To those who have fought for freedom... I am with you.
***
Memiliki Free Spirit adalah hal yang mewah buatku. Kebebasan memilih juga hal yang mahal.
Teman kuliahku dulu, Sarah meninggalkan keluarganya untuk hidup bersama pasangan wanitanya.
Nggak lama, perusahaan Ayahnya bangkrut karena terjadi konflik internal manajemen. Sulit untuk memercayakan perusahaan ke orang yang bukan keluarga, mungkin itu salah satu alasan mengapa ayahku tetap ingin perusahaannya dibawah kendali keluarga kami.
Sudah berapa kali aku mencoba memberontak, mencoba lari dari pernikahan yang sudah keluargaku atur.
Hingga Mamaku tiba-tiba datang menyusulku ke Bibury, kota kecil di Eropa.
Wajah lelah dan sayunya nampak jelas, tiba-tiba aku menyadari wajahnya sudah penuh dengan kerutan usia.
Lalu, secara ajaib Mama menyuruhku pulang dan melupakan rencana pernikahan ini.
Saat itu aku bahagia namun juga khawatir.
Apakah kebahagiaanku juga akan membuat orang tuaku bahagia?
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk melihat calon yang dijodohkan kepadaku terlebih dahulu sebelum memutuskan setuju atau tidak.
Hingga pertama kali aku melihat sosok pria itu dan aku terpesona dengan fisiknya, dengan senyum tipis yang tersungging ketika ia berbicara dengan tamu lain.
Senyum tipis yang saat ini terasa mengerikan.
"Mas tenang aja, Bapak saya anggota DPR. Saya pasti ganti kerusakan mobil Mas. Nggak perlu ke polisi." kata bocah yang kayaknya masih muda banget, mungkin masih SMA. Bryan hanya melempar senyum tipis sinis ketika mendengar penuturan anak itu. Senyum meremehkan.
Ih, lagian mana peduli Bryan sama anggota DPR, siapa yang khawatir biaya perbaikan mobil juga. Masalahnya selain tengil, si anak yang tiba-tiba menabrak mobilku nggak punya SIM jadi akupun makin sebal.
Setelah asisten Bryan datang mengurus anak tengil itu, Bryan mengetuk jendela mobil tempat aku menonton adegan dari balik kaca sambil duduk manis di kursi belakang sedari tadi.
Aku menurunkan kaca.
"Keluar." katanya. "Pindah mobil gue. Biar mobil lo di bawa bengkel dulu." aku menurut.
Kami berjalan beriringan menuju mobil Bryan yang di parkir tidak jauh. Aku mencuri pandang melihat ke arah Bryan. Siluet wajahnya nampak jelas dengan hidung mancung yang terpahat sempurna.
"Thanks." kataku pelan.
"Lain kali telfon Rangga aja." katanya dingin tanpa melihat ke arahku.
"Rangga kan asisten lo. Lagian kenapa lo nggak telfon Rangga dari awal aja? Biar Rangga yang nyamperin gue." aku mencoba membela diri.
Pulang dari acara Charity dengan hati nyeri karena harus ketemu Ibra-satu-satunya manusia yang paling terakhir pengen aku lihat-malah di perjalanan pulang mobilku di tabrak dari belakang di lampu merah. Aku nggak tahu kondisinya separah apa, karena Pak Yanto yang langsung berhadapan dengan si anak itu. Setelah lampu berubah menjadi hijau, Mobil kami melipir di pinggir jalan untuk penyelesaian. Ya minimal minta maaf gitu si bocah.
Alih-alih minta maaf si bocah tengil malah nge-gas.
Aku sebenarnya mau menghubungi Nico, lawyerku. Tapi aku urungkan karena Nico pasti ngambek kalau aku suruh ngurusin hal remeh seperti ini. Ditambah kalau sampai Nico tahu, pasti Papa juga akan tahu.
And the next scenario is Papa will call Bryan immediately.
Memang tugas suami nggak sih buat membantu membereskan permasalahan istrinya?
"Nyokap lo nyuruh gue ke dokter." kataku setelah masuk ke dalam mobil.
Bryan langsung menoleh, dengan matanya meminta penjelasan lebih.
"Nyuruh gue program hamil."
Bryan ngga berkomentar.
"Gue harus jawab apa?"
"Iyain aja."
Aku berdecak. "Terus kalau gue di tanya-tanya sama nyokap lo dokter gue siapa, apa kata dokter, udah sampai tahap mana gue harus jelasin apa?"
"Ya jelasin aja." jawab Bryan enteng, nggak pakai mikir kayaknya.
Sumpah Tuhan emang Maha Adil, ganteng-ganteng tapi nyebelinnya level Bandung Bondowoso!
"Maksud lo kita harus program hamil beneran?"
"Iya."
Sepersekian detik aku berhenti nafas saking kagetnya.
"I know you could having s*x without love. But a just-s*x encounter never be for me." Aku mulai menaikan nada suara dengan sedikit penekanan.
"You will see." Ujar Bryan, kembali dengan senyum sinisnya.
"You said that you would never touched me."
"I did." Jawaban super singkatnya juga kembali terdengar.
Aku menghela nafas.
Sebelum memutuskan untuk menikah dengan Bryan, walau sedikit tetapi aku punya pengharapan bahwa suatu saat mungkin kami bisa saling jatuh cinta setelah menikah.
Aku bisa mengenal Bryan lebih dekat, begitu juga sebaliknya.
Semua kenaifanku dipatahkan oleh makhluk bernama Bryan Ashley Widjaya.
"Lagian dari awal kita udah memutuskan untuk nggak berpikir akan punya keturunan. Gue akan coba bilang ke nyokap lo dengan bahasa yang lebih halus. Dan lo juga harus hati-hati, jangan sampai lo kebablasan sampai ngehamilin wanita nggak jelas. Lo tahu kan konsekuensinya? Jangan sampai jadi laki-laki sampah seperti itu. Jangan jadi Organic Rubbish." Cerocosku dengan sedikit mengancam. Maksudku, sebagai laki-laki aku tahu Bryan punya 'kebutuhan' yang aku sebagai istri sah di atas kertas nggak akan mencukupi itu. Jadi, aku yakin sisi gelap Bryan pasti akan mendapatkannya entah dengan siapa yang aku nggak mau tahu. Yang penting jangan sampai keluarga dan media masa tahu.
Nampak Bryan terusik dengan ancamanku. Bryan menurunkan kecepatan mobil, lalu menatapku.
"Gue bukan laki-laki sampah." katanya seraya melihatku dengan wajah menyeramkan.