HMIR ~ 0007

1127 Kata
“Argh!!!” Dariel memberontak, dia menyingkirkan tangan Evellyn yang nakal secara kasar. Dariel beranjak bangun, ia turun dari atas ranjang. “Bisa-bisanya kamu menggodaku? Wanita hina sepertimu tidak akan pernah mendapatkan sentuhan dariku!” ucap Dariel serius, sorot matanya masih terlihat tajam. “Kalau Tuan tidak sentuh aku, kapan aku hamil? Kapan aku bisa menyelesaikan tugasku? Tuan ... tolonglah, jangan mempersulit aku. Sebab di sini, aku dibayar mahal oleh Nyonya Retha. Jika aku gagal, aku harus membayar ganti rugi.” “Terus saya peduli? Lagipula, kenapa juga kamu mau dibayar. Dasar wanita tak punya harga diri, bisa-bisanya harga diri ditukar dengan uang. Apa mungkin rata-rata wanita miskin sepertimu kebanyakan mengambil jalan pintas seperti ini agar mendapatkan banyak uang dengan cepat,” ucap Dariel, dia mengancingkan kancing-kancing kemejanya yang sempat terbuka oleh ulah Evellyn. “Ya, Tuan benar. Wanita miskin sepertiku hanya dengan cara ju-al diri yang bisa menghasilkan uang dengan cepat,” ucap Evellyn tersenyum tipis. Evellyn hanya berusaha tegar saja di depan Dariel, tak penting juga Evellyn ceritakan alasannya kepada Dariel. Dariel diam mematung, hembusan napasnya masih terdengar kasar bahkan rahangnya semakin terlihat mengeras. Evellyn duduk di ujung ranjang, sebelah tangannya menarik sebelah tangan Dariel. Namun, kali ini Dariel bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak sampai terhempas ke atas ranjang. “Sekarang kau cari pria lain, saya akan bayar kamu. Dan suruh pria itu menaburkan benih di rahimmu, saya tidak sudi harus menyentuh tubuhmu yang menjijikan.” Evellyn menghela napas pelan. Serendah itukah dirinya dimata Dariel? Terlebih ketika Dariel melempar sebuah cek tepat mengenai wajahnya. Di dalam cek itu berisi nominal uang sejumlah 1M. Setelah melempar cek, Dariel ke luar dari kamar hotel. Dia tidak tahan jika harus berlama-lama di dalam kamar bersama Evellyn-istri rahasianya yang sukses membuat asetnya hampir menegak sempurna. Evellyn meremas selembaran cek tersebut, tak terasa air matanya mengalir begitu saja. “Aku memang membutuhkan uang banyak. Tapi aku tidak butuh uang dari Tuan Dariel, aku tidak mau melanggar janji yang sudah disepakati dengan Nyonya Retha. Bayaran dari Nyonya Retha sudah lebih dari cukup,” lirih Evellyn. “Aaaarrrgghhhh!!!” pekik Evellyn seraya mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi ia gagal menggoda Dariel, gimana bisa Evellyn membuat Dariel berpaling dari Jasmine, hanya sekedar bermain di atas ranjang saja Dariel tidak mau, malah menyuruh Evellyn membayar pria lain untuk menghamilinya. [Gimana Evellyn? Dariel suka dengan pelayanan darimu? Ingat Evellyn, kau harus bisa membuat Dariel jatuh cinta padamu, jangan hanya sekedar menaruh benih pewaris saja] Evellyn menghembuskan napas kasar ketika dirinya mendapatkan chat dari Nyonya Retha. Sudah berusaha nakal, tetap saja gagal, tetap saja Dariel tidak terpancing dengan rayuan mautnya. [Saya tidak tahu, tapi semalam Tuan Dariel sudah menaburkan benihnya. Sikap Tuan Dariel masih dingin, dia hanya menyentuhku sekedar untuk menjalankan tugas], balas Evellyn terpaksa harus berbohong. [Tidak masalah, perlahan saja. Yang penting dia sudah mau menyentuhmu, Ellyn. Buat dia candu dengan tubuhmu karena Jasmine tidak akan bisa melayani seperti biasanya] [Iya, Nyonya]. Tinggal dua malam lagi waktu Evellyn bersama Dariel di kamar ini. Evellyn akan mencobanya lagi, berharap diwaktu yang tersisa akan berhasil. Sementara itu, Dariel tengah berada di Resto yang masih berada di dalam Hotel. Ingin kembali ke rumah sakit, tapi sangat rawan takut kepergok Nyonya Retha. Di rumah sakit, Jasmine ditemani oleh Mamanya. Dikabarkan mulai besok, Jasmine diperbolehkan untuk pulang. “Jadi istri rahasianya Dariel adalah Ellyn?” Mamanya Jasmine sedikit terkejut mendengar