Suara dingin Frantz terdengar dari balik dinding. Tentu saja lelaki itu tahu bahwa dinding es itu pun memiliki batas pertahanan. Sada terus menerus membuat panah dan menimbulkan retakan dinding yang cukup besar. Namun, Ace tidak memedulikan hal itu. Dia malah memanfaatkan hal ini dengan menambah lapisan dinding untuk mengurangi MP Sada sebelum keluar, sekaligus memikirkan rencana.
Akan tetapi, sebuah pesan mengejutkan Ace muncul.
[Sada has been defeated]
Mata Ace membelalak. Apa yang terjadi? Padahal Ace tidak melakukan apa pun, tapi kenapa—
Saat menyadari kemungkinan yang terjadi, Ace menggertakkan gigi. Apakah mereka bisa membunuh player yang berada di kubu yang sama selama duel? Itu mungkin saja terjadi.
Ace akui, Frantz memiliki kekuatan yang berbeda dari empat player lainnya itu. Apakah sebesar ini perbedaan seorang tingkat kedua dan tingkat ketiga? Tidak. Jangankan dengan tingkat ketiga. Ace yang berada pada tingkat pertama saja sudah dibuat kewalahan dengan satu serangan barusan.
“Aku tidak boleh terkena se rangan itu lagi.” Ace memantapkan kalimat itu di dalam hati.
Pertarungan ini sudah memasuki menit ke lima belas. Stamina dan MP Ace memang sudah beregenerasi, tapi tidak ada jaminan bahwa dia tidak akan kewalahan melawan Frantz. Ace juga tidak bisa sembarangan menyerang Frantz tanpa mengetahui sihir yang digunakan lelaki itu.
Ace mencoba mengingat-ingat se rangan yang dilancarkan Frantz beberapa saat lalu. Pertama, itu adalah elemen api. Dan yang kedua, juga menggunakan elemen api. Apakah sihir Frantz mirip dengan Demian? Bisa saja, tapi benarkah hanya itu?
Beberapa detik kemudian, bersamaan dengan kalahnya Sada, hujan panah itu berakhir. Ketika dinding es hancur, waktu seakan berhenti. Ace merasakan kekuatan sihir yang lebih kuat dari se rangan tadi mendekat. Tidak. Bukan sihir, melainkan Frantz yang menerjang maju dengan sihir menyelimuti tubuh. Karena gerakan yang cepat seperti meteor jatuh, jarak antara keduanya semakin menipis dalam sekejap.
Ace dan Frantz saling bertatapan muka. Frantz mengulurkan tangan untuk meraih kepala Ace. Namun, sebelum itu terjadi, Ace telah membekukkan seluruh tubuh untuk menahan serangan. Kekuatan Frantz yang dashyat terus mengahantam barrier pembatas dan menimbulkan beberapa pesan bahwa mereka tidak bisa keluar dari arena ini bermunculan.
Akan tetapi, poin HP Ace hanya berkurang dua puluh poin berkat perlindungan ekstra sihirnya. Dia bergegas mundur beberapa langkah menjauh dari Frantz. Tampaknya se rangan barusan merupakan skill active yang menguras banyak poin dan memiliki cooldown yang cukup lama. Namun, andaikan saja Ace terlambat membekukan diri, dia pasti akan langsung kalah. Dan seandainya ini pertarungan sungguhan, dia pasti mati.
Tentu saja Frantz tidak terlalu terkejut. Sepertinya lelaki itu sudah pernah berhadapan dengan seorang tanker, jadi tidak heran jika melihat pengurangan poin yang sangat sedikit.
“Luar biasa!”
Ketika Ace berusaha berdiri sambil membersihkan pakaian, dia mendengar suara Frantz yang berbicara keras. Pandangan mereka bertemu. Namun, kali ini mereka terpisah jarak sekitar sepuluh meter. Terlihat raut wajah kemarahan di mata Frantz, tapi di saat yang sama, lelaki itu juga merasa senang. Dia tersenyum lebar. Dia tidak terlalu peduli dengan nasib empat bawahannya, tapi saat ini, dia harus serius untuk mengembalikan nama baik guild-nya.
Dengan sekali gerakan, Frantz membuka jubah biru bergaris emas kebanggaan guild. “Sebagai penantang, aku akan memberikanmu waktu untuk mundur.”
Ace menjawab dengan segera sambil memperbaiki posisi jubahnya, memasang raut wajah dingin. “Kalau aku tidak mau?”
“Maka kita akan bertarung sampai akhir.”
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”
Frantz mengernyit. “Apa itu?”
“Kenapa kau menyerang temanmu sendiri?”
Jawaban yang diterima Ace benar-benar di luar dugaan. Lelaki itu mengangkat kedua bahu, lalu memasang kuda-kuda seperti petinju. “Agar kita bisa bertarung tanpa adanya pengganggu.”
Seketika, pembuluh darah tebal muncul di dahi Frantz dan otot-ototnya seakan terselimuti api. Bukan merah, tapi biru. Berbeda dengan milik Demian, kekuatan Frantz jauh lebih besar. Bahkan auranya yang keluar dari sekujur tubuh sudah membuat orang biasa bergidik ngeri.
Berkat tekanan sihir yang luar biasa itu, para penonton yang tadinya bersorak-sorai jadi terdiam dengan mulut ternganga. Begitu pula dengan enam teman Ace yang memasang raut wajah cemas, terutama Allura. Seandainya saja barrier penghalang tidak ada, mungkin perempuan itu sudah berlari menghampiri dan menarik Ace keluar dari arena.
Saat melihat kekuatan Frantz, hanya dua kata yang terlintas di benak Ace. “Mage terkuat.” Memang benar. Mungkin, jika Ace tidak muncul sebagai seorang mage, Frantz-lah yang akan memegang gelar itu sekarang. Namun, Ace berada di tingkat pertama bukan tanpa alasan.
Ini adalah kekuatan yang diberikan oleh system, jadi Ace tidak akan menyia-nyiakannya sama sekali.
Wajahnya tetap tenang meski diterpa aura sihir yang begitu kuat. Karena bagi Ace, ini adalah kesempatan besar untuk memastikan sejauh mana kekuatan ini bisa membawanya. Lawan Ace juga kuat, jadi dia tidak ingin menyia-nyiakan pertarungan ini. Entah sejak kapan, sifat pengecut yang ingin berlindung di balik punggung orang lain terasa seperti bukan dirinya.
Tak ingin membiarkan aura sihir Frantz mendominasi, Ace menyelimuti tubuhnya dengan aura kebiruan. Udara dingin seakan berembus berdampingan dengan udara panas. Baik Ace, dan Frantz saling bertatapan dengan mata menyala. Empat player lain, serta para penonton terkejut oleh kekuatan dua monster itu yang berada di tingkatan berbeda dengan player biasa.
Frantz bergerak lebih dulu. Aura kemerahan itu mengikuti setiap gerakannya yang cepat dan memiliki kekuatan yang dashyat. Kepalan tangan Frantz mengepal, mengarah pada wajah Ace. Akan tetapi, Ace jauh lebih cepat darinya. Dalam beberapa saat, Ace telah berhasil menghindar dengan memutar tubuh ke belakang Frantz, menyerangnya dengan pedang es panjang. Akan tetapi, pedang itu langsung meleleh ketika menembus aura kemerahan milik Frantz.
Mata Ace melebar. Dia dengan cepat membekukan bagian d**a untuk menghalangi serangan siku dari Frantz. Meskipun dia memiliki kecepatan yang sangat baik, Ace cukup kesulitan menyadari sifat sihir mereka yang berlawanan. Apakah esnya akan terus meleleh ketika bersentuhan dengan aura Frantz?
Dirinya memiliki pertahanan yang sulit ditembus, tapi sihirnya kesulitan mengenai Frantz. Sebaliknya, Frantz memiliki daya serang dan daya tahan yang kuat. Jika dipikir-pikir, pertarungan ini terkesan tidak seimbang. Tapi, Ace sudah tahu setiap kekuatan pasti memiliki celah. Dia hanya perlu mencari celah itu untuk bergerak. Berbeda dari Ace, Frantz tidak bisa membentuk segala sesuatu dengan sihir api. Frantz memanfaatkan bentuk-bentuk yang telah disediakan oleh system.
Itu artinya, sihir Frantz terbatas, sedangkan Ace tidak.
Menyadari hal itu, Ace merasa sedikit lega. Seulas senyum tipis terbentuk di wajahnya, membuat alis Frantz mengernyit.
“Jangan meremehkanku!”
