Tidak baik menjadi pusat perhatian, tapi hal itu tidak mungkin bagi seorang player yang baru saja mendapatkan class sebagai Dragon Slayer. Reaksi setiap orang berbeda-beda saat Ace turun ke lantai dasar penginapan. Beberapa orang ada yang tidak memedulikan kehadirannya, sedangkan yang lain melemparkan tatapan sinis.
Yah, Ace tidak punya alasan untuk komplain. Kalau Ace ada di posisi mereka yang telah berusaha keras untuk menjadi Dragon Slayer dan melihat orang lain dengan mudah mendapatkannya, dia juga kesal. Mungkin memang benar bahwa di banding kekuatan dan kepintaran, keberuntungan adalah yang utama dalam kehidupan seseorang.
Seorang player baru tiba-tiba mendapat Obsidiant Stone!
Jika player itu berasal dari guild besar yang berisi player-player professional, mungkin tidak akan jadi masalah besar. Orang-orang akan beranggapan player tersebut mendapat bantuan dari anggota timnya. Tapi, Ace berasal dari guild kecil meskipun guild mereka memiliki Niel yang merupakan penyihir tingkat dua dan Hilla serta Edgar yang merupakan penyihir tingkat tiga. Masalahnya, wajah Ace sudah terlihat seperti orang bodoh saat memasuki penginapan ini. Seseorang yang tidak punya kekuatan dan terlihat memiliki masa depan suram.
Seperti Niel yang direkrut oleh guild besar sebelum akhirnya mendirikan [Sleepy Bunny Bunch]. Mereka akan mengincar Dragon Slayer dengan tingkat tinggi dibanding tingkat rendah. Akhirnya mereka yang tingkat lima atau enam hanya bergabung dengan guild kecil untuk berusaha bertahan hidup. Mereka jarang melakukan dungeon-dungeon atau mencari tahu tentang Apostologia. Sementara mereka yang terdiri dari penyihir tingkat empat ke atas akan menjalankan misi-misi sulit dengan resiko kematian tinggi.
Ace menghela napas. Dia tahu seberapa besar pun usahanya untuk menyembunyikan identitasnya, itu tidak akan berguna. Kemunculan Dragon Slayer baru selalu menjadi perbincangan hangat. Tidak berbeda jauh dari dunia nyata, orang-orang di sini menyukai gosip yang bagus dan Dragon Slayer kebetulan menjadi subjek yang baik untuk dibicarakan.
Ada pepatah lama mengatakan, jika ada lima mulut, akan ada sepuluh mata. Semakin banyak orang berbicara tentangnya, semakin banyak mata yang terfokus kepadanya. Dengan begini, popularitas seseorang akan terus meningkat di masa depan. Tapi, sekalinya melakukan kesalahan dan imejmu hancur, maka semua gosipmu akan berubah jadi buruk.
“Dia orang yang mendapatkan Obsidiant Stone? Bukannya dia cuma dari guild kecil?”
“Siapa dia? Bagaimana dia bisa melakukan hal itu?”
“Bagaimana dengan rank-nya? Apakah dia penyihir tingkat dua?”
“Mustahil dia mendapatkannya sendiri.”
“Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi seperti dia?”
Tanpa ragu, banyak orang akan memperhatikan Ace dan mengungkapkan keinginan mereka. Lagipula ada beberapa player yang seperti Ace sebelumnya meski tidak banyak. Rata-rata mendapatkan sihir ketika berada di sini selama seminggu atau minimal tiga hari. Di antara mereka yang memperhatikan player lain, akan ada orang-orang licik yang berusaha memanfaatkan player lain.
Membayangkannya saja membuat Ace merinding.
Ace masih terlalu lemah sekarang. Dia juga tidak bisa terus bergantung dengan Niel atau teman-teman yang lain. Adakalanya Ace yang harus melindungi mereka dibanding mereka melindungi Ace. Mungkin pemikirannya ini naïf, tapi Ace tidak akan meninggalkan orang-orang yang telah menyelamatkannya dari kematian.
Bahkan sekarang, tatapan para Saar—player yang tidak mendapat sihir—melayangkan tatapan sinis ketika Ace berjalan di antara mereka. Biasanya para Saar yang tidak bisa berburu akan meningkatkan skill sebagai pandai besi atau pedagang. Sebagian yang tidak beruntung akan dijadikan b***k Dragon Slayer dari guild besar. Mereka dibayar dengan upah rendah oleh Dragon Slayer untuk membawakan barang, hasil buruan, atau terkadang dijadikan umpan monster.
