Chapter 52: Endless Magflame

1851 Kata
“Apakah Ace Clauser dan guild-nya belum tiba?” Frantz berseru pada Mira yang terus mengotak-atik daftar player yang saat ini berkontribusi dalam penyelesaian dungeon break. Saat ini, [Juran] sedang beraliansi dengan [Ingeressf] untuk membereskan bagian timur, tapi monster yang terus berdatangan membuat mereka semakin kewalahan. Sama seperti Edgar dan yang lain, Frantz juga tahu betapa mengerikannya dungeon break. Apalagi kondisi ini jauh lebih parah dari bencana sebelumnya. Mira menggeleng lemah sambil menutup kembali jendela informasi. “Belum, Master.” “Sial.” Frantz berdecak. Dia menguatkan kepalan tangan lalu membentuk tali api panjang yang meledakkan beberapa monster. Namun, selang beberapa detik kemudian, monster lainnya muncul dari balik gedung-gedung yang telah hancur. Ketika panah-panah Sada memberinya jeda sebentar, Frantz menoleh lagi pada Mira. Perempuan itu telah bertugas sebagai informan [Juran] berkat kemampuannya dalam teknologi. Apalagi, skill Mira yang berfokus pada pencarian informasi dengan ekstra cepat dan telepati tidak berguna dalam pertarungan, tapi berguna dalam hal-hal menyusun rencana. “Siapa pemimpin operasi kali ini?” “Tidak ada.” Frantz menggigit bibir bawah. “Tidak ada, katamu?” Memang benar bahwa tidak ada pemersatu guild di Erfheim. Mereka bergerak-gerak secara sendiri-sendiri. Jadi hal-hal semacam pemimpin operasi sangat tidak mungkin muncul di tempat ini. Kondisi yang jauh berbeda dengan dunia nyata Frantz, di mana ada seorang pemimpin dari semua pemimpin tim ketika berada dalam peperangan. Harusnya, dia tahu hal-hal semacam itu tidak ada di Erfheim. “Master, apa yang harus kita lakukan?” Ebi yang sejak tadi bertarung di garis depan mundur ke hadapan Frantz. Kondisi Ebi tidak cukup baik karena mereka sudah bertarung cukup lama. Meski dia memakai armor dan weapon tingkat tinggi sekalipun, damage musuh masih bisa menembus pertahanan. Mereka memang memiliki healer tingkat ketiga dengan rank C, tapi mustahil untuk menyembuhkan para player yang berada di garis depan bersamaan. Jadi, Frantz membagi anggota [Juran] menjadi tiga kelompok dengan lima belas anggota di setiap kelompoknya, dengan masing-masing tiga healer. “Terus bertahan sampai orang itu datang. Aku akan membereskan di bagian sini.” Setelah Frantz selesai bicara, para kawanan [Mag Norm] yang dipimpin oleh [Mag Steel] mulai bermunculan dari balik gedung. Frantz bersiaga, sementara Ebi tengah mendapat pertolongan dari healer. “Aku akan membereskannya.” Frantz berdiri di hadapan Ebi. “[Flame Lance]!” Puluhan tombak api muncul dari kedua tangan Frantz, melesat ke monster-monster lava mutan. Frantz memandangi kejadian ketika monster-monster itu berubah menjadi abu dalam sekejap. Meski mereka tidak memiliki defense yang kuat, jumlah merekalah yang merepotkan. Jadi, membereskan mereka dengan sihir area sangat menguntungkan dibanding menyerahkannya pada penyerang garis depan. Frantz berbalik dan bertanya pada Mira. “Bagaimana dengan sisi lain Dawn Grimmer?” “[Knight of Bloods] masih bertarung. Mereka tampak kewalahan.” Mira melapor sambil membuka jendela informasi system. Dia mendapatkan berita terbaru yang di-update secara berkala melalui siaran system dan siaran pribadi yang dibuatnya. “Beberapa guild kecil bertarung bersama di wilayah utara. Tapi—“ “Tapi apa?” Frantz mendesak tak sabaran. Dia kembali membentuk bola-bola api untuk menahan musuh yang mendekat. Karena jumlah yang terus bermunculan, Frantz bahkan tak sempat hanya sekadar menoleh pada Mira yang berdiri di belakang. “Sudah … dua ratus player terbunuh.” “Dua ratus?!” Mata Frantz seketika membelalak. Keterkejutan itu membuat sihir Frantz tidak seimbang dan mengalami ledakan yang melesat ke depan. Monster-monster mutan yang bermunculan tiba-tiba lenyap dalam sekejap. Bebatuan dari tubuh mereka yang terbakar berjatuhan. Dua ratus. Itu jumlah yang hampir menandingi Dungeon Break di masa lalu. Ini bahkan baru hari pertama. Apakah tidak ada yang bisa mereka lakukan? Frantz mengepalkan tinju. Ini bukan waktunya untuk merasa frustasi. Dia kembali maju sambil membentuk hujan bola api yang kemudian diperkuat oleh panah Sada. Namun, tepat setelah skill Frantz berakhir, sebuah ledakan yang mengerikan muncul. Ledakan itu kemudian disusul oleh ledakan lain dengan asap hitam tebal mulai mengudara. “Apa?” Frantz mengerutkan kening saat melihat kobaran api yang menari-nari setelah asap hitam itu mereda. Itu bukan sekadar kobaran api biasa. Tekanan sihirnya benar-benar mengerikan. Bahkan, bagi seorang tingkat kedua sepertinya, tekanan sihir itu berhasil membuatnya merinding. Gedung-gedung di sekitar api berubah menjadi abu bersamaan dengan terbangnya jutaan pecahan polygon warna-warni. Frantz menatap tak percaya ketika api besar itu meredup dan lava merah mengalir keluar. Tanah-tanah, dan segala hal yang ada di sekitarnya terbakar. Aroma tak sedap mulai menggelayut di udara bersamaan dengan kenaikan suhu udara dengan cepat. “Zona lava?” Frantz yang menyadari itu menjadi semakin tak percaya ketika pernapasannya menjadi sulit. “Jangan-jangan—“ “Mungkinkah itu—“ Di belakang Frantz, Mira menunjuk titik kobaran api yang kini telah meredup. Matanya membulat sempurna, sementara seluruh tubuhnya bergetar ketakutan ketika melihat sosok monster yang muncul. Seekor naga lava dengan seluruh tubuh yang dipenuhi lava yang mengalir di celah bebatuan, serta asap berbau aneh yang menyebabkan oksigen seakan menipis. Ketika dia melangkah dengan cakarnya, lava-lava itu menetes ke tanah. Baik Frantz dan seluruh player yang berada di sana membeku. Kenapa ada naga di tempat ini? Tidak. Bukan suatu yang mustahil bahwa naga menjadi boss dari dungeon tingkat tinggi. Jika dipikr-pikir, kejadian ini benar-benar sangat langka sekaligus logis di mana seluruh anggota raid dibantai oleh monster-monster sepert ini. “Naga!” “Jika kita membunuhnya, bukankah kita bisa menjadi Dragon Slayer? Kita akan selamat dari penderitaan!” “Ayo serang!” Beberapa player pemula yang memegang sen jata rapuh berseru kegirangan. Seluruh ketakutan yang belum lama menguasai sekitar kini perlahan menjadi harapan baru. Frantz tidak terkejut mendapati semua ini. Memang benar bahwa membunuh naga dapat menjadikan player sebagai seorang Dragon Slayer, tapi yang memberikan kekuatan Dragon Slayer adalah Obsidiant Stone. Naga yang tidak muncul dari [Special Quest] tidak akan memberikan Obisidiant Stone sebagai hadiah. Jadi, player pemula yang berusaha membunuh naga ini dengan harapan menjadi Dragon Slayer sama saja seperti mengantarkan nyawa mereka. “Tunggu!” Semua player itu mengabaikan larangan Frantz dan menerjang maju. Mereka mengayunkan pedang pendek yang sama sekali tidak memiliki damage tinggi dengan kepercayaan diri yang besar. Akan tetapi, sebelum ujung pedang mereka berhasil menggores musuh, ekor naga telah yang diselimuti lava telah terayun melemparkan mereka semua ke reruntuhan bangunan. HP sebagian player yang bertahan memasuki zona merah, sementara tiga yang lain telah pecah menjadi polygon warna-warni yang mengudara. Frantz berteriak ke arah player yang terjatuh. “Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi dari sana!” Player itu melihat Frantz. Wajah pucatnya yang memantulkan warna kemerahan dari api di sekeliling penuh keputusasaan, lalu berteriak pada Frantz. “Kenapa kau tidak membantu kami!? Kalau saja kau membantu—“ Sebelum player itu menyelesaikan kalimat, naga itu kembali menerjang. Tapi kali ini sihir Frantz berhasil menahannya tepat waktu. “Dasar b******k!” Frantz berteriak ketika player-player itu masih berusaha menghadapi naga. Sihirnya tidak bisa menahan naga lebih lama lagi. Bukti kalau tiga orang yang menghilang tadi berarti bahwa mereka telah mati. Level mereka bahkan tidak mencapai level sepuluh. Dan mereka masih bisa menerjang kematian hanya karena berharap keajaiban terjadi? “Jangan!” Suara Frantz seakan gagal mencapai mereka. Itu adalah usaha yang sia-sia. Jika mereka menyerangg bersama, mereka hanya akan mengganggu satu sama lain dan menambah kekacauan. Mereka harus bertarung dengan tenang, lalu menerapkan [Party’s Combos]. Tapi, hal itu mustahil dilakukan mengingat semuanya adalah player baru yang haus akan kekuatan. Naga itu berdiri dengan tegak dengan mengeluarkan auman yang mengguncangkan tanah sebelum menyemburkan lava panas. Dengan segera, player-player yang menghentikan langkah, terbengong-bengong melihat serangaan itu. Sang naga mengambil kesempatan lalu mengayunkan cakar besarnya. Tubuh mereka terpental ke udara, melewati