Frantz menyerang sambil berteriak, mengarahkan kepala tangannya kepada Ace. Akan tetapi, berbeda dengan pedang sebelumnya, es yang menyelimuti tubuh Ace tidak langsung mencair. Mereka hanya berubah menjadi tetesan air yang kemudian jatuh ke tanah.
Dengan sengaja, Ace menciptakan balok es panjang dari kepalan tangan, membuatnya seolah-olah mengincar bahu Frantz. Namun, seperti pedang es, benda itu langsung meleleh dalam beberapa detik. Hanya saja, ada sedikit perbedaan, yaitu waktu meleleh. Balok itu meleleh lebih lama daripada pedang, tapi lebih cepat dari armor esnya.
“Kau pikir serangan seperti itu akan mengenaiku?”
Frantz yang merasa dirinya akan menang, mengulurkan tangannya tanpa henti. Namun, Ace tidak merespons dengan kata-kata, melainkan dengan senyuman. Telapak tangannya yang terbuka lebar kini mengepal dan dalam sekejap, lelehan es yang masih terjebak di aura merah kembali membeku dan menusuk pergelangan tangan Frantz.
Melihat reaksi Frantz yang mundur beberapa langkah sambil memegangi lengan seakan kesakitan, Ace tersenyum tipis. Serangan barusan berhasil mengurangi empat ratus lima puluh poin HP Frantz. Itu bukanlah serangan yang menghabiskan banyak MP, tapi daya serangnya setara dengan kekuatan Frantz. Kemungkinan besar, jika Ace menaruh lebih banyak energy sihir, daya serangnya akan jauh lebih tinggi.
Dia mulai terbiasa dengan kekuatan ini sekarang. Kemampuan imaji, yang dapat membentuk segala sesuatu sesuai kapasitas sihir pengguna. Tapi, kalau dipikir-pikir, itu sama saja seperti sihir pengendalian. Sama seperti ketika Ace menghancurkan pedang, lalu membentuknya kembali, dia juga bisa menciptakan sesuatu dari sihir yang telah terbentuk. Dari sebuah pedang, dia bisa menciptakan tombak sihir bercabang. Dari kepingan es, dia bisa membentuk palu raksasa, atau segala hal.
Seperti kekuatan yang absolut.
Wajah Frantz dipenuhi oleh ekspresi terkejut sekaligus takjub. Pandangannya seolah bergetar ketika aura Ace semakin menguat. Bukan hanya itu saja. Dia tidak menyangka kalau Ace bisa sekuat ini. Padahal melalui pertarungan dengan empat bawahannya, Ace sama sekali tidak mengeluarkan kekuatan seperti ini.
Meskipun terkagum-kagum dengan kekuatan Ace, Frantz tidak ingin berdiam lama. Dia segera menyerang kembali, menciptakan puluhan kepalan tangan yang terbuat dari api, lalu mengarahkannya secara acak pada Ace. Tanah arena hancur karena aura sihir yang terlampau kuat. Debu beterbangan ke segala arah. Dan seperti yang Ace harapkan, dia berhasil menghalau serangan-serangan itu tanpa satu pun celah dengan dinding es bertahap.
Memang benar mereka terlihat seimbang di awal, tapi pertarungan sudah berubah. Frantz sadar bahwa dirinya tidak akan bisa menang jika bertarung demi menjaga harga diri semata. Kemudian, aura kemerahan yang menyelimuti tubuhnya meningkat lagi, seolah-olah membentuk bayangan naga api biru berukuran besar.
Bersamaan dengan itu, api biru telah menyebar ke sekeliling arena, membentuk lingkaran sihir berwarna biru seakan hendak membakar segalanya. Ace segera membekukan diri ketika api menuju dirinya, lalu mundur ke jarak yang aman beberapa langkah. Kemudian, Ace mendorong diri sendiri menggunakan balok-balok es menghindari sisa api yang mengejarnya. Namun, meski sudah tampak terdesak, Ace tetap terlihat tanpa ekspresi.
Penyihir tingkat kedua memang tidak bisa diremehkan. Ace jadi berandai-andai, seperti apa kekuatan Niel yang sesungguhnya? Meski belum pernah melihat lelaki itu bertarung secara penuh, Ace bisa merasakan aura sihir Niel yang jauh lebih kuat dari Frantz. Ketika berpikir seperti itu, Ace merasa beruntung bisa bertarung seperti ini.
Api-api biru menyerang bebas ke udara. Faktanya, meski kekuatan Frantz menyebar dengan jarak yang luas, kecepatannya malah melambat. Kekuatan serta jangkauannya memang meningkat, tapi kecepatannya tidak mampu mengikuti peningkatan itu.
Tangan kanan Frantz terulur pada Ace. Ketika itu tiba, tubuh Ace seakan ditarik oleh api-api biru di sekitar. Namun, bukannya menghindar, Ace malah membiarkan dirinya tertarik tanpa perlawanan. Frantz menempatkan aura sihir yang kuat di tangan kiri, siap meledak.
Mata Frantz semakin melebar ketika muncul tetesan-tetesan air yang berasal dari es di sekujur tubuh Ace. Selain itu, Ace melesat lebih cepat daripada yang diantisipasi Frantz dengan tangan es besar terkepal. Pada saat yang sama, Frantz hendak menghalangi serangan Ace dengan membuat dinding api, tapi terlambat.
Tinju es itu berhasil menembus dinding api, menerbangkan Frantz seperti meteor berselimut aura api biru, lalu berguling beberapa detik di lantai sebelum menabrak dinding arena. Saat tubuh Frantz berhenti, sebuah lubang yang dalam dan lebar tercipta di belakangnya.
Dia telah menempatkan cukup banyak sihir di dalam kepalan tangan. Dan seperti dugaan Ace, poin HP Frantz telah berkurang hampir sembilan ratus poin. Dua kali lebih tinggi dibanding serangan asal-asalan yang digunakan Ace tadi. Akan tetapi, karena perbandingan jumlah HP Frantz yang cukup tinggi, yaitu mencapai empat ribu poin, saat ini HP lelaki itu baru mencapai lima puluh persen. Padahal dia hanya seorang mage, tapi bagaimana bisa memiliki bar HP yang hampir menyamai tanker?
Frantz bergegas berdiri, lalu berteriak untuk memfokuskan kekuatan. Api-api biru kembali menyebar ke segala arah. Atmosfer di sekitar mereka jadi berubah. Lalu, tercipta bola-bola api yang dapat merusak tubuh seseorang saat terkena serangan. Akan tetapi, serangan itu tidak berhasil mencapai Ace.
“[Diamond Imprisons]!”
Dengan segera, Ace membekukan area sekitar seakan-akan membentuk dunianya sendiri. Namun, karena jarak serangnya dibatasi oleh sihir api Frantz, Ace tidak mampu membekukan sampai sejauh posisi lelaki itu. Yah, walau begitu, Ace tetap puas melihat api-api biru yang merepotkan itu telah terkurung dalam sihir es yang tidak bisa dibatalkan. Selain itu, HP dan MP-nya melakukan pemulihan secara otomatis selama skill berlangsung.
Sekarang, Ace punya waktu lima menit sebelum lautan es ini berubah seperti semula.
Ace membentuk dua pedang es, lalu melesat dengan cepat. Di luar dugaan, ternyata Frantz juga memiliki kemampuan untuk menciptakan sebilah pedang dari apinya. Juga terdapat sebuah perisai dengan sisi-sisi berliku dengan percikan api.
Sebelum mencapai Frantz, Ace memutar tubuh, mengaynkan pedang di tangan kanan ke kiri atas. Akan tetapi, Frantz menahan serangan dengan perisai. Dengan segera, Ace melanjutkan serangan beruntun selanjutnya yang berjarak sekitar setengah detik. Serangan Ace langsung dibelokkan dengan pedang apinya. Menggunakan pijakan es, Ace melebarkan jarak antara mereka, lalu menerjang kembali.
Kali ini, pertarungan terasa seperti duel penyerang fisik dibanding mage. Tentu saja, Frantz tidak akan bisa mengendalikan sihirnya dengan bebas sebelum [Diamond Imprisons] Ace berakhir. Dia membalas menerjang menggunakan perisai.
Ace segera berlari ke kanan untuk menghindari serangan. Namun, kemudian Frantz mengangkat perisainya secara horizontal. Dengan teriakan rendah, dia melancarkan pedang apinya melewati perisai.
Meski terlambat, Ace berhasil bertahan dengan menyilangkan kedua pedang. Seperti sebelumnya, pedang itu mulai meleleh, tapi Ace dengan segera mengeraskannya kembali. Kekuatan Frantz yang di luar dugaan berhasil membuat kuda-kuda Ace goyah, membuatnya mundur ke belakang beberapa meter. Dia menusukkan pedang ke tanah yang membeku untuk menghentikan dirinya.
Benar-benar tidak terduga. Frantz tidak hanya kuat sebagai mage, tapi juga seorang penyerang fisik. Mungkin lelaki itu telah berpengalaman dalam pertarungan jarak dekat sebelum berhasil membunuh seekor naga.
Frantz berlari ke arahnya, memperdekat jarak dan menolak memberi Ace waktu untuk pulih. Pedang yang terbuat dari api ditusukkan ke arahnya dengan kecepatan luar biasa. Sepertinya, karena fokus mengendalikan sihir yang berbentuk s*****a, Frantz bisa meningkatkan kecepatannya seperti semula.
Sepertiny Frantz hendak memulai serangan beruntun, Ace menggunakan kedua pedang untuk bertahan. Kondisi mereka sama-sama tidak bisa mengendalikan sihir dengan bebas. Jadi, Ace menggunakan pedang di tangan kiri untuk menangkis serangan ke atas, lalu mengaktifkan skill tiruannya.
“[Infinite Strike]!”
Pedang Ace meluncur dengan kecepatan yang sulit diimbangi, meninggalkan jejak cahaya biru sebelum menabrak perisai Frantz. Meski hanya terbuat dari aura, perisai itu benar-benar terasa keras, bahkan jauh lebih kuat dibanding milik Ebi atau Dyne. Ace tetap menggerakkan tangan untuk melanjutkan serangan.
Frantz terdorong ke belakang saat pedang mereka beradu. HP Frantz telah berkurang sedikit demi sedikit, tapi tetap tidak cukup untuk menyelesaikan pertarungan. Frantz mendarat dengan langkah sedikit goyah.
“Kau memang mengesankan!”
“Yea, aku bersenang-senang dengan ini.”
Ace menerjang saat mengatakan hal itu, begitu pula dengan Frantz yang kembali menerjang.
Mereka mulai saling bertukar serangan pada kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Pedang Ace berkali-kali diblokir oleh perisai, dan sesekali pedang Frantz berhasil menembus pertahanan Ace. Berbagai jejak cahaya biru muncul lalu memudar di sekitar mereka. Sementara lantai yang mereka pijak mulai retak, tidak kuat menahan serangan. Meski gagal menciptakan serangan telak, HP mereka mulai berkurang secara bergantian.
Akan tetapi, Ace tidak peduli lagi tentang hal itu. Dia merasakan dirinya seakan terjebak dalam pertarungan yang begitu menyenangkan. Setiap kali Ace mengayunkan pedang, membentuk pedang-pedang baru di sekitar, Ace merasa dirinya hidup.
Sungguh pertarungan yang sangat berbeda dari pertarungan dengan monster sebelumnya.
Sementara pertukaran serangan pedang bertambah intensif, Ace tidak menyadari bahwa saat ini bar HP Frantz telah mencapai tiga puluh persen, sementara dirinya berada di posisi tiga puluh dua persen. Saat itu, wajah tenang Frantz berubah menjadi tajam, sedangkan Ace tetap berusaha tenang. Bahkan, dia tidak gugup sama sekali. Dan andaikan bisa tersenyum di tengah pertarungan, Ace akan melakukannya.
Ketika melihat celah, Ace mengorbankan semua pertahanan dan meluncurkan sebuah serangan dengan pedang kanan. Sisi tajam pedangnya bergerak dengan cepat, menyebarkan aura es yang dingin ke sekitar Frantz.
Frantz mengangkat perisai untuk menahan, tapi Ace semakin menambah kekuatan sihir untuk terus menyerang. Akhirnya, kaki Frantz goyah. Tubuhnya mundur ke belakang dengan langkah yang berantakan. Dengan segenap kekuatan, Ace menusukkan pedang tepat di perut Frantz, lalu membekukannya dalam sekejap.
Karena terkena titik vital, serangan barusan mengurangi bar HP Frantz secara drastis, lalu berhenti di zona kuning.
[Frantz has been defeated]
[CONGRATULATION! You have won the duel]
Bersamaan dengan munculnya pesan kemenangan, sorak-sorai penonton kembali muncul, bahkan terasa jauh lebih meriah dibanding sebelumnya. Dan Ace, langsung terjatuh ke tanah, merasa seluruh kekuatannya telah terserap habis.
Barrier merah pembatas arena telah disingkirkan dan beberapa detik kemudian, Ace mendengar Allura memanggil namanya dari kejauhan.