Chapter 19: The Dark Dream Begins

1812 Kata
Kesadaran Ace mulai kabur. Seluruh tubuhnya terasa seringan bulu. Langit cerah Dawn Grimmer perlahan menggelap. Matahari yang tadinya bersinar terang telah tenggelam, lalu berubah menjadi bulan besar yang dikelilingi awan hitam. Tidak mungkin siang berubah malam secepat ini kan? Ah, Ace melupakan satu fakta bahwa dirinya berada dalam kontrol sebuah system. [You have entered the hidden area] Hidden area? Pesan yang terdengar mungkin seperti itu, tapi Ace masih tidak mengerti sejak kapan dia berada di area rahasia? Tidak ada kesempatan untuk melihat ke belakang. Dia harus tetap waspada jika memang telah masuk ke area rahasia.   Ace melihat ke sekeliling dengan cermat. Kios-kios dan seluruh player di sektiarnya berubah menjadi gedung pencakar langit yang terlihat menembus awan-awan. Ace berbalik. Di belakangnya, kereta supercepat yang berlari dari sisi lain kegelapan berlalu dalam segelap mata. “Kau—“ Tatapan Ace teralih kepada sosok yang berdiri jauh di hadapannya. Dia mengerjap, memastikan bahwa sosok itu benar-benar sosok familier bertubuh jangkung dan berwajah tampan. Setelan kemeja putih dan celana panjang hitam yang tidak pernah Ace lupakan setiap mengantar ayahnya ke depan rumah.  Wajah yang benar-benar ingin Ace lihat sekali lagi seumur hidupnya, sekaligus sosok yang menjadi alasannya untuk tetap bertarung antara hidup dan mati di tempat ini. Ayahnya. Apa ini kekuatan ilusi? Ataukah semua ini karena Ace terhubung dengan sesuatu yang diciptakan system? Rasanya mustahil jika sebuah system dapat menciptakan efek visualisasi yang membuat Ace merasakan emosi-emosi tertentu. Ace menyadari dirinya dikelilingi kegelapan ketika keduanya saling memandang dengan cara yang sama ketika berdiri menghadap satu sama lain. Ayahnya menatap Ace dengan Mata Ace memanas. Meski tahu semua ini hanyalah ilusi atau mungkin sekumpulan data yang akan lenyap ketika disentuh, Ace ingin berlari untuk memeluk ayahnya, melontarkan segala kemarahan dan keputusasaan dalam hati.   Namun, Ace juga sadar. Semakin dirinya tenggelam dalam ilusi, semakin jauh jiwanya akan berlalu. Kemungkinan besar dia akan mati dan terjebak dalam dunia fantasi yang mengerikan. Perlahan, Ace tidak merasa nyaman dengan semua ini. Kekosongan di hatinya telah tercipta. Semua hal yang dilihatnya terasa berbeda. Ketika pandangan sang ayah tertuju padanya, Ace merasa lebih sakit lagi. Walaupun ini hanyalah ilusi, semuanya bisa dibilang cukup indah dan Ace ingin semuanya berubah jadi kenyataan. Namun, semakin lama dia melihat semua ini, semakin besar juga kekosongan dalam hatinya yang tercipta. “Aku tahu semua ini palsu! Berhentilah dan tunjukkan identitasmu! Saat Ace berteriak di udara, dia merasakan ada sesuatu yang berubah. Mata sang ayah memandangnya terdiam. Waktu seolah terhenti. Dari kaki Ace, bayangan yang gelap menyebar dengan cepat, menelan semua orang yang ada di sekitar. Segera seluruh dunia menjadi gelap, berubah menjadi kekosongan yang dalam. Lalu, sebuah suara datang dari suatu tempat di dalam kegelapan itu. “Apa kau bermaksud untuk mengunciku dalam fantasi yang kau buat?” Ace berseru lagi. “Tidak. Ini bukan fantasi yang kubuat, tapi kau, Ace Clauser.” Ace merasakan sesuatu mendekatinya dengan cepat. Di belakang. Ace berbalik, mendapati seseorang sedang berjalan keluar dari kegelapan. Sosok berjubah hitam melangkah dengan santai. Lelaki itu menatap Ace dengan iris merah yang seakan bisa menghisap apa pun ke dalamnya. “Dunia yang diciptakan dengan hasrat seseorang untuk menebus kesalahan yang telah kau buat sebelumnya. Ini adalah dunia ilusi.” Ketika jarak mereka menipis, sekeliling Ace berubah menjadi jalan setapak yang diapit bunga warna-warni dengan urutan yang sama setiap barisan. Merah, kuning, abu-abu, cokelat, hitam, hijau muda, dan terakhir biru. Sesuatu yang jauh dalam hatinya merasa familier, seakan dia sering ke tempat ini. Menepis semua itu, Ace kembali pada sosok berjubah hitam yang kini melewatinya. “Siapa kau? Apakah kau penyihir hitam?”  “Kau seharusnya tidak bertanya siapa aku, tapi bertanyalah siapa kamu itu.” Mendengar itu, Ace terdiam sesaat tapi tidak berlangsung lama. Tentu saja dia adalah Ace Clauser, seorang anak yang bahkan tidak dicintai oleh ibunya sendiri, sekaligus pengecut yang tidak pernah ingin melakukan perubahan. “Jangan mengalihkan pembicaraan.” Ketika Ace berlari untuk menggapai lelaki itu, angin berembus sangat kencang menghalangi pandangan. Sosok itu lenyap. Ace melihat ke sekeliling dengan posisi siaga. Jika Niel benar, berarti tempat ini adalah ilusi penyihir itu. Tapi, apa tujuannya menjebak Ace dalam ilusi? Kegelapan berlalu dengan cepat dan dia menggapai cahaya di kejauhan. Ace merasa dirinya kembali terlempar dengan kecepatan yang tak terbatas.  Udara berhenti berembus, tepat saat suara itu muncul. Ace menoleh, terkesiap melihat dirinya dalam wujud anak kecil. Persis seperti yang dia lihat beberapa waktu lalu. “Kau datang?”   “Kau bisa bicara denganku?” Anak itu mengangguk mantap. Tidak salah lagi. Anak ini benar-benar gambaran dirinya saat usia sepuluh tahun. Bahkan tanda lahir di leher pun sama persis. Setiap kata berikutnya yang muncul terasa berat untuk didengar Ace. Masih diliputi kebingungan, Ace kembali bertanya, “Kau siapa?” “Aku?” Anak itu menunjuk dirinya sendiri. “Dirimu.” Ace mengernyit. Dia menunjuk anak itu, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Kau itu aku? Apa maksudnya?” “Masa kau tidak mengenali dirimu sendiri?” Ace tahu fisik mereka sama, tapi rasanya mustahil ada dua Ace di sini, kan? “Kau dibentuk oleh penyihir?” Anak itu menggeleng dan mengernyit. “Aku tidak mengerti maksudmu. Ah, sudahlah. Itu tidak penting. Ayo, ikut aku!” “Hei! Kau mau membawaku ke mana?” Tanpa penjelasan, anak itu berlari mendahului. Ace berusaha mengejarnya, menyelusuri jalan yang tidak berujung. Akan tetapi, tanpa Ace sadari pemandangan di sekitarnya telah berubah. Bunga warna-warni itu perlahan berguguran seiring langkahnya. Ketika Ace menoleh ke belakang, dia melihat banyak tanaman mati yang diselimuti asap hitam pekat. Ace berhenti ketika anak itu juga berhenti. Dia berusaha mengatur napas, lalu melihat ke sekeliling. Tebing terjal dengan hutan yang terbakar. Lalu dia menghadap dirinya yang telah berubah menjadi sosok remaja berambut biru tua yang melewati tengkuk dan memakai hoodie biru muda. Persis seperti tampilannya di Hilfheim. “Lihat!” Saat anak itu bicara sambil mengarahkan telunjuknya ke atas, pemandangan berubah lagi. Seekor naga berukuran besar terbang di atas langit yang gelap. Kemudian pasukan naga yang tak terhitung jumlahnya mulai menghancurkan kota tanpa henti. Seekor naga merah dengan garis-garis hitam dan tanduk di sepanjang punggungnya terbang, menyemburkan api dan membakar semua benda di bawahnya. Rumah-rumah kayu yang dilihatnya di Dawn Grimmer, tembok besar perbatasan, juga hutan tempatnya pertama kali muncul. Semuanya telah terbakar. Kepulan asap mengudara, memenuhi langit yang gelap. Seekor naga hitam pekat dengan garis-garis biru muda menyala seakan memberikan perintah pada ratusan naga terbang. Bagaimana mungkin? Apakah semua ini adalah pertanda kehancuran? Ini adalah hasil pertarungan dengan skala besar. Semua itu terasa seperti p*********n. Apakah semua ini nyata? Sihir ilusi. Jika dia benar berada di wilayah ilusi orang itu, apa artinya semua ini? Mungkinkan bahwa penyihir ilusi ini berada di pihak yang sama dengan mereka?  “Apostologia,” Ace menggumam sesuatu. “Apa dia Apostologia?” Tak ada jawaban. Ace pun menoleh, tapi dia hanya mendapati anak itu terpaku. Kini sosoknya telah berubah menjadi Ace saat ini. Pakaian kasualnya berganti menjadi jubah panjang putih yang dibeli bersama teman-temannya. “Hei!” Ace memanggil sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban.  Dengan langkah gemetar, Ace berjalan menuju tebing. Semuanya benar-benar hancur dalam sekejap. Lautan mayat manusia dengan darah yang menggenang. Mayat-mayat itu tidak dalam kondisi sempurna. Tubuh mereka terpenggal menjadi beberapa bagian yang terpisah. Naga-naga menjadikan mereka layaknya boneka yang pantas dicabik-cabik tanpa ampun. Mendadak Ace merasa perutnya mual. Dia terjatuh dengan kedua lengan yang menopang berat tubuhnya. Kedua tangannya bergetar karena ketakutan. “Ace!” Ace memiliki firasat aneh tentang ini. Dia bisa merasakan sesuatu yang terjadi di belakang punggungnya. Dia menoleh ke sumber suara di belakangnya. Di tengah hutan yang terbakar, dia melihat sosok perempuan yang amat familier. Allura. Akan tetapi, perempuan itu sekarat. Rambut cokelatnya telah terurai berantakan. Ada bercak darah yang masih basah di pakaian putihnya. Allura sedang memangku seseorang. Dirinya. Ace yakin itu benar-benar dirinya. Di sekitar Allura, dia melihat teman-temannya terbaring tak berdaya. Sekejap, Ace merasa gelisah. Dia panik, lalu tanpa sadar bangkit, berniat menghampiri perempuan itu. Namun, ketika tersisa beberapa langkah untuknya bisa menggapai Allura, dia melihat seseorang yang amat dikenalnya. Namun, kenapa Ace tidak bisa mengingat namanya? Orang itu …. “Allura!” Ace berteriak ketika orang itu mengayunkan pedang panjang pada Allura. Kaki Ace tak bisa bergerak. Dia terpaku. Lalu dalam beberapa saat dia melihat tubuh Allura terbelah. Ace terisak. Dadanya sesak meski tahu semua ini tidaklah nyata. Dia tidak bisa melakukan apa-apa ketika sosok itu mengoyak tanpa ampun tubuh teman-temannya. Kebenciannya meluap-luap, seolah ada seutas tali yang menghubungkan mereka. Dia menangis, memukul-mukul dirinya dengan kuat seolah semua itu bisa menghentikan semua mimpi buruk ini. Ace berseru keras di udara.  “Hentikan semua ini!” Apa pun itu, mimpi atau bukan, Ace berharap tubuhnya bisa bergerak. Namun, semuanya nihil. Sosok itu mendekat lalu membungkuk seolah mengejek Ace yang terpuruk. Seringai tipis dari wajahnya yang dingin memprovokasi Ace. Sosok itu membisikan sesuatu pada Ace, lalu mendorongnya jatuh dari atas tebing. Ace ingin menjerit, mengumpat, atau sekadar menyebut nama sosok itu. Tapi, lidahnya kelu. Meski sekuat apa pun berusaha, suaranya tidak bisa keluar. Bayang-bayang kejadian buruk itu perlahan memudar. Ace melihat sosok itu mengucapkan sesuatu sebelum tubuhnya menjadi kepingan cahaya kebiruan yang membawanya ke Erfheim. Apa pun itu, tolong jangan menyerah. Semuanya menjadi samar, lalu berubah gelap. Tersisa suara kayu yang berderit, juga u*****n dari seseorang yang dikenal Ace. Jantungnya masih berdegup kencang, lalu sorot cahaya berwarna kekuningan menyandarkannya tiba-tiba. Dia mengerjap, berusaha mengatur napas yang tak beraturan. [You have entered the normal area] Dia kembali. Jalanan yang ramai juga kerumunan ini, Dawn Grimmer. Apa yang barusan dialaminya? Rasa sesak dan sakit itu masih berbekas. Meskipun entah bagaimana Ace berhasil keluar dari area rahasia, matanya menyala-nyala dengan keinginan keras kepala dan kebencian belaka. Perasaan ingin melindungi teman-temannya muncul begitu saja. Ace tahu kesedihan yang lemah lebih baik dari siapa pun. Selama ini dia telah mencoba segalanya untuk bertahan hidup, sementara orang lain meninggalkannya. Tapi pemandangan yang dilihatnya barusan bukan sekadar ilusi. Batasan antara fiksi dan realita terasa mengabur begitu saja. “Ace, kau tidak apa-apa?” Terdengar suara Allura mendekat. Ace mengedar pandangan. Sosok berjubah hitam menghilang meski Ace yakin dia mengikutinya. Dia bertanya-tanya, siapa orang itu sebenarnya? “Ada apa? Tiba-tiba kau berlari begitu saja, huh?” Hilla menepuk bahu Ace seraya mengatur napas. Ace bergeming, menatap temannya bergantian sebelum berhenti pada Allura. Jantung Ace berdegup kencang lagi. Jika ini adalah puncak dari segalanya, Ace menyadari betapa banyak hal yang harus diperbaiki  mulai saat ini. Jika memang pertarungan ini akan terjadi di masa depan, apakah arti semua ini? Dia menghela napas, mengusap wajahnya dengan gusar. Rasa sesak yang menghantuinya perlahan lenyap, berganti dengan rasa nyaman. Pasti kengerian yang dilihatnya hanya ilusi. Mereka masih hidup dan akan terus hidup sampai berhasil keluar dari tempat ini. Hanya mimpi. Kita akan segera bertemu. Perkataan itu terlintas begitu saja dalam benak Ace. Dingin dan tenang, tapi terkesan arogan. Seperti ada yang berbisik, begitu dekat, hingga dia bisa merasakan auranya yang begitu kuat. Dia mengedarkan pandangan, tapi tak menemukan siapa pun.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN