“Meski waktu tak pernah berhenti berjalan, tapi ada yang tak pernah ia tinggalkan. Yaitu, kenangan.” ---- “Kan gue udah bilang, gak usah nganterin gue ke sekolah, Bim. Gue tau lo kepaksa, kan bangun pagi gini? Jangan maksain suruhan nyokap gue kalo lo gak sanggup. Gue kenal banget lo, Bim.” Pagi-pagi, Aly sudah mengomel pada Bima yang sudah kembali datang ke rumahnya. Bahkan, ia sendiri belum sarapan. “Ly, lo udah gak kenal gue sejauh ini, ya? Jujur, gue sedih banget kita makin lama malah kayak orang asing. Bukannya lo juga dulu gak kayak gini?” Baru kali ini, Aly mendengar jawaban serius dari Bima. Biasnya, sahabatnya itu akan menimpali ucapannya dengan candaan. Ia melirik ke arah Bima. Wajahnya memang tidak sama sekali menunjukkan kalau dirinya bercanda. Bima serius dengan perkataan

