Meski kehadiran Haze cukup membantu, mereka tetap harus bergerak sendiri. Enam anggota guild mengarahkan pandangan kepada Niel. Mereka telah mendapat informasi tentang NPC yang mungkin saja tahu sesuatu tentang Apostologia dan Menara Penyihir, tapi setelah mendapatkan informasi tersebut, apa yang mereka lakukan? Melakukan raid lalu berakhir kematian?
Meski guild mereka terdiri dari satu penyihir tingkat dua, itu tidak akan menutupi kekurangan jumlah orang. Bahkan untuk memasuki dungeon rank A saja, mereka butuh minimal empat orang penyihir tingkat empat atau tiga orang penyihir tingkat tiga. Kemungkinan besar, kesulitan melawan Apostologia adalah Rank S, bahkan lebih mengingat naga itulah yang menjadi boss game ini.
Ace memfokuskan pandangan ke satu per satu anggota. Di antara mereka, level paling tinggi adalah Niel dan dialah yang paling rendah. Sementara lima lainnya telah menyentuh level dua puluh delapan ke atas, termasuk Allura yang saat ini berada di level dua puluh delapan. Jika menyerang Apostologia dengan level ini, Ace yakin mereka semua akan mati.
“Sekarang ini kita perlu meningkatkan level kalian dulu.”
Sepertinya Niel sependapat dengan Ace. Niel mengecek informasi karakter mereka satu per satu, termasuk Ace.
“Dan Ace butuh beberapa perlengkapan.” Hilla menambahkan. Tatapan lembutnya tertuju pada Ace yang masih memakai hoodie biru tua.
Niel mengangguk. Entah kenapa, Ace merasa lelaki itu terlihat lebih santai setelah berbicara dengan Haze. Bukan berarti lelaki itu meremehkan Apostologia, tapi sepertinya dia memiliki rencana lain.
“Kita tidak akan terburu-buru untuk mencapai Apostologia. Lagipula kita hanya akan mati konyol jika menghadapinya dengan level ini.”
Sebelum memburu musuh dengan level tinggi, kau harus meningkatkan levelmu sendiri. Itulah hukum game yang seharusnya. Sama seperti yang dilakukan Ace saat melawan naga, dia hampir mati karena level naganya terlalu tinggi. Ace lebih suka menyebut kejadian itu sebagai keberuntungan dibandingkan tekad. Saat itu Ace hanya berusaha untuk tetap hidup dengan pikiran-pikiran absurd.
“Jadi apa rencana kita selanjutnya?” Kali ini Edgar yang bertanya.
“Meningkatkan level sampai kalian sulit dibunuh dan mencari petunjuk lain.”
“Niel benar.” Hilla menambahkan. “Meski informasi dari Haze berguna, kita butuh informasi lain yang lebih akurat. Mungkin ada baiknya jika kita mengikuti p*********n dungeon dengan guild besar beberapa kali.”
“Dan kau—“ Niel menunjuk Ace dengan raut wajah penuh perhitungan. “Secepat mungkin harus memahami kekuatanmu jika tidak mau mati.”
Demian tergelak. “Kau membuatnya takut.”
Allura menoleh kepada Ace, takut bahwa lelaki itu akan tersinggung. Namun, nyatanya Ace sama sekali tidak melempar protes. Malahan lelaki itu tersenyum pahit dengan kepala tertunduk.
Perkataan Niel adalah fakta. Selama dua puluh tahun masa hidupnya, Ace tidak pernah mempelajari bela diri apa pun. Berbeda dengan Hilla yang pandai memanah di dunia nyata, atau Edgar yang selalu memakai pedang, Ace hanya selalu berkutat dengan kesepian dan kekhawatiran tentang keluarga. Bahkan Allura yang terlihat tidak berdaya bisa beradaptasi dengan cepat.
Jika Ace tidak mampu menguasai sihirnya, dia tidak akan bisa bertahan hidup.
***
Mereka berangkat pagi-pagi sekali, menelusuri Dawn Grimmer yang padat. Kali ini target mereka adalah membeli perlengkapan untuk Ace. Bagaimanapun, mereka akan mengalami berbagai macam pertempuran sengit setelah ini untuk menaikkan level.
