Tatapan musuh berubah ketika pesan itu muncul. Sorak-sorai penonton semakin meriah seolah-olah inilah yang mereka nantikan. Kemudian, seruan-seruan seperti, ‘Kalahkan dia!’ mulai terdengar.
Dyne mundur dengan wajah5 yang mengeras. Tatapannya sempat teralih pada tubuh Ebi yang dikelilingi barrier merah tanda kekalahan. Sementara Ebi melemparkan pandangan terkejut pada Ace.
“Kau—“
“Kenapa?” Ace balik bertanya dengan cepat. “Terkejut?”
“Jangan senang dulu!” Dyne menggertakkan gigi lalu kembali menyerang. Ujung pedangnya terayun secara diagonal dari kanan atas, menuju bahu Ace.
Ace merespons, menangkis pedang itu dari bawah. Garis-garis peluru Sasha mulai muncul lagi. Pada saat ini, Ace tidak punya pilihan selain menghindar, terlebih Sada telah menarik busur panahnya kembali. Moncong rifle Sasha mengeluarkan percikan oranye. Mungkin karena Ace telah berpindah dari posisi sebelumnya, enam garis peluru itu memiliki akurasi yang tepat. Artinya, Ace telah memasuki zona serang Sasha.
Mengabaikan Dyne yang menyerang ke segala arah secara acak, Ace mengayunkan kedua pedang menghalangi garis-garis keenam peluru. Kedua tangannya mengarahkan pedang es dalam secepaat kilat. Lalu, suara peluru-peluru yang dielakkan terdengar seperti ledakan.
Ace terus bergerak ke depan, tidak menghiraukan peluru-peluru. Sesungguhnya, dia ingin menyelesaikan pertarungan yang menguras mental ini secepat mungkin dengan menghabisi Sasha yang menurutnya paling merepotkan. Setelah mengelakkan semua peluru dengan sukses, Ace mengentakkan kaki ke tanah dengan keras untuk menutup jarak antara dirinya dan Sasha.
“A-apa!?”
Baik Dyne, Sasha, dan Sada sama-sama terkejut. Raut wajah Sasha yang cukup manis terlihat pucat sekarang. Namun, seolah-olah tidak terpengaruh dengan kedatangan Ace, jarinya tetap menarik pelatuk, lalu mengeluarkan magazine dari pinggang dan kembali menyerang.
Untuk mencegah Sasha kembali menembak, Ace mempercepat gerakan, melepaskan rifle dari genggaman perempuan itu, lalu menghempasnya ke udara dengan pedang kiri. Kemudian, tanpa menyia-nyiakan waktu, Ace menghancurkan pedang di tangan kiri, lalu mengeraskan tangan kiri dan memukul bahu kanan Sasha. Ini adalah gaya bertarung asal-asalan yang Ace lihat sewaktu bermain game dulu. Meskipun tidak terlalu kuat karena dirinya bukan tipe fisik, attack itu tetap menyebabkan sentakan kuat bagi Sasha.
Sasha membelalakkan mata dalam keterkejutan. Kedua tangan yang tadinya memegang rifle kini terdiam di udara. Beberapa langkah dari Sasha, terlihat Sada berusaha menarik perempuan itu, tapi terlambat.
Saat memasuki jarak menyerang, Ace memutar tubuh sedikit ke kanan, lalu menjerjang ke depan tanpa melambatkan sedikit pun kecepatannya. Mungkin seorang swordman akan menyebut serangan ini memiliki kritikal yang tinggi, tapi sebetulnya, ini hanya skill asal-asalan yang Ace pikirkan sendiri. Yah, bagaimanapun, kekuatannya adalah imaji, kan?
Pedang es Ace bersinar terang, memecah udara layaknya kilat. Pedang e situ menembus tubuh Sasha dengan mudahnya. Lalu, dengan cahaya dan suara yang berlebihan, sihir yang terkumpul di pedang menembus tubuh Sasha. Berbeda dengan Ebi, bar HP Sasha berkurang sampai zona kuning dalam hitungan detik. Sebuah kotak merah transparan muncul di atas kepalanya.
[Sasha has been defeated]
Ace mengeluarkan helaan napas panjang. Kemudian, pandangannya teralih pada enam temannya yang tampak lega. Pertarungan ini sudah memasuki menit kesepuluh dan mulai menunjukkan hasil. Namun, Ace tidak boleh lega hanya karena dua player yang menurutnya merepotkan sudah berhasil disingkirkan. Masih ada Sada dan Dyne yang keras kepala, juga Frantz yang masih memasang wajah tenang. Meskipun mata lelaki itu terbuka lebar, tidak ada sedikit pun kepanikan terpancar di matanya. Malahan sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis yang samar.
Apa yang sebetulnya lelaki itu pikirkan?
“Kau!” Seruan kemarahan muncul dari sisi belakang.
Ace segera berbalik. Pedang Dyne agar berbeda dari sebelumnya. Mungkin dia telah mengaktifkan suatu sword skill. Pandangan Dyne seolah-olah yakin serangannya akan masuk mengingat kuda-kuda Ace sudah goyah dan tidak mungkin untuk menghindar dari jarak ini. Namun, di saat yang bersamaan, pedang Ace kembali bersinar biru.
“Kau—mampu melihat gerakan ini?” Dyne bertanya di sela-sela pertarungan. Tepat ketika pedangnya menyerang dalam empat hit combo yang secara akurat berhasil ditangkis Ace. Baik dari bawah, kiri, kanan, dan atas, tidak satu pun yang mengenai Ace.
Ace melirik bar HP dan MP-nya. Dia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mencoba skill itu. Yah, walaupun tidak berhasil, dia sama sekali tidak keberatan. Toh, dia masih punya kartu truf lain.
Suara kikisan keras terdengar terus menerus. Meski Dyne kembali mengaktifkan empat hit combo, Ace tetap berhasil menangkis. Hanya bayangan tipis kebiruan yang terlihat di sekitar mereka. Ketika hit terakhirnya berhasil ditangkis, Dyne membeku dalam posisi tangan kanannya terbuka ke samping. Ace telah menduga bahwa skill empat hit combo hanya bisa digunakan dua kali berturu-turut dan memiliki cooldown time.
Ace tak ingin membuang-buang kesempatan ini. Untuk mencegah Dyne keluar dari jarak serangnya, Ace menciptakan rantai-rantai yang keluar dari tanah untuk menahan kedua kaki Dyne. Bukan hanya Dyne, tapi Sada yang baru saja menarik busur dan Frantz juga terkejut. Oh, lihat mereka. Bukankah tidak mengherankan bagi seorang mage menciptakan hal-hal semacam ini?
Mengabaikan sekitarnya, pedang Ace kembali memancarkan aura kebiruan. Dia mengayunkan pedangn dengan kecepatan yang sulit untuk dihindari, langsung mengenai pundak kanan Dyne, menebas secara diagonal ke kiri bawah untuk menciptakan peluang. Semua tereksekusi dengan sukses dan dengan cepat bar HP Dyne berkurang sepuluh persen.
Ketika Dyne terkejut dan hendak mundur, cahaya dari pedang Ace tidak menghilang. Dia mengangkat ke kiri atas. Serangannya masih berlanjut. Dyne tahu serangan itu sangatlah tidak mungkin dihindari. Daripada mencoba melarikan diri dan dengan sia-sia terkena serangan dari belakang, Dyne meletakkan semua energinya pada pedang, lalu mengaktifkan skill lain.
Cahaya merah Dyne dan cahaya biru Ace saling bersinggungan. Mulai dari pundak kiri Dyne menuju bagian bawah, ujung pedang seakan menyambung combo sebelumnya membentuk garis vertical. Di sisi lain, pedang Dyne akhirnya berhasil mengenai pinggang Ace. Akan tetapi, serangan Ace tidak berakhir di sana.
“[Energy Drain!]”
Sebetulnya Ace tidak terlalu berharap bahwa skill ini benar-benar berhasil, tapi hasilnya sungguh di luar dugaan. HP-nya yang berada di [HP:1924/2867] poin langsung penuh dalam sekejap. Sementara HP bar Dyne langsung berada di zona kuning, seolah-olah tersedot oleh Ace.
Tentu saja, baik Dyne dan Sada sama-sama terkejut. Pasalnya seorang penyerang fisik memiliki HP yang lebih tinggi dibanding pengguna mage dan range.
Sebaliknya, Ace juga ikut terkejut. Namun, dia bukan terkejut karena hal yang sama, tapi skil-nya. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa [Energy Drain] memiliki damage yang mampu mengurangi hampir seribu lima ratus poin HP seorang player unggulan dalam sekali serang. Bukankah itu skill jackpot? Meski begitu, dia masih belum mengetahui seberapa besar damage aslinya.
[Dyne has been defeated]
Sama seperti yang terjadi pada Sasha dan Ebi, tubuh Dyne diselimuti barrier merah transparan dengan pesan kekalahan di atas kepala. Sekarang, lawannya hanya tersisa Sada dengan
Di belakang Ace, Sada tampak gemetaran. Matanya melebar ketika bertemu dengan iris safir Ace yang memancarakan aura kuat. Namun, karena dia seorang penyihir tingkat ketiga dengan rank B, Sada tetap menarik busur dengan tangan gemetaran layaknya seorang yang berpengalaman.
Pertarungan menjadi mudah setelah mengalahkan Ebi. Tampaknya, lelaki itu lebih berpengalaman di garis depan dibanding Dyne. Terlihat dari gerakan-gerakan dan respons yang lebih cepat, serta kuda-kudanya yang lebih kuat dibanding Dyne. Untuk sesaat, Ace tidak menyesali keputusannya untuk membereskan Ebi terlebih dahulu.
Lihat sekarang? Tanpa penyerang jarak dekat, seorang pemanah tidak memiliki benteng pertahanan apa pun. Lagipula, sepertinya skill Sada memiliki rentang waktu yang lebih lama dibanding Sasha, tapi damage Sada memang jauh lebih kuat. Terkena satu serangan saja bisa mengurangi sampai empat ratus poin HP. Meski tidak secepat Hilla, Sada tetap seorang pemanah yang berbahaya. Biasanya, di dalam game fantasy, seorang archer memiliki tingkat kritikal yang tinggi menyebabkan serangannya jauh lebih sakit dibanding class lain.
Tetesan keringan dingin mulai menetes di dahi Sada. Sementara itu, pandangan para penonton tentang duel ini tampaknya mulai berubah. Mereka tidak lagi berseru ramai, tapi menonton dengan mata melebar. Yah, tentu saja. Bagaimapun, Ace telah mengeluarkan beberapa sihir yang menurut mereka sedikit tidak masuk akal bagi seorang mage. Dia bisa membentuk pedang, rantai, dan menghisap HP/MP lawan dengan skill. Bukankah itu kemampuan yang mengerikan? Bagaimana jadinya kalau Ace menggunakan skill-nya yang baru didapat?
Ah, mungkin nanti. Ketika berhadapan dengan Frantz, dia akan mencoba skill itu.
Sekarang dia harus menghabisi satu pion yang tersisa sebelum melawan musuh terakhir, kan?
Berbeda dari pertarungan sebelumnya, Ace berjalan santai mendekati Sada yang gemetaran. Tampaknya dia sudah tidak memiliki niat bertarung setelah melihat ketiga temannya kalah. Wajar sih. Dia adalah seorang pemanah yang membutuhkan charge time. Tanpa Dyne dan Ebi, dia pasti langsung diserang Ace sebelum berhasil menarik busur.
Akan tetapi, sebelum Ace berhasil mengayunkan pedang, sebuah tangan besar yang terbuat dari api telah muncul dari belakang. Meski Ace meningkatkan kecepatannya, dia tidak bisa mengelak dari serangan itu. Dalam sekejap, tubuh Ace terlempar begitu jauh, meninggalkan jejak kehancuran tanah sebelum membentur dinding pembatas arena. Dampak benturan membuat bangunan di sisi sana bergetar.
Ace yang terduduk di antara tumpukan puing-puing, mengeluarkan erangan kasar. “Kuat.”
“ACE!” Sebuah seruan terdengar dari kejauhan. Meski samar-samar, Ace bisa menebak bahwa itu adalah suara Allura. Ace melirik sekilas, melihat perempuan itu telah berada di pembatas merah arena dengan raut wajah khawatir.
Kepalanya pusing dan telinganya berdenging. Karena terkena serangan tanpa ada perlindungan apa pun, napasnya menjadi sulit dan pandangannya agak mengabur. Dia melirik bar HP-nya yang telah berkurang sebanyak lima ratus poin. Padahal Ace yakin itu adalah attack biasa yang tidak dibalut kritikal, tapi damage-nya jauh lebih kuat dari serangan kritikal Sada. Ketika menyadari kekuatan Frantz, Ace jadi sedikit menyesal telah menggunakan [Energy Drain] ketika bar HP-nya masih di zona aman.
Karena Frantz sejak tadi tidak aktif dalam pertarungan, Ace jadi melupakan sebuah fakta bahwa Frantz berada di tingkatan yang sama dengan Niel. Tentunya serangan lelaki itu akan berbeda dari player-player sebelumnya.
Namun, dia tidak punya waktu untuk menyesali itu semua. Cooldown [Energy Drain] masih tiga menit lebih. Dia tidak bisa bergantung pada skill itu terus menerus.
Saat Ace mengangkat kepala, ratusan panah yang diselimuti aura kehijauan sudah dilepaskan. Ace kemudian memaksa kakinya berdiri, lalu mengentakkan kaki. Dalam sekejap, dinding es setinggi dua meter telah mengelilinginya.
“Sampai kapan kau bisa bertahan?”