Angin terus bertiup menerpa wajah Ace dengan kasar ketika dia melesat. Saat ini, tembakan dari Sasha telah berhenti. Perempuan itu sedang mempersiapkan skill selanjutnya sambil bersembunyi di belakang Ebi. Sementara Sada telah melepaskan ratusan anak panah sihir ke arah Ace.
Tangan Ace seakan-akan bergerak cepat dengan otomatis menangkis panah-panah yang berdatangan. Seakan-akan Ace adalah swordmaster yang bisa menangkis semuanya, tapi sebetulnya, Ace menghalau panah-panah itu menggunakan aura kedua pedang. Dalam sekejap, hujan panah berakhir. Namun, kekuatan sihir Sada menimbulkan asap kehijauan yang mengganggu pandangan.
Langkah Ace terhenti. Dia memejamkan mata dan menajamkan pendengaran. DIa berusaha menghilangkan suara efek berisik para penonton dan berkonsentrasi pada aliran udara di sekitar, untuk mengetahui pergerakan. Biasanya, trik ini dipakai oleh pemain FPS yang gemar melempar bom asap untuk mengecoh musuh. Bedanya, ini bukan bom asap, melainkan sisa-sisa aura sihir yang berbenturan satu sama lain. Asap ini hanya akan bertahan selama kurang dari lima detik, tapi Dyne atau Ebi yang mengetahui posisi Ace pasti langsung menyerang.
Jika Ace mengincar Dyne dan Ebi terlebih dahulu, dia yakin Sada dan Sasha akan menghabisinya. Apalagi Dyne dan Ebi bukan tipe yang bisa dikalahkan dengan cepat. Namun, jika Ace mengincar Sada dan Sasha, dia yakin Dyne dan Ebi pasti menghalanginya. Bagaimanapun, formasi pertarungan biasa sudah seharusnya seperti ini. Apalagi mereka merupakan rank B ke atas.
“Yah, bukankah akan membosankan jika mereka kalah dengan cepat?”
Kemudian, telinga Ace menangkap sebuah suara yang tidak biasa datang dari sisi kanan, arah jam sepuluh. Tak ingin terlihat mengetahui posisi musuh, Ace tetap diam di posisi, bersiap diam-diam.
Player yang mendekat adalah Ebi. Suara perisai yang bergesekan dengan tanah itu jelas bukan milik Dyne yang lebih kecil. Perisai Ebi yang ukurannya jauh lebih besar akan menyentuh tanah ketika lelaki itu membungkuk di antara kepulan asap. Sementara selang beberapa detik, telinganya mendengar gerakan lambat, mungkin Dyne atau Sasha. Namun, penyerang jarak jauh tentu akan kesulitan membidik musuh yang diselimuti asap.
Ketika jarak Ace dan Ebi semakin dekat, Ace berlari lurus ke tempat di mana musuh bersembunyi. Dilihat dari raut wajah Ebi, dia mungkin tidak menduga bahwa Ace akan lari ke arahnya di saat kabut asap belum memudar.
Karena pertarungan dengan [Kor] serta musuh kuat lain, tanpa sadar insting merasakan keberadaan musuhnya meningkat. Setelah berusaha sebaik mungkin untuk berfokus pada Ebi, Ace mendapati beberapa garis peluru muncul di tubuhnya. Agak di luar dugaan bahwa Sasha mampu membidiknya, tapi mengingat perempuan itu adalah tingkat ketiga dengan rank B, bukankah itu artinya dia memiliki insting yang bagus?
Ace mengontrol gerak tubuh untuk bergerak ke samping sehingga garis-garis peluru itu tampak tidak terarah. Namun, tidak semua garis peluru muncul pada saat yang sama. Ada sedikit perbedaan waktu antara mereka yang menjadi urutan peluru-peluru itu keluar dari ujung rifle. Selain itu, tampaknya Sasha memiliki batasan jarak pandang. Dari jarak ini, akurasi rifle-nya tidak semengerikan sebelumnya.
Ketika jarak antara Ebi dan Ace mendekat, Ace memutar tubuh sambil mengayunkan pedang di tangan kanan. Pedang es bertemu dengan perisai, menimbulkan suara dentang yang menggema. Bersamaan dengan itu, asap kehijauan telah sepenuhnya menghilang. Kini sorak-sorai penonton kembali riuh. Sepertinya mereka benar-benar suka pertarungan jarak dekat seperti ini, huh?
Sementara Ace disibukkan dengan Ebi, Dyne berpindah cepat ke bagian belakang Ace, dengan pedang terayun secara horizontal. Pedang itu mengarah ke tempat tengah punggung. Tepat sebelum ujung pedang menyentuh punggungnya, Ace menangkis dengan pedang di tangan kiri, lalu berputar mundur.
“Apa?!” Tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, Ebi mengangkat wajah menatap Ace.
Ekspresi Dyne takjub melihat reflek Ace yang cepat. “Kau bisa menghindar secepat itu meski seorang mage?”
Ace tersenyum miring, sambil mengibaskan kedua pedang di udara. “Bagaimana ya? Ini memang gaya bertarungku.”
Seperti yang diharapkan dari player tingkat tiga dengan rank B, Dyne memiliki insting yang cukup tajam, juga kekuatannya. Ace kembali melesat dengan cepat, begitu pula Dyne dan Ebi, menyerang tanpa ampun. Ace bergerak dengan kecepatan yang tak kalah dari Ebi dan Dyne. Tak satu pun dari mereka menunjukkan tanda-tanda mundur.
Di saat yang sama, suara tepuk tangan dan sorak-sorai menjadi lebih kencang. Dalam sekejap mata, Ace telah bertukar damage dengan dua player unggulan itu. Dyne lebih dulu mundur dan mengatur napas. Bar HP-nya telah menyentuh 60%, sementara Ebi masih di angka delapan puluh persen.
Ebi mengendurkan pergelangan tangan lalu bertanya. “Kau tangguh.”
“Aku tidak akan mendapat tingkat pertama dengan rank S kalau kalah seperti ini kan?” Ace membalas. Saat ini dia juga mulai terengah-engah, tapi tidak separah Ebi dan Dyne. Tentu saja karena dia memiliki skill pasif yang mengatur penggunaan mana dan regenerasi stamina. Apalagi dia masih punya banyak kartu truf.
“Hei, apakah kau benar-benar tipe mage?” Kali ini, Dyne-lah yang melempar pertanyaan. “Kecepatan itu—“
“Kekuatanku adalah daya imaji.” Ace menjawab dengan cepat. Dia melebarkan kedua tangan yang memegang pedang, lalu menggantinya menjadi dagger, lalu kembali menjadi pedang panjang.
Mata Dyne dan Ebi sama-sama membulat ketika melihat sihir pembentukan yang terjadi dalam sekejap mata, lalu menggertakkan gigi. Memang sejak tadi mereka merasakan ada sesuatu yang aneh. Gerakan Ace yang tiba-tiba cepat, lambat, juga gerakan-gerakan lain yang tidak seharusnya dilakukan seorang mage.
“Imaji?” Ketika mengulangi kalimat itu, mata Ebi tampak ragu. Dia mempererat pedangnya lagi. Karena adu serang barusan, muncul beberapa retakan di sisi perisai Ebi. “Kau bercanda?”
“Tidak kok.” Ace menjawab cepat. Sekarang napasnya sudah tidak terengah-engah lagi. Dia tidak berniat membocorkan tentang kekuatannya, tapi pembicaraan ini akan memberinya sedikit waktu untuk beregenerasi walau tidak sempurna. “Aku serius. TIdak ada gunanya berbohong ketika berhadapan dengan musuh yang kuat, bukan?”
“Lalu kenapa membocorkannya pada kami?”
“Anggap itu sebagai hadiah. Kalian kan begitu penasaran dengan penyihir tingkat pertama.”
Mata Ebi berubah menjadi tajam dalam sekejap. “Kau meremehkan kami.”
Walau berhadapan dengan lima player—atau tepatnya empat player, karena sejak tadi Frantz tidak melakukan apa-apa, Ace tetap sempat melirik teman-temannya. Mereka masih saja memasang wajah khawatir. Wajar sih, karena duel ini belum menunjukkan hasil yang berarti meski sudah berlangsung selama lima menit.
Pandangan Ace tertuju pada pedang lurus Dyne dan Ebi yang memiliki dua mata dengan ujung lancip. Melihat dari sinar dan detailnya, level s*****a itu pasti jauh lebih tinggi dari magic sword yang Ace temukan sewaktu melawan naga. Kemungkinan besar, mereka telah memasukan atribut spesial ke dalamnya.
Sementara Ace hanya menggunakan seluruh tubuh yang bisa diubah menjadi s*****a apa pun.
Ace menghancurkan kembali pedang di tangan kiri. Kemudian, dia merendahkan tubuh, lalu memosisikan pedang satu-satunya di depan pinggang. Dalam saat yang bersamaan, sorak-sorai di sekitar menghilang tersapu angin ketika Ace mengentakkan kaki dari tanah secepat mungkin.
Jarak sekitar tujuh meter memendek dalam sekejap. Kemudian, Ace memutar tubuh ke kanan lalu menusukkan pedang di tangan kanan layaknya sebuah panah. Tusukan tersebut tidak berhenti di sana. Sebuah gerakan beruntun dengan damage yang tidak terlalu besar, tapi cepat terrah ke celah perisai Ebi. Kemudian, Ace menciptakan satu pedang di tangan kiri, lalu dengan mahir menusuk bahu Ebi yang tidak terlindungi.
Itu adalah skill baru yang dibayangkan Ace setelah melihat gaya bertarung Dyne yang lebih menggabungkan gerakan menebas dan menusuk. Akan tetapi, Ace menambahkan kecepatan sehingga dia bisa menyerang berkali-kali dengan damage konstan. Meski tidak terlalu kuat, bidikannya tetap terarah.
Seperti yang Ace perkirakan, tubuh Ebi sedikit miring ke kanan untuk menghindari serangan kedua pedangnya. Ketika gerakan Ebi terhenti, Ace memanjangkan ujung pedang di tangan kanan dan dalam sekejap, perisai itu hancur.
Ace berpindah. Akan tetapi, saat ujung pedangnya hendak mengenai armor Dyne, tangan kiri Ace goyah. Dalam waktu yang sama, percikan muncul di sisi kanan pedang es dan tusukannya bergeser. Dyne dengan akurat menghindari serangan itu dan berdiri di hadapan Ebi.
Dalam waktu yang sama, garis peluru yang mengincar lehernya terlintas dalam pandangan. Ace menggertakkan gigi dan memutar tubuh. Kekuatan yang dihasilkan oleh kaki kanannya yang membeku hampir saja mengikis permukaan tanah. Namun, untungnya, peluru Sasha hanya melintas sekitar tiga senti dari kepala Ace. Dari sudut matanya, Ace bisa melihat energy sihir terlepas menyebar ke udara.
Ace mengembalikan keseimbangan. Kakinya menjejak tanah dengan sepatu boot, melompat beberapa langkah ke belakang dan berhenti pada jarak yang aman. Meski Dyne dan Ebi telah siap untuk skill selanjutnya, Ace malah memasang senyum, berhenti bergerak dan membentuk pedang kembali di kedua tangan. Namun, itu bukan senyum kebahagiaan, melainkan upaya menenangkan detak jantung. Duel ini akhirnya menunjukkan hasil.
Ebi tidak lagi memiliki perisai. Dan tampaknya, Dyne juga sudah mulai kelelahan. Sasha dan Sada mulai kehabisan mana, tapi yang menjadi masalah besar adalah Frantz. Lelaki itu tampak santai di barisan belakang dan hanya melemparkan satu serangaan ketika Ace berlari tadi. Akan gawat jika Ace sampai kelelahan sebelum Frantz menunjukkan sihirnya.
“Tapi, aku masih punya [Energy Drain].” Tiba-tiba pemikiran jahat melintas di benak Ace. Bagaimana jadinya kalau dia memakai [Energy Drain] pada player? Apakah mereka akan langsung mati atau tidak?
Jalur skill yang menuju Ace hanyalah ayunan tunggal. Dia bisa menghindarinya dengan akurat. Dibandingkan kecepatan attack balasan, Ace lebih terkejut pada kecepatan reaksi yang luar biasa. Sekali lagi, Ace menarik napas dalam-dalam dan menahannya. Mereka memang musuh yang mengerikan, tapi kalah dalam pertarungan akan benar-benar memalukan.
Ace kembali menggenggam erat pedang, mengangkatnya ke depan, siap menghadapi lawan. Jika serangan biasa tidak berhasil, dia harus menggunakan skill yang diberikan oleh system. Namun, apabila serangan itu berhasil dihindari, Ace pasti menerima serangan balasan yang fatal. DIa harus memikirkan cara untuk menghancurkan kuda-kuda lawan dan membuat celah untuk menggunakan skill. Itu artinya, dia harus mencoba skill tiruan itu.
Ace kembali mengentakkan kaki dan melompat. Kali ini pikirannya berusaha menciptakan sesuatu yang lebih berguna. Kali ini, Dyne yang lompat ke depan. Senyum di sudut bibir Ace terhapus ketika cahaya bersinar dari pedangnya.
“[Infinite Strike]!” Pedang esnya mengayun secara diagonal dari kanan atas. Ace mendorongnya jauh ke kiri.
Dentingan pedang es dan logam beserta percikan seakan menggelayut di udara. Melihat celah kiri Ace yang kosong, Ebi dengan cepat mengayunkan tangan, tapi Ace menyerang lagi dan lagi. Kecepatannya meningkat setiap kali mengayunkan pedang, sehingga sangat mustahil untuk ditangkis ketika melihat skill.
Ace memfokuskan pandangan pada lawan, memprediksi arah attack selanjutnya lalu menangkis dengan sisa ayunan [Infinite Strike]. Adakalanya pedang Ace bertemu dengan Ebi dan Dyne, menggores tubuh satu sama lain, menyebabkan kedua HP berkurang sedikit.
Memasuki celah di antara kombo ayunan ketujuh yang berdatangan dari kanan atas, kiri atas, serta sisi lainnya, Ace tanpa ampun mengayunkan pedang mendekati bagian bahu Dyne dan Ebi secara bergantian. Mereka bertiga hampir menempel antara satu sama lain sehingga tidak bisa menghindari damage hanya dengan entakkan kaki.
Meski sedikit cemas, Ace bersyukur dirinya tidak perlu mengkhawatirkan Sasha dan Sada. Sepertinya posisi Ace, Ebi, dan Dyne telah keluar dari area serang mereka.
Ace membungkuk. Pedang di tangan kanan terarah tepat ke pusat dari tubuh Ebi, lalu tanpa ragu menusuk ke depan. Ebi merespons, tapi kecepatannya tak cukup untuk menangis sebuah tusukan yang cukup kuat. Tubuh Ebi terdorong ke belakang sementara bar HP-nya terus berkurang hingga mencapai zona kuning. Sebuah kotak merah transparan mucnul di atas kepala Ebi.
[Ebi has been defeated]