dia dengan sihirmu. Apa kau mengerti?” “Aku mengerti. Jadi, setelah memasuki ini, aku akan terlempar ke intisari?” “Kau sudah memasukinya sejak tadi, Bodoh! Kau masih baik-baik saja karena kehadiranku! Tapi, karena aku sedang menggunakan barrier, kesadaranku dalam dirimu tidak akan bertahan lama. Ingat ini baik-baik. Kenali sihirmu dan hanya ikuti sihir Disaster itu. Apa pun yang kau dengar, lihat, dan rasakan, abaikan itu semua. Jika kau—“ “Aku paham!” Ace memotong cepat ketika yakin sosok itu akan mengatakan hal yang sama untuk ketiga kalinya. Pandangan Ace kini tertuju pada kegelapan yang terus menelannya.  “Baiklah, selamat berjuang, Ace Clauser.” Ketika suara itu menghilang seutuhnya, kesadaran Ace seakan ditarik menjauh dari permukaan, berubah menjadi kekosongan yang sangat gelap dan dalam. Namun, beberapa detik kemudian, kegelapan itu perlahan memudar. Suara-suara kereta supercepat yang bersahut-sahutan dengan canda tawa banyak orang. Kilatan cahaya lampu bangunan yang membuatnya mual, juga sensasi dingin yang menjalari punggung setiap kali dia berjalan di tempat itu. “Hei, mau ke kafe yang baru? Tempatnya bagus, lho.” “Ah, kau sudah dengar kabar terbaru? Duh, jangan kuno, deh. Ini kan sudah masa serbacanggih, masa begitu saja tidak tahu?” “Ngomong-ngomong, tadi kau ditembak si A, ya? Kenapa tidak diterima? Padahal dia tampan.” “Dia itu memang anak yang pengecut. Jangan heran kalau terus bersembunyi di balik punggung orang lain.” “Ibunya sendiri mengabaikannya, jadi maklumi saja kalau sifatnya seperti itu. Dia itu Cuma bisa bergantung pada ayahnya saja. Tapi, ayahnya tiba-tiba menghilang. Rasanya benar-benar menyeramkan ya.” “Iblis.” “Pergi kau! Kenapa kau hidup! Aku jadi menderita karena melahirkanmu!” “Kenapa belum mati juga?” “Ayah akan kembali.” “Ace! Aku membawakan makanan kesukaanmu. Mau makan bersama?” Semua ucapan itu masuk begitu saja ke dalam kepala Ace. Dia meringis. Telinganya sakit ketika suara-suara yang dikenalnya menyerang dengan cepat. Namun, beberapa saat kemudian yang terdengar hanya suara-suara asing. “Hei, b******k. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Kau itu cuma kusir!” “Dasar penyakitan! Apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh begitu, huh?” “Monster! Kau yang membunuhnya, kan!?” “Dasar pendek. Memangnya kau pikir kau itu siapa?” “Aku sudah membayarmu! Harusnya kau sadar diri!” Apa ini? Kenapa ada banyak suara asing yang tidak dikenalinya? Tidak. Rasanya tidak tepat jika dibilang tidak mengenal sama sekali. Meski samar-samar, Ace bisa merasakan kekuatan sihir teman-temannya di sini. Apakah semua ini adalah masa lalu mereka? Ace tidak punya kekuatan apa pun untuk memikirkannya. Semakin dia mendengar semua suara itu, kepalanya semakin sakit. “Uh. Berisik! Rasanya kepalaku mau meledak!” Dia berteriak ke udara sambil terus menutup telinga, lalu merasakan ada sesuatu yang berubah. Semua suara itu mendadak hilang ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya dengan lembut. Kehangatan yang akrab tiba-tiba mengalir di tubuh Ace. Sesaat, rasa hangat ini membangkitkan kenangan yang menyakitkan sekaligus indah baginya. “Ace.” Ace berbalik dan seperti yang diduganya, ayahnya sedang berdiri di belakang Ace sambil tersenyum. Itu benar-benar ayahnya yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan, wajah yang sangat ingin Ace lihat sekali lagi seumur hidup. Masih dengan setelan kemeja putih dan celana panjang hitam yang tidak pernah Ace lupakan. Pakaian terakhir yang Ace lihat sebelum ayahnya benar-benar menghilang. Ace menyadari mereka tidak lagi dikelilingi oleh kegelapan seperti waktu itu. Ayahnya menatap Ace dengan hangat. Iris safir yang membuat Ace seakan becermin pada dirinya. Dan dalam sekejap, mata Ace memanas. Apakah ini sungguhan? Apakah dia bisa menyentuh dan memeluk sosok itu? Bagaimana jika ayahnya menghilang ketika Ace memeluknya? Jangan-jangan semua ini … hanya ilusi, sama waktu itu. Jangan-jangan, seperti yang dikatakan sosok dirinya bahwa semua ini hanya jebakan untuknya. “Ayah ….” Kata itu akhirnya terlontar dari mulut Ace. Air matanya mengalir begitu saja, seolah-olah untuk saat ini, Ace ingin melepaskan semua beban di pundaknya untuk sementara. Kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang terus mengalir, membuatnya seperti seorang pengecut. Ace kemudian bertanya lagi dengan suara parau sambil terus mengusap air mata. “Apa ini … benar-benar kau, Ayah? Kau bukan ilusi?” Ayahnya yang sejak tadi tersenyum kini membuka mulut. “Benar. Aku bukanlah ilusi. Aku adalah ayahmu.” Sang ayah membuka kedua tangan untuk memeluk Ace. Namun, Ace tidak langsung berhambur memeluk