cerita dari Jasmine tentang wanita uang menjadi madu – putrinya. “Iya, Ma. Jasmine tidak menyangka, dibalik wajahnya yang lugu ternyata dia tidak jauh dengan wanita kupu-kupu malam,” ucap Jasmine. “Mama juga tidak menyangka. Kamu harus hati-hati Jasmine, jangan sampai si Ellyn itu merebut Dariel darimu, memanfaatkan kelemahanmu ini,” ucap Sang – Mama mengingatkan. “Sebenarnya, Jasmine juga takut. Tapi ... Jasmine akan berusaha percaya kepada Dariel. Jasmine yakin, dia tidak akan mungkin berpaling. Mama bisa menilai sendiri, semalam saja Dariel sampai kembali lagi kesini. Kan, harusnya dia melewati malam pengantin dengan Evellyn,” ujar Jasmine. Ia hanya berusaha untuk positif thinking saja, percaya sepenuhnya kepada kesetiaan Dariel. “Semoga saja, ya. Mama juga berharapnya begitu, Dariel tetap setia padamu, tetap menjadikan kamu istri satu-satunya,” ucap Mamanya Jasmine penuh harap meskipun di dalam hati kecilnya sangat ragu sekali, takutnya Dariel mengecewakan Jasmine. Nyonya Retha sedang berada di lobby rumah sakit, dia datang ke rumah sakit hanya untuk memantau saja takutnya Evellyn atau Dariel malah ada di sini. Sebab, adiknya Evellyn masih di rawat di ruang ICU di rumah sakit ini. Klek Nyonya Retha membukakan pintu ruang rawat inap tempat Jasmine di rawat intensif. “Eh ada besan,” ucap Nyonya Retha sinis, wanita itu melepas kacamata berwarna coklat emas yang dia gunakan, “gimana kabar kamu, menantu?” Nada suaranya masih terdengar sinis. “Kabar Jasmine jauh lebih baik, Mom. Besok juga sudah diperbolehkan pulang,” jawab Jasmine. “Pulang kemana? Hm, Mommy sarankan baiknya kamu pulang ke rumah orangtuamu dulu saja, Jasmine. Dari pada kamu makan hati, sebab menantu kedua Mommy akan Mommy ajak tinggal bersama,” ucap Nyonya Retha, sama sekali dia tidak mempedulikan perasaan Jasmine. “Kau mengusir putriku?” tanya Mamanya Jasmine. “No! Tidak seperti itu besan. Saya hanya menyarankan saja, takutnya Jasmine tidak bisa menahan cemburu melihat Dariel bersama madunya. Maka baiknya, Jasmine tinggal bersamamu.” Nyonya Retha menyunggingkan senyum, wanita tua itu kembali menggunakan kacamatanya. “Jasmine akan tetap pulang ke rumah Dariel, dia adalah suamiku. Tidak peduli dengan kehadiran si Ellyn,” ucap Jasmine tegas. “Oh bagus kalau begitu, jadi mental kamu sudah kuat ya. Ingat ya Jasmine, jangan membuat masalah. Dariel harus punya pewaris, Evellyn bisa memberikan pewaris sedangkan kamu tidak bisa, jadi harus tahu diri,” ucap Nyonya Retha memberikan ultimatum. “Iya, Mom, Jasmine sadar diri kok,” sahut Jasmine lirih. Mamanya Jasmine hanya bisa mengelus dadanya, mencoba untuk menahan amarahnya. Terlihat sekali bahwa Nyonya Retha – mertua Jasmine sudah mulai merendahkan Jasmine, terkesan ingin menjauhkan Jasmine dengan Dariel. ‘Semoga ini hanya perasaan aku saja,’ ucap Mamanya Jasmine dalam hati. Lekas, Nyonya Retha keluar dari ruang rawat tersebut. Ternyata Evellyn memutuskan untuk menjenguk keadaan adiknya. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat Nyonya Retha, buru-buru Evellyn bersembunyi. ‘Nyonya Retha ngapain di sini?’ Evellyn merasa bosan di kamar hotel, sendirian tidak ada teman berbagi. Maka dari itu, dia putuskan untuk melihat keadaan adiknya saja. Untunglah ... Nyonya Retha tidak melihat Evellyn. Lega rasanya, sehingga Evellyn bisa melanjutkan langkahnya lagi. Sementara Dariel, dia kembali ke Hotel niatnya untuk membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya. Keningnya mengkerut ketika dia tidak mendapati Evellyn di dalam kamar. “Baguslah! Mungkin dia sedang mencari pria bayaran, jadi saya tidak perlu repot-repot menyentuhnya,” ucap Dariel tersenyum tipis. Dariel berpikir, Evellyn pergi untuk mencairkan cek yang dia berikan. “Dasar wanita mata duitan, mu-rahan juga,” desis Dariel sembari geleng-geleng kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN