“Dariel, kau kembali lagi?” Evellyn menyambut kedatangan Dariel dengan sebuah senyuman kecil namun terlihat sangat manis sekali.
Belahan da-da Evellyn terlihat, membuat Dariel menelan salivanya kasar.
“Ponsel saya ketinggalan,” jawab Dariel, sebelah tangannya mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, sedangkan matanya tertuju kepada belahan tersebut.
“Oh!”
Evellyn akan mencobanya lagi, dia melingkarkan kedua tangannya di tengkuk Dariel, menatapnya dengan intens.
“Yakin? Tidak mau ber-cinta denganku, Tuan?” tanya Evellyn, suaranya dibuat sensual.
Napas Dariel mulai terlihat kembang kempis, bahkan tatapannya berubah menjadi tatapan liar penuh dengan gelora.
Evellyn tersenyum tipis ketika melihat Dariel hanya diam, biasanya Dariel langsung bersikap kasar padanya.
“Tuan ... aku menginginkannya!” Tangan Evellyn melepas satu persatu kancing kemejanya Dariel sampai terlepas semua, dan Dariel masih diam saja, tidak mencegahnya. Sampai Evellyn berhasil melepas semua kancingnya, Evellyn melepas kemeja itu hingga Dariel terlihat berte-lanjang d**a.
“WAW! Sungguh luar biasa indah, Tuan. Seperti roti sobek,” ucap Evellyn seraya kedua tangannya meraba-raba roti sobek tersebut.
Dariel memejamkan matanya, dia sepertinya mulai menikmati sentuhan nakal dari kedua tangan Evellyn.
“Uuuggh!” terdengar suara lenguhan dari mulut Dariel, mendengar suara itu membuat Evellyn terlihat happy karena sepertinya kali ini dia akan berhasil.
Bulu kuduk Dariel mulai berdiri, Dariel tidak bisa melawan tidak bisa menolak. Dirinya mungkin bisa saja menolak, tapi tidak dengan tubuhnya. Apalagi sekarang lidah Evellyn mulai menyentuh leher Dariel, tentu saja semakin membuat Dariel sulit menolak.
Bugh
Dariel mendorong tubuh Evellyn kasar sampai terhempas ke atas ranjang, napas Dariel semakin menggebu-gebu.
Evellyn pikir, Dariel akan pergi namu ternyata Dariel malah berada di atas tubuhnya.
“Sentuh aku, Tuan, aku juga istrimu,” ucap Evellyn terdengar seksi.
Dariel langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Evellyn hingga menyatu. Ketika kedua bibir itu menyatu, kedua tangan Evellyn melingkar di punggung Dariel.
Evellyn memejamkan matanya, dia sangat menikmati permainan adu mulut ini. Apalagi sekarang lidahnya bisa menjelajah rongga mulut Dariel, begitu juga Dariel sebaliknya hingga saliva itu saling tertukar.
“Uuummmmm!!!”
Suara decapan-decapan itu mulai terdengar, keduanya begitu asyik bermain, menye-sap, bahkan sampai me-lu-matnya sampai Evellyn merasa bibirnya terasa kebas.
“Aahk, Tuna!” Suara desah Evellyn mulai terdengar ketika mulut Dariel berubah menjadi mulut VAMPIR.
Dariel kembali mengecup bibir Evellyn yang ranum, kedua tangan Evellyn kembali melingkar di punggung Dariel.
Gelora semakin menggebu, Dariel melepas pakaian Evellyn secara paksa sehingga tubuh Evellyn benar-benar polos tanpa ada sehelai benang pun yang menempel pada tubuh Evellyn.
Posisi Dariel kembali di atas Evellyn, kembali mengecup bibir Evellyn namun kali ini dibarengi dengan kedua tangannya yang tengah mere-mas dua gundukan kembar yang menjadi aset kebanggaan setiap wanita.
“Ahk, Tuan!” Lagi-lagi Evellyn mengeluarkan suara seksinya bahkan masih terlihat merem melek ketika mulut Dariel sekarang menempel disalah satu aset kebanggaan Evellyn yang kembar disebelah kiri, disebelah kanannya masih di re-mas oleh tangan Dariel.
Nikmat mana yang harus Evellyn dustakan tatkala dirinya mendapatkan sentuhan nikmat surga dunia dari Dariel.
“Sssht, Ahk!” Mulut Evellyn tidak bisa berhenti mengeluarkan suara seksinya saking nikmatnya.
Evellyn terus memejamkan matanya, gelora itu semakin membuat tubuhnya terasa melayang ke udara.
Namun, tiba-tiba saja Evellyn seketika membuka matanya lebar-lebar ketika dirinya mendengar suara teriakan, bahkan terdengar juga suara ketukan pintu yang suaranya terdengar kasar.
“EVELLYN! Buka pintunya!” teriak Dariel.
Evellyn celingukan, dia terlihat bingung. Evellyn tengah rebahan di atas sofa.
“Evellyn! Lagi apa sih kamu di dalam? Lama amat buka pintunya!” teriak Dariel.
Evellyn menghela napas pelan, menghembuskan napasnya secara kasar, “astaga! Jadi itu hanya mimpi? Jadi ... aku mimpi ba-sah?” gumam Evellyn sembari geleng-geleng kepalanya, bisa-bisanya Evellyn mimpi seperti itu saking inginnya merasakannya.
“ASTAGA! Evellyn!” panggil Dariel teriak-teriak.
“I-iya, Tuan sebentar.” Gegas, Evellyn turun dari sofa, dia merapikan terlebih dahulu pakaiannya, “bisa-bisanya aku mimpi jorok,” ucap Evellyn pelan seraya tersenyum kecil.
Klek
Evellyn membukakan pintu, Dariel langsung menerobos masuk kedalam untuk mengambil ponselnya.
“Tadi, Jasmine telepon. Maaf, aku sudah lancang lagi menjawab teleponnya,” ucap Evellyn.
Namun, Dariel terlihat acuh. Buru-buru Dariel keluar lagi dari kamar Hotel.
BRUK
Dariel membanting pintu dengan sangat kasar sampai membuat Evellyn terkejut.
“SABAR EVELLYN!” seraya mengelus dadanya.
Evellyn kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa, otaknya mulai melayang membayangkan mimpinya itu.
“Andai saja ... mimpi itu nyata,” gumam Evellyn sembari mengigit bibirnya, “susah banget sih menaklukannya.”
Evellyn menyentuh bibir bawahnya, ternyata terasa basah. Gegas, Evellyn bangkit lagi dari sofa. Melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.
“Sepertinya aku harus membersihkan tubuhku. Semoga saja tidak mimpi jorok lagi. Eh tapi, kalau dilanjut tidak masalah juga sih,” gumam Evellyn terkekeh.
Di Mension.
Jasmine sudah berada di kamar utama, kamar yang biasanya ia tempati bersama dengan Dariel.
“Jasmine, Mama dan Papa harus pamit ya. Tidak apa-apa kan kami tinggal, kami ada urusan,” ucap Papanya Jasmine.
“Tidak apa-apa, Pa, Ma, kalian pergi saja,” ucap Jasmine.
Mama dan Papanya Jasmine segera keluar dari kamar, sebenarnya orang tua Jasmine tidak tega harus meninggalkan Jasmine, apalagi Dariel tidak ada. Tapi mau gimana lagi? Urusan pekerjaan ini tidak bisa ditinggalkan juga.
Ketika orang tuanya Jasmine pergi, Nyonya Retha pun datang.
“Kalau nanti Evellyn datang, kamu tidur di kamar tamu,” ucap Nyonya Retha seraya melipatkan kedua tangannya di atas dadanya.
“Lah, kok bisa begitu? Ini’ kan kamar aku dengan Dariel? Kenapa aku harus tidur di kamar tamu? Kenapa jadi Evellyn yang cuman istri kontrak tidur di kamar ini?” protes Jasmine, dia tidak mau sampai pindah ke kamar tamu.
“Kamu harus sadar diri, Jasmine. Kamu memang istri pertama, tapi coba ngaca deh! Kamu itu sudah tidak punya rahim, sebagai wanita kau itu termasuk wanita yang tidak sempurna. Maka Evellyn yang berhak berada di kamar utama, karena dia istri yang sempurna. Punya rahim, bisa memberikan pewaris, bisa juga memuaskan Dariel di atas ranjang.
Sedangkan kamu? Haduh ... rahim saja tidak ada, otomatis ga-irahmu berkurang. Otomatis, lama-kelamaan Dariel akan bosan padamu, dan pasti akan lebih mengutamakan Evellyn,” ucap Nyonya Retha seraya tersenyum mengejek.
“Tapi Dariel sangat mencintaiku, Mom, bagaimana pun keadaan aku, Dariel pasti tidak akan berpaling. Dia tetap menjadikan aku ratu di hatinya,” ucap Jasmine sok kuat, padahal hatinya benar-benar pedih mendengar ucapan Nyonya Retha yang semakin terasa mengejeknya.
“CIH! Cinta?” Nyonya Retha geleng-geleng kepala, “lihat saja nanti, seberapa besar cinta Dariel sama kamu.”
Puas membuat Jasmine sakit hati atas ucapannya, Nyonya Retha pun keluar.
Hiks!
Jasmine menangis pilu, air matanya tak bisa Jasmine seka. Dia yang tadinya begitu yakin akan kesetiaan cinta Dariel padanya, kini perlahan mulai goyah. Jasmine semakin terhasut dengan kata-kata pedas yang dilontarkan oleh mertuanya.
“Sayang!” Dariel yang baru saja datang, dia buru-buru mendekati istrinya, memeluk Jasmine erat, “tadi aku ke rumah sakit, tapi kamu nya sudah tidak ada. Kenapa kamu tidak menungguku?” Dariel melepas pelukannya, dia menatap netra mata sayu istrinya yang berair.
“Hei, kenapa kamu menangis?” ujung jari tangan Dariel mengusap air mata sang – istri.
“Aku tidak apa-apa kok, Dariel. Aku hanya sedih saja, kenapa nasib aku mengenaskan seperti ini,” ucap Evellyn lirih.
Lagi, Dariel memeluk Jasmine, mengecup pucuk rambut kepala istrinya.
“Aku takut kehilangan kamu, Dariel!” ucap Jasmine terisak.
“Sayang ... jangan takut, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu,” ucap Dariel meyakinkan Jasmine.
Namun begitu, tetap saja ada rasa keraguan pada diri Jasmine. Ia begitu termakan ucapan mertuanya, tadinya Jasmine sudah percaya sepenuhnya kini rasa percaya itu lambat laun mulai berkurang.
“Dariel, aku tidak sempurna! Aku bukan Jasmine yang dulu. Apakah kamu akan kuat bertahan dengan istri yang tidak akan bisa membuat kamu merasa puas?” tanya Jasmine, suaranya terdengar meninggi. Pelukan yang tadinya terurai pun terlepas kembali.
“Aku tidak peduli, Jasmine.” Kedua tangan Dariel memegang kedua tangan Jasmine, lalu menciumnya, “percayalah ... aku hanya mencintaimu.”
"Apakah aku harus percaya padamu?"
"Kenapa kamu jadi meragukan ku, Sayang? Bukannya kau selalu percaya padaku?" Dariel malah berbalik bertanya.
"Evellyn cantik, body-nya juga pas banget. Terus dia punya rahim, otomatis dia akan lebih hot dibandingkan aku. Dia juga akan memberikan kamu pewaris. Kamu yakin, tidak akan pernah tertarik padanya?" selidik Jasmine.
"Tidak akan pernah! Bahkan aku belum menyentuh dia sama sekali. Seujung kukunya belum aku sentuh, Sayang, padahal dia selalu memancingku, selalu menggoda aku. Tapi ... aku sama sekali tidak tertarik padanya, di mataku dia itu sangat hina dan menjijikan. Bahkan, aku sampai menyuruh dia untuk mencari pria lain untuk menghamilinya."
Jasmine menatap netra mata elang suaminya, dia mencari-cari kebohongan dari sorot mata suaminya. Namun yang Jasmine temukan sebuah kejujuran.
'Jadi ... Evellyn bohong? Katanya Dariel - ? tapi ternyata suamiku belum menyentuhnya sama sekali. Astaga, sepertinya aku harus hati-hati, jangan sampai aku kemakan ucapan Evellyn dan Mommy Retha,' ucap Jasmine dalam hati, dia masih menatap suaminya.
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" tanya Dariel.
Jasmine tersenyum tipis, kemudian mengurai pelukan, dia memeluk tubuh Dariel erat, "aku percaya sama kamu, Sayang, maafkan aku yang sudah meragukan cintamu," ucap Jasmine.
Deg!
Nyonya Retha mendengar percakapan Dariel dan Jasmine, tentu saja Nyonya Retha murka mendengarnya.
'Sialan! Si Ellyn sudah berani membohongiku!'