kepala sang naga lalu terjatuh dengan keras di genangan lava. HP mereka menghilang sepenuhnya. Mulut mereka bergerak seolah mengatakan sesuatu, lalu tanpa menunggu waktu berlalu lebih lama, tubuh mereka pecah menjadi polygon warna-warni. Di samping Frantz, Mira mengeluarkan teriakan singkat ketika melihat kematian sepuluh player yang sia-sia. Sementara player lain yang telah melihat kengerian itu, mulai gelisah. Mereka berlari menjauh dari naga sambil berteriak dengan HP yang telah berada di zona kuning. “Mundur!” Anggota [Juran] bergerak dengan patuh ketika Frantz berseru. Mereka semua berdiri di posisi sejajar dengan Frantz, masih dengan posisi sen jata yang teracung ke depan. Tentu saja mereka adalah player yang telah menjalani raid-raid sulit sebelumnya sehingga mereka tidak terlalu terkejut melihat pemandangan ini. Meski begitu Frantz merasa tubuhnya mendingin karena takut sementara udara di sekitarnya panas. Untuk mengatasi bencana ini, berbagai taktik harus dilakukan. Mereka tentu punya kekuatan yang sebanding dengan naga asalkan bekerja sama, tapi masalahnya, monster-monster lava kecil itu kembali bermunculan. Selain itu, meski mereka adalah player professional, tetap saja ada rasa takut ketika berhadapan dengan musuh sekuat ini. Bahkan dengan level Frantz yang berada di level lima puluh, tulisan nama naga itu masih berwarna merah tua yang artinya dia memiliki level jauh lebih tinggi dari Frantz. [Endless Magflame] Frantz terus mengawasi pergerakan [Endless Flame] yang juga mengawasi mereka. Tidak seperti monster lainnya, naga itu tidak menyerangnya secara membabi-buta ketika melihat manusia, seakan memiliki akal. “Dia … berhenti?” Mira bertanya dengan tak percaya. Frantz tidak langsung menjawab. “Mira, apakah orang itu belum sampai?” Mira menggeleng pelan. “Tidak. Jika dia datang, aku pasti bisa merasakan tekanan sihirnya.” “Begitu rupanya.” Frustasi, Frantz menghela napas panjang. Lagipula, kenapa dia terus menunggu kedatangan Ace? Apakah itu artinya Frantz mengakui bahwa Ace jauh lebih kuat darinya? Itu adalah fakta mutlak yang tidak terelakkan. Percikan lava panas menyebar ke sekitar. Seperti namanya, naga itu memiliki sihir api dan lava panas yang mampu melelehkan segalanya. Sekali saja terkena skill, pasti akan mendapat damage fatal. Bahkan seorang tanker pun hanya bisa bertahan lima sampai tujuh serangan. “Ma-master?” Mira dan Fu gemetar ketika mereka bertemu tatapan Frantz. Dia memahami perasaan para anggotanya sekarang. “Jangan sampai terkena serangannya.” Frantz memerintahkan. “Sekarang ini, lebih baik kita menyerang dari jarak jauh. Tim penyerang jarak dekat berada di hadapan penyerang jarang menengah dan penyerang jarak jauh! Lindungi mereka kalau ada musuh yang mendekat! Anggota guild yang tadinya dibagi menjadi tiga tim telah bergabung. Para penyerang jarak mengikuti perintah. Mereka tetap menegakkan sen jata sambil sedikit membungkuk, sementara para pemanah dan penembak jitu, beserta beberapa pengguna sihir mempersiapkan skill. Mereka berdiri di atap-atap bangunan yang tersisa. “Para mage, bentuk pelindung!” Frantz berseru lagi sambil mengangkat tangan kanan. Tentu saja, dia tidak berencana berdiam diri menyaksikan anggotanya bertarung. Dari atap bangunan, mereka bisa melihat kehancuran Dawn Grimmer yang begitu mengerikan. Pemandangan ini benar-benar mengingatkan Frantz pada kenangan masa lalu di mana Dungeon Break terjadi dan menewaskan banyak player, termasuk perempuan yang dicintainya. Frantz mengetatkan rahang, dengan segera mengenyahkan kenangan pahit itu, lalu membentuk lingkaran sihir besar dan mengaktifkan sihir pelindung. Dia tidak bisa lemah. Perempuan itu mati karena melindungi sesuatu yang berharga, jadi Frantz tidak ingin menyia-nyiakan kehidupannya. “Aku masih belum mau mati!” Frantz berseru di udara sambil melepaskan mantra sihir pelindung. Kemudian dalam sekejap, dinding transparan dengan sinar-sinar putih muncul melindungi mereka semua. “Bertahan! Kita harus bertahan sambil memberi damage sebisa mungkin!” “YA!” Dengan keyakinan yang kuat, seluruh anggota [Juran] berseru, menyongsong kematian. Sementara itu, di hati Frantz terus mengucapkan satu kalimat. “Kau pasti datang, kan, Ace Clauser?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN