Pemandangan sihir es serta kegelapan yang menyapu puluhan burung lava telah mencuri perhatian banyak player. Mereka terkagum-kagum ketika skill es milik penyelamat mereka, sekaligus ketika sihir Niel memotong-motong burung itu dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti pandangan.
Ketika mereka melihat kumpulan burung lava itu disapu dengan begitu mudah, mata para mage dan pemanah [Juran] terbelalak. Mereka merasa baru saja melihat keajaiban dunia. Es-es serta aura kegelapan itu seakan menari-nari tanpa rasa takut dan menghabisi musuh. Ketakutan yang mereka rasakan sebelumnya telah menghilang, dan saat ini, mereka merasa sedang bertingkah seperti bocah yang sangat bahagia.
Optimisme mereka bangkit. Jika mereka terus seperti ini, Dungeon Break akan segera berakhir dan mereka akan selamat.
“Luar biasa. Inikah … penyihir tingkat pertama?”
“Jangan salah sangka, bodoh. Orang berjubah merah di sana penyihir tingkat kedua. Mereka benar-benar luar biasa, ya.”
“Hei, kalau begini terus, kita bisa selamat kan?”
Ucapan-ucapan seperti itu terus bermunculan. Kematian dua ratus lebih player memang berita yang menyedihkan. Tapi, sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Mereka yang masih bertahan akan berhasil hidup.
Potongan-potongan batu lava terjatuh. Burung-burung yang terbuat dari lava berlapis batu kini telah berkurang. Akan tetapi, sebuah hal buruk terjadi selanjutnya. Sekelompok burung-burung lava yang terbang tinggi kini merendah ke arah para mage dan healer.
“Demian! Hilla!”
“Jangan remehkan kami, lho!”
Hilla merasakan di balik tatapan merah para burung berfokus pada mereka. Dia menyadari ada sesuatu yang aneh dengan burung-burung ini. Umumnya, monster hanya akan mengincar pemain yang menyerang atau berada di zona deteksi mereka. Itu artinya, monster tidak akan sengaja menyerang player yang berada di luar jangkauan kecuali mereka menggunakan panah atau sihir jarak jauh. Apalagi para mage dan healer sejak tadi hanya menggunakan sihir penyembuhan dan peningkatan, bukan sihir untuk menyerang.
Akan tetapi, para burung-burung lava itu sepertinya berbeda dengan monster-monster dungeon biasa. Mereka tentu menggunakan algoritma system yang diperintahkan untuk membunuh player. Namun, jika mereka bereaksi terhadap sihir penyembuhan dan sihir peningkatan dari jauh seperti penyerang, itu artinya monster-monster ini didesain secara khusus atau memiliki zona deteksi yang luas.
Demian mulai menembakkan bola-bola api untuk menciptakan ledakan di udara sementara Hilla bersiap. Ketika para burung itu menembus asap yang dihasilkan api Demian, burung-burung itu telah bersiap menembakkan bola lava dengan tatapan lapar ingin memangsa mereka.
Hilla berseru kepada Allura yang sempat terhenti, hendak membentuk sihir pelindung. “Allura, tetap lakukan penyembuhannya seperti itu! Aku dan Demian akan melindungi kalian.”
Hilla beralih tanpa menunggu jawaban. Meski tanpa menunggu jawaban satu sama lain, selama pertarungan-pertarungan sebelumnya, Allura dan Hilla selalu bisa bekerja sama dengan baik. Mereka seakan terhubung satu sama lain yang sulit dilepaskan.
“Allura, aku tahu ini akan sangat melelahkan, tapi bisakah kau mengaktifkan skill peningkatan kecepatan?”
“Tentu.” Allura dengan cepat menyanggupi permintaan Hilla. Mereka sadar ini adalah pertarungan yang penting bagi semua orang. Sekarang ini, meski mereka bisa mengaktifkan skill atau muncul hal-hal yang ada di game online, semua ini sudah bukan game lagi.
Segera setelah Allura mengaktifkan sihir peningkatan kecepatan. Hilla menarik busur panah lalu anak-anak panah berlapis aura kehijauan melesat ke udara, menghujani burung-burung yang semakin mendekat.
Allura melihat ke belakang. HP Ace yang penuh mulai menurun. Tak hanya Ace, tapi juga Niel, serta beberapa anggota tim penyerang satu dan dua. “Tiga healer, tolong aktifkan sihir peningkatan untuk tim penyerang satu, tiga healer lain, tolong aktifkan sihir penyembuhan untuk tim dua, sementara sisanya, tolong bantu aktifkan sihir pelindung. Kita tidak bisa bersantai-santai hanya karena dilindungi.”
Barisan healer itu pun mengangguk. Tidak hanya healer, tapi beberapa mage yang menguasai skill peningkatan pun ikut membantu. Allura sendiri mulai mengaktifkan skill penyembuhan untuk Ace dan Niel. Walau dia dengan cepat mengaktifkan skill, Allura tetap cemas memperhatikan Ace dari tempatnya.
Seakan tidak ada habisnya, burung-burung itu muncul lagi. Ace kembali melompat ke langit dengan bantuan rantai Niel, lalu menyebarkan esnya dengan sangat cepat untuk menyerang para burung. Banyak pedang-pedang pendek yang terbuat dari es menyebar dan mengoyak para monster. HP para monster tidak turun begitu banyak, tapi karena itu, perhatian para monster langsung teralih kepada Ace.
Allura menyelesaikan skill-nya dan cahaya sihir penyembuhan mengelilingi Ace dan Niel. Beberapa pasukan burung bereaksi dan mulai bergerak ke arah Ace dengan jumlah yang dua kali lebih besar. Meskipun Ace adalah penyihir tingkat pertama, tentu dia akan kesulitan menghindari skill burung yang menyerbu ke arahnya tanpa ampun.
Meski menghindar sebisa mungkin pun, Ace tetap terkena damage dan HP-nya perlahan-lahan mulai turun walau tidak menimbulkan luka fatal. Setiap kali dia mengaktifkan sihir peningkatan pada Niel, jumlah yang mengerumuni Ace bertambah dan sebaliknya, ketika dia mengaktifkan sihir peningkatan pada Ace, jumlah yang mengerumuni Niel juga bertambah. Tapi, Allura tidak bisa meminta bantuan dari healer lain yang juga mulai kewalahan.
“Ace ….”
Cara bertarung Ace telah berubah. Dia tahu Ace memaksakan diri untuk tetap bertarung dengan resiko melukai player seminim mungkin. Dia bisa saja menggunakan skill es yang menyebar, tapi Ace takut serangannya akan mengenai player lain. Berbeda dengan Hilla yang memiliki tingkat akurasi tinggi, skill Ace bekerja secara acak. Skill Hilla cenderung tepat sasaran, sehingga resiko mengenai player lain akan sangat kecil.
Saat melihat ke langit, Allura merasa tenaga di seluruh tubuh meninggalkannya begitu saja. Langit Dawn Grimmer yang berwarna merah begitu penuh dengan campuran warna hitam dan merah terang sampai dia tidak bisa melihat pergerakan awan.
Di antara titik merah dan hitam itu, Allura melihat warna biru sebagai titik kecil. Setelah Ace melepaskan ratusan pedang es ke udara, semua itu terlihat seperti melemparkan pasir ke gunung pasir ketika melihat tubuh-tubuh burung lava tercerai berai. Lubang di langit yang baru saja terbentuk segera terisi oleh burung-burung lava, menghalangi langit sepenuhnya.
Bagaimana jika semua ini tidak ada habisnya? Sampai berapa lama mereka bisa bertahan? Memang benar kondisi telah berubah menjadi lebih baik, tapi tetap saja ada batasan MP dan stamina.
“Ini … mustahil.” Allura bergumam putus asa ketika ratusan burung-burung lava kembali muncul. Bahkan baru beberapa jam Dungeon Break berlangsung, tapi dia merasa semua ini telah terjadi begitu lama. “Hal seperti ini … benar-benar mustahil dihadapi.”
Tubuh Allura gemetar ketika melihat Ace bertarung seperti kerasukan. Lelaki itu berseru di udara, berulang kali mengaktifkan skill dan menghabisi burung-burung itu dalam sekejap. Lalu beberapa detik kemudian, burung-burung itu kembali terisi. Hal yang sama terjadi pada monster-monster lava yang ditangani tim penyerang dua, sementara naga itu seakan memiliki ratusan lapis HP.
Sejujurnya Allura tidak pernah mengerti tujuan Creator menciptakan semua ini. Monster-monster yang mereka lawan sungguh berbeda dari monster biasa. Dia tidak bisa membayangkan betapa mengerikan dunia virtual yang harusnya bisa dinikmati tanpa memikirkan kehilangan nyawa. Bagaimanapun, ini pertama kalinya bagi Allura untuk melihat Dungeon Break. Tempat di mana monster-monsternya dipenuhi nafsu membunuh terhadap player.
TIba-tiba suara dengungan yang lebih mirip seperti lalat menggema di langit. Burung-burung yang mengejar Ace dan Niel kini terbagi menjadi dua. Mereka menyudutkan Niel dan Ace dari berbagai sisi. Burung-burung dari sisi kanan langsung turun menghujani Ace dengan cepat, membuat lelaki itu terlempar ke sisi bawah bangunan sebelum berhasil menciptakan pelindung. Membayangka melihat adegan Ace dihujani gumpalan lava yang tak terhitung jumlahnya membuat Allura membeku.
“Ace!”
Allura jadi tidak tahan lagi untuk menahan kekhawatirannya. Dia ingin segera keluar dari dinding pelindung, lalu melakukan sihir penyembuhan dari jarak dekat, tapi sebelum itu, Ace menoleh dan menatapnya. Wajah lelaki itu tersenyum yakin, lalu kembali bangkit. Meski terlihat fatal, damage barusan ternyata hanya mengurangi HP Ace sebanyak dua persen. Melihat itu, Allura merasa kekhawatirannya sangat sia-sia. Jika pergi ke sisi Ace, dia pasti hanya akan membebani lelaki itu. Jadi pilihan yang tersisa hanya terus percaya kepada Ace dan membantunya dari sini.
Untuk mengenyahkan kekhawatirannya, Allura kembali ke posisi lalu mengaktifkan sihir penyembuhan lagi sambil memperhatikan Ace. Ketika lelaki itu bangkit, dia mengaktifkan lingkaran sihir berlapis-lapis. Dengan cepat tubuh Ace dikelilingi oleh efek cahaya berwarna biru terang.
Tekanan sihir yang begitu kuat membuat Allura terbelalak. Dari tekanan sihirnya, Allura tahu bahwa itu bukan sihir yang bisa dilakukan oleh sembarang orang. Sangat jarang untuk Allura melihat sihir sekuat ini, bahkan ketika bergabung raid dengan guild besar di dungeon tingkat tinggi, sehingga Allura tidak tahu sihir apa yang dipakai Ace sekarang. Tapi, perasaan familier tiba-tiba menguasai Allura.
Ah, ini adalah skill yang mengalahkan Frantz di duel waktu itu.
Dia terkesiap ketika efek dari lingkaran sihir itu muncul. Lingkaran sihirnya menjadi besar sejenak, berputar pada sumbu sambil menyelubungi Ace dengan partikel-partikel es. Pola rumit dari lingkaran sihir itu memadat dalam sekejap, lalu dengan cepat, es-es muncul dari lingkaran sihir, melesat ke udara, lalu membuat jaring es yang saling terhubung. Dalam hitungan detik, ratusan burung-burung membeku. Tak berhenti di sana, Niel memanfaatkan kondisi membeku itu untuk menghabisi musuh. Dari scythe-nya, Niel mengeluarkan aura hitam yang mencabik-cabik menjadikan seluruh yang membeku menjadi partikel es.
“Wah!” Tanpa sadar, Allura berseru dengan memalukan. Pandangannya dibutakan oleh pemandangan indah ketika partikel-partikel es melayang di udara. Langit yang tadinya semerah darah telah bermandikan cahaya biru yang indah dan udara yang sangat panas hingga menyesakkan d**a tiba-tiba menjadi sejuk.
Rupanya bukan hanya Allura saja yang terkesima, tapi para mage. Mereka belum pernah melihat sihir yang mematikan sekaligus indah selama berada di Erfheim meski telah bertarung cukup lama. Apalagi ini adalah skill kombinasi yang dilakukan oleh penyihir tingkat pertama dan penyihir tingkat kedua yang sangat langka untuk disaksikan.
Kekuatan Ace dan Niel bisa dibilang sangat mengerikan. Sangat jarang sekali skill kuat seperti itu, tapi sejak kapan Ace mempelajarinya? Allura berseru dalam kegembiraan sekaligus keterkejutan.
Akan tetapi, kesenangan itu hanya berlangsung sejenak. Sebuah pekikan yang terdengar seperti akan menghancurkan langit dan bumi terdengar bersahutan, menggoyahkan Dawn Grimmer. Para player kembali berteriak. Asap hitam pekat muncul dari empat titik yang berbeda. Pertanda bahwa asap-asap itu muncul dari para naga. Area kota yang hancur diterangi oleh cahaya yang meredup. Allura mendengar suara ledakan berselang dari jauh.
Dibutuhkan beberapa detik untuk memulihkan pendengaran mereka. Allura berusaha untuk melihat ke sumber teriakan yang tak lain berasal dari naga lava sambil mengepalkan tangan. Dia begitu terkejut sampai kehilangan kata-kata. Burung-burung, serta monster lava itu berhenti bergerak.
“A-apa itu?” Seorang healer dari [Juran] menunjuk ke langit.
Eksrepsi Allura berubah. Para player membeku akibat kekacauan. Selain itu, mereka tidak bisa berkutik ketika melihat fenomena yang baru saja terjadi. Cahaya kemerahan muncul dari tubuh para monster lalu berkumpul di tubuh naga menjadi satu. Namun, jumlah cahaya kemerahan yang tak terhitung jumlahnya, seakan-akan tidak cukup jika ditampung di satu tempat.
Tubuh naga yang menjadi tempat bersatunya jutaan cahaya semakin membesar, lalu meledak. Ketika ledakkan itu memudar, penampilannya secara bertahap terungkap. Seakan-akan bersatu dengan jutaan monster, naga itu kini berubah menjadi monster berukuran besar yang tingginya menembus langit.
“Disaster ….”
Salah satu mage menyebut kata itu begitu melihat kenyataan.
“Kita … benar-benar tamat sekarang.”