Rumah Sakit Universitas Pitie Salpetriere kota Paris (Prancis), pukul 05:05.
"Sayang, maaf ya harus aku tinggal lagi," ucap Dariel seraya mengecup kening Jasmine.
"Kamu mau kemana?" tanya Jasmine lirih.
"Mau ke Hotel. Takut Mommy curiga, takut mendadak Mommy datang kesini, jadi maaf banget aku harus ninggalin kamu," jelas Dariel.
Dengan terpaksa, di pagi buta ini Dariel harus kembali ke Hotel untuk menemui Evellyn. Takut juga jika Evellyn ngadu kepada Mommy-nya tentang semalam dirinya yang pergi meninggalkan Evellyn sendirian di kamar Hotel.
"Oh! Pergilah, Dariel. Jangan memancing singa betina yang lagi tidur. Aku tidak mau kamu kena omel Mommy Retha lagi, maka baiknya kamu cepat kesana."
Terpaksa juga Jasmine harus merelakan suaminya pergi untuk menemui madunya, Jasmine tidak mau ada keributan nantinya.
"Maaf, Sayang." Kedua tangan Dariel memegang kedua tangan Jasmine.
"Its Oke, tidak masalah." Jasmine terpaksa tersenyum agar suaminya pergi dengan tenang.
Hati Jasmine benar-benar hancur sehancur-hancurnya, dia tidak menyangka nasib pernikahannya akan seperti ini, akan melibatkan orang ketiga hanya untuk mendapatkan keturunan.
"Nanti, aku akan telepon Mama biar ada yang menemani kamu di sini," ucap Dariel kembali mencium kening sang—istri.
Jasmine hanya mengangguk, dia tengah menahan air matanya agar tidak terjatuh. Tidak mau menambah beban suaminya, jadi Jasmine harus terlihat baik-baik saja di depan suaminya.
Sementara itu, Nyonya Retha kembali menghubungi Evellyn lewat telepon. Namun, dengan sengaja tidak Evellyn jawab. Takutnya Nyonya Retha menanyakan Dariel lagi, tidak mau kebohongannya tentang semalam diketahui oleh Nyonya Retha yang sekarang sudah menjadi mertuanya.
'Gimana ini? Jawab apa enggak? Kalau aku jawab, pasti Nyonya Retha kembali menanyakan Tuan Dariel. Kalau enggak aku jawab, pasti Nyonya Retha malah jadi curiga,' monolog Evellyn. Ia terlihat sangat gelisah sekali, dari semalam Evellyn tidak bisa tidur karena tidak biasa tidur di kamar ber-AC.
Terdengar suara ketukan pintu membuat Evellyn terkejut. "Apakah itu Nyonya Retha?" Detak jantung Evellyn semakin berdebar tak karuan saking takutnya, tubuhnya juga mulai terlihat gemetar.
"Buka pintunya Ellyn, ini saya!" teriak Dariel sembari mengetuk-ngetuk pintu.
Evellyn menghela napas lega, sebelah tangannya mengelus dadanya. "Syukurlah!"
Buru-buru Evellyn membukakan pintu untuk Tuannya yang sekarang sudah menjadi suami.
"Tu— " Evellyn hendak mencium punggung tangan Dariel namun buru-buru Dariel tepis dengan kasar.
Dariel masuk kedalam dengan raut wajah yang nampak datar dan ketus, tidak ada senyuman yang terukir di sudut bibirnya sama sekali.
Dariel duduk di atas sofa, napasnya terlihat memburu. Sorot matanya tajam, membuat Evellyn tidak berani menatap Dariel.
Dan lagi, Nyonya Retha kembali mengulang menghubungi Evellyn lewat telepon. Kali ini, Evellyn menjawab telepon dari Nyonya Retha sebab sudah ada Dariel.
"Ha-hallo, Nyonya."
"Dari mana saja kamu? Kenapa telepon saya baru dijawab? Mana Dariel? Saya ingin bicara dengannya. Telepon saya dari tadi juga tidak dijawab olehnya." Nada suara Nyonya Retha terdengar sangat ketus sekali.
"A-ada, Nyonya!" jawab Evellyn tergagap.
Evellyn langsung menyerahkan ponselnya kepada Dariel. "Tuan, Nyonya Retha ingin bicara denganmu," ucap Evellyn menunduk, dia sama sekali tidak berani menatap Dariel yang masih menatap dirinya dengan sorotan mata yang tajam.
Dariel mengambil ponselnya Evellyn dengan sangat kasar.
'Melihat sorot matanya yang tajam, menakutkan seperti itu apakah aku bisa menjadi night butterfly woman? Apakah aku bisa menggodanya?' ucap Evellyn dalam hati seraya memainkan ujung pakaiannya.
Evellyn menggigit bibirnya, buru-buru Evellyn mengambil pakaian dinas (lingerie) yang sudah disiapkan oleh Nyonya Retha. Lekas, Evellyn masuk kedalam kamar mandi tanpa sepengetahuan Dariel.
"Gimana semalam? Pasti servis dari istri muda lebih mantap' kan?" goda sang—Mommy.
"Gak gimana-gimana. Biasa saja, Dariel hanya menjalankan tugas dari Mommy dan Daddy," ucapnya ketus.
"Lambat laun kau pasti akan terbiasa, Dariel, dan kau akan lebih suka dengan servis yang diberikan istri kedua kamu dibandingkan istri pertama. Sebab, Jasmine tidak punya rahim, otomatis gairahnya akan berkurang," ucap Nyonya Retha tersenyum tipis.
NUT!
Malas membahas perkara Jasmine yang tidak punya rahim, Dariel mematikan teleponnya. Dariel juga merasa semalam istrinya kurang bergelora, suara desah dan mata terpejam itu seolah dibuat-buat. Tentu saja, hati Dariel merasa nyeri dengan keadaan istrinya yang sekarang, berbeda dengan Jasmine yang waktu masih punya rahim, begitu bergelora dan begitu membuat Dariel puas dengan service yang diberikan oleh Jasmine.
Kedua tangan Dariel mengepal sampai meremas ponselnya Evellyn. Dariel berdiri membelakangi ranjang dengan napas yang semakin memburu.
Tap tap tap,
Terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat kearahnya. Dariel masih berdiri mematung, tangannya masih meremas ponselnya Evellyn.
Huh!
Evellyn mengatur napasnya, dia benar-benar terlihat tegang sekali. Untuk pertama kalinya dirinya harus berperan sebagai wanita peng—goda dengan status yang sudah halal.
Deg
Dariel membuka pupil mata sempurna ketika kedua tangan Evellyn melingkar di perutnya.
"Ini kan masih suasana pengantin. Apakah kamu tidak menginginkannya? Jujur saja, aku sangat menginginkannya," ucap Evellyn, kedua tangannya semakin naik keatas meraba-raba d**a bidang Dariel yang masih tertutup oleh kemeja bahkan sampai menciumi punggung Dariel.
Kedua tangan Evellyn semakin turun kebawah, tepat mengenai aset Dariel. Namun buru-buru Dariel cegah, tangan Evellyn disingkirkan secara kasar.
Napas Dariel semakin memburu, ponsel Evellyn dilempar kasar keatas sofa. Dariel memutar tubuhnya menghadap Evellyn, tangannya mencengkram kedua bahu Evellyn dengan kuat, tatapannya masih terlihat membunuh.
"Dasar wanita mu—rahan. Sepertinya kau sudah lihai menggoda. Sudah berapa pria yang kau goda untuk mendapatkan uang, hah? Menjijikkan!" bentak Dariel seraya mendorong kasar tubuh Evellyn sampai terhempas ke atas ranjang.
Evellyn syok, belum terbiasa dengan sikap kasar Dariel padanya.
"Kau pikir, dengan cara kau menggunakan pakaian itu, saya akan tergiur? Cih! Tidak sama sekali!" ucap Dariel, rahangnya semakin terlihat mengeras.
Evellyn menghela napas, dia beranjak dari tempat tidur. Evellyn kembali berdiri di hadapan Dariel, mencoba melawan rasa takut.
"Dariel .... " Evellyn memanggil nama Dariel dengan manjanya, beraninya Evellyn memeluk Dariel dengan erat, "aku tidak peduli dengan hinaan kamu padaku, Dariel. Aku hanya menjalankan tugasku, sekalian menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Apa aku salah? Aku menginginkan sentuhan darimu, Dariel karena sekarang kamu adalah suamiku," ucap Evellyn.
"Apa-apaan sih!" Lagi, Dariel kembali mendorong kasar tubuh Evellyn, "saya tidak sudi menyentuh wanita sepertimu. Pasti sudah banyak pria yang men—jamah tubuhmu itu."
Evellyn hanya bisa membalasnya dengan senyuman tipis.
Evellyn perlahan melangkahkan kakinya mendekati Dariel, dia kembali melawan rasa takutnya. Evellyn hanya menjalankan tugas dari wanita tua itu yang sudah membayar dirinya, tidak mau wanita itu murka padanya yang nantinya akan menyulitkan dirinya.
Evellyn mendorong kasar tubuh Dariel sampai terhempas ke atas ranjang, Dariel syok mendapatkan serangan dadakan dari Evellyn.
"Ayolah ... jangan menyulitkan aku, Tuan Dariel."
Evellyn naik ke atas tempat tidur, tangannya mulai kembali meraba-raba d**a bidang Dariel hingga turun ke atas perut.
"Tuan!" jari telunjuk Evellyn menyentuh bibir Dariel, "percayalah ... kamu tidak akan kecewa dengan pelayanan dariku—istri rahasiamu."
Mulut Dariel terasa terkunci, bahkan tubuhnya sulit untuk bergerak seperti ada magnet yang menahannya untuk pergi.
Hembusan napas Dariel terdengar kasar, sorot matanya semakin terlihat tajam. Kali ini, Evellyn memberanikan diri menatap Dariel.
Deg