Cuaca hari ini agak mendung. Kabut pagi yang menutupi kota masih belum hilang sepenuhnya. Temperatur yang sedikit dingin membuat hari ini terasa lebih dingin dari kemarin. Namun, bagi Ace cuaca ini sedikit membuatnya tidak nyaman. Karena kejadian kemarin, Ace tidak bisa tidur semalaman dan yang dia lakukan hanyalah berguling ke sana kemari di atas tempat tidur, berusaha mengenyahkan kegelisahan. Entah kenapa dia tidak bisa mengenyahkan bayangan-bayangan mengerikan yang ditunjukkan lelaki itu kepadanya.
Kita akan segera bertemu.
Ace mendesah, segera merangkak keluar dari tempat tidur sebelum Demian atau Edgar menggedor kamar. Berkat system inventory yang membuat segalanya mudah, Ace tidak perlu membawa tas dalam ukuran besar untuk menyimpan peralatan. Ketika hendak memasukan item atau perlengkapan, Ace hanya mengusapkan tangannya secara horizontal ke udara sambil bergumam ‘inventory’.
Dia segera memakai semua equipment dalam waktu kurang dari lima belas detik, lalu turun menuju lantai dasar penginapan, bergabung dengan anggota guild, kecuali Allura dan Hilla. Padahal sudah sepuluh menit lewat dari waktu yang telah ditetapkan.
“Ah, mereka terlambat.” Lucas mendengkus kesal ketika melihat para player lain mulai keluar penginapan, bergegas menuju dungeon. Lelaki bertubuh pendek itu membuka menu map dan status secara bergantian untuk menghilangkan bosan.
Dari jauh, seorang player lelaki tidak dikenal bersiul keras pada mereka disusul tiga player lain bertubuh besar. Mereka mengenakan jubah hijau dengan symbol-simbol emas. Mereka adalah anggota guild [Knight of the Bloods] yang akan menjalani dungeon bersama [Sleepy Bunny Bunch].
Seorang player yang tampak lebih berotot dan berwibawa menghampiri Niel. Di bawah cursor hijau, nama dan rank-nya telah tertulis. Karein, seorang Rank B, penyihir tingkat tiga. “Apakah semua anggota kalian sudah siap?”
“Dua anggota lainnya belum hadir. Bisakah kita menunggunya beberapa menit lagi?” Bukan Niel yang menjawab, melainkan Edgar. Dilihat dari ekspresinya, Edgar sudah seringkali menggantikan tugas Niel untuk bicara dengan anggota guild lain. Ace memaklumi hal itu mengingat Niel adalah orang yang kemampuan sosialnya sangat rendah, bahkan Ace lebih baik soal itu.
“Baiklah, itu tidak masalah.” Setelah Karein menjawab, tiga anggota lainnya menurut, lalu di meja yang berseberangan dengan guild Ace.
Seperti yang bisa diduga dari guild terkenal, pedang anggota [Knight of the Bloods] terlihat jauh lebih bagus daripada yang mereka punya. Bukan hanya perbedaan ukuran antara pedang, tapi dari dekorasi yang dibuat oleh top class craftman. Tentunya pedang-pedang itu dibuat dengan harga mahal yang tidak bisa Ace bayangkan nominalnya.
Melihat perbedaan antara guild mereka, Ace tersenyum getir. Seperti namanya, [Knight of the Bloods] berisikan player yang menjadikan pedang sebagai s*****a utama. Kabarnya total anggota mereka mencapai tujuh puluh dua player. Mereka memiliki setidaknya dua puluh dua player tingkat tiga dan tiga puluh lima player tingkat empat, sedangkan sisanya hanyalah tingkat lima atau enam.
Ace bisa menebak alasan mereka menjalani dungeon bersama dengan guild kecil. Tentu saja untuk memata-matai kekuatan Niel yang notabene sebagai penyihir tingkat dua, dan juga memata-matai Ace yang sedang diperbincangkan banyak orang. Meski begitu, Ace bisa yakin orang-orang ini akan kecewa begitu tahu dirinya hanyalah player pengecut yang tidak berguna dan sebelum mencapai level dua puluh, Ace tidak bisa memastikan rank-nya.
“Maaf terlambat!”
Hilla berseru dari atas tangga. Sontak seluruh pandangan tertuju pada Hilla yang muncul bersama Allura. Armor mereka tetap sama seperti yang Ace lihat kemarin, membuat Ace bertanya-tanya apa yang sebetulnya membuat mereka terlambat? Tapi, Ace tahu sangat tidak sopan menanyakan hal seperti itu pada dua perempuan dewasa.
“Baiklah, bagaimana kalau kita saling menyapa sebelum memulai?”
Player berjanggut yang merupakan Rank C memperkenalkan anggota timnya secara singkat. Empat dari mereka adalah rekan satu tim regular yang bekerja sama sepanjang waktu. Namun, karena dungeon kali ini adalah Rank A, mereka harus memasuki dungeon dengan minimal sepuluh player dengan komposisi tiga Rank B dan empat Rank C, sisanya bisa diisi dengan Rank D atau E. Namun, saat ini party mereka memiliki satu rank A, empat rank B, dan lima rank C, sementara Ace adalah rank yang tidak diketahui. Kalau pun Ace disingkirkan, sepuluh orang lainnya tetap bisa menjalani dungeon tanpa hambatan.
Edgar dan Demian menyapa anggota party dan mempelajari wajah mereka dengan cermat, sementara Niel dan Lucas memandangi wajah satu per satu seolah menilai tanpa berinteraksi. Sementara Ace hanya memperhatikan diam-diam, tanpa tahu langkah yang harus dilakukannya setelah ini. Yah, Ace hanya dianggap sebagai orang tempelan yang tidak akan memiliki porsi pertarungan besar.
“Ah, apakah kau adalah Dragon Slayer Ace Clauser?” Seorang player [Blood of Knight] menghampiri Ace selagi anggota lain berbicara. Dia adalah seorang lelaki muda dengan ekspresi cerah, bertubuh lebih kecil dibanding tiga lainnya. Namun, tidak seperti Ace yang belum mengetahui rank-nya, lelaki ini telah mencapai level tiga puluh, seorang rank C, Deru.
Ace mengangguk ringan saat lelaki itu menyapa. Ketika Ace mengalihkan pandangan sebelum Deru berbicara, lelaki itu menggaruk bagian kepala belakang dengan canggung dan kembali ke tempatnya.
Mengalihkan kecanggungan di antara dirinya dan Deru, Ace bertanya kepada Karein yang tengah berbincang dengan Edgar. “Ngomong-ngomong apa yang harus aku lakukan di dalam dungeon?”
Karein memandang Ace dengan tatapan penuh perhitungan. “Apa jenis sihirmu?”
Ace mengernyit. “Molding magic ….”
“Dia belum bisa menggunakan sihirnya.” Allura berdiri di sisi Ace sambil tersenyum, seolah-olah sedang berusaha membuat Ace sedikit rileks.
“Ah—“ Kemudian, dia menepuk pundak Ace keras, sampai membuat Ace berusaha menahan erangan. Ace jadi mengira-ngira berapa stat orang ini sekarang? Pasti jauh lebih kuat darinya. Bahkan level mereka saja terpaut dua puluh level. “Tidak perlu melakukan p*********n yang khusus. Cukup diam di belakang dan bantu kami mengumpulkan item dungeon.”
“Dan jangan merepotkan kami.” Lucas menambahkan. “Aku tidak mau direpotkan seperti waktu itu.”
Waktu itu? Ace mengernyit. Mungkinkah yang dimaksud Lucas adalah ketika p*********n naga? Meski menyakitkan, memang seperti itulah kenyataannya. Yah, apa pun itu, memang sudah seharusnya dia tidak membebani anggota guild lain karena kelemahannya.
Karein tertawa riang seolah-olah dia merasa senang hari ini sambil merangkul Demian dengan santai. Entah kenapa, di mata Ace dua lelaki besar itu terlihat sudah saling mengenal meski baru pertama kali bertemu. “Aku akan memimpin dalam raid kali ini dengan Niel sebagai wakilnya. Cukup dengan penjelasannya, mari berangkat.”
Setelah memastikan semua perlengkapannya beres, Karein mengeluarkan sebuah kristal yang berbentuk pilar bersisi delapan berwarna biru terang untuk melakukan [Teleportation] menuju gerbang dungeon. Harga item yang sedikit mahal membuat anggota guild kecil merasa enggan menggunakannya kecuali jika berada dalam situasi yang berbahaya. Tapi, bagi guild besar, item [Teleportation] adalah hal sepele.
Berkat item itu, mereka tidak perlu berjalan jauh untuk mencapai pintu dungeon yang berada di luar gerbang Dawn Grimmer, berbatasan langsung dengan sarang Bluriz. Ada suara banyak bergema dan kristal di tangan Karein pecah menjadi kepingan kecil. Pada saat yang bersamaan, tubuh mereka diselimuti oleh cahaya biru. Di balik cahaya biru itu, pemandangan Kota Dawn Grimmer perlahan-lahan mengabur.
Tangan Ace terkepal. Tidak bisa dipungkiri bahwa Ace sangat gugup menyadari ini adalah raid pertamanya. Bagi player lain, raid dianggap sebagai sumber pendapatan sekaligus sarana menaikkan level, tapi bagi Ace, raid ini terasa seperti menggali kuburannya sendiri. Terlepas dari bagaimana perasaan Ace, cahaya di sekelilingnya bergetar semakin keras dan kegelapan menyelimuti mereka.
Tangan Ace terkepal. Tidak bisa dipungkiri bahwa Ace sangat gugup menyadari ini adalah raid pertamanya. Bagi player lain, raid dianggap sebagai sumber pendapatan sekaligus sarana menaikkan level, tapi bagi Ace, raid ini terasa seperti menggali kuburannya sendiri. Terlepas dari bagaimana perasaan Ace, cahaya di sekelilingnya bergetar semakin keras dan kegelapan menyelimuti mereka.