HMIR ~ 0008

1353 Kata
HOTEL BRITANNIQUE Tepat pukul dua siang, Evellyn kembali ke Hotel. Ternyata di dalam kamar ada Dariel yang tengah tidur pulas menggunakan pakaian santai. Evellyn duduk di ujung ranjang, menatap wajah Dariel yang nampak tenang kalau lagi tidur. "Tampan. Tapi sayangnya pelit senyum. Dia tersenyum hanya untuk orang-orang tertentu," ucap Evellyn pelan. Tidak mau kehadirannya sampai menganggu Dariel yang tengah tidur. Drrrrt, drrrrt... Ponselnya Dariel terus bergetar, ada telepon masuk dari Jasmine. Ragu, Evellyn menjawab telepon dari Jasmine agar Jasmani tidak terus-menerus menelpon Dariel. "Sayang, besok aku — " "Maaf, Nona Jasmine. Tuan Dariel tengah tidur pulas, maaf saya sudah lancang menjawab telepon dari Anda," ucap Evellyn. "Evellyn, kau — " "Ternyata Nona Jasmine mengenali suara saya. Hmm syukurlah, jadi kita tidak perlu perkenalan." "Bangunkan suamiku. Saya mau bicara dengannya," perintah Jasmine. "Maaf Nona Jasmine. Tidak bisa, sebab suamiku lagi tidur pulas, sepertinya dia kelelahan. Karena kita sud — " NUT! Jasmine langsung mematikan teleponnya. "Aaarrrgghh!" Jasmine langsung membanting ponselnya. "Kenapa, Jasmine?" tanya Sang — Mama. "Dariel, Ma, Dariel. Dia — " Jasmine mengacak-acak rambutnya secara kasar, sepertinya dia percaya dengan perkataan Evellyn di telepon. "Kenapa Dariel?" tanya sang — Mama semakin penasaran. Hiks! Jasmine menangis terisak sembari memeluk Mamanya, padahal Jasmine ingin memberikan kabar kepada Dariel kalau besok dirinya diperbolehkan pulang. Di Hotel, Evellyn juga tampak sedih karena dia sudah menyakiti perasaan Jasmine dengan mengarang cerita kalau dia dan Dariel sudah melakukan hubungan suami-istri. Evellyn terpaksa melakukan ini atas permintaan Nyonya Retha juga. 'Maafkan aku, Jasmine. Aku terpaksa menjadi duri dalam pernikahan kamu dengan Tuan Dariel. Aku benar-benar terjebak dengan keadaan,' gumam Evellyn lirih. Evellyn juga merasa lega ketika obrolannya dengan Jasmine di telepon tidak sampai terdengar oleh Dariel, bisa-bisa nanti Dariel akan murka. Dariel terlihat menggeliat, buru-buru Evellyn menghapus air matanya, tidak mau sampai air matanya terlihat oleh Dariel. "Kamu sudah bangun?" tanya Evellyn tersenyum manis. Evellyn mendekati Dariel, dia duduk di ujung ranjang. Dariel terlihat risih, dia langsung jaga jarak, menggeser tubuhnya agar tidak terlalu berdekatan dengan Evellyn. "Siapa pria yang sudah menaburkan benihnya di rahim kamu?" tanya Dariel dengan tampangnya yang datar, namun nada suaranya terdengar khas bangun tidur. "Tidak ada!" jawab Evellyn. "What? Saya sudah bayar kamu 1 M, Evellyn." "Tapi saya — " Evellyn belum selesai berbicara, namun ucapannya terpotong oleh suara getar di ponselnya Dariel yang tergeletak di atas nakas. Dan ternyata Mama mertuanya yang menelepon, Dariel segera menggeser icon warna hijau. "Halloo, Ma!" "Dariel, cepat kemari. Jasmine histeris terus, Mama kerepotan untuk menenangkannya." "APA?" Dariel syok mendengarnya, penasaran juga kenapa Jasmine sampai histeris. Lekas, Dariel mematikan teleponnya. Dia turun dari tempat tidur, mengambil kunci mobilnya di atas nakas, Dariel pergi tanpa mengatakan apapun kepada Evellyn, terkesan Evellyn ini adalah patung. "Kenapa Tuan Dariel buru-buru pergi? Ada apa ini kenapa perasaan aku mendadak tidak karuan begini," monolog Evellyn. Kalau Dariel sudah pergi begini, sepertinya di malam pengantin yang kedua ini pasti akan gagal lagi. Evellyn akan gigit jari lagi, tidak akan ada aktivitas panas di atas ranjang. "Huh! Gagal lagi! Kalau Tuan Dariel tidak menyentuhku, gimana bisa aku hamil? Jika aku tidak hamil-hamil, semakin lama dong statusku menjadi istri kedua yang dirahasiakan," gumamnya. Di rumah sakit, Mamanya Jasmine sama sekali tidak bisa mengendalikan putrinya yang terus histeris. "Dariel jahat! Jahat, hiks!" Teriaknya sembari mengacak-acak rambutnya terus, penampilan Jasmine terlihat berantakan. "Jasmine tenanglah .... " "Aaarrrgghh!" Pekik Jasmine seraya menjambak rambutnya sendiri. #SEBELUMNYA. Tak sengaja Jasmine ketemu dengan saudaranya yang menatap Swiss, ke Paris hanya sekedar liburan saja. Jasmine senang sekali, sudah bertahun-tahun tidak berjumpa karena jarak kini Jasmine dipertemukan dengan saudara-saudaranya, satu silsilah. Bahkan ketika Jasmine menikah dengan Dariel, mereka yang di Swiss tidak bisa hadir. "Gimana pernikahan kamu dengan Dariel?" "Baik-baik saja. Sekarang aku lagi hamil, Dariel bahagia banget dengan kehamilan ku ini," ujar Jasmine seraya mengelus perutnya. "Jaga kandungan kamu baik-baik Jasmine." Suatu kebetulan, Nyonya Retha ada di Resto tersebut. Tadinya, Nyonya Retha mau ketemu dengan teman-teman sosialitanya. 'Hah? Jadi Jasmine ini salah satu silsilah dari keluarga — ' Nyonya Retha mengepal tangannya. Nyonya Retha teringat masalalu ketika usianya menginjak usia remaja—dewasa, usainya 19 tahun. Mamanya meninggal dengan cara tragis—bunuh diri setelah mendapatkan pengkhianatan. Sang — Papa diam-diam menikah dengan salah satu wanita keturunan ADERAL, usianya tak jauh dengan dirinya, usia mama tirinya baru 29 tahun. Rasa benci itu masih melekat, padahal kejadiannya sudah lama—puluhan tahun kebelakang. Dan wanita itu ternyata hanya menguras harta papanya Nyonya Retha saja, setelan wanita itu mendapatkan apa yang dia mau, papanya Nyonya Retha dicampakkan. Tak lama, papanya menyusul pergi untuk selama-lamanya sehingga membuat Nyonya Retha hidup sebatang kara. Mamanya Jasmine ternyata adik dari wanita menyebalkan itu, adik bungsunya. Dan wanita itu masih hidup ternyata, sudah terlihat semakin keriput namun Nyonya Retha tidak akan pernah bisa lupa dengan wajah wanita yang sudah menghancurkan kehidupannya ketika Nyonya Retha duduk di bangku kuliah. "Kalau dari dulu saya tahu si Jasmine keponakan wanita sialan itu, saya tidak akan pernah merestui hubungan putraku dengan dia!" Nyonya Retha yang tadinya akan ketemu dengan teman sosialitanya pun tidak jadi, moodnya sudah buruk. 'Saya harus bisa memisahkan Dariel dengan Jasmine. Saya tidak mau pewaris ku bercampur darah dengan silsilah dari keluarga ADERAL.' Nyonya Retha tengah berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa membuat Dariel dan Jasmine pisah. Tak butuh waktu lama, otak licik Nyonya Retha mulai konek. Nyonya Retha mempunyai rencana yang menurutnya sangat berlian, bisa membuat Dariel dan Jasmine pisah. Nyonya Retha menepikan mobilnya di tepi jalan, dia melihat salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan putranya sedang bersama gadis remaja. "Siapa gadis itu? Apa jangan-jangan mereka adik-kakak?" Lekas, Nyonya Retha menyuruh bantuan kepada orang suruhannya untuk mencaritahu tentang keluarga Evellyn. 'Sepertinya dia orang yang tepat. Tapi, saya akan membuat dia kepepet sampai dia tidak bisa menolak tawaran dariku,' ucap Nyonya Retha tersenyum nakal. Nyonya Retha kembali memacu mobilnya, rencana yang sudah melekat di otak jahatnya tidak harus langsung sat set, tidak mau gegabah hingga nantinya malah menyulitkan dirinya. Nyonya Retha akan main cantik agar semuanya aman terkendali. Tiga hari sebelum kecelakaan terjadi. "Sayang, aku akan ke kantor kamu ya. Aku mau anterin makan siang untuk kamu," ucap Jasmine begitu bersemangat sekali, lewat telepon. "Tidak usah, Sayang. Baiknya kamu di rumah saja." Namun sialnya, Jasmine tetap ingin pergi. Jasmine merasa bosan sekali, Semenjak hamil dirinya sampai dilarang ini itu oleh Dariel dan mertuanya. Setelah teleponnya terputus, Jasmine langsung mempersiapkan makan siang yang akan dia bawa ke kantor untuk Dariel. "Jalankan tugas dengan baik, target utama sudah keluar dari rumah!" perintah Nyonya Retha kepada orang suruhannya lewat telepon. Jasmine ke kantor Suaminya tanpa diantar oleh Sopir. Sebab Pak sopir tidak ada dia tengah mengantar Tuan Dave. Mendengar istrinya mengendarai mobil tanpa didampingi oleh sopir membuat Dariel cemas juga, dia takut istrinya kenapa-napa. Namun Jasmine selalu meyakinkan suaminya kalau dirinya pasti akan baik-baik saja. Tanpa Jasmine sadari, dari tadi ada sebuah mobil yang terus mengikuti dirinya dari arah belakang. Jasmine terlalu fokus mengendarai mobil sampai tidak sadar jika mobil tersebut terus mengikuti dirinya. Tentu saja orang itu adalah suruhannya Nyonya Retha, dia bertugas untuk mengoceh agar Jasmine tidak fokus menyetir. orang suruhannya Nyonya Retha juga sedari tadi terus mengikuti adiknya Evellyn yang tengah mengendarai motornya. Adik Evellyn mendapat chat dari seseorang yang mengaku-ngaku teman kerjanya Evellyn, isi chat tersebut menyuruh Cristine untuk datang ke tempat kerja Evellyn, katanya Evellyn pingsan. Cristine percaya sehingga dia buru-buru bergegas ke tempat kerja sang — kakak. Namun naas, niat ingin ke perusahaan tersebut, Jasmine dan Cristine malah mengalami kecelakaan. Awalnya mobil yang dikendarai oleh Jasmine mengalami oleng sehingga Jasmine tidak bisa menjaga keseimbangan ketika di depan ada mobil melaju ke arahnya dengan cepat, hingga terjadilah kecelakaan beruntun. Kecelakaan ini benar-benar sudah disetting dengan matang oleh Nyonya Retha. Kecelakaan ini seperti murni kecelakaan, tidak terlihat kecelakaan settingan. Nyonya Retha tidak puas hanya membuat Jasmine kecelakaan saja. Bahkan Nyonya Retha meminta rahim Jasmine diangkat juga, berhubung Jasmine mengalami keguguran, tambah lagi sebelumnya Jasmine memang mengalami lemah kandungan. Padahal rahim Jasmine tidak perlu diangkat karena masih aman namun resikonya cukup berbahaya juga, sehingga dokter pun setuju atas permintaan Nyonya Retha dengan catatan jangan sampai yang lainnya tahu tentang hal ini, tentang permintaannya Nyonya Retha yang ingin rahimnya Jasmine diangkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN