“Aaaw!” teriak Evellyn ketika tubuhnya terhempas di atas ranjang pengantin.
Tubuh Evellyn di dorong kasar oleh Tuan Dariel. Keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri, Dariel melonggarkan dasinya bahkan melepas satu kancing kemejanya, membuka jasnya kemudian melemparnya ke atas ranjang.
Kamar pengantin ini berada di salah satu kamar Hotel Britannique yang terletak 400 meter dari pusat kota Paris, kamar pengantin yang sudah disediakan oleh Nyonya Retha.
Tubuh Dariel berada di atas tubuh Evellyn, tangannya mencengkram mulut Evellyn. “Di bayar berapa kau sama Mommy, hah? Dasar mur- han, jadi wanita gak ada harga dirinya sama sekali,” ucap Dariel, tatapannya terlihat membunuh membuat Evellyn tidak kuat melihat tatapan itu.
Hiks!
Evellyn menangis, air matanya mengalir begitu saja. Baru pertama kalinya dirinya mendapatkan perlakuan kasar dari laki-laki.
“Percuma kau menangis. Itu hanya air mata palsu mu saja. Kau pikir, air matamu akan membuat hati saya luluh? Cih! Tidak akan. Kau wanita ren-dahan, kau tidak pantas mendapatkan perlakuan baik dari saya,” ucapnya masih dengan tatapan melotot.
Cengkraman itu begitu kuat sampai Evellyn tidak bisa bicara satu katapun.
“Jangan harap, saya akan sentuh kamu, Ellyn. Menjijikan! Tubuhmu pasti sudah kotor, pasti kau sering menukar harga dirimu dengan uang. Dan pasti, banyak lelaki yang sudah menikmati tubuhmu yang menjijikan ini.”
Hinaan yang dilontarkan dari mulut Dariel semakin membuat hati Evellyn terasa nyeri, air mata itu tak bisa Evellyn tahan saking sakitnya sampai ke ulu hati. Inilah resiko yang harus Evellyn terima, dia pasti akan dipandang buruk oleh Tuan Dariel – atasannya di tempat dia bekerja.
Dariel sama sekali tidak peduli dengan air mata yang berguguran di pelupuk mata Evellyn. Dariel melepas cengkeramannya, dia bangkit dari tempat tidur. Dariel mengambil jasnya, kemudian dia pergi meninggalkan Evellyn seorang diri yang tengah menangis terisak.
Malam ini, otak Evellyn untuk menjadi night butterfly woman lagi tidak konek, terlanjur syok karena mendapatkan perlakuan kasar dari Dariel.
Evellyn menghapus air matanya, tak perlu lagi ia tangisi. Evellyn tersenyum tipis, menghela napas pelan.
Huh!
“Oke, Evellyn. Mulai besok malam, kau harus bisa membuat Tuan Dariel menyentuhmu dan menaburkan benihnya di rahimku agar aku secepatnya hamil.”
Ponsel Evellyn berdering, ada telepon masuk dari Nyonya Retha. Evellyn kembali mengatur napas, dia tidak mau sampai Nyonya Retha mengetahui kalau dia tengah menangis.
“Halo, Nyonya,” ucap Evellyn setelah dia menggeser icon berwarna hijau di layar ponselnya.
“Bagaimana? Apakah sukses malam ini? Apakah Dariel sudah menyentuhmu?”
Evellyn menelan ludahnya dengan susah payah, lidahnya pun terasa kelu. “Sukses, Nyonya. Tuan Dariel sudah mencium ku, sepertinya dia sudah mulai terpancing. Tapi ... sekarang dia lagi di toilet. Uummm ... sudah ya, Nyonya, Ellyn matiin teleponnya, sepertinya Tuan Dariel sudah selesai di kamar mandi.”
Evellyn terpaksa berbohong, dia belum siap mendengarkan perkataan pedas dari Nyonya Retha karena dia sudah gagal melewati malam pengantin pertama dengan Dariel.
“Baik! Buat dia candu dengan tubuhmu, buat dia bisa berpaling dari Jasmine.” Nyonya Retha di sana tersenyum puas, dia senang mendengar Dariel yang katanya sudah mulai mencium Evellyn.
“Siap, Nyonya!”
Evellyn dan Nyonya Retha mengakhiri percakapannya. Evellyn merasa lega karena wanita paruh baya itu percaya dengan kebohongannya.
Evellyn duduk di ujung ranjang, meremas gaun pengantin yang masih ia gunakan. Evellyn merasa dirinya benar-benar hina, perkataan Dariel yang menghinanya masih terngiang.
“Andai saja kamu tahu alasan aku, Tuan, apakah kau akan tetap menganggap aku rendah-an?”
Ternyata Dariel malah kembali ke rumah sakit, kembali menemui istrinya. Padahal Jasmine sudah ditemani oleh Mama dan papanya, jadi Dariel seharusnya tidak terlalu mencemaskan Jasmine.
“Sayang ... kau – “ Jasmine tampak berbinar tatkala melihat kedatangan suaminya.
Dariel tersenyum ketika melihat senyuman tulus dari istrinya. Dariel meminta mertuanya untuk pulang, malam ini Dariel yang akan menemani Jasmine.
Dariel mengunci pintu setelah Mama dan Papanya Jasmine pergi. Dariel menaruh jasnya di atas sofa, lalu dia merebahkan tubuhnya disebelah Jasmine di atas kasur yang sempit itu.
“Aku kangen, Sayang,” ucap Dariel berbisik.
“Tapi, Dariel. Aku – “ Belum saja selesai bicara, Dariel langsung membungkam mulut Jasmine dengan sebuah ciuman panas.
Tiba-tiba saja hasrat Dariel menggebu ketika tadi dia berada di tubuh Evellyn, sepertinya Evellyn punya daya tarik tersendiri, berdekatan saja sudah membuat Dariel bergelora namun Dariel tahan karena merasa jijik untuk melakukannya dengan Evellyn.
“Dariel ... aku habis keguguran loh,” kata Jasmine ketika Dariel melepaskan pagutannya.
Dariel tersenyum tipis, ujung ibu jarinya mengusap bibir Jasmine yang basah. “Aku tahu, Sayang, aku hanya ingin b******u saja denganmu, tidak lebih.”
“Dariel ... kenapa kau tidak melampiaskan hasratmu dengan istri rahasiamu?” tanya Jasmine.
Dariel menggeleng, dia hanya ingin bercinta dengan istri pertamanya.
Dariel dan Jasmine tidur miring saling berhadapan. Jasmine merasa tidak ada hasrat sama sekali ketika tadi Dariel mencumbunya, rasanya hambar.
‘Apa ini karena aku sudah tidak punya rahim?’ batin Jasmine.
Dariel kembali mencumbu bibir Jasmine, harusnya Dariel melewati malam ini dengan Evellyn, namun Dariel lampiaskan kepada Jasmine yang tengah sakit. Namun, Dariel hanya menyentuh bibir dan dua aset istrinya yang kembar itu, aset yang terletak di atas d**a.
Tak ada hasrat ingin melenguh. Namun, Jasmine paksakan untuk mengeluarkan suara desahnya. Hati Jasmine menjerit, sebab dia sudah bukan lagi seorang istri yang tidak bisa memuaskan nafsu suaminya.
“Sayang ... aku mencintaimu,” ucap Dariel memeluk erat Jasmine, mencium kening Jasmine sampai berkali-kali.
Ingin rasanya Dariel menyentuh bibir bawah istrinya, namun ia tahan. Dariel masih punya hati, dia tidak mungkin menyentuh istrinya yang sedang sakit pasca keguguran dan operasi pengangkatan rahim.
“Aku juga mencintaimu, Dariel,” balas Jasmine seraya mencium bibir Dariel sekilas, “Dariel, siapa wanita yang sudah Mommy bayar? Apakah kita kenal?” tanya Jasmine yang baru teringat tentang madunya.
“Tentu saja, kita sangat mengenalnya. Aku tidak menyangka, ternyata dibalik keluguannya, dia seorang wanita pe-lacur. Aku yakin ... dia pasti sering mengumbar tubuhnya kepada p****************g yang suka jajan,” ucap Dariel.
“Siapa dia?” tanya Jasmine penasaran.
“Dia karyawanku, Sayang. Evellyn Bowie, kau kenal’ kan?”
“HAH? Ellyn?” Jasmine terkejut, tentu saja Jasmine mengenal Evellyn, dia pernah dibantu oleh Evellyn ketika dia merasakan keram perut ketika di lobby, kemudian Evellyn menolongnya membawa Jasmine ke rumah sakit karena saat itu Dariel sedang meeting.
Di kamar hotel, Evellyn sudah melepas gaun pengantinnya. Evellyn tetap akan berdiam diri di kamar hotel selama tiga hari tentu saja atas perintah Nyonya Retha. Evellyn sudah meminta salah satu perawat untuk menjaga sang – adik yang masih koma.
“Apakah besok Tuan Dariel akan kembali? Dia juga diminta untuk di sini selama tiga hari,” gumam Evellyn seraya menyisir rambutnya yang terurai panjang itu.