Ace berusaha tidak terlalu bersemangat ketika melihat para pedagang berjejer di pinggir-pinggir jalan. Kereta kuda melaju membelah kerumunan. Setiap pagi, Dawn Grimmer dipenuhi penjual apa pun. Aroma makanan panas membangkitkan ingatan Ace akan sup instan di supermarket. Hanya saja, ini sup sayur sungguhan, bukan kumpulan tepung yang diolah layaknya sayur.
Ace tidak menyangka dunia virtual bisa senyata ini. Penjual, pembeli, dan siapa pun yang berpakaian sejenis hanyalah NPC. Namun, mereka benar-benar berbicara, berjualan, dan bercanda satu sama lain. Di beberapa sudut, kerumunan lelaki saling berbincang dengan seorang player. Ketika Ace memusatkan pandangan hingga fokusnya menjadi cursor hijau, nama dan level player itu terlihat. Rank C, penyihir tingkat tiga. Sepertinya dia berperan cukup baik saat p*********n naga waktu itu.
Melihat suasana kota, Ace tidak percaya semua kehancuran yang disebabkan oleh naga pulih dalam sekejap. Tentu saja Ace sadar bahwa semua ini hanyalah data AI yang dikembangkan dan dibangun ulang dalam sekejap. Tidak butuh usaha keras untuk membangun semua ini kembali dan NPC yang waktu itu tewas telah muncul kembali karena fitur re-spawn.
Ace beralih pada Niel, lelaki yang menyelamatkannya dua kali. Tebersit rasa penasaran Ace tentang sekuat apa lelaki itu sebenarnya. Tentang kekuatan Niel, dan naga yang dikalahkannya waktu itu.
“Kenapa kau memperhatikanku begitu?” Niel berucap tanpa menoleh, membuat Ace sedikit merinding.
“Ah, aku hanya penasaran tentang kekuatanmu.”
“Huh? Masih saja. Sudah kubilang tidak ada yang istimewa.”
Ace mencelos. Tidak ada yang istimewa katanya? Lalu apa yang menyelamatkanku dua kali waktu itu?
“Kau sendiri bagaimana?” tanya Edgar.
“Eh?”
“Kekuatanmu. Kau bisa menggunakannya?”
Ace menggeleng lalu mengangkat kedua tangan. Di pergelangan kanannya terdapat simbol keping salju berwarna biru tua. Kekuatannya adalah es. “Bahkan aku tidak tahu cara menggunakannya.”
“Kau akan tahu nanti, tidak perlu khawatir.” Hilla tersenyum, berusaha menghibur Ace yang sedikit gelisah. “Kami juga mengalaminya, kok. Kami kebingungan saat pertama kali mendapat kekuatan. Ah, rasanya aku rindu masa-masa itu. Semakin lama kau berada di sini bersama kekuatanmu, kau akan semakin mengenalnya. Percayalah. Semua ini tidak buruk juga. Benar kan, Niel?”
“Berisik.”
Hilla menggerutu, mengerucutkan bibirnya kesal. “Dasar dingin.”
“Hei, jangan terlalu dingin pada Hilla!” protes Edgar.
“Berisik.”
Ace terkekeh melihat kelakukan mereka. Membenarkan perkataan Hilla tentang semuanya tidak buruk juga. Setidaknya, dia bisa bebas berteman dengan orang lain di sini, tanpa harus mengkhawatirkan latar belakang dan kesulitannya dalam berteman.
“Sebelum berburu, kau harus membeli armor. Lalu ….” Pandangan Hilla tertuju pada sword magic yang tergantung di pinggang Ace, weapon yang didapatkan Ace secara cuma. “Jujur saja, kau sangat beruntung bisa mendapatkan sword magic itu. Tapi, karena level weapon-nya rendah, kau tidak bisa menggunakannya secara terus menerus.”
Pandangan Ace teralih pada sword magic itu. Hilla benar. Bahkan setelah kenaikan levelnya sekarang, tulisan keterangan weapon itu telah berganti jadi putih yang artinya lemah. Jika Ace menggunakan ini untuk melawan musuh dengan level tinggi, weapon-nya pasti hancur.
Ternyata bentuk weapon juga berbeda-beda meski jenisnya sama. Edgar yang mendapatkan sihir spesial ‘Knightman’ memiliki weapon berbentuk pedang besar yang terlihat kokoh, tapi tampilan magic sword ini sangat tipis dan tampak rapuh.
