Chapter 21: Rank A Dungeon

1722 Kata
Dungeon kali ini berbentuk labirin yang terbuat dari batu kapur berwarna cokelat kemerahan. Ace merasa terintimidasi dengan ukurannya yang besar tanpa pencahayaan apa pun. Dungeon rank A yang berbentuk labirin terdengar jarang muncul, tapi tingkat kesulitannya bukanlah masalah. Di Erfheim, dungeon rank A akan muncul dalam kurun waktu tertentu lalu dimanfaatkan sebagai tempat leveling terbaik bagi player yang mencapai level dua puluh ke atas dengan maksimal dua puluh player. Namun, semakin banyak jumlah player yang memasuki dungeon, semakin kecil juga exp dan item yang didapatkan. Sistem telah berlaku adil kepada semua player. Reward dungeon seperti exp, drop item, dan sejenisnya akan dibagi sesuai persenan kontribusi. Semakin besar persenan kontribusi yang dihitung system, semakin besar pula reward yang didapat. Pembagian ini berlaku di semua dungeon, kecuali dungeon rank S dengan kapasitas player yang mencapai empat puluh player. Di dungeon rank S, pembagian reward akan dibagi rata sejumlah anggota party. Namun, karena tingkat kesulitannya tinggi, jarang ada guild yang berafiliasi dengan siapa pun. Sehingga biasanya guild-guild besar akan membentuk anggota party untuk menghindari kecurangan dengan minimal level empat puluh. Seperti yang sedang dijalani guild [Knights of the Bloods] saat ini. Anggota party yang dibentuk dari dua guild ternyata tidak buruk juga, padahal ini adalah kerjasama pertama mereka. Niel juga tampak terkejut melihatnya. Terutama Demian yang melangkah di garis depan bersama tiga anggota [Knight of the Bloods]. Komposisi barisan serangan mereka terdiri dari empat orang di depan, sementara tiga di tengah, dan sisanya di bagian belakang. Ace, Allura, dan Deru di belakang. Mereka sedang berada di dalam pertarungan melawan kawanan lizardman—monster berkepala dan berekor reptil, dengan tubuh manusia berkulit hijau, merupakan sekumpulan data digital yang akan terus tumbuh sebanyak kapasitas sebuah dungeon. Makhluk yang tampak aneh ini cukup lemah untuk menghadapi anggota party satu lawan satu, bahkan dengan tangan kosong. Ketika menyaksikan keahlian bertempur Demian dan Lucas yang memiliki jenis sihir sama dengannya, Ace jadi terpukau sekaligus merasa beruntung memiliki kesempatan untuk mengamati pertarungan dari jarak dekat. Walaupun terlihat bodoh, mereka berdua termasuk penyihir tingkat ketiga dengan rank C. “Pola serangan mereka ternyata lebih simple dari yang kukira, huh?” Hilla kembali menarik busur panah beraura hijau. Di posisi ini, dirinya dan Niel berperan sebagai backup anggota di garis depan. Mungkin karena level dan rank Hilla yang lumayan tinggi, lizardman pun dengan mudahnya pecah menjadi kepingan cahaya saat terkena panah Hilla. Masalah yang dimiliki Hila adalah staminanya terbatas sehingga menyerang beberapa kali dapat membuatnnya cepat lelah. Berbeda dengan Edgar yang memiliki status stamina dan strength yang tinggi, lelaki itu bahkan berhasil memberikan serangan bertubi-tubi dengan pedang besarnya. Sebaliknya, Edgar memiliki agilty yang rendah sehingga gerakannya sedikit lambat. Selain itu, lizardman ni memiliki strategi menyerang yang cukup bagus. Mereka membuat anggota party terpisah-pisah lalu segera mengincar lawan yang kelihatan lemah. Meski begitu, serangan-serangan yang ditujukan kepada anggota di bagian belakang mampu ditepis dengan mudah oleh anggota di bagian tengah. “Serahkan padaku.” Seorang anggota [Knights of Blood] mengayunkan sword tipisnya di kepala lizardman yang mencoba mengincar Allura. Mungkin berkat AI yang mengendalikan, lizardman tersebut tampak seperti makhluk hidup yang mempelajari gerakan dan meningkatkan kemampuannya seiring pertarungan, persis seperti bluriz dan naga yang Ace hadapi beberapa waktu lalu. “Jangan terlalu gugup.” Deru mengajaknya berbicara. Sepertinya lelaki itu menyadari kegugupan Ace dan ingin menghiburnya sedikit sambil tersenyum cerah. “Karein adalah salah satu rank B terbaik di guild kami dan mereka semua adalah orang yang berpengalaman, kecuali aku.” “Deru benar.” Allura ikut tersenyum ke arahnya. Tangan kanan Allura memegang tongkat sihir setinggi bahu dengan ujung berbentuk cincin, sementara tangan kirinya memegang buku sihir yang bercahaya biru. “Aku pasti akan memastikan agar semua orang selamat.” Ace mengangguk sambil menahan tawa. Sejak awal dia memang tidak mengkhawatirkan soal nyawanya sendiri, tapi memikirkan tentang kegunaannya di tengah party. Allura berada di bagian belakang sebagai seorang healer dengan Deru sebagai penjaga, tapi Ace bahkan tidak melakukan apa-apa selain memperhatikan drop item dari monster. Sejujurnya Ace sempat mengira Allura akan kesulitan beradaptasi dengan dunia ini, tapi kenyataan kembali mengejutkannya. Perempuan itu bahkan tanpa ragu menggunakan sihir [Debande] dan [Shifta] untuk meningkatkan status pertahanan dan serangan. Katanya, healer dunia ini sangat terbatas. Mereka sering diincar pertama kali oleh para monster dan rawan terbunuh jika anggota party tidak terorganisir. Sangat beruntung jika sebuah party bisa memiliki satu healer ketika raid berlangsung. [You leveled up!] Saat monster-monster itu berhasil dikalahkan, beberapa pesan kenaikan level bermunculan di pandangan Ace. Untuk memastikan level, Ace cepat-cepat mengakses informasi statusnya. [Status Remaining SP: 4] [Name: Ace Clauser Level: 19] [Usia: 20 tahun HP: 2175] [Class: Dragon Slayer] MP: 240] [Special Skill: Molding Magic] Rank: Uknown [Strength lv. 6 Dexterity lv.6 Magic Power Lv. 9] [Agilty lv. 8 Intelligence lv.6 Vitality Lv. 6] [Passive Skill: Elemental Affinity> easily manage mana and gain additional effects when memorizing] [Active: Perfect Guard> reduce damage by blocking attack with magical skill] Satu level lagi menuju pengecekan rank. Ketika memikirkan hal itu, Ace jadi berdebar sekaligus takut. Terbesit bersalah ketika dia berhasil mencapai level ini dengan menumpang kepada player lain. Bagaimanapun juga, Ace harus cepat-cepat belajar menggunakan sihirnya secepat mungkin. Jika dia ingin menebus semua kebaikan teman-temannya, Ace harus menjadi lebih kuat. Selagi mengikuti langkah teman-temannya, Ace memasukkan dua poin skill ke dexterity dan dua lainnya ke magic power. Bisa saja kemunculan sihirnya dipicu oleh jumlah status pada level tertentu. Setelah selesai dengan informasi status, fokus Ace kembali pada dungeon. Dia tidak ingin menjadi beban bagi anggota party lain hanya karena dirinya penasaran dengan level dan sihirnya. Mereka melanjutkan perjalanan. Jika beruntung, mereka bisa menemukan pintu ruangan boss dengan segera sebelum dihadang oleh monster lain. Semakin dalam mereka menjelajah, dungeon akan semakin dingin. Kegelapan yang menyelimuti membuat mereka tidak bisa melihat apa pun. Ini pastilah efek kekuatan sihir yang kuat dari ruangan boss. “Demian, buat pencahayan.” Niel mengeluarkan perintah pertama. “Itu adalah hal yang ingin kulakukan.” Demian menjawabnya sambil tersenyum lebar. Pada saat ini, sihir Demian dan Lucas yang sangat berguna untuk membuat penerangan. Tapi, berbeda dengan Demian, Lucas memiliki jumlah MP yang terbatas. Karena itu dia tidak bisa menggunakan sihirnya terus-menerus. “Ternyata kau berguna juga, Landak Merah Bodoh.” “Sihirku jauh lebih baik dibanding sihir sengatanmu itu, Bocah Kerdil.” Ketika bola-bola api tercipta dari ujung jari, lalu mengapung di udara, pencahayaan di sekitar mereka kembali. Tidak ada apa-apa di sana. Bahkan bangkai lizardman telah berubah menjadi kepingan cahaya berwarna-warni meninggalkan item drop berupa material craft. Selain untuk dijual dengan harga tertentu, material craft biasa digunakan untuk membuat atau meningkatkan armor dan weapon. Labirin ini sepertinya memiliki lorong-lorong yang panjang dan saling terhubung. Namun, cukup aneh jika mereka belum menemukan satu monster pun selain kawanan lizardman di pintu masuk. Dan entah kenapa, Ace merasakan aura sihir yang menguat seiring perjalanan mereka. Bukan hanya Ace, tapi Allura yang memiliki skill pasif [Detector] pun merasakannya. “Tidak ada monster?” Hilla bertanya kepada Demian dan Kairen yang memimpin jalan. “Entahlah, tapi aura sihir menguat di jalan ini. Mungkin saja berasal dari ruangan boss.” Kairen menjawab sambil memandang ke sekitar. Bentuk dinding permukaan labirin tampak berubah tanpa mereka sadari. Entah sejak kapan, relik-relik aneh muncul menghiasi dinding labirin, berwarna kuning pudar seolah-olah menunjukkan usia tuanya. Mungkin saja dungeon ini merupakan ruang bawah tanah para monster yang jauh lebih berbahaya dibanding lizardman. Aura sihir di sekitar mereka semakin menguat. Pertanda bahwa mereka mulai mendekati ruangan boss, sekaligus akhir dari dungeon. Dia bisa mendengar suara-suara monster. Semakin dekat dengan suara itu, semakin lebar juga area labirin di sekitar mereka. Kini mereka bisa melihat sekumpulan cahaya obor yang menerangi labirin. Dan di balik cahaya itu, terlihat samar-samar sekelompok lizardman yang berbaris sejajar dengan monster bertubuh besar seperti manusia. Cahaya obor memantul di kulit merah dan wajah mereka yang berbentuk seperti kera. “Jarang sekali monster berkumpul di ruangan boss.” Kairen mengedarkan pandang. Saat ini mereka bersembunyi di balik pilar labirin untuk mempersiapkan strategi serangan. Ini adalah kondisi yang cukup jarang. Alih-alih bertebaran di seluruh dungeon, monster-monster ini malah berkumpul di satu tempat. Ace meringis ngeri melihat jumlah mereka yang tak terhitung, mungkin lebih dari dua puluh Orc dengan level dua puluh lima. Mereka tidak pernah terpikir bahwa monster tingkat rendah seperti lizardman akan diikuti oleh monster tingkat tinggi yang dikenal dengan kekuatan penghancurnya. Namun, semua monster ini terasa sangat wajah mengingat dungeon ini adalah rank A. Seakan merasakan kehadiran sekumpulan penyihir, kelompok orc dan lizardman itu memandang ke arah mereka, seolah-olah siap menyerang kapan saja. Tekanan yang mengintimidasi datang dari orc yang bertubuh paling besar, tampak seperti pemimpin mereka. Tangan berototnya yang terlindungi armor besi memegang kapak besar yang terbuat dari tulang. Apakah itu adalah boss? Ace memfokuskan pandangan ke sana hingga muncul cursor merah. High Orcs, level tiga puluh. Kemungkinan besar dialah pemimpin dari orc dan lizardman yang mereka temui kali ini, tapi bukan boss karena namanya tertulis dengan warna oranye, bukan merah. Itu artinya level boss akan jauh lebih tinggi daripada level Ace dan mungkin selevel dengan Niel atau Kairen. “Apakah ini adalah ruangan boss?” Kali ini Hilla ikut menilai. Awalnya Ace kira perempuan itu akan takut melihat jumlah monster kali ini, tapi nyatanya perempuan itu malah tersenyum riang seolah-olah mendapatkan mangsa empuk. Yah, bagaimanapun, mereka adalah orang-orang yang berhasil selamat ketika bertarung dengan naga. “Kemungkinan besar ini adalah ruangannya. Jika monster berkumpul di sana, itu artinya boss dungeon adalah monster pengecut yang akan muncul setelah semua bawahannya dibunuh.” Lucas menjelaskannya seperti seorang player berpengelamanan. Firasat Ace mengatakan bahwa lelaki ini memiliki pengalaman yang sama dengan Niel. “Yeah, kau benar. Kita harus menghabisi bawahannya dulu sebelum membunuh boss. Nah, ini akan jadi raid yang berbahaya jika mempertahankan formasi tadi. Apakah kalian mau menyerah?” Demian mendengkus sambil mengadu tinju apinya. “Mana mungkin aku mundur, huh? Kupikir, teman-temanku juga berpikir untuk tidak mundur, bukan begitu, leader?” Bukan menjawab, Niel malah menyeringai. Dia mengeluarkan scythe yang sejak tadi hanya menjadi pajangan inventory ketika anggota party lain membereskan monster. Dia maju bersama Kairen, seolah-olah mendeklarasikan posisi mereka kepada monster-monster itu. “Kita akan tetap maju.” Ketika Niel mengatakan keputusan, jendela informasi berukuran besar muncul di pandangan mereka. [The Final Quest will begin!] [Final Quest: Kill All Enemies 0/100] [Difficulty: Rank A ] [Reward: ???] [Time Limit: 30 minute] [Failure: Death] [QUEST START!]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN