“Kalau aku tidak mau turun gimana, Tuan?” ucap Evelly, tangannya masih meraba-raba bidang d**a Dariel, senyuman seringai mulai terukir disudut bibir Evellyn.
“TURUN!” bentak Dariel, matanya terlihat melotot.
Namun, Evellyn sama sekali tidak takut dengan tatapan mata Dariel yang membunuh itu. Mungkin saja, Evellyn akan mulai membiasakan diri agar dirinya bisa terbiasa.
“Tidak mau!” Evellyn tersenyum nakal, bahkan sekarang kedua tangannya melingkar di tengkuk Dariel, “malam pertama sudah gagal, masa dimalam kedua pengantin kita akan gagal lagi?”
“CIH!”
Air liur Dariel sampai terasa mengenai wajah Evellyn, sampai Evellyn memejamkan matanya.
Disaat Evellyn lengah, Dariel mendorong Evellyn kasar membuat tubuh Evellyn tersungkur ke lantai.
“Aaawww!!” pekik Evellyn kesakitan, sebab pinggangnya mencium lantai.
“Jangan harap saya bakalan melewati malam panjang sama kamu, Ellyn. Itu tidak akan mungkin!” ucap Dariel napasnya memburu.
Dariel keluar lagi dari kamar Hotel, meninggalkan Evellyn sendirian. Dan lagi, untuk malam kedua pengantin sepertinya akan gagal lagi.
“Hiks! Serendah itukah ... aku dimatanya? Kalau bukan karena biaya adikku, aku tidak akan mungkin mau melakukan ini,” lirih Evellyn.
Terdengar ada notifikasi masuk, ternyata ada chat masuk dari Nyonya Retha.
[Ini kontaknya si Jasmine. Kamu hubungi dia, bikin dia kepanasan, bikin dia cemburu]
Evellyn menghembuskan napasnya kasar. Haruskan dirinya sampai melakukan itu? Apakah Jasmine akan percaya jika tanpa ada bukti? Entahlah ....
“Tapi tadi, Jasmine hampir percaya. Apa aku coba saja? Tuhan ... kenapa takdirku harus begini? Jadi orang ketiga itu tidak menyenangkan. Apalagi, pria yang aku goda sangat mencintai istri pertamanya. Sama sekali tidak tergoda dengan diriku yang sudah berusaha semaksimal mungkin menggodanya.” Evellyn bermonolog dalam hatinya.
[Jasmine, maaf ya tadi aku sudah membuat kamu kesel. Lain kali, jangan suka ngadu ya sama Dariel. Bagaimana pun sekarang Dariel adalah suamiku juga, jadi kamu harus bisa menerimanya untuk berbagi suami. Tapi ... jujur sih, sentuhan dari Dariel bikin candu, padahal baru sekali kita melakukannya, tapi rasanya bikin nagih. Ini aja lagi persiapan mau lanjut lagi]
Ketika Evellyn menulis chat seperti itu untuk Jasmine, bulir-buliran bening disudut matanya tiba-tiba saja terjatuh membasahi pipinya. Evellyn takut juga takut akan karma. Toh karma itu benar-benar ada dan nyata, Evellyn takut kelak dia pisah dengan Dariel lalu menikah lagi dengan pria lain, dirinya takut bernasib sama seperti Jasmine.
“Maafkan aku, Jasmine. Aku terpaksa, semoga kamu bisa kuat.” Evellyn menyapu bersih air matanya menggunakan tangannya, Evellyn melihat chat darinya sudah centang biru itu artinya Jasmine sudah membaca chat darinya.
Benar saja, Jasmine memang sudah membaca chat itu, hatinya terasa pedih sekali. Namun kali ini, Jasmine berusaha untuk tegar, mencoba untuk menerima kenyataan pahit ini kalau dirinya harus bisa ikhlas untuk berbagi suami dengan Evellyn.
“Kamu kenapa? Kok sedih?” tanya sang – Mama.
“Tidak kenapa-napa, Ma. Jasmine hanya tengah berpikir, apakah aku akan kuat bertahan? Pasalnya, sekarang Dariel sudah punya teman ranjang yang baru. Ma, aku sadar diri, sekarang aku bukan Jasmine yang dulu, aku sudah tidak sempurna lagi, bahkan untuk sekedar memuaskan Dariel saja aku tak mampu. Hasrat itu benar-benar menghilang, dan rasanya terkadang hambar,” ucap Jasmine lirih.
“Harusnya pertanyaan ini untuk Dariel, Jasmine. Apakah dia akan kuat bertahan dengan kamu? Mama yakin, Si Ellyn itu pasti akan memanfaatkan kelemahan kamu ini,” ucap sang – Mama.
“Entah, Ma. Aku bingung. Tapi ... aku akan mencobanya dulu, Dariel adalah cintaku, Dariel juga sangat mencintaiku. Semoga saja dia tidak lupa dengan janjinya padaku, dia menyentuh si Ellyn itu hanya sekedar ingin menaburkan benihnya saja. Semoga saja, setelah Ellyn memberikan pewaris, Dariel tetap memilih aku, tetap menjadikan aku istri satu-satunya,” ucap Jasmine penuh harap.
**
Pukul 08:05
Benar saja, semalam Dariel tidak tidur satu kamar Hotel dengan Evellyn, dia memilih cek in di kamar Hotel lainnya. Dariel ke kamar Hotel yang ada Evellyn-nya hanya untuk sekedar mengganti pakaiannya saja.
“Jangan sampai kamu ngadu sama Mommy, bilang saja kalau saya sudah menyentuhmu,” ucap Dariel yang tengah merapikan rambutnya.
“Aku tidak pernah ngadu. Aku selalu mengatakan kalau Tuan Dariel menyentuhku tidak cukup sekali saja,” sahut Evellyn yang tengah duduk di ujung ranjang.
Evellyn yakin kalau Dariel pasti akan ke rumah sakit, ingin sekali Evellyn ikut sekalian menjenguk adiknya di sana. Akan tetapi, Evellyn takut jika Dariel mengetahui tentang Cristine – sang-adik yang tengah koma.
“Bagus! Kalau bisa, kau cari pria lain untuk menghamili kamu. Saya akan tetap menjadikan anak itu pewaris ku meskipun dia bukan darah dagingku,” ucap Dariel, dia tetap memaksa Evellyn untuk hamil dengan pria lain.
“Tidak bisa begitu, Tuan. Kalau begini caranya, sama saja aku melanggar perjanjian. Aku tidak mau mendapatkan hukuman atas kebohongan tersebut, baiknya aku memilih sabar saja. Aku yakin, suatu saat nanti pasti Tuan akan menyentuhku, apalagi sekarang Jasmine kurang b*******h, otomatis Tuan Dariel akan mencari kepuasan dari wanita lain,” ucap Evellyn.
Dariel diam, dia tidak menanggapi ucapan dari Evellyn. Lekas, dia buru-buru pergi lagi, ingin segera sampai ke rumah sakit.
“Tinggal satu malam lagi. Aku yakin, pasti akan gagal lagi,” gumam Evellyn sembari memainkan ujung pakaiannya.
Evellyn juga sudah mulai memiliki rasa penasaran tentang permainan di atas ranjang, setelah dirinya mencoba untuk menggoda Dariel, hasrat itu tiba-tiba saja muncul.
“Gimana ya rasanya?” Evellyn jadi traveling.
Di rumah sakit,
Sudah waktunya Jasmine pulang, sudah ada mama dan papanya Jasmine juga. Bahkan sudah ada Nyonya Retha dan Tuan Dave.
“Kamu nunggu siapa Jasmine? Ayo pulang!” kata Nyonya Retha ketus.
“Aku menunggu Dariel, Mom,” jawab Jasmine.
“Dariel tidak akan datang. Mengertilah ... Dariel lagi menikmati waktunya bersama istri rahasianya,” ucap Nyonya Retha masih ketus.
Hati Jasmine nyeri mendengar ucapan mertuanya, namun tidak terlalu menunjukan, Jasmine terlihat biasa saja.
“Mom, jaga bicaranya. Jangan bicara seperti itu, kasihan Jasmine,” ucap Tuan Dave membela Jasmine. Meskipun Jasmine tidak akan pernah bisa memberikan pewaris untuknya, Tuan Dave akan tetap menyayangi Jasmine seperti putrinya bukan hanya sekedar menantu.
“Dad, Mommy bicara begitu agar Jasmine bisa mengerti kalau sekarang Dariel memiliki dua istri,” ucap Nyonya Retha, dia tidak mau kalah.
“Yasudah, kalau memang Dariel tidak bisa datang, kita pergi saja,” sahut Jasmine mencoba untuk tersenyum.
Padahal sekarang Dariel sedang dalam perjalanan, dia terjebak macet.
‘Semoga Dariel tetap menjaga hatinya hanya untuk aku meskipun aku bukan Jasmine yang dulu,’ batin Jasmine.
Saking buru-buru nya sampai ponselnya Dariel ketinggalan di kamar hotel, ketika Jasmine menghubungi lewat telepon lagi-lagi Evellyn yang menjawab telepon dari Jasmine.
“Halo!”
Baru saja Evellyn mengatakan Halo, Jasmine buru-buru mematikan teleponnya.
“Lah, kok dimatiin?” gumam Evellyn.
Sekarang Jasmine sudah berada di dalam mobil. Jasmine akan tetap pulang ke mension, tetap tinggal bersama suami dan mertuanya meskipun nanti Evellyn juga akan tinggal satu atap dengannya.
Dariel baru saja sampai di rumah sakit, namun sayang Jasmine sudah tidak ada.
"Huh, ternyata Jasmine sudah pulang. Aku terlambat, dan kenapa dia tidak menungguku?" gumam Dariel.
Ketika Dariel hendak akan menghubungi Jasmine, ternyata tersandar jika ponselnya tidak ada.
"Sial! Ketinggalan lagi! pasti di hotel, sepertinya aku harus ke hotel lagi untuk mengambil ponselku," gumamnya lagi.
Sepanjang perjalanan, Jasmine terlihat sangat sedih sekali, dia kebanyakan diam. Jasmine sedih karena Dariel tidak bisa menyempatkan waktunya hanya untuk sekedar menjemput dirinya di rumah sakit.
"Sabar," ucap sang — Mama berbisik, dia lebih peka dengan keadaan Jasmine.
"Iya, Ma," sahut Jasmine pelan.
Sang — Mama mengelus pundaknya Jasmine, mencoba memberikan kekuatan kepada putrinya.