Chapter 54: Raid

1706 Kata
“Kau—“ Mulut Frantz ternganga ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya saat ini. Jubah selutut seputih salju dengan garis-garis biru yang sangat familier bagi Frantz, serta sepatu boots usang yang dia yakin tidak bisa digunakan lebih lama lagi. Meski Frantz jarang memperhatikan penampilan orang lain, tapi dia tjelas tidak akan bisa melupakan armor Sarmeet yang diberikannya beberapa waktu lalu kepada orang itu. Tapi, bagaimana bisa orang itu ada di sini? Mana mungkin kan? Padahal sejak tadi, Mira tidak bisa merasakan kekuatan sihir dari Ace. Apakah mereka menggunakan item teleport untuk sampai di sini? Tapi, rasanya tetap saja mustahil seorang ahli sensor seperti Mira tidak bisa merasakan sihirnya. Akan tetapi, ketika rasa dingin menjalar di sekujur tubuh, Frantz semakin yakin bahwa tekanan sihir ini benar-benar milik orang itu. “Allura, bisakah kau memulihkan mereka?” Suara yang familier terdengar lagi. Kali ini, suara itu bukan milik lelaki berambut biru yang pernah menjadi lawannya, tapi lelaki bertubuh besar dengan rambut hitam. “Akan kulakukan.” Seorang perempuan berambut cokelat pendek mengangguk. Ketika dia mengaktifkan skill, tongkat sihirnya melayang di udara, lalu membentuk lingkaran sihir besar di tanah dengan cahaya putih dan biru. Dalam sekejap, lingkaran sihir itu mengeluarkan aura putih yang bercampur biru, lalu mengisi HP para anggota [Juran] yang terluka. Mata mereka membulat ketika melihat sihir penyembuhan yang begitu cepat walau membuka area yang luas. “Bagaimana bisa … kau?” Frantz memelotot ke arah Ace Clauser dan enam temannya. Ace menoleh, lalu mengulurkan tangan kepada Frantz, membantu lelaki itu berdiri. “Aku melihat kejadiannya melalui siaran system. Jadi kami segera datang kemari karena keadaannya semakin parah.” Awalnya Ace mengira dengan hadirnya player-player professional di Dawn Grimmer, kondisi ini bisa berbalik menguntungkan mereka, tapi situasi saat ini menjadi lebih serius daripada apa yang mereka lihat melalui siaran system. Terutama ketika naga di hadapannya ini memanggil anak buah untuk mengerumuni mereka. “Ah, begitu rupanya.” “Kau beristirahatlah dengan anggota yang lain. Biar kami yang mengurus sisanya.” “Tidak.” Frantz menggeleng cepat. Dia tidak tahu kenapa dirinya melakukan ini, padahal meski HP-nya telah dipulihkan, rasa lelah akibat staminanya berkurang masih terasa. Akan tetapi, rasa putus asa yang baru saja dirasakannya tiba-tiba menghilang ketika orang ini muncul. Dengan menahan rasa lelah itu, Frantz kembali berdiri menghadap naga. “Aku akan tetap bertarung.” Ace terkesima, tapi tidak ada waktu untuk bersantai. Burung-burung lava yang berkumpul di langit siap menghujani mereka dengan batu berlapis lava. Monster-monster kecil yang mengerubungi mereka telah bersiap menyerang secara berurutan. Sebetulnya sebelum tiba di tempat ini, Niel telah membicarakan soal strategi bertarung. Namun, keadaan yang menjadi parah membuat strategi itu kurang cocok diterapkan. “Sekarang apa rencanamu?” Ace tak langsung membalas pertanyaan Frantz. Dia dan Demian bisa saja membalas burung-burung lava itu, tapi tidak ada jaminan serangan mereka tidak mengenai player lain. Dia harus memikirkan cara lain, tapi mereka tidak punya banyak waktu sebelum burung-burung itu menghujani mereka dengan batu lava. Sedetik kemudian, Ace menyatukan kedua kepalan tangan, lalu mengarahkannya ke langit. Dengan segera, kubah es besar berlapis-lapis terbentuk melindungi mereka. Suara ledakan di luar seakan teredam, tapi tidak ada yang bisa membayangkan seandainya seraangan itu langsung menghujani mereka. “Ini tidak akan berlangsung lama.” Ace beralih kepada Niel. “Niel, apa kau punya rencana?” “Dua menit.” Niel mengangkat dua jari ke depan. “Berikan aku dua menit untuk memikirkan jalan keluar.” “Dua menit. Aku harap kita bisa memikirkan jalan keluar dalam dua menit.” “Aku mengerti.” Ace kembali meningkatkan lapisan kubah. Dia bukan hanya memberi waktu kepada Niel untuk menyusun strategi, tapi juga memberikan waktu bagi Allura untuk memulihkan semua anggota [Juran]. Tentu saja semua itu tidak akan mudah mengingat monster-monster di luar sana sudah sangat haus untuk membunuh mereka semua. Saat ini, rasanya dia mereka berada di tengah badai. Meski hanya dunia virtual, semuanya berubah menjadi suara ledakan beruntun yang mengerikan. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di luar. Yang bisa mereka lakukan hanyalah memulihkan diri secepat mungkin. “Apakah ada anggota [Juran] yang masih bisa bertarung?” Pandangan Niel menyapu deretan anggota [Juran] yang baru saja dipulihkan. Beberapa mereka saling pandang. Perasaan ragu dan takut akan pemandangan yang baru saja mereka saksikan terlintas kembali. Tapi, ketika melihat Frantz yang masih berdiri tegak meski baru saja mendekati maut, mereka mengangkat tangan satu per satu. Lumayan banyak, sekitar sepertiga dari total anggota [Juran]. “Dengarkan aku.” Niel meninggikan suara, meredamkan gumaman-gumaman anggota guild [Juran] yang masih memiliki keraguan. “Aku memang bukan master kalian, tapi untuk operasi kali ini, kuharap kita bisa bekerja sama dan percaya pada strategiku.” Niel menunggu beberapa detik, tapi tidak ada yang membantah. Kemudian, dia melanjutkan lagi. “Tim penyerang jarak dekat akan kubagi menjadi dua. Tim pertama akan dipimpin oleh Edgar dan Lucas untuk mengalihkan naga. Tim kedua akan dipimpin oleh Frantz untuk mengurus monster-monster lava di sekitar. Lalu, untuk para mage dan penyerang jarak jauh, akan bergabung denganku, Ace, Hilla, dan Demian untuk mengurus burung-burung lava itu. Healer akan dipimpin oleh Allura. Kalian harus tetap siap siaga untuk memulihkan player yang terluka.” Niel menjelaskan begitu saja sembari membentuk tim dengan cepat. Ace memandanginya penuh takjub. Bahkan di saat menegangkan seperti ini pun, Niel tetap bisa berpikir tenang dan mampu menganalisis kemampuan masing-masing player. Tidak ada yang membantah strategi Niel. Mereka telah berkumpul dengan masing-masing pemimpin. “Ingat, jika salah satu dari kita ragu atau tidak percaya satu sama lain, kita semua bisa mati.” Para anggota [Juran] itu menelan liur dengan susah payah, lalu mengangguk bersamaan. Lalu, Frantz maju beberapa langkah, berdiri di hadapan Niel. “Aku percaya padamu dan juga pada Ace Clauser.” Setelah itu, mereka mencoba mulai mengatur napas. Bahkan Ace dan Niel membutuhkan waktu untuk mempersiapkan serangan balasan ini. Tepat ketika lapisan kubah es terakhir hancur, mereka bergegas berpencar sesuai tugas masing-masing. Mengiktui Edgar dan Lucas, para penyerang jarak dekat, termasuk Ebi langsung menghunus sen jata. Mata mereka bertemu satu sama lain lalu bergerak maju menuju naga yang tengah mengamuk di sisi kanan. Sementara Frantz langsung memimpin penyerang dua ke sisi kiri. “Ayo!” Dengan teriakan para pemimpin, mereka semua berderap, bersiap menyerang. Seperti yang diputuskan sebelumnya, tim Edgar dan Lucas harus menjauhkan naga sebisa mungkin dari para mage dan penyerang jarak jauh, lalu menghabisinya bersama-sama. Mereka harus mengamankan para mage, penyerang jarak jauh, serta healer yang terus mengaktifkan skill penyembuhan dan peningkatan. Dari pancaran cahaya di langit, para burung lava telah siap menembakkan lava berikutnya. Mereka menyerbu Ace dan Niel dengan mulut terbuka lebar yang kemudian membentuk batu berlapis lava. Niel dengan segera membentuk rantai-rantai bayangan, lalu melontarkan Ace, menembus barisan-barisan burung lava. Tepat saat tubuhnya bermanuver di udara, Ace segera menyebarkan kristal-kristal es di udara, lalu menggerakkan secara acak dengan cepat. Beberapa burung terpotong-potong dan terpencar ke seluruh penjuru. Melihat pemandangan seperti itu, para mage yang melihatnya dengan jelas saling berbisik. “Luar biasa.” Itu memang kekuatan kombinasi serta sihir pengendalian pada level yang mengerikan. Meski begitu, serbuan itu belum berakhir. Ketika tubuh Ace mulai tersedot gravitasi ke bawah, Niel kembali melemparkan rantai, menjadikannya sebagai pijakan Ace untuk terus maju menerobos barisan burung. Ace tidak bisa sembarangan menggunakan sihir hanya untuk membuat pijakan dari es, karena itu, dia membutuhkan Niel yang memiliki rantai kokoh yang bisa dikendalikan sesuka hati. Akan tetapi, sihir Niel bukan sekadar mengendalikan rantai. Setelah memastikan Ace bisa bertahan di udara selama beberapa detik, dia mengaktifkan skill dengan memutar scythe lalu membentuk putaran energy sihir yang tajam, lalu memotong burung-burung lava yang lolos dari jangkauan Ace. “Demian!” Niel berseru kepada Demian yang telah bersiap untuk menghajar burung-burung di belakang para mage. Demian tersenyum lebar sambil mengepalkan kedua tangan. “Aku tahu! Burung-burung api itu terlihat lezat di mataku sekarang!” Api Demian membentuk sebuah cincin yang berputar di udara, membakar burung-burung lava dalam sekejap, lalu menghabisi ke sisi lain. Tak ingin membiarkan burung-burung lainnya lolos, Demian dengan cepat membentuk lingkaran sihir lalu menembak kan bola-bola api ke langit. Bola yang diselimuti lava pun berbenturan dengan bola api Demian, menciptakan ledakan beruntun di udara. Burung-burung lava muncul dari sisi lain yang tertutup ledakan. Namun, sebelum mereka berhasil mencapai para mage, Hilla beserta pasukan pemanah lain telah melepaskan panahnya. Dalam sekejap, sisi barat daya mereka dipenuhi hujan panah, membuat burung-burung lava itu kehilangan keseimbangan. Tak ingin terjebak dalam kekaguman, para mage bersiap. Mereka melepaskan skill sihir pembekuan untuk mencegah lava-lava yang dilepaskan para burung mengenai tim penyerang dua yang tengah bertarung di bawah mereka. Namun, setiap satu burung dihancurkan, tiga burung lain akan muncul. Meski keadaan telah sedikit berubah, menyaksikan para burung dan monster lava yang terus berdatangan dalam jumlah besar mengirimkan rasa dingin ke tulang belakang mereka. Jumlah musuh terlalu banyak. Para burung yang menyerbu dari atas seperti jala merupakan masalah utama, terlebih tim pertama masih belum menunjukkan kemajuan. Karena semua bencana terjadi di luar dungeon, system respawning tidak akan dibatasi oleh system dan terjadi terus menerus sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Para burung lava mengelompok dengan cepat, menyatukan kekuatan sihir untuk membentuk batu berlapis lava raksasa untuk menyerang mereka sekaligus. Serangkaian percikan lava panas muncul dari atas hendak menghujani tim penyerang satu. Namun, Ace yang berhasil berpijak di atas gedung runtuh dengan cepat membentuk pelindung. Karena lontaran Niel padanya cukup kuat, Ace bisa mendapatkan pijakan yang bagus untuk melancarkan combo berikutnya. Ace melihat ke sekeliling dengan tenang. Jika saja dia berhadapan dengan semua ini sebelum menjalani rank quest, dia pasti akan gemetar ketakutan, lalu bersembunyi di belakang teman-temannya, tapi sekarang dia tidak bisa seperti itu. Dia tidak berniat melindungi seluruh anggota [Juran], tapi juga tidak bisa mengabaikan mereka. Terutama ketika mendengar permintaan Hilla untuk membantu mereka sebisa mungkin. Ace mengepalkan tangan. Pandangannya lurus ke ke atas, melihat burung-burung lava yang telah berkerumun di langit. Mereka tidak bisa berlama-lama di sini. Meski naga itu telah mengumpulkan ribuan anak buahnya di sini, masih ada tiga naga lain yang harus dihadapi. Selain itu, para healer juga tidak akan bertahan lama. “Baiklah, kurasa sudah waktunya untuk bergerak lebih cepat.” Ace melebarkan kedua kaki, lalu mengarahkan kedua tangannya ke atas. “[Ice Ray]!” Kumpulan burung lava yang seakan tidak memiliki ujung langsung disapu oleh ratusan laser es yang muncul dari lingkaran sihir tangan Ace.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN