Disaster.
Satu fakta mengerikan tentang kejadian kali ini.
Ketika melihat pemandangan di depannya, para player merasa kekuatan kakinya melemah begitu saja. Mereka mematung di tempat. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari fenomena yang baru saja terjadi di sini. Mereka berusaha melihat ke pusat ledakan dengan mulut terbuka dan mata terbelalak, terkejut sampai kehilangan kata-kata. Para burung yang memenuhi langit dan monster-monster lava kecil yang mengepung sudah tidak ada. Satu-satunya keberadaan musuh yang tersisa hanya monster besar yang terus meraung dengan kedua tangan memegang kepala.
Monster berukuran besar yang memiliki kaki dan tangan serta sayap yang terbuat dari batu-batu lava berdiri menjulang. Kepala naga dihiasi dua bola mata bercahaya merah menyentuh langit merah Dawn Grimmer. Sekilas, monster ini terlihat seperti perpaduan naga dan raksasa yang memiliki tangan serta kaki panjang dengan bebatuan lava runcing.
Ace terbelalak kaget. Dari kepala hingga ekor, mereka jelas berukuran lima kali lebih besar dibanding naga di Special Quest. Tubuhnya dipenuhi oleh bebatuan bercelah yang dialiri lava. Sebagai bukti bahwa monster itu berada di level yang jauh berbeda dari monster-monster lainnya.
[Disaster: Titanious Magmagon]
Nama itu ditulis dengan warna merah pekat, yang artinya, mungkin sepuluh atau lima belas level lebih tinggi dari Ace. Dia menoleh ke para player yang masih terguncang dengan fenomena ini.
Membayangkan monster ini menghancurkan segala sesuatu yang ada di Dawn Grimmer membuat mereka membeku. Tidak ada yang sanggup bahkan sekadar menggores ujung kaki monster yang memiliki cakar runcing.
“Mo-monster itu ….”
Para player berbisik dalam keterkejutan ketika monster itu menem bakkan cahaya putih dari beberapa bagian tubuh, membuat lubang-lubang besar di langit. Lalu, monster itu kembali meraung, seakan menyerukan peperangan. Mereka memejamkan mata rapat-rapat, kehilangan kata-kata untuk beberapa detik.
Disaster atau yang biasa disebut sebagai puncak Dungeon Break, sekaligus pertanda bahwa Dungeon Break semakin parah. Biasanya Disaster terjadi setelah Dungeon Break berlangsung lebih dari dua hari, tapi saat ini bahkan belum mencapai setengah hari. Apakah semua itu karena jumlah monster yang terlalu banyak sehingga tidak bisa diatasi?
Ada tiga kemungkinan yang terjadi pada Dungeon Break kali ini. Pertama, tekanan sihir yang dihasilkan player berbeda jauh dengan tekanan sihir yang dihasilkan para monster. Sehingga kekuatan sihir player tertelan dan monster-monster di dalam dungeon menganggap dunia luar sebagai dunia mereka. Kedua, ada seseorang yang mengendalikan para monster. Tapi, kemungkinan hal ini terjadi sangat kecil mengingat penyihir dengan tingkat sihir tinggi hanya ada dua orang, yaitu Ace dan sosok misterius itu. Ketiga, adanya ketidakseimbangan antara dunia para monster dan player.
Untuk beberapa alasan, Ace percaya pada kemungkinan kedua. Meski tingkat kemungkinannya kecil, tapi Ace bisa merasakan tekanan sihir yang berbeda ketika menatap lekat-lekat monster tubuh. Pemandangan yang begitu familier bagi Ace ketika dirinya berada di Hidden Dungeon.
Semua Dawn Grimmer hancur. Gedung-gedung terbakar, serta tumpukan mayat yang tak terhitung jumlahnya memenuhi jalan-jalan kota. Apakah Creator hendak menunjukkan kepadanya tentang akhir dunia ini melalui Break Dungeon?
“Ace Clauser.”
Mata Ace terbelalak ketika mendengar suara yang memanggil namanya begitu lirih, juga dalam. Itu bukan sensasi yang sama ketika sosok misterius itu memanggil namanya. Suara yang ini terasa sangat familier dan dekat, bersumber dari monster itu.
Spontan Ace mendongak, memperhatikan monster itu lekat-lekat, tapi sensasi itu menghilang begitu saja. Apa itu? Ace bertanya-tanya dalam hati, tapi ketika Ace berusaha mencari jawaban, monster itu seakan memanggilnya lagi.
“Anakku, Ace.”
Anakku? Jantung Ace terasa hampir berhenti ketika mendengar panggilan itu. Mungkinkah … mungkinkah—
Tiba-tiba sebuah tepukan di bahu membuat Ace menoleh. Frantz, yang entah sejak kapan berdiri di samping Ace dengan wajah pucat.
“Aku … tidak memiliki kekuatan dan aku sangat menghargai keputusanmu. Tapi, tolong … tolong hentikan monster itu.” Air mata mengalir ketika Frantz mengatakannya sambil membungkukkan tubuh. Mungkin, orang ini bukan hanya mengkhawatirkan nyawanya saja. Sebagai guild master yang dihormati banyak player serta anggotanya, dia terus memimpin pertempuran di garis depan. Namun, sekarang ini, dia tidak punya keberanian walau hanya mempertahankan pandangan saat melihat monster itu terus menghancurkan kota.
Baik Frantz, dan semua player tentu tidak ingin itu terjadi. Akan lebih baik jika itu tidak terjadi sama sekali, tapi semua itu bukan hal yang bisa dihindari sekarang. Begitu pula bagi Ace dan teman-teman yang lain. Mereka mungkin gemetar, tapi tidak ada jalan lain selain terus melangkah untuk berjuang.
Ace meletakkan tangan di bahu Frantz tanpa berkata, tapi Frantz tahu bahwa sentuhan itu terasa lebih hangat dan tulus dibanding pujian banyak orang yang selama ini didengarnya.
“Ini memalukan. Sungguh, maafkan aku, Ace Clauser.”
Lelaki itu menunggu sejenak sampai Frantz tenang, lalu membuka mulut. “Kita pasti akan bertahan hidup, apa pun caranya.”
Seakan bisa membaca niat Ace, Frantz yang ragu-ragu mengangguk pelan. Dia kemudian kembali berdiri tegak, lalu menghadap ke sisi yang sama dengan Ace. Pandangannya tertuju pada monster yang menatap mereka dengan lapar, seolah-olah mereka hanyalah lalat yang bisa disingkirkan dalam satu ayunan tangan.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Ace menoleh kepada enam temannya yang berkumpul dalam sekejap.
“Guild lain akan segera kemari. Haruskah kita menunggu mereka?” Mira yang sejak tadi gemetar kini tampak telah memantapkan hatinya.
“Tidak.” Ace menjawab cepat. “Bawa orang-orang ini pergi sejauh mungkin.”
“Apa?” Baik Frantz, Mira, dan teman-temannya ikut terkejut.
Haruskah dia menjelaskan perasaan aneh yang terus mengganggunya selama pertarungan tadi?
Ketika dia bertarung dengan para monster, Ace merasakan aliran sihir aneh yang terkadang meledak-ledak, kadang terasa menyakitkan, dan kadang penuh kemarahan. Seakan-akan sumber sihir yang dipakai monster ini berasal dari berbagai macam sumber yang kemudian dijadikan satu. Terlebih dia baru saja mendengar suara ayahnya dari monster itu.
Mungkin ini hanya dugaan Ace, tapi—
“Setelah ini, apa pun yang terjadi, kalian harus menutup telinga dan mata kalian. Jangan dengarkan apa pun lagi.”
“Tapi!” Allura dengan cepat mencegah Ace. Dia menahan lengan lelaki itu sekuat mungkin, seakan tidak memberikan Ace celah untuk pergi. “Kau akan menghadapinya sendirian? Aku tidak akan mengizinkannya!”
“Allura benar!” Hilla ikut angkat suara. Dia berdiri di hadapan Ace dengan kedua tangan terbentang. “Kau tidak harus menanggung semua sendirian.”
Pandangan player lain kini tertuju kepada Ace. Tatapan penuh harap, sekaligus tidak ingin membiarkan Ace berjuang sendirian. Namun, di antara semua perasaan itu, mereka jelas merasa ketakutan dan hendak menyetujui perkataan Ace tanpa memikirkan apa pun lagi.
“Aku tidak akan sendirian.” Ace berkata dengan lembut sambil melepaskan tangan Allura. Kemudian, dia tersenyum lebar. “Kalian bersamaku di sini. Itu cukup. Dulu kalian yang melindungiku, tapi sekarang aku akan melindungi kalian. Saat ini aku bertarung bukan untuk player lain, tapi untuk diriku sendiri.”
Ace menunjuk monster raksasa itu dengan mata tajam. “Dia … sudah menungguku di sana.”
“Apa?” Teman-temannya mengernyit tidak percaya.
“Seseorang yang akan memberikan jawaban atas semua pertanyaan kita. Jika berhasil mengalahkannya, mungkin saja kita tahu cara menghidupkan kembali player yang telah meninggal atau mengembalikan dunia seperti awal. Dengan begitu, semua orang akan berakhir bahagia, termasuk aku dan kalian.”
. “Ace!” Allura menggeleng tak percaya. Jeritannya tertahan. Nyeri menusuk hati Ace seakan dadanya ditusuk sampai belakang, tapi entah bagaimana, Ace tidak bisa lagi memaksakan sebuah senyuman.
“Maaf, tapi … ada yang harus kupastikan, Allura.”
Allura membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi menyerah begitu saja. Lalu, dia berusaha untuk tersenyum. Setetes air mata mengalir di pipinya. “Kau tidak berencana … mengorbankan dirimu kan?”
“Mana mungkin kan?” Ace mengangkat kedua bahu sambil tertawa canggung. “Aku pasti akan menang dan kita semua akan selamat.”
“Baiklah aku akan percaya padamu.”
Allura hanya memegangi tangan kanan Allura dengan erat sebagai gantinya. Setelah Ace melepaskan tangan, dia meminta Demian untuk menjaga Allura yang terlalu lemas untuk berdiri.
“Kau yakin akan melakukannya?”
Kali ini, Ace menoleh pada Edgar. Dia melihat lelaki itu memasang raut wajah khawatir seperti biasa. Pertama-tama, Ace memantapkan hati, lalu mengangguk perlahan.
“Terima kasih karena telah perhatian padaku sejak awal, serta banyak membantuku.” Lalu, pandangan Ace berganti kepada Lucas yang tampak gemetar menahan tangis. “Walau kita tidak terlalu dekat, aku terhibur dengan sikapmu bersama Demian. Dan juga ….”
Dia mengambil napas dalam-dalam. Kali ini tidak peduli seberapa keras dia mencoba, dia tidak bisa mengendalikan suaranya yang gemetar. Apakah dia takut? Ya, dia takut. Bagaimanapun, dia tetaplah pengecut. Tapi, saat ini Ace tidak punya pilihan selain terus bertarung.
“Dan Demian, aku benar-benar beruntung bisa punya teman yang cerewet sepertimu. Maaf kalau selama ini, aku terasa menyebalkan bagimu.”
Demian berteriak keras dengan suara parau seperti hendak pecah. “s**l, kau Ace! Jangan minta maaf sekarang!”
Ace mengangguk pada Demian yang terus berteriak. “Ya, aku pasti kembali. Jangan khawatir.”
Dia mengangkat tangan kanan lalu memberinya jempol. Akhirnya Ace membalikkan pandangan pada lelaki yang telah menyelamatkannya beberapa kali. Pandangan Ace terakhir tertumbuk pada Niel.
“Jangan katakan apa pun padaku.” Niel dengan cepat mengalihkan pandang. Meski sebagian wajahnya tertutup anak rambut, Ace tahu Niel berusaha menyembunyikan perasaannya.
“Niel, aku benar-benar berterima kasih kalau kau membawaku ke sini bertemu mereka.”
Niel tidak menjawab lagi, memasang raut wajah sedatar mungkin untuk menyembunyikan perasaannya. Rasanya Ace ingin melontarkan beberapa kalimat omong kosong untuk menjahili Niel, tapi, dia sadar ini bukan waktu yang tepat.
“Niel.” Ace segera menghampiri lelaki itu.
Niel mengangguk mengerti, lalu menciptakan pijakan untuk Ace. Ketika berada dalam jarak yang lebih dekat dengan monster itu, dia bisa merasakan aliran sihir yang begitu familier di sana, sekaligus berantakan. Terlebih lagi, dia bisa merasakan sedikit sihir dari banyak player. Seakan-akan monster itu diciptakan dari mereka yang telah terbunuh.
Ayahnya, adik Hilla, dan player-player belum lama ini mati. Wajah-wajah dari mereka yang telah dikorbankan oleh pertempuran ini muncul di pikiran Ace, berkecamuk menjadi satu. Perasaan marah, sedih, kecewa, dan takut. Semua itu bercampur menjadi satu hingga membentuk monster yang terlihat tak terkalahkan.
Tidak salah lagi.
Semua monster yang muncul di Erfheim berasal dari satu wadah yang sama kemudian disebar melalui dungeon berdasar kapasitas MP yang bisa ditampung masing-masing monster. Wadah itu adalah system yang diciptakan Creator. Artinya, monster-monster ini memiliki format dan data yang sama satu sama lain, dengan sedikit perbedaan di bentuk tampilan dan skill.
Awalnya Ace ragu. Namun, ketika dia merasakan tekanan sihir lebih dalam lagi, dia menemukan tekanan sihir Sarmeet yang telah dibunuhnya, juga pemilik Magic Sword yang pernah digunakannya ketika membunuh Sarmeet.
Ace menutup mata, mencari energy sosok misterius di dalam monster besar itu. Dia menduga bahwa sosok misterius itulah yang mengendalikan semua aliran sihir di dungeon rank S lalu menyebabkan kehancuran bagi Dawn Grimmer. Satu-satunya orang yang paling mungkin melakukannya, juga orang yang paling mendekati sosok Dewa dunia ini. Seandainya dugaan Ace benar, dia tidak perlu ragu lagi untuk membunuh sosok itu ketika mereka bertemu.
Ace dengan spontan membuka mata. Napasnya terengah-engah. Kemarahan langsung memenuhi d**a Ace ketika menyadari perasaan asing ini. Dia tidak menemukan sihir sosok misterius itu, tapi ada satu nama terlintas di benak Ace.
Ayahnya.
Meski samar, Ace bisa merasakan hawa kehadiran sang ayah dalam monster itu. Tidak salah lagi, itu adalah hawa keberadaan sang ayah.
“Jadi, selama ini, kau ada di sana ya?” Ace berkata kepada dirinya sendiri. Kemudian, Ace menatap tajam monster itu. “Kalau begitu, aku akan menyelamatkanmu kali ini.”