Chapter 57: System

1670 Kata
 “Kau berniat menghadapi itu sendirian?” Ketika pandangan Ace tertuju pada monster itu, dia merasakan sensasi yang akrab secara tiba-tiba. Sebuah suara tiba-tiba merasuk ke pikiran Ace ketika rantai Niel membawanya semakin dekat pada monster itu. Tanpa mencari sumber suaranya pun, Ace tahu siapa orang yang bisa berkata seperti itu kepadanya. Jika ingatannya benar, suara ini adalah yang menyambutnya di hidden dungeon waktu itu. Dirinya di masa lalu yang selama ini terus mengawasinya. Setelah pertemuan dengan sosok misterius itu ketika duel bersama Frantz, Ace mulai terbiasa jika suara-suara aneh muncul seperti yang baru saja terjadi. Awalnya Ace menduga bahwa dirinya memasuki Hidden Dungeon seperti waktu itu, tapi monster di hadapannya masih ada, juga tidak ada perubahan terhadap pemandangan di sekitar. Waktu juga tidak berhenti seperti dulu. Apakah ini ulah system atau ada campur tangan sosok itu? “Apa kau yang memanggilku?” Dengan santai, sosok itu menjawab, “Bukan. Tolong jangan salah paham. Aku ada di sini karena suatu hal. Monster itu tidak ada kaitannya denganku atau sosok itu.” “Ah, jadi kau memang berhubungan dengan sosok itu, ya.”  Pandangan Ace menoleh sekilas pada sosok itu sebelum kembali terpaku pada monster yang kini telah berhenti menghancurkan segalanya, membeku di tempat seakan menantikan kehadiran Ace. “Apa yang akan terjadi padamu jika aku mati?” “Entahlah?” Dirinya yang memakai hoodie usang berwarna biru tua muncul di hadapan Ace begitu saja dengan tatapan kosong. Meski wajahnya pucat dan gelap, bibir tipis itu tersenyum lebar. “Bagaimanapun, kita ini satu.” “Mau sampai kapan kau terus menghantuiku seperti ini?” “Ya ampun, kau kasar sekali.” Sosok itu tertawa-tawa seperti orang gila. Jelas itu bukanlah Ace Clauser yang dirinya kenal. “Kalau aku katakan sekarang, game-nya jadi tidak seru kan? Aku akan merahasiakannya sampai kau sendiri yang mengetahui jawaban itu.” “Jawaban?” “Tentang siapa dirimu sebenarnya dan alasanmu berada di game ini. Bukankah itu adalah hal yang ingin kau ketahui?” Rahang Ace mengeras, tapi dia berusaha mengabaikan sosok dirinya yang lain. “Kenapa kau bisa muncul di sini?” “Aku?” Sosok itu menunjuk dirinya sendiri. “Memangnya siapa lagi yang bicara denganku sekarang?” Mata dingin sosok itu membulat. “Kau sudah bisa berkata pedas rupanya.” “Apa kau monster? Atau kau diciptakan oleh sosok itu?” Ace bertanya lagi. Namun, ungkapan “monster” tidak lebih dari sebuah istilah yang disebut oleh manusia untuk ras lain yang menurutnya mengerikan. Meski Ace sudah berhasil mengontrol emosinya untuk tidak meledak-ledak, dia tetap ingin memepertanyakan keberadaan sosok itu di sini. Mengapa ada sosok yang sangat mirip dengannya, yang bahkan seakan-akan terus mengawasi Ace. “Aku tahu kau terus mengawasiku. Kau dan sosok itu terus mengawasiku tanpa alasan yang kuketahui.” “Sejak kapan?” Sosok itu bertanya balik seakan mengabaikan pertanyaan Ace sebelumnya. “Kau mengalihkan pembicaraan?” Ace mengerutkan kening. “Bukankah sudah sewajarnya kalau aku, sebagai orang yang terlibat, tahu alasan kenapa aku terus diawasi?” Lagi, sosok itu mengabaikan pertanyaan Ace. “Sejak kapan kau menyadari itu?” “Sudahlah, menyingkir sekarang. Kau tidak akan dapat jawaban kalau kau tidak memberiku jawaban. Itu adil kan?” Ace memejamkan mata, berusaha mengenyahkan sosok itu dari pikirannya, tapi ternyata dia tidak menghilang. Malahan, hawa keberadaan sosok itu bercampur dengan hawa keberadaan ayahnya yang dirasakan Ace dari dalam