Called me, Duchess of Menteng
***
"Elea." pekik Rineya saat melihatku turun dari mobil. Samantha langsung menghambur memelukku. Beberapa teman yang lain juga menyambutku dengan hangat.
"Kirain nggak dateng." ujar Samantha setelah bertukar ciuman pipi lalu beriringan berjalan menuju ke dalam taman lengkap dengan pendopo yang sudah dihiasi rangkaian bunga segar.
Aku berdecak. "Kalah dekor nikahan gue sama acara arisan di rumah Ayu."
Samantha terkekeh. "Lo tahu sendiri Ayu, mana mau dia kalah sama orang lain. Tadi juga ada satu bunga mawar yang masih kuncup, Ayu langsung teriak-teriak ke EO-nya."
Aku menyeringai, membayangkan raut wajah Ayu memarahi petugas dekor.
"Ya ampun pengantin baru, auranya beda." komentar Rineya sembari memelukku. Rineya dan Samantha adalah inner circle-ku. Orang tua kami bersahabat dekat dan persahabatan itu menular kepada kami yang sedari kecil sudah diajak play date bersama. Sulit untuk menyembunyikan sesuatu dari mereka, termasuk tentang kebenaran pernikahanku dengan Bryan. Kecurigaan sempat terendus oleh mereka, tapi untuk saat ini aku tetap berusaha tidak mengakui apapun.
"Duchess of Menteng udah dateng, kok telat?" seru Ayu lantang. Membuat orang lain yang sudah kembali dengan kesibukan masing-masing kembali memandangku.
Nggak enaknya telat ke sebuah acaraya begini, jadi pusat perhatian.
Apalagi yang membuat aku telat adalah Bryan, jadi rasanya makin sebal.
Aku sebenarnya mengajak Bryan untuk ikut, sekaligus ingin mengenalkannya ke lingkunganku di yayasan Royal Paradise. Tapi setelah menunggu Bryan bersiap selama 30 menit, tiba-tiba Bryan membatalkan sepihak. Katanya dia ada urusan mendadak.
Aku hanya meringis. "Iya tadi nyiapin keperluan Bryan dulu, dia ada acara mendadak." ujarku mengarang alasan yang nggak sepenuhnya bohong.
"Ya ampun, untung suami gue mandiri. Nggak pernah mau ngerepotin istrinya." aku tersenyum diplomatis tanpa menanggalkan tatapan ketulusan mendengar apapun ke-bullshit-an Ayu. Dari kecil aku sudah terlatih untuk tetap memasang ekspresi 'peduli' meski sebenarnya aku nggak peduli. Demi menjaga citra dan nama baik keluarga Dharmawan di halayak umum, aku juga nggak diizinkan untuk melakukan hal-hal yang kontroversial meski rasanya aku ingin sekali mencibir Ayu. Apa katanya barusan? Suaminya mandiri? Aku yakin Ayu punya puluhan asisten rumah tangga yang bahkan untuk menyiapkan sepatu saja ada unit bagiannya sendiri.
Samantha menarik lenganku, seolah mulai memahami situasi yang aku alami. "Ambil minum dulu yuk." ujarnya, menyelamatkan aku supaya tidak merespon atau berkomentar. Rineya turut berjalan bersama kami.
"Ayu dari dulu memang TMI, too much information." kata Riney (begitu aku memanggil Rineya) ketika kami sudah mulai jauh dari Ayu dan kawanannya.
"Untung ada sisi positifnya itu orang." sahut Samantha sembari meraih gelas berisi air mineral di meja yang didekorasi penuh bunga mawar.
Aku dan Rineya saling berpandangan. "Maksudnya?"
"Acara fundraising hari ini jadi well-prepared karena dia Ketua komitenya. Si perfeksionis itu akhirnya berguna di waktu yang tepat." Samantha tertawa sementara aku mengangguk setuju.
Acara Charity hari ini adalah salah satu kegiatan dari Royale Paradise Foundation yang dibentuk oleh anak-anak pengusaha-pengusaha dari berbagai bidang di Indonesia.
Kedengarannya mulia banget ya, padahal kalau aku boleh judgemental, Event Charity begini hanya ajang untuk saling memamerkan semua hal yang bisa dipamerkan. Memiliki suami yang baik hati misalnya, atau bangga karena designer ternama Paris mengirimkan tas limited edition berinisial nama mereka langsung ke depan rumah mereka. Tapi terlepas dari semua cerita itu, dana yang terkumpul juga berbanding lurus dengan apa yang mereka pamerkan.
"Eh itu Ibra bukan sih? kok dia di Jakarta? Apa gue salah lihat?" kata Samantha tiba-tiba. Aku dan Rineya langsung melihat ke arah yang ditunjukan Samantha.
And there he is. Ibrahim Sanjaya.
Sedang berjalan dengan begitu tenangnya ke arah kami bertiga.
Pandangan aku dan Ibra bertemu, seketika Ibra melebarkan senyumnya.
"Apa kabar?" sapa Ibra dengan suara bariton yang memenuhi ruang telingaku. Ibra menjabat tangan Samantha, Rineya dan terakhir aku. Mata kami kembali bertemu, tapi aku nggak berani menatapnya lebih lama.
"Baik, lo gimana? Kok lo di Jakarta?" tanya Samantha, mendahuluiku yang ingin menanyakan hal yang sama. Ibrahim bekerja di Perusahaan yang dia dirikan di Singapura, walau dekat Ibrahim jarang pulang ke Jakarta setelah kejadian itu.
Ibra memasukan tangan kiri ke dalam saku celana. "Sepupu mau nikah lusa, jadi harus pulang. Lagian Jakarta-Spore kan dekat."
Riney beringsut. "Lo ya, kalau deket kenapa nggak dateng ke wedding Elea?" aku yang terlatih menahan reaksi mendadak ingin sekali mencubit lengan Riney saat ini juga.
Sudah susah payah aku mencoba untuk terlihat biasa saja, tapi sekarag aku malah menahan emosi dengan menggertakan gigi.
"Sorry ya Le." katanya. "Gue lagi di Melbourne waktu itu. Wedding giftnya mau gue anter ke rumah? Lo sekarang tinggal di mana? Masih di Pondok Indah?'
Ibrahim Sanjaya bukan orang lain buatku. Dia adalah teman, sahabat, sekaligus abang yang sudah aku kenal sejak kecil.
Sebelum dijodohkan dengan Bryan, orang tuaku memberikan kesempatan untuk memilih pasanganku sendiri.
Nggak ada laki-laki yang bisa membuat aku jatuh cinta dan aku sayang selain Ibra.
Sebelum Ibra memutuskan untuk stay di Singapura, aku memberanikan diri dengan seluruh harga diriku sebagai wanita untuk mengajaknya menikah. Waktu itu aku yakin Ibra juga menyayangiku, tapi ternyata aku salah.
Ibrahim has rejected my proposal.
Ternyata baginya, aku hanya teman. Hanya adik. Hanya sahabat.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. "Aku udah pindah ke rumah suamiku di Menteng." jawabku, pura-pura tegar. Padahal rasanya, mata sudah panas.
Kata orang menyalahkan orang lain lebih mudah daripada mengakui kesalahan sendiri, mungkin karena itu aku selalu menyalahkan Ibra jika aku sedang diperlakukan seenaknya oleh Bryan.
Kalau aja Ibra menerima ajakanku, kalau aja aku menikah dengan Ibra, aku nggak akan terjebak dengan manusia nggak berhati seperti Bryan.