Selama apa mereka bisa bertahan?
Dua jam? Tiga jam?
Tidak. Bahkan saat ini, satu menit pun terasa seperti satu jam bagi mereka.
Itulah yang terbesit di benak Frantz ketika melihat se rangan anggota guild-nya seakan-akan tidak menimbulkan efek yang berarti pada naga itu. Selain berfokus pada naga, mereka juga harus menghadapi monster-monster lava yang terus berdatangan tanpa henti. Sihir pelindung memang efektif untuk mengurangi daya serang dari musuh, tapi penggunaan secara terus menerus akan menguras MP. Meski mereka memiliki healer, mereka akan tetap kehabisan MP. Setelah itu, apa yang akan terjadi?
Ledakan besar kembali terjadi. Pandangan Frantz yang sejak tadi terpusat pada naga itu beralih ke sumber ledakan. Meski jaraknya amat jauh, Frantz bisa melihat kepulan asap hitam yang membumbung di udara, disertai dengan tekanan sihir yang sangat kuat. Tekanan sihir itu terasa jauh lebih kuat dibanding tekanan yang dihasilkan naga di hadapannya.
“Apa terjadi sesuatu?” Frantz bertanya tanpa menoleh pada Mira yang berdiri di belakang.
Dengan segera, perempuan itu mengaktifkan skill analisis, lalu berkata, “Sepertinya bencana ini tidak hanya muncul di sini.”
“Apa maksudnya?”
“Meski samar, aku bisa merasakan ada empat naga yang muncul di Dawn Grimmer?”
“Empat naga?!” Keterkejutan Frantz sama sekali tidak bisa disembunyikan. Awalny Frantz berharap Mira akan mengatakan bahwa sihir analisisnya salah, tapi ketika perempuan itu mengangguk, bahu Frantz terkulai seketika.
Beberapa detik setelah ledakan, muncul sayap-sayap naga yang tingginya melebihi tinggi gedung. Persis seperti yang terjadi ketika naga di hadapan mereka ini muncul. Fakta bahwa mereka tidak tahu sebab dan akibat dari fenomena yang mencurigakan ini bukanlah kabar baik. Langit-langit Dawn Grimmer memerah. Awan-awan memanas akibat lava yang mengalir dari tubuh empat naga.
Empat naga. Bahkan ketika merasakan tekanan sihir yang kuat pun, Frantz masih tidak percaya kalau saat ini mereka harus mengatasi empat naga. SUdah jelas sekali bahwa Dungeon Break ini berada di level yang jauh berbeda dengan Dungeon Break sebelumnya. Apakah mungkin … monster-monster ini keluar dari dungeon rank S? Tidak, bahkan rasanya terlalu dangkal mengatakan bahwa mereka adalah rank S.
“Apakah ini ada kaitannya dengan empat naga?”
Terlalu aneh untuk mengatakan bahwa ini kebetulan. Tapi, siapa player yang mampu membunuh empat naga sekaligus? Ace Clauser? Mungkin saja lelaki itu akan berhasil mengatasi mereka satu per satu, tapi apakah seorang player memiliki stamina yang cukup untuk itu?
Frantz sendiri pernah menyelesaikan dungeon dengan naga sebagai boss-nya. Mereka membutuhkan waktu seharian penuh, padahal anggota party-nya diisi oleh player-player professional. Bagaimana dengan empat naga? Tapi, jika mengingat pertarungan dia dengan Ace sebelumnya, hal itu mungkin saja terjadi.
“Aku berharap padamu, penyihir tingkat pertama.” Frantz menggumamkan hal itu sekali lagi lalu memperkuat sihir pelindung.
Pandangannya kembali pada naga lava di hadapannya yang terus mengamuk tanpa henti. Di sekeliling gedung mereka, para monster lava telah berkerumun, seakan-akan menantikan salah satu dari mereka turun lalu melelehkannya dengan s***s.
Berapa jumlah monster saat ini? Ratusan ribu? Atau jutaan ribu? Sudah berapa banyak yang mereka bunuh? Dan sudah berapa banyak player yang mati? Beberapa menit lalu, angka kematian telah mencapai dua ratus. Sekarang, berapa?
Mereka hanya memiliki sekitar lima ratus Dragon Slayer, itu pun tidak bisa dipukul secara rata bahwa mereka semua berguna. Masih ada banyak Dragon Slayer tingkat rendah yang bahkan tidak bisa mengendalikan sihir dengan benar. Saat ini, Dungeon Break paling banyak memakan player Saar yang tidak memiliki kemampuan, tapi rakus akan kekuatan. Pastinya, di luar sana, ada ribuan Saar yang menyerang naga ini tanpa berpikir panjang dengan harapan mereka akan mendapatkan Obsidiant Stone.
Dan konyolnya, dia tidak bisa menyelamatkan mereka satu per satu. Tidak dengan kekuatannya saat ini, meski dia seorang penyihir tingkat kedua. Apa sebetulnya kekuatan ini? Bahkan untuk melindungi anggota guild-nya saja, Frantz sampai melakukan trik konyol semacam ini.
Ketika menyadari ketidakberdayaan Frantz, dia mengepalkan tangan. Pemandangan Dawn Grimmer saat ini tidak lebih dari kiamat. Jalan besar Dawn Grimmer yang tadinya dipenuhi NPC dan player yang saling berbincang kini telah pecah dan dialiri lava. Bangunan-bangunan yang tadinya berdiri kokoh kini telah hancur sebagian. Beberapa mayat NPC tergeletak di mana-mana, sementara ada banyak armor dan weapon sisa-sisa player yang terbunuh berserakan.
Semua pemandangan ini tidak lebih dari mimpi buruk.
“Bagaimana dengan guild lain?”
“Aku tidak bisa memberikan informasi akurat, tapi saat ini, guild lain masih bertarung. [Knight of Bloods] masih bertarung, begitu pula dengan guild-guild besar lain. Tapi, guild dengan anggota kurang dari dua puluh orang sudah kewalahan.”
“Begitu rupanya.” Frantz tidak terkejut dengan laporan Mira barusan. Memang benar, semakin banyak anggota guild, semakin besar pula kesempatan mereka bertahan hidup. Mereka saling memanfaatkan satu sama lain untuk bertarung, tapi guild kecil tidak memiliki banyak kesempatan.
“Um, Master.” Mira memanggil Frantz dengan ragu-ragu.
“Katakan.”
Ekspresi Mira yang hendak menyampaikan informasi menjadi sangat pucat. “A-aku … merasakan kekuatan sihir yang sangat besar sedang menuju kemari.”
“Musuh?”
Mira menggeleng. Ketika dia mempertahankan skill analisisnya, tekanan sihir yang dia rasakan itu benar-benar kacau. Tidak ada satu kata pun yang bisa mendeskripsikan betapa kuat serta mengerikannya kekuatan itu. Tapi, dia juga tidak bisa mengatakan apakah dia musuh atau kawan.
“Katakan dengan jelas!” Frantz membentak ketika raut wajah Mira menjadi semakin pucat.
“A-aku … tidak tahu, tapi kekuatan itu sangat besar serta mengerikan. Aku bisa merasakan kegelapan darinya, tapi … aku juga merasakan kehangatan.”
“Huh?” Frantz memiringkan kepala, tidak mengerti tentang maksud ucapan Mira.
Kemudian, sebelum Frantz memikirkan hal itu lebih dalam lagi, naga telah melemparkan semburan lava panas membelah bangunan yang mereka pijak. Dalam sekejap, bangunan itu runtuh, lalu semua player yang berdiri di atasnya terjatuh bersamaan dengan teriakan yang menggema. Sihir pelindung mereka langsung menghilang. HP sebagian anggotanya telah berkurang dua puluh lima persen.
Frantz melihat mereka yang selamat. “Kalian masih hidup?”
“Tentu!” Mereka langsung berdiri meski masih kesulitan. Meski tubuh mereka hanyalah data virtual, rasa sakit ketika terkena serangan tetap terasa.
“Jangan lengah.” Frantz memperingatkan ketika naga itu melangkah dengan cepat ke arah mereka.
Saat kobaran api keluar dari mulut, Frantz dengan cepat memblokir se rangan naga dengan sihir api miliknya, lalu membentuk perisai-perisai dari api untuk melindungi anggota guild yang masih kesulitan berdiri.
“Kita masih harus bertarung! Tim tiga, urus monster kecil. Sementara aku, tim dua dan tim satu akan melawan naga ini. Aku akan maju lebih dulu untuk mengalihkan perhatian!”
Untuk menyingkirkan naga ini secepat mungkin, Frantz harus mengenyahkan semua ketakutan. Dia harus meningkatkan kekuatan sihir dibanding ketakutannya. Frantz melihat tim healer yang mencoba meningkatkan daya tahan dan daya serang para anggota. Apakah mereka harus menyerang balik? Atau tetap bertahan seperti tadi? Tapi, tanpa adanya pijakan yang tepat, mereka akan kesulitan bertahan.
Frantz tersenyum tipis. Ini pertama kalinya dia menjadi seorang tanker.
Semburan naga itu telah menghancurkan gedung-gedung di belakang mereka sehingga tidak ada tempat persembunyian yang cocok. Satu-satunya cara yang tersisa adalah bertarung sampai mati. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Sihir para healer juga terbatas sehingga tidak bisa digunakan sembarang. Dia memang memiliki se rangan yang kuat, tapi tidak terlalu berefek pada naga yang memiliki atribut api. Akan lebih baik jika menyerang titik lemah. Tapi, apakah itu bisa dilakukannya dengan kecepatannya yang sekarang?
Sekarang, apa yang akan orang itu lakukan dalam posisi ini?
Frantz menggertakkan gigi. Bahkan di saat ini pun dia masih mengandalkan Ace Clauser yang telah mengalahkannya.
“s**l, kenapa jadi seperti ini.”
Hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah, menjadi semakin runyam.
Naga mengaung dan mengembuskan lava. Setelah aksi ini selesai, mereka harus bersiap untuk menyerang. Frantz berlari melewati api lalu mengayunkan kedua tangan ke cakar naga yang ada di hadapannya. Dia melompat untuk mengindari ekor dan cakar yang terayun ke arahnya.
Lava hampir saja menetes di atas kepala, jika seandainya Frantz tidak segera berguling. Frantz berlari dengan kepalan api di kedua tangan. Namun, dengan segera, api menyala di hadapan Frantz yang disertai dengan teriakan dari para anggota. Ketika Frantz terdiam sejenak, Sada dan Sasha telah melepaskan tembakann mereka untuk menghalau cakar naga. Dengan segera, cakar naga itu terlontar ke samping menghancurkan jalanan.
Frantz tersenyum seakan sudah memperhitungkan semua ini. Dia bisa mati kalau Sasha dan Sada terlambat satu detik saja. Tapi, Frantz tahu mereka bisa diandalkan. Jika dia adalah Ace Clauser ….
Perasaan emosi yang tajam datang saat dia menyelimuti seluruh tubuh dengan api. Bayangan-bayangan pertarungan duel hari itu tertanam dalam benak, ketika sosok bertubuh kurus itu menghajarnya terus menerus dengan gerakan yang tidak terduga.
Setidaknya sekali, Frantz ingin meniru gerakan orang itu.
Kedua tangan Frantz terulur ke depan, lalu lingkaran sihir berlapis mulai terbentuk dari kedua tangan dan kedua kakinya. Dengan segera, api berkobar menyelimuti jalan batu Dawn Grimmer yang telah hancur, lalu menyatu dengan lava yang mengalir. Berkat persamaan atribut mereka, Frantz berhasil menyatukan kekuatannya dengan kekuatan lava itu.
Berkat lava, kekuatan api Frantz jadi lebih besar. Api-api terus berkobar memenuhi pandangan seakan-akan menyelimuti naga itu dengan seluruh api. Frantz tahu serangan ini tidak akan terlalu berhasil, tapi setidaknya dia bisa mencegah naga ini menyemburkan lava lagi. Jika dia gagal, semua anggotanya akan mati. Entah berapa lama mereka bisa bertahan dengan kondisi seperti ini, tapi setidaknya Frantz ingin bertarung.
Naga yang telah terjebak dalam pola sihir Frantz tidak bisa berkutik. Namun, sebelum senyum kemenangan terukir di wajah Frantz, naga itu mendongak ke langit lalu mengeluarkan suara pekikan yang bergema. Frantz sontak menutup kedua telinga ketika suara pekikan itu berlangsung selama beberapa detik.
Matanya membulat. “Apa itu? Panggilan?”
Nada tinggi itu terdengar seperti tangisan memilukan dari seekor monster. Bukan sekadar tangisan, tapi—
Jantung Frantz seakan berhenti berdetak ketika merasakan tekanan sihir yang begitu kuat sedang datang mendekat.
“Master!” Mira berseru dengan suara gemetar.
Ketika Mira menunjukkan wajah pucat dengan mata membulat, Frantz tahu sesuatu yang buruk tengah terjadi. Semua anggota guild mendongak ke langit dengan tatapan tak percaya. Pandangan mereka tertuju ke satu titik dengan tubuh gemetar.
“Aku … tidak percaya dengan ini.”
Benar. Itu suatu yang mustahil. Seharusnya tidak pernah terjadi. Ketika mereka melihat bayangan hitam di langit, mereka tiba-tiba teringat dengan burung-burung yang bermigrasi ke suatu tempat. Tapi, mereka bukan bermigrasi, melainkan terbang menuju mereka.
Wajah Frantz yang baru menyadari pemandangan itu menjadi pucat. Ratusan atau mungkin ribuan burung lava terbang menuju mereka dengan kobaran api di seluruh tubuh.
Frantz merasa sangat tidak nyaman ketika merasakan aura intimidasi yang begitu kuat. Perasaan ini hanya pernah dia alami dua kali, yaitu ketika berhadapan dengan naga, dan kedua, ketika berhadapan dengan Ace. Sulit rasanya untuk menyadari betapa kuatnya monster-monster itu sekarang. Jika semua monster itu berjalan menuju mereka, itu artinya—
“Kita akan menjadi umpan.” Frantz mengucapak sebuah fakta yang baru saja terjadi tentang raungan naga itu. Panggilan. Itu adalah skill taunt yang biasa digunakan para tanker untuk mengalihkan musuh. Naga itu telah menjadikan mereka semua sebagai umpan. “Dan akan mati di sini.”
Para anggota guild menangis ketika menyadari kematian mereka telah dekat. Frantz memejamkan mata. Tubuhnya merosot ke tanah dan dalam sekejap, api yang mengurung naga itu telah meredup.
Napas dan tenggorokannya tercekat. Dia tidak bisa menahan rasa panas yang menyebar ke sekitar ketika monster-monster lava semakin mendekat. Udara di sekitar mereka berubah. Kematian seperti apa yang akan mereka hadapi? Membayangkannya saja sudah membuat tubuh Frantz membeku.
Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak akan bisa menghadapi seluruh monster itu dengan kemampuannya. Apalagi ketika tidak ada waktu yang tersisa lagi seperti sekarang. Meski memiliki penyerang jarak jauh, mereka tidak akan bisa menyerang dalam kondisi mental seperti ini. Semua anggotanya telah terguncang dengan pemandanga mengerikan di langit. Ini adalah situas di mana seseorang bahkan tidak bisa melakukan serangan balik.
Meski mereka memiliki healer yang bisa memulihkan tubuh mereka dalam sekejap, tetap saja ada batasan sihir. Itu artinya tidak ada kesempatan untuk menyerang. Benar-benar tidak ada.
“Ace Clauser.” Frantz kemudian teringat akan orang itu. “Bagaimana jika musuh yang kuat berdiri di depanmu?”
“Aku akan menghajarnya terus menerus.”
Frantz membelalak ketika tekanan sihir kuat yang pernah dialaminya sekali mengalir bersamaan dengan jawaban yang tak terduga. Hawa dingin yang membuatnya merinding, sekaligus sosok yang tidak pernah diduga sama sekali.
Orang ini ….
Mulut Frantz terbuka untuk memanggil nama orang itu, tapi dia tidak memiliki tenaga untuk sekadar menyebut namanya. Dia tidak ingin percaya itu, tapi meski dirinya kelelahan, pandangan ini tidaklah salah. Bukan hanya Frantz yang menatap tak percaya, tapi seluruh anggota guid-nya.
Tujuh player yang telah lengkap dengan peralatan tempur mereka telah berdiri di hadapan mereka.
[The ‘Hidden Quest: Dawn Grimmer Defense Request has started!]
[Difficulty: Rank S+]
[Reward: ??? ]
[Time Limit: None]
[Failure: Death]
[QUEST START!]