ayahnya. Dia melayangkan pukulan tepat ke wajah lalu berteriak. “Apa!? Apa yang kau lakukan padaku? Apa Ayah tidak ingin melihatku? Apa kau tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini? Kau tiba-tiba menghilang dan ibu—aku—“ Ace menarik napas dalam-dalam sambil tetap terisak. Dia tidak peduli tentang matanya yang memerah atau rupanya yang benar-benar buruk kali ini. Ternyata, firasat Ace tentang hawa keberadaan ayahnya memang benar. Bahwa ayahnya ada di tempat ini. Juga tentang kebenaran perkataan sosok misterius itu. “Aku merindukanmu, selalu merindukanmu. Kau pasti lelah menanggung semua sendirian … dan kau pasti sangat takut. Tapi, kau tumbuh besar dengan baik. Aku … benar-benar bangga padamu.” Ayahnya menarik Ace ke dalam pelukan, lalu berkata dengan lembut. “Meski kau tidak bisa melihatku, fakta bahwa kau selalu mengingatku sudah cukup untuk membuatku bahagia.” Ace mengusap air matanya dengan cepat, lalu memandang sang ayah. “Aku pengecut dan sama sekali tidak hebat. Selama ini, tidak ada yang bisa kuberikan pada Ibu. Maaf—maafkan aku. Bahkan sampai sekarang—“ Ayahnya menepuk pucuk kepala Ace yang hanya setinggi lehernya saja. “Kau tidak perlu menyalahkan diri seperti itu. Akhirnya kita bisa bertemu, tapi kau malah terus menangis.” “Mau bagaimana lagi? Aku kan memang pengecut. Apa Ayah selalu bersamaku? Tapi, bagaimana bisa? Tanpa berkata apa pun, tiba-tiba Ayah berada di sini. Apakah Creator memanfaatkan Ayah? Katakan padaku, apakah mereka memperalatmu?” Suara Ace terisi oleh kemarahan dalam sekejap, tapi sang ayah dengan segera menggelengkan kepalanya. “Terlalu cepat untuk menceritakannya padamu sekarang, Anakku. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.” Sang ayah menunjuk lubang hitam yang tiba-tiba muncul di atas kepala mereka. Meski samar-samar, Ace bisa merasakan bahwa itu adalah intisari Disaster yang dikatakan oleh sosok dirinya yang lain itu. “Itu—“ “Intisari Disaster.” Sang ayah membenarkan dugaannya dengan cepat. “Kau harus menghancurkan itu untuk menyelamatkan teman-temanmu, bukan?” Wajah Ace mendadak jadi mendung. Memang benar tujuannya masuk ke dalam Disaster adalah untuk menyelamatkan teman-teman dari bencana ini, tapi ketika melihat sosok yang sangat ingin ditemui Ace, dia mendadak jadi ragu. Haruskah dia pergi sekarang? Bagaimana jika mereka tidak bisa bertemu lagi? “Kau tidak perlu khawatir. Ada banyak yang ingin aku katakan dan aku pun ingin lebih lama bersamamu, tapi saat ini kita tidak bisa berlama-lama. Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjadi ayah yang baik.” Kali ini air mata mengalir dari mata safir ayahnya. “Maaf karena telah meninggalkanmu sendirian. Awalnya aku sempat khawatir memikirkan kau bisa melakukannya atau tidak, tapi sekarang, aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.” Ace tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa terus menangis ketika sang ayah berkata lagi dengan lembut. “Kau memiliki teman-teman yang menerimamu sekarang. Jadi, berhentilah menangis dan teruslah maju, Ace.” Tubuh ayahnya mulai memancarkan cahaya. Ujung jarinya yang hendak menyentuh Ace mulai berubah menjadi kepingan polygon seakan mengejek keraguan Ace. Tiba-tiba dia merasakan sebuah kemarahan yang tak pernah Ace alami sebelumnya. Kenyataan bahwa saat ini, jiwa ayahnya telah dikendalikan system. Dan sekarang, system dengan leluasa menghilangkan atau menghadirkan jiwa sang ayah di hadapan Ace. Tuhan kematian digital yang mengejek kebodohan-kebodohan player yang dengan seenaknya mengenyahkan sebuah jiwa. Mereka ini sebenarnya apa? Apakah mereka cuma sekumpulan boneka t***l yang dikendalikan oleh benang-benang yang takkan terputus dari system yang diciptakan Creator? “Kita akan bertemu lagi lain waktu.” Sosok ayahnya semakin memudar. Saat itulah Ace sadar bahkan sekarang waktu mereka telah direnggut oleh system. Ace bergumam dengan suara penuh getaran. Tapi cahaya yang menyelimuti tubuh ayahnya semakin terang dan semakin terang. “Kapan? Sampai kapan aku harus menunggu Ayah lagi?” Setetes air mata mengalir dari mata sang ayah, yang bersinar sesaat sebelum menghilang. Bibirnya bergerak sedikit, perlahan, seakan dia memaksakan suara terakhir keluar darinya. “Menara Penyihir. Di sanalah kita akan bertemu lagi dan akan kuceritakan semua yang ingin kau ketahui.” Tepat ketika kalimat itu berakhir, tubuh sang ayah melayang. Cahaya yang membutakan meledak dalam tangan Ace ketika dia berusaha meraih tubuh ayahnya, berubah menjadi berjuta-juta polygon warna-warni yang terus memudar. Sampai akhirnya tubuh sang ayah tidak berbekas sedikit pun. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN