HMIR ~ 0012

1077 Kata
“Evellyn!” teriak Nyonya Retha di depan pintu. Mendengar suara teriakan Nyonya Retha cukup membuat Evellyn sport jantung, Evellyn yang tadinya tengah duduk santai, lekas dia pun beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya menuju kearah pintu. ‘Ada apa, ya? Dari nada suaranya terdengar marah.’ Evellyn berkata di dalam hatinya. Ragu, Evellyn membukakan pintunya. PLAK, PLAK! Ketika pintu terbuka, Evellyn langsung mendapatkan tamparan dari Nyonya Retha. Tamparannya cukup keras sampai membuat kedua pipi Evellyn memerah. “Nyonya, kenapa Nyonya menamparku?” tanya Evellyn getir, sebelah tangannya menempel di sebelah pipinya. “Beraninya kamu bohongi saya, Ellyn!” ucap Nyonya Retha, tatapan matanya melotot bahkan sebelah tangannya mencengkram mulut Evellyn. “Kau bilang, Dariel sudah menyentuhmu. Tapi nyatanya, apa? Dariel sama sekali tidak menyentuhmu. Bahkan dia sampai menyarankan kamu tidur dengan pria lain. Dasar pembohong!” Bugh Nyonya Retha mendorong kasar tubuh Evellyn sampai tersungkur ke lantai. Lagi-lagi Evellyn mendapatkan perlakuan kasar, dari anaknya bahkan dari ibunya juga. Evellyn harus banyak-banyak mengelus d**a. “Nyonya!” Evellyn beranjak berdiri tegak, “Nyonya tahu dari mana?” tanya Evellyn, rasanya ingin menjerit, namun Evellyn berusaha untuk tetap kuat karena ini sudah menjadi pilihannya sendiri. “Dariel! Saya tidak sengaja mendengar percakapan Dariel dengan Jasmine. Dan Dariel, dia meyakinkan Jasmine kalau dia tidak pernah menyentuhmu seujung kuku pun,” papar Nyonya Retha. Evellyn ketawa kecil, melipatkan kedua tangannya di atas dadanya, menghembus napasnya kasar. Setelah terasa lebih rileks, Evellyn menatap Nyonya Retha. “Nyonya, hmmm ... gini ya, Dariel itu bohong. Dia mengatakan itu kepada Jasmine agar Jasmine percaya padanya, agar Jasmine tidak meragukan cintanya. Mana mungkin Dariel mau ngaku kepada Jasmine kalau dia sangat menikmati tubuhku. Nyonya tahu sendiri, Dariel – putramu sangat mencintai Jasmine, jadi dia pasti akan melakukan kebohongan agar Jasmine selalu percaya padanya,” ucap Evellyn terlihat santai. Terpaksa Evellyn harus berbohong lagi, toh ini demi kebaikannya juga. Evellyn tidak mau Nyonya Retha semakin murka padanya, takutnya Nyonya Retha melakukan sesuatu diluar dugaannya. Jadi ... alangkah baiknya Evellyn berbohong saja untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Nyonya Retha terdiam, tatapannya masih terlihat sinis dan menyelidik. ‘Semoga Nyonya Retha percaya dengan ucapanku,’ ucap Evellyn dalam hati. “Apakah kau tidak sedang mempermainkan saya, Evellyn? Benarkah begitu? Benarkah jika sebenarnya Dariel sudah menaburkan benihnya di dalam rahimmu?” tanya Nyonya Retha, tatapannya masih terlihat menyelidik. “Tentu saja, Nyonya. Untuk apa saya bohong. Saya kerja padamu, Nyonya, saya tidak berani bohong,” ucap Evellyn meyakinkan Nyonya Retha, “tenang saja, Nyonya, saya pasti akan melakukan seperti apa yang Nyonya inginkan. Bahkan saya seriang membuat Jasmine cemburu,” lanjut Evellyn. “Oke! Saya percaya padamu,” kata Nyonya Retha sembari melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggkan Evellyn. Huh! Evellyn bernapas lega, ternyata tidak begitu sulit meyakinkan Nyonya Retha. Evellyn menutup pintunya kembali, mengelus dadanya sampai berkali-kali. “Lama-lama pinggangku encok, sering banget di dorong kasar begini,” keluh Evellyn. Kalau dia kaya, banyak uang, punya tabungan banyak untuk biaya pengobatan sang – adik, Evellyn tidak akan sudi terlibat menjadi orang ketiga. Pukul dua belas siang lewat lima menit, waktunya makan siang. Jasmine berani keluar kamar jika ada Dariel disampingnya. Jasmine merasa takut keluar kamar tanpa suaminya setelah akhir-akhir ini sikap Nyonya Retha berubah. “Dariel, besok kamu jangan lupa, ajak Evellyn tinggal di sini. Jangan biarkan dia tinggal di rumah jeleknya itu, bagaimanapun dia adalah istrimu, wanita yang akan memberikan kamu pewaris,” ucap Nyonya Retha, sesekali matanya melirik kearah Jasmine yang tengah duduk disebelah Dariel. “Emang harus ya dia tinggal di sini, Mom? Kalau dia tinggal di sini, orang-orang di luar sana lambat laun akan mengetahui tentang status Evellyn,” protes Dariel keberatan. Dia tidak mau sampai Evellyn tinggal satu atap dengannya. “Benar apa kata, Dariel, Retha. Baiknya, Evellyn tetap tinggal di rumahnya saja, tidak usah di ajak kesini,” sambung Tuan Dave, merasa keberatan juga jika istri yang statusnya dirahasiakan itu tercium keluar. “Mommy tidak mau tahu. Evellyn harus tinggal di sini, dia juga’ kan bagian dari keluarga ini, jadi dia berhak juga mendapatkan pasilitas mewah. Biar tidak repot juga jika seumpama Dariel ingin,” kata Nyonya Retha tetap kekeh. “Mommy sama sekali tidak peduli dengan perasaan Jasmime,” sahut Dariel, dia tetap tidak mau jika Evellyn harus tinggal di sini, “baiknya Evellyn tinggal di Apartemenku saja,” lanjutnya. “Tetap tidak mau! Mommy maunya tetap Evellyn tinggal di sini,” ucap Nyonya Retha, tidak mau keputusannya ditentang oleh siapapun. “Dariel, sudah, jangan debat lagi. Udah biarkan saja, biarkan Evellyn tinggal di sini,” sahut Jasmine, dia terpaksa mengalah. “Sayang …, “ panggil Dariel. “Aku tidak apa-apa, Sayang, lagian ini sudah resikonya kalau suami punya istri dua,” kata Jasmine tersenyum kecil. “Nah bagus, gitu dong harus sadar diri,” ucap Nyonya Retha tersenyum seringai. ‘Sabar, Jasmine. Sesekali, Si Evellyn juga harus diberi pelajaran. Aku akan membuat Evellyn tidak betah tinggal di sini. Dia sudah mulai meracuniku, membuat karangan cerita kalau suamiku sudah menikmati tubuhnya padahal tidak sama sekali,’ monolog Jasmine, sebagai istri pertama dia juga tidak mau kalah dengan Evellyn, ya meskipun dia tidak sempurna tidak bisa memberikan keturunan tapi posisinya lebih tinggi dibandingkan Evellyn, terlebih Dariel yang sangat mencintai dirinya. “Oh iya, Dariel, tinggal satu malam lagi waktu kamu bersama Evellyn di kamar hotel, jadi kamu harus manfaatkan sebaik mungkin waktu yang tersisa agar secepatnya Evellyn bisa hamil,” kata Nyonya Retha kembali memancing Jasmine agar kesal. Tentu saja, Jasmine kesal sampai selera makannya hilang seketika. Tidak henti-hentinya mertuanya itu selalu membahas tentang Evellyn. “Tidak, Mom, Dariel di sini saja malam ini. Saat pagi menjelang, Dariel akan jemput Evellyn,” kata Dariel, dia sudah malas harus terus-terusan di Hotel, meskipun tidak pernah tidur satu ranjang. “Tidak bisa begitu, Dariel. Mommy tidak mau tahu, malam ini kamu harus tetap menghaniskan waktumu bersama Evellyn.” Dariel mulai kesal, sebelah tangannya sudaj mengepal, ingin sekali Dariel memukul meja namun dicegah oleh Jasmine. Tangan Jasmine memegang tangan Dariel yang mengepal itu, Jasmine tersenyum memberikan kode kepada Dariel agar suaminya bisa lebih tenang. “Pergilah … tinggal satu malam lagi kan, Sayang, besok malam baru waktu kamu untuk aku,” ucap Jasmine. Bola mata Nyonya Retha memutar jengah, ‘sok kuat, saya tahu kalau sebenarnya kamu itu kesal. Lihat saja nanti, saya akan membuat kamu tidak betah,’ ucap Nyonya Retha dalam hatinya. Dariel memegang erat tangan Jasmine, “iya, Sayang, mala mini aku akan pergi. Sabar, ya, besok malam giliran bersamamu,” ucap Dariel sembari mencium kening Jasmine. CIH!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN