Barrier penghalang yang mengelilingi arena perlahan menghilang. [Diamond Imprisons] milik Ace telah kembali menjadi lantai arena bersamaan dengan pesan-pesan kemenangan duel bermunculan. Suara-suara system berubah menjadi suara keramaian para penonton.
Dia memenangkan duel ini dengan susah payah. Benar-benar sebuah berita baik bahwa Ace bisa bertahan dengan HP yang tersisa dua puluh sembilan persen. Andaikan saja Frantz melancarkan serangan lagi, Ace yakin dirinya akan kalah.
Ace mengangkat kepala, melihat pada seluruh arena, tetapi dia tetap tidak bisa menemukan sosok berjubah hitam itu. Mungkin karena dirinya terlalu fokus bertarung, Ace tidak bisa memfokuskan konsentrasi untuk mencari kekuatan sihir sosok itu dengan benar. Namun, ketika Ace menurunkan pandangan, dia merasakan tekanan sihir yang begitu kuat datang dari—
Dia terlalu terkejut sampai jantungnya hampir berhenti berdetak ketika suara yang dalam dan parau seakan masuk ke dalam pikirannya.
“Kau mencariku?”
Spontan, Ace bangkit lalu berbalik. Awalnya Ace pikir sosok itu adalah hantu atau jiwa yang dikirim secara tiba-tiba. Namun, seperti sebelumnya, Ace tidak bisa mengerti alasan sosok itu bisa muncul dan menghilang secara tiba-tiba. Apalagi sejak duel dimulai, dia tidak bisa merasakan tekanan sihir sekuat ini. Apa mungkin bagi seorang penyihir menyembunyikan kekuatannya? Meski itu adalah hal yang mungkin, pastinya dia tidak bisa menyembunyikan kekuatan secara menyeluruh. Namun, Ace sama sekali tidak merasakan tekanan itu.
Sosok di hadapan Ace memakai jubah hitam panjang yang menutup hingga betis. Namun, entah karena perbedaan tinggi mereka atau sihir, dia harus mendongak untuk melihat wajahnya. Kerudung yang dibiarkan menutupi sebagian wajah. Seperti sebelumnya, Ace tidak bisa melihat bentuk wajah orang ini. Hanya ada kegelapan yang memenuhi isi kerudung dengan mata yang bercahaya merah.
Ace khawatir kalau sosok ini akan membunuh Allura dan teman-temannya yang berlari mendekat, tapi ketika melihat ke sekitar, semuanya berubah menjadi warna hitam putih. Waktu seakan berhenti. Allura yang berlari terbeku di tempat, sementara sorak-sorai para penonton berhenti begitu saja. Awalnya, Ace menduga sosok ini membawanya ke Hidden Dungeon lagi, tapi ternyata tidak.
Mereka tidak berganti tempat. Hanya Ace dan sosok inilah yang dapat bergerak dan berbicara.
“Kau—“ Ace menunjuk sosok itu penuh kemarahan. “Siapa kau sebenarnya?”
Sosok itu tidak mengatakan nama sama sekali. Dia dengan sengaja mengambil selangkah lebih dekat ke arah Ace saat dirinya mundur ke belakang.
Sosok itu menelengkan kepala yang tertutup jubah. “Harusnya kaulah yang bertanya pada dirimu sendiri. Kau itu siapa?”
“Apa yang kau maksud?” Sesaat, Ace merasakan déjà vu. Merasakan tekanan yang luar biasa, insting Ace mengatakan untuk mundur beberapa langkah dan mempersiapkan diri untuk bertarung. Akan tetapi, karena pertarungan panjang melawan lima player kelas atas, Ace sudah tidak punya tenaga untuk bertarung. Ace bahkan tidak bisa mengontrol degup jantungnya yang semakin tak keruan. Apakah sosok itu akan membunuhnya di sini?
Ace terengah-engah saat melihat kaki dari sosok itu. Di ujung jubahnya, dia bisa melihat sepatu bot yang terbuat dari kulit dan agak kotor. Dia bukanlah bayangan atau hantu, juga bukan monster. Namun, biasanya sepatu yang terbuat dari kulit akan tetap meninggalkan suara dan jejak langkah, tapi sosok ini melangkah layaknya hantu. Tidak ada jejak kaki, suara, atau bahkan bayangan. Padahal Ace yakin matahari sudah berada di atas kepala mereka.
Ketika Ace memusatkan pandangan ke atas kepala, dia melihat kursor hijau. Kemungkinan besar dia adalah seorang player. Namun, kenapa dia tidak bisa melihat informasi dasar karakter? Padahal biasanya, sesama player bisa melihat nama, rank, dan tingkatan.
Mungkinkah system memberinya fitur khusus?
Karena suaranya cukup kecil, Ace harus berkonsentrasi untuk mendengarkannya. “Biarkan aku menanyakannya padamu lagi. Siapa kau ini? Apakah kau penyihir tingkat pertama?”
“Kaulah yang harus menanyakan identitasmu sendiri, Ace Clauser. Ketika kau menyadari identitasmu, saat itulah aku akan memberitahumu identitasku.”
Secara mendadak, Ace merasa benaknya telah diserang kumpulan ingatan dan dirinya hanya bisa terdiam di situ. Benar. Dia pasti pernah bertemu orang ini di suatu tempat. Mereka mungkin pernah berbicara satu sama lain seperti sekarang ini sebelum terjebak di Erfheim. Tapi, di mana? Apakah orang ini berasal dari dunia yang sama dengannya?
Apakah salah satu temannya di universitas? Tapi, dia hanya memiliki Allura. Apa mungkin dia adalah player yang pernah Ace temui di Erfheim? Tidak. Mereka selalu bertemu dalam kondisi seperti ini. Tunggu—orang ini kan bisa menyamarkan kekuatan sihir? Jangan-jangan dia mengawasi Ace dari jarak yang sangat dekat. Bahkan saat ini pun, Ace tidak menduga mereka akan bertemu kan? Ace juga tidak bisa merasakan kekuatan sihir orang ini sebelum sosok itulah yang mengeluarkannya.
“Hilfheim. Kau berasal dari sana kan?”
Sebuah tangan yang kurus dan pucat tiba-tiba keluar dari dalam jubah. Ace bersiap untuk mundur, tapi setelah melihatnya lagi, Ace tidak menemukan s*****a apa pun dari sana. Kaki Ace mulai gemetar. Dia berusaha keras untuk tidak membiarkan dirinya terjatuh.
Hilfheim. Hanya ada dua orang yang tahu tentang nama itu, yaitu dirinya dan Allura. Dengan kata lain, Ace pernah bertemu orang ini Hilfheim dan ada tiga orang dari Hilfheim yang terlempar ke Erfheim. Namun, meski Ace memaksa otaknya untuk menggali ingatan, dia tidak pernah mengingat siapa sosok ini sebenarnya.
Bayang-bayang tentang Hilfheim mendadak tumpang tindih dengan pemandangan sekarang. Ace merasa sosok dirinya yang rapuh dan lemah mengawasinya dalam ingatan, seolah menonton.
Jantung Ace berdetak semakin gila tanpa seizinnya. Andaikan saja sosok ini tidak membekukan area sekitar, mungkin Allura sudah menghampiri Ace dan melihat wajah pucatnya. Ace bersusah payah menarik napas, berusaha menenangkan diri. Bukankah dia tidak punya alasan untuk panik seperti ini?
Mereka berasal dari tempat yang sama kan? Namun, Ace adalah lelaki pengecut yang selalu bersembunyi di balik Allura. Jadi tidak mungkin seseorang yang asing mengenali wajahnya begitu saja. Apakah sosok ini adalah salah satu perundung yang pernah menyiksanya di sekolah? Jadi, bukankah wajar kalau Ace merasa ketakutan seperti ini? Namun, bukankah dia telah memiliki kekuatan? Untuk apa dia merasa takut?
Kenapa Ace benar-benar—
“Ayahmu ada di dunia ini.”
Beberapa detik selanjutnya, tangan tipis yang panjang itu menyerahkan sebuah arloji kepada Ace. Arloji yang terkesan modern dan tidak mungkin ditemukan di Erfheim. Bagian lingkaran jamnya memiliki ukiran huruf A. Arloji itu adalah hadiah ulang tahun dari Ace untuk ayahnya beberapa bulan lalu, tepat sebelum sang ayah meninggal. Dan saat itu, bayangan Ace tentang ayahnya muncul kembali.
Ayahnya yang tersenyum lembut meski Ace melakukan kesalahan.
Ayahnya yang dengan sabar mengobati Ace yang terluka akibat dipukuli.
Ayahnya yang menyayangi Ace setulus hati.
Dan ayahnya yang tiba-tiba menghilang, menyebabkan kehancuran bagi Ace.
Saat Ace teringat pada arloji itu, dia hampir saja berteriak. Tanpa sadar, kakinya mundur tak beraturan ke belakang. Namun, sebisa mungkin Ace menahan teriakan dan mencegah dirinya terjatuh ke lantai. Dalam sekejap, Ace merasa dadanya sangat sesak. Bahkan, seandainya nyawa seseorang tidak digambarkan melalui poin HP, Ace yakin dia sudah hampir mati karena sesak napas sekarang.
Setelah apa yang terlihat beberapa detik itu berlalu, perasaan yang sangat aneh, antara takut, khawatir, rindu, dan juga marah bercampur di benak Ace.
Sosok yang memakai jubah hitam itu kembali menatap Ace yang memasang raut wajah terkejut, lalu berbisik. “Kau sudah tahu kan sekarang? Kalau kau ingin menyelamatkannya, kau harus menjadi lebih kuat.”
Sosok berjubah hitam itu mengambil selangkah ke belakang. Dia memutar tubuhnya dan meninggalkan kata-kata terakhir.
“Aku akan menunggumu di Menara Penyihir. Kalau kau ingin melindungi teman-temanmu, juga menyelamatkan ayahmu, kau harus segera datang ke sana dan membunuhku, Ace Clauser.”
Kata-kata itu membuat Ace seolah-olah tidak sedang membicarakan sebuah permainan lagi. Pada dasarnya, tempat ini memang bukan sebuah permainan yang bisa kau tinggalkan begitu saja tanpa resiko apa pun.
Nyawa.
Benar. Jika Ace salah langkah, dia akan kehilangan nyawanya.
Sosok berjubah hitam itu pergi dalam diam lalu menghilang layaknya hantu. Beberapa detik kemudian, keadaan sekitar mulai berubah normal. Suara sorak-sorai penonton mulai terdengar lagi. Dan rasa hangat mulai menjalari tubuh Ace yang seakan-akan membeku untuk beberapa saat.
Tubuh Ace yang kurus dan lemah mulai gemetar. Dia terjatuh begitu saja dan terduduk di tanah. Ace memejamkan mata. Di dalam pandangannya yang gelap, Ace bisa melihat bayangan punggung sang ayah yang perlahan menjauh. Hanya ada satu orang yang memakai arloji seperti itu. Meskipun Ace adalah pengecut, dia bukan seorang pelupa. Dia tidak mungkin melupakan hadiah ulang tahun yang dibelinya dengan gaji pertama.
Hadiah untuk ayahnya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa ayahnya ada di sini, di suatu tempat di Erfheim.
Tunggu, apakah mungkin sosok itu adalah ayahnya? Jika benar begitu, semua perasaan familier yang selama ini menerpa Ace benar adanya. Tapi, cara berbicara yang dingin dan dalam jelas berbeda dengan sang ayah yang memiliki suara hangat. Apakah Ace memiliki kenalan yang berbicara seperti itu?
Ace tidak yakin. Yang jelas, orang itu mengenal dirinya dan sang ayah. Ace sudah bisa mengingat sangat banyak, tapi kenapa Ace tidak bisa mengingat wajah atau namanya? Jika memang mereka pernah bertemu, bukankah aneh jika Ace tidak bisa mengingatnya?
Mungkin ada sosok yang seperti itu di masa lalu. Sosok dengan suara dan tatapan dingin yang seakan-akan bisa menusuk Ace.
Pada saat yang bersamaan, Ace mendengar teriakan yang tenggelam di antara sorak-sorai penonton. Allura. Tiba-tiba bahu Ace ditepuk dan hampir teriak. Ace benar-benar syok dengan tubuh bergetar, lalu melihat ke atas untuk melihat rambut cokelat pendek berayun di hadapannya.
“Kau baik-baik saja?”