Seperti biasa, meksipun Dariel kembali ke Hotel. Namun, dia tetap cek in kamar hotel yang lain, tetap tidak mau satu kamar Hotel dengan Evellyn.
"Dariel pasti tidak akan kesini. Jadi percuma juga sih aku menggunakan pakaian dinas ini (Lingerie)," gumam Evellyn seraya memandangi pakaian dinas yang tengah dia genggam.
Evellyn sangat berharap malam ini Dariel datang, tapi sepertinya harapannya tidak akan mungkin bisa terjadi. Evellyn sudah memesan pakaian dinas yang lebih seksi lagi, tapi belum waktunya untuk ia gunakan sebab sosok Dariel tak nampak. Ia juga berharap tidak ada telepon atau chat dari Nyonya Retha lagi, dia tidak mau melakukan kebohongan lagi.
"Baiknya, malam ini aku ke rumah sakit saja. Baiknya aku menemani adikku saja di sana dari pada di sini menunggu yang tidak pasti," gumamnya.
Evellyn menaruh pakