"Jasmine, Sayang, kau kenapa?" tanya Dariel yang baru saja datang. Dariel langsung mendekap Jasmine, berusaha menenangkan sang—istri tercinta yang tengah menangis sesenggukan.
"Kau kenapa?" tanya Dariel lirih sembari mengecup pucuk rambut kepala Jasmine.
Seketika emosi Jasmine reda tatkala mendapatkan pelukan hangat dari Dariel. Amarahnya meredup saat Dariel menciumi pucuk kepalanya, Jasmine merasa tenang jika Dariel berasa disebelahnya.
"Jasmine ngamuk setelah berbicara dengan Evellyn di telepon. Mama tidak tahu, apa yang Evellyn katakan kepada Jasmine sampai membuat Jasmine menangis histeris," sahut Mama mertuanya Dariel.
"Evellyn? Kok bisa?" Dariel masih bingung dengan cerita yang dilontarkan oleh Mama mertuanya barusan.
"Jasmine telepon kamu, tapi yang menjawab telepon itu ya si Evellyn," jelasnya.
Bola mata Dariel langsung melirik kearah Jasmine, ketika ia tidak lagi mendekap Jasmine.
'b******k! Beraninya dia menjawab telepon dari Istriku.' Geram Dariel dalam hati.
Kedua tangan Dariel menggenggam kedua tangan Jasmine, "Sayang, sekarang kamu katakan sama aku, apa yang dikatakan sama kamu sampai membuat kamu sedih seperti ini?" tanya Dariel lembut, berharap Jasmine mau mengatakan apa yang dikatakan Evellyn padanya.
Hiks!
Jasmine kembali terisak, rasanya tak sanggup untuk mengatakannya. Lidahnya terasa kelu, hatinya kembali tergores.
'Harusnya aku tidak semarah ini? Harusnya aku ini bisa lebih kuat lagi. Bukannya aku sudah mengizinkan Dariel menikah lagi? Itu artinya aku harus menerima semua resiko yang akan aku dapatkan jika suamiku memiliki dua istri. Aku harus rela suamiku berbagi ranjang dengan Evellyn, kalau tidak begitu gimana bisa Evellyn hamil?' Jasmine malah bermonolog dalam hatinya sembari menatap Dariel.
"Kenapa diam, Sayang? Katakan saja, apa yang dikatakan wanita hina itu padamu?" tanya Dariel, memaksa Jasmine agar mau bercerita.
"Evellyn tidak mengatakan apa-apa sih, akunya saja yang terlalu lebay dan berlebihan. Maafkan aku ya, Sayang, aku sudah menganggu waktu kamu bersama dengan dia," ucap Jasmine yang langsung memeluk Dariel.
"Aku cuman mau mengatakan sama kamu, Sayang, aku sudah diperbolehkan pulang besok," lanjutnya yang masih memeluk Dariel.
"Kamu serius kalau si Evellyn tidak bicara apapun sama kamu? Maksudnya dia tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan kamu?" tanya Dariel seraya mengelus punggungnya Jasmine.
"Tidak, Sayang, akunya saja yang baperan. Besok, kamu tidak usah jemput aku. Biar aku pulang saja Mama dan Papa saja," ucap Jasmine.
Dariel langsung melepaskan pelukannya, "why?"
Jasmine hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku akan tetap jemput kamu. Jangan larang aku, Sayang, masa iya istri keluar dari rumah sakit, akunya tidak ada? Hmmm." Dariel tersenyum menatap Jasmine.
Namun tetap saja, Dariel sangat penasaran sekali apa yang dikatakan Evellyn kepada Jasmine.
"Sayang ... sekarang kamu sudah lebih tenang' kan?"
Jasmine mengangguk kepalanya pelan.
"Maka izinkanlah... aku untuk pergi, aku harus kembali ke Hotel," ucap Dariel. Ia terpaksa harus meninggalkan Jasmine lagi, ada urusan yang harus segera ia selesai dengan Evellyn.
"Pergilah, Dariel. Aku sudah jauh lebih tenang kok. Tidak usah khawatirkan aku, percayalah ... aku baik-baik saja," ucap Jasmine meyakinkan suaminya.
Benar apa kata Nyonya Retha, Jasmine memang harus menguatkan mentalnya. Mungkin setelah dia kembali tinggal di Mension, apalagi Evellyn akan tinggal satu atap dengannya akan lebih menyakitkan. Hanya sekedar mendengar cerita dari Evellyn saja sudah membuat hati Jasmine terluka, padahal Evellyn tadi belum selesai bicara. Namun, arah pembicaraannya mengarah kesana.
Lekas, Dariel pun pergi meninggalkan Jasmine lagi. Dariel ingin segera sampai di Hotel, ingin segera memberikan pelajaran kepada Evellyn.
***
Evellyn sedang duduk-duduk santai sembari membaca sebuah artikel, trik-trik untuk membuat pria terangsang. Selain itu, Evellyn juga membaca bagaimana caranya membuat pria tersebut agar mudah luluh hatinya, pria yang karakternya persis seperti Dariel.
"Susah juga sih. Tapi ... aku harus bisa mempraktekkannya. Sebab kalau tidak, Tuan Dariel tidak akan pernah menyentuhku. Kapan aku hamilnya kalau begini caranya? Bisa-bisa tugas aku sebagai istri rahasia akan semakin lama," monolog Evellyn.
Evellyn yang belum pernah merasakan jatuh cinta, atau merasakan yang namanya pacaran tentu saja sangat kesulitan.
Evellyn bergegas duduk di depan kaca rias, ia menatap dirinya di pantulan cermin.
"Hemmm ... menurutku, aku ini gak terlalu buruk. Jika di poles sedikit dengan balutan makeup, pasti akan terlihat cantik. Istri pertama Tuan Dariel pasti akan kalah cantik. Apa perlu aku mencobanya? Merubah penampilan dari biasanya agar Tuan Dariel tertarik padaku?" gumam Evellyn yang masih menatap dirinya di pantulan cermin.
BRAKK
"EVELLYN!"
Suara bantingan pintu serta suara teriakan Dariel yang memanggil Evellyn, sontak saja membuat Evellyn terkejut.
"Tuan Dariel?"
Dariel menarik tangan Evellyn secara kasar, lalu mendorong tubuh Evellyn kasar sampai terhempas ke atas sofa.
Sorot mata Dariel kembali terlihat menyeramkan, terlihat membunuh seperti biasanya. Sebelah tangan Dariel mencengkram mulut Evellyn.
"Apa yang sudah kau katakan kepada Jasmine sampai membuat istri saya sedih? Cepat katakan! Apa yang sudah kau katakan padanya! Katakan!" Cengkraman itu semakin kuat saja, gimana bisa Evellyn menjawab pertanyaan dari Dariel, sedangkan mulutnya masih dicengkeram.
"Tu-Tuan .... " Evellyn terlihat kesakitan, Dariel pun melepaskan cengkeramannya, rahangnya terlihat semakin mengeras. Evellyn semakin ketakutan menatap sorot mata Dariel yang tajam.
"Katakan! Apa yang sudah kau katakan? b******k, lancang sekali kau menjawab telepon dari istriku, dasar wanita tidak tahu diri wanita mu – rahan!"
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya mengatakan kepada Jasmine kalau Tuan Dariel sedang tidur pulas, itu saja tidak lebih. Ya mungkin saja Jasmine yang terlalu berlebihan. Tuan Dariel harus ingat, aku juga istrimu, jadi wajar dong kalau aku menjawab telepon dari istri pertamamu," ucap Evellyn.
"Istri? Cih! Saya tidak sudi menganggap kamu sebagai istri saya. Kau lupa Evellyn? Saya menikah kamu itu terpaksa, karena orang tua saya yang terus memaksa, mereka ingin pewaris dari saya. Kalau bukan paksaan dari mereka, Saya tidak sudi menikah denganmu. Kau ini wanita yang tidak punya harga diri, dan wanita sepertimu sangat menjijikan." Lagi-lagi, Dariel kembali menghina Evellyn, kata-katanya terasa menusuk ke ulu hati Evellyn.
Andai saja ... Dariel mengetahui alasannya, namun Evellyn tetap tidak akan mengatakan alasan apapun kepada Dariel. Cukup dirinya saja, Tuhan, dan Nyonya Retha yang mengetahui alasan Evellyn harus menerima pernikahan kontrak ini. Evellyn menghela napas pelan, dia selalu bisa menyembunyikan kesedihannya di depan Dariel.
"Terus kalau alasannya karena ingin pewaris, kenapa Tuan Dariel tidak menaburkan benih Tuan di dalam rahimku? Kalau Tuan tidak menaburkan benih, gimana bisa aku hamil?" Evellyn tersenyum miring sembari geleng-geleng kepalanya.
"Bukannya saya sudah memberikan kamu uang, dan uang itu sudah lebih dari cukup. Uang itu bisa kamu gunakan untuk meminta pria lain bisa menghamili kamu."
"Tapi Nyonya Retha dan Tuan Dave ingin pewaris itu dari darah daging Tuan, bukan dari orang lain. Tuan ini ada-ada saja. Lagi pula, uang itu sama sekali tidak aku ambil.bApakah Tuan tidak cek sendiri? Apakah ada transaksi pengambilan uang? Hemm, tidak' kan? Karena aku memang tidak mengambil uang itu, uang dari Nyonya Retha sudah lebih dari cukup."
"Masa iya? Munafik! Mungkin ini salah satu trik licik kamu saja. Iya' kan? Wanita sepertimu mana bisa menolak uang sebanyak itu!"
"Terserah! Aku tidak peduli dengan penilaian Tuan seperti apa kepadaku? Aku hanya sekedar ingin menjalankan tugas yang sudah saya sepakati dengan Nyonya Retha. Saya hanya tidak ingin melanggar perjanjian yang sudah saya tandatangani," ucap Evellyn.
Huh!
Evellyn mengatur napasnya, dia beranjak berdiri tegak, berdiri saling berhadapan dengan Dariel.
Lalu, Evellyn mendorong tubuh Dariel sampai terhempas di atas sofa. Evellyn duduk di atas pangkuan Dariel.
"Turun! Apa yang akan kamu lakukan, Ellyn? Cepat turun!" Dariel terlihat panik, apalagi sekarang tangan Evellyn mulai nakal.