Ace merasa risi dengan tatapan itu, belum lagi Dragon Slayer lain menatapnya remeh. Mereka sedikit tidak percaya kalau lelaki ceking yang tampak seperti pecundang berhasil membunuh naga pada hari kedatangannya. Jika saja Niel tidak melangkah duluan bersama tiga lelaki bodoh, mungkin Ace memilih tetap diam di kamar penginapan sampai mati kelaparan.
Lelaki itu bisa membuat pemain lain menunduk, seperti orang yang dihormati atau lebih tepatnya ditakuti. Ace tidak terlalu terkejut. Dia sudah melihat sendiri kemampuan Niel. Apalagi Niel adalah Dragon Slayer yang disebut sebagai tingkat dua.
“Hei, kau suka menjadi pajangan rupanya, bocah bodoh,” Lucas memanggilnya dengan ketus. Sejak kapan pula lelaki itu melabelinya ‘bocah bodoh’? Ace mengernyit, kesal dibilang bocah oleh seorang bocah.
“Meski pendek begini, Lucas itu kuat, lho! Tapi tetap saja aku yang paling kuat.” Demian menepuk bahu Ace, lalu menyusul Lucas sambil tertawa seperti orang bodoh. Oke, saat ini bukan hanya nama guild saja yang konyol, tapi mereka juga memiliki tiga anggota bodoh.
Hilla tertawa melihat reaksi Ace yang memandang Demian kesal. Dia berjalan di samping Ace, lalu tersenyum. “Meski terlihat bodoh, sebenarnya mereka itu kuat. Tolong dimaklumi, ya.”
Ace hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya seperti menjalani kehidupan baru bersama orang-orang bodoh, kecuali Niel yang misterius dan dingin. Ace seperti melihat tokoh-tokoh heroine yang paling kuat pada Niel. Tapi, tidak menutup kemungkinan tiga lelaki bodoh itu juga kuat.
“Tidak perlu dipikirkan.” Allura berujar lirih, lalu tersenyum. “Semua akan baik-baik saja.”
Ace harus tetap percaya diri dengan menegakkan kepala, tidak ingin terintimidasi dengan tatapan. Dia membiarkan Allura mengamit lengannya menuju meja panjang di dekat jendela.
Tinggal beberapa langkah sebelum Ace berhasil duduk, suara-suara marah merebak dari luar. Sepertinya ada perselisihan. Pintu terbuka kasar hingga mengalihkan perhatian semua orang. Seorang perempuan kurus berpakaian lusuh didorong kasar oleh perempuan berambut merah berwajah garang dengan riasan tebal. Dari tanda yang terukir di antara tulang selangka yang tidak tertutup jubah, Ace menebak dia adalah Dragon Slayer. Kalau ingatan Ace masih waras, perempuan ini yang menyapanya sewaktu pertama kali datang.
Ketika Ace berkonsentrasi ke arahnya, secara otomatis perempuan berambut merah itu menjadi target dan sebuah cursor berwarna kuning muncul bersama dengan namanya. Ace menahan napas saat membaca rank serta guild.
Penyihir tingkat dua, Rank A. Tingkatan perempuan ini sama seperti Niel, itu artinya perempuan inilah yang disebut Hilla sebagai salah satu dari tiga penyihir tingkat dua. Kalau begitu, Ace bisa menebak bahwa perempuan kurus yang baru saja didorong adalah—
”Saar.”
Ace mendengar gumaman Allura yang gemetar.
Penampilan saar itu sangat berantakan dengan rambut hitam yang berminyak dan kusut. Pakaian lusuh yang penuh bercak darah, belum lagi bawaan di punggung yang hampir melebihi besar tubuhnya. Kulit pucat yang kusam dihiasi lebam. Semua orang pun tahu kalau perempuan itu dihajar habis-habisan oleh si rambut merah. Tapi, karena status dan guild mereka, tidak ada satu orang pun yang berani menentang.
“Siapa?” bisik Ace pada Allura.
Allura menggeleng. “Perempuan berambut hitam itu adalah Saar. Aku tidak mengenalnya, tapi si rambut merah itu pemilik sihir Dragon Slayer tingkat kedua sama seperti Niel.”