“Sihir Ace itu es, kan?” Allura menelengkan kepala pada Ace. “Kupikir Ace tidak butuh s*****a karena sihir es termasuk sihir pembentukan seperti Demian. Berbeda dengan Hilla, Edgar, dan Niel.”
“Kalau begitu, armor dan penunjang, ya.” Hilla mengedarkan pandang, menyapu kios-kios di hadapan mereka dengan tatapan menilai.
Ace mendesah. Dia sedikit tidak setuju dengan Allura, tapi juga tidak bisa menyangkal. Tadinya Ace pikir dia bisa menggunakan weapon sejenis magic sword, tapi jika dipikir-pikir, sihirnya adalah sihir pembentukan. Seingat Ace, Demian bisa membentuk bola-bola sihir dari ujung jemari. Apakah dia bisa membentuk s*****a sendiri dengan sihir? Jika benar begitu, Ace benar-benar tidak membutuhkan weapon.
Armor memang yang kebutuhan yang pertama. Hoodie biru tuanya sudah tidak layak pakai dengan robekan besar. Celana training yang dipakai Ace juga sama buruknya dengan hoodie. Andaikan saja dia tidak memiliki sihir, player lain pasti sudah mengiranya sebagai NPC gelandangan di kota. Pada akhirnya Ace hanya membiarkan mereka menyeretnya ke sebuah kios. Ada beberapa kios di pasar yang menyediakan kebutuhan untuk berburu, seperti s*****a, potion, special item, armor, atau alat-alat penunjang.
Si penjaga kios berpakaian cukup rapi. Lelaki berambut pendek dan bermata hitam itu menyipit ketika mereka datang. Demian dan Lucas maju terlebih dahulu dibanding Niel atau Edgar. Sepertinya dua orang itu berpengalaman dalam tawar-menawar, mungkin. Dan lagi, Ace tidak bisa membayangkan seandainya Niel atau Edgar yang melakukan negosiasi.
Senjata-s*****a yang dipajang pada dinding kiri kios terlihat berkilauan. Tak hanya pedang, tapi berbagai s*****a lain. Armor tergantung berjajar di sisi kanan kios. Ada banyak yang bisa dibeli Ace dengan uangnya sekarang, tapi dia merasa tidak nyaman melihat armor yang begitu berat dan memiliki banyak hiasan. Jika dipikir-pikir, enam temannya memiliki armor Apalagi armor-armor di game ini memiliki desain yang aneh berbahan besi, tapi apa boleh buat. Dia pun mulai mencari ke sisi lain yang dianggap memiliki tampilan ‘normal’. Pandangan Ace tertuju pada armor seperti jubah putih dan celana panjang hitam. Dia menyukai garis-garis biru yang senada dengan warna rambut dan matanya.
Ace menelan ludah susah payah ketika melihat harga yang terpajang. Dua puluh ribu ED. Saat mengecek jumlah uangnya di inventory, Ace memiliki uang lebih, tapi rasanya uang ini akan lebih berguna jika diinvestasikan ke bagian lain seperti perlengkapan.
“Aku butuh armor untuknya.”
Pandangan penjaga kios itu mengikuti yang ditunjuk Lucas. Mata hitamnya menyelidik Ace dari atas ke bawah dengan penuh perhitungan. “Hm? Apa jenis sihirnya?”
“Sihir pembentukan.”
“Oh, sihir pembentukan. Berarti butuh magic attack yang besar, ya. Akan kucarikan armor yang cocok untuk tubuh kurus dan tidak terlalu tinggi.”
Si penjaga kios berbalik, memilah-milah armor seraya menggumamkan sesuatu. Ace mengganggap ucapan si penjaga tadi adalah pujian. Bagaimanapun, dia memang lebih pendek daripada Demian, Niel, dan Edgar. Meski begitu, dia cukup tinggi dari Lucas. Dia juga tidak memiliki bentuk wajah yang terlalu menarik seperti Niel, dan lebih mirip seperti pecundang.
“Ini.”
Tak butuh waktu lama menimbang, si penjaga kios mengambil armor berbentuk jubah penyihir berwarna biru tua. Dia meletakkannya di atas meja kayu.
Lucas memeriksa pakaian itu, meraba-raba permukaan, dan menimbang beratnya. “Tidak terlalu buruk.”
Si penjaga kios itu tersenyum samar, lalu mengangkat jari-jarinya. “Lima belas ribu ED untuk Lightstream Armor. Bagaimana?”
Lucas mendengkus lalu menyeringai. “Kau tidak bisa membohongiku. Sepuluh ribu ED.”
“Dasar bocah tengil. Mana ada armor berkualitas yang dibuat dari material superlangka seharga sepuluh ribu ED sekarang?”
“Ini hanya armor biasa.” Edgar menyahut. Dia mengambil pakaian itu, lalu merentangkannya. “Lumayan berat, tapi daya tahannya kecil. Serangan monster biasa setidaknya mengurangi seperempat HP. Ada yang lain?”
Ace puas melihat si penjaga kios berdecak, berusaha menahan tawa. Dia beruntung bisa mengenal orang-orang ini. Walau terlihat bodoh, ternyata mereka cukup pintar menilai barang. Sejujurnya Ace tidak menyukai model armor itu. Tubuhnya terlihat seperti layar kapal yang mengembang karena pakaiannya terlalu panjang. Meski bentuk armor tidak terlalu penting, Ace tidak bisa membayangkan kalau dia memakai itu ke mana-mana.
Ace menahan napas melihat penjaga kios membawakan armor incarannya. Iris safir Ace berbinar saat pakaian itu diletakan di atas meja.
“Dua puluh ribu ED untuk Crast Armor. Armor ini terbuat dari tiga material yang didapat dari naga, lho. Kau bisa lihat spesifikasinya. Dia menunjang magic attack yang besar dan daya tahannya tinggi. Armor ini cocok untuk lelaki kurus itu.”
Lucas dan Edgar saling berpandangan, lalu Edgar yang lebih dulu menjawab. “Akan kubayar dua belas ribu ED.”
Si penjaga kios berdecak lagi. “Tidak. Itu terlalu rendah. Kau hampir memotong setengah harga!”
“Cih. Pedagang pelit. Baiklah, bagaimana dengan lima belas ribu ED? Ayolah, kami ini pemain, sedangkan kau itu NPC.”
“Apa hubungan NPC atau pemain, bocah s****n! Uang tetaplah uang. Akan kulepas seharga tujuh belas ribu ED. Tidak kurang.”
Lucas hendak menawar lagi, tapi dihentikan oleh Edgar. Meski kesal, Lucas akhirnya menurut. Dia melempar tatapan pada Ace. “Tujuh belas ribu ED. Kau mau?”
Ace mengangguk mantap. Dia cepat-cepat mengeluarkan kantong uang dari tas selempang, lalu membayarnya. Tatapan Ace tak lepas dari pakaian itu ketika sang penjaga kios memberikannya. Meski gagal mendapat harga yang murah, setidaknya dia bisa membeli beberapa alat penunjang.
Gerakan di belakang menarik perhatian Ace yang tengah membereskan armor-nya. Darah dalam tubuhnya seakan membeku ketika dia melihat sosok berjubah hitam baru saja melintasi mereka. Sesuatu dalam diri Ace seolah-olah mengatakan mereka saling terhubung sesuatu. Mungkinkah—
Pandangan Ace mengikutinya beberapa saat, sedikit menyipit untuk memastikan orang itu benar-benar sosok yang dicarinya.
“Apa ada sesuatu?” Hilla bertanya pelan seraya menepuk bahu Ace.
Ace tidak menjawab, masih memandangi sosok itu. Dia bisa saja salah, tapi jika dia benar, mereka bisa mempercepat perjalanan. Mungkin saja sosok itu—
Ace tersentak ketika sosok itu menoleh, seakan-akan tahu Ace memandanginya. Kedua matanya bersembunyi di balik hoodie, tapi kulit pucat dan hidung mancungnya terlihat jelas. Orang itu benar-benar sosok yang dilihatnya kemarin. Pikiran itu telah membelenggu Ace. Tanpa memedulikan teman-temannya yang kebingungan, Ace mengejar sosok yang mulai tenggelam dalam kerumunan. Dia mengabaikan suara teman-teman yang memanggilnya.