monster. “Percuma. Kau tidak akan bisa menyingkirkanku kalau aku tidak mengizinkannya. Kau harus menjawabku dulu.” Ace berdecak lalu membuka mata, melemparkan pandangan sengit kepada sosok yang kini bermain-main di hadapannya. “Sebentar lagi aku akan melawan monster itu. Lebih baik kau pergi sana.” “Kalau kau mati, aku juga mati.” “Itu bagus. Aku akan mati untukmu.” Ace membalas dengan ketus. “Dan jiwamu juga tidak bisa kembali meski seseorang berhasil menyegel Apostologia.” “Yah, aku—apa?” Ace mendadak terkesiap. “Tunggu, bukankah player yang mati di sini akan kembali ketika seseorang berhasil menyelesaikan permainan ini?” Sosok itu mengangkat bahu dengan angkuh. “Itu tidak berlaku untukmu. Ups—aku keceplosan.” “Apa?” Rasa terkejut itu berubah menjadi kesal. Ace mempertajam pandangannya seakan-akan ingin melenyapkan sosok itu dengan kedua tangan. “Apa maksudmu?” “Tidak tahu, tuh? Kalau aku tidak ingin menjawabmu bagaimana?” “Lalu apa gunanya kau ada di sini s****n?” Sosok itu mendadak tertawa. “Baiklah, ayo buat pertaruhan.” “Pertaruhan?” “Benar. Kalau kau berhasil bertahan hidup, aku akan memberitahukan identitasku dan alasan kenapa kau tidak bisa kembali hidup meski permainan selesai. Yah, sebetulnya ada beberapa player yang bernasib serupa denganmu, tapi aku tidak tahu siapa saja mereka itu.” “Kalau aku berhasil bertahan hidup?” Ace mengulang kata yang diucapkan sosok itu sambil menahan senyum kesal. “Aku tidak akan mati. Jadi, kau lebih baik persiapkan jawaban terbaik.” “Tidak ada gunanya mengancamku.” Sosok itu mengangkat bahu lagi sambil memejamkan mata. “Aku memegang authority yang jauh lebih besar dibanding player. Ngomong-ngomong, pergilah. Aku akan membantumu kali ini. “Membantuku?” Ace mengernyit. Orang ini tidak bercanda kan? Setelah beberapa waktu lalu membuatnya bingung, dan sekarang mengatakan hal yang tidak masuk akal, dia ingin membantu Ace? “Ya, kalau kau mati, aku juga yang repot. Kukatakan saja ya, kau tidak akan berhasil melawan monster itu jika menyerangnya dari dalam.” Ace mendelik. “Kau pikir aku akan percaya?” “Coba saja serang dia dari luar. Kau hanya akan membuang-buang mana saja.” “Lalu bagaimana cara aku masuk ke dalamnya? Kau tidak menyuruhku masuk lewat mulutnya kan? Itu sama saja—“ “Kau tidak akan mati meski tertelan olehnya.” Sosok itu memotong cepat, lalu menunjuk [Disaster: Titanious Magmagon] yang masih terdiam. “Aku akan membuka gerbang untukmu, setelah itu masuklah, lalu hancurkan dari dalam. Tapi, kau perlu ingat kalau dia akan mengamuk selama kau menghancurkannya dari dalam.” “Itu artinya nyawa teman-temanku dalam bahaya.” “Benar. Jangan khawatir, aku akan membuat barrier agar kau bisa bertarung tanpa mencemaskan mereka. Akan tetapi, karena tingkat authority-ku tidak setinggi miliknya, barrier ini hanya bisa bertahan selama dua puluh jam. Jika gagal, kau tahu artinya kan?” Lihat, cara bicaranya yang sok ini benar-benar membuat Ace jadi kesal. Sebenarnya, kenapa sosok yang selama ini Ace berusaha tidak pedulikan malah muncul? Sosok ini dan sosok misterius itu berbeda. Meski samar, Ace bisa mengetahui bahwa sumber sihir mereka berbeda, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa sosok yang sangat mirip dengannya ini memiliki hubungan dengan sosok misterius itu. Meski menyebalkan, tidak baik untuk memancing keributan dengannya di saat seperti ini. Dia memang tidak ingin mempercayai perkataan sosok ini, tapi di sisi lain, jika memang sosok ini berada di pihaknya, bukankah itu bagus? Lagipula, ketika sosok ini membicarakan tentang “nasib mereka” jika Ace mati, ekspresi wajahnya tidak menunjukkan kebohongan. “Kau bisa percaya padaku.” Sosok itu bicara seolah-olah bisa membaca pikiran Ace. “Bagaimanapun juga, aku ini dirimu. Kau harus percaya pada dirimu sendiri, dong.” “Diriku sendiri yang menjebak diriku sendiri.” Ace berkata dengan nada kesal. Rasanya aneh jika menyebut “diriku sendiri” dengan nada seperti itu. Namun, sepertinya sosok itu tidak memedulikan ucapan Ace. “Meski aku setuju dengan rencanamu, bukan berarti aku memercayaimu. Kondisi ini belum berubah.” “Aku tahu.” Sosok itu mengangguk penuh pengertian. “Setelah semua ini, ayo kita bicara empat mata.” “Empat mata? Padahal mata itu juga milikku. Jadi harusnya bicara dua mata.” “Persetan. Nah, bisakah kau turun dari rantai jelek itu? Teman-temanmu memandang ke arahmu dengan wajah hampir menangis lho. Tidak mau menoleh ke belakang?” Sosok itu dengan seenaknya berbalik, menghadap teman-teman serta player [Juran]. Meski samar, Ace bisa mendengar isak tangis seorang perempuan. Mungkin Allura, atau Hilla. Tapi, tidak mungkin Hilla menangisinya, jadi isak tangis itu milik Allura. Dasar, padahal aku kan belum mati. Apa jadinya kalau aku beneran mati? Meski dia mengatakan hal itu, dalam hatinya, Ace merasa lega ada seseorang yang mengkhawatirkannya. Bukan seseorang, tepatnya enam orang. Entah karena hal itu atau bukan, Ace merasa hatinya menghangat meski sebentar lagi akan menyongsong kematian. “Aku tidak akan berbalik.” Ace memantapkan dalam hati, lalu memberi isyarat untuk Niel dengan lambaian tangan. Seakan mengerti keinginan Ace, sahabatnya itu segera membatalkan sihir rantai. Tubuh Ace pun terjun bebas di udara, tapi dengan segera sosok itu menciptakan sebuah lingkaran sihir. Ace merasakan udara dingin berembus melewati kedua kaki, padahal posisi mereka dengan monster itu sudah sangat dekat. Kakinya tidak berpijak pada apa pun, tapi dia tidak terjatuh. Dia melayang, begitu pula dengan sosok itu. Mereka saling berpegangan tangan ketika bau busuk bercampur dengan bau darah. Monster itu tampak bersiap menyambut Ace dengan mulut ternganga. Pandangan Ace beralih kepada sosok itu sambil tersenyum. “Jadi, ini yang kau maksud dengan gerbang?” “Benar. Menurutmu apa lagi?” “Baiklah, kali ini aku akan percaya padamu.” Ace tersenyum lebar seakan sedang melihat sesuatu yang membahagiakan. Terutama ketika barrier transparan berwarna biru yang mirip seperti milik system mulai membatasi pandangan Ace dengan teman-temannya. “Apa mereka bisa melihatku?” “Tidak.” Sosok itu menjawab cepat. “Kau dan monster itu akan terlihat lenyap dari pandangan mereka selama barrier-nya masih ada. Jadi kau tidak perlu cemas.” “Aku punya satu pertanyaan lagi untukmu.” “Apa?” Sosok itu menatap Ace dengan tatapan bosan. Dia pasti kesal karena Ace yang sekarang sudah tidak lagi bersikap gagap seperti pertemuan awal mereka. “Apa mereka bisa melihatmu?” Sosok itu tidak langsung menjawab, melainkan tersenyum lebar seperti anak kecil. “Entahlah. Kau harus menang dulu sebelum mengetahui semua jawabannya.” Sihir yang menyangga Ace kini menghilang. Gravitasi mulai menarik Ace ke dalam lingkaran sihir dengan tekanan kuat. Sembari merasakan tubuhnya seakan dicabik-cabik, dia menatap wajah sosok itu yang tengah tersenyum lebar sampai matanya menyipit. “Sampai jumpa lagi, Ace Clauser.” Mulut si monster yang menganga menyambut Ace, lalu kegelapan yang pekat menyelimuti Ace. [You have entered the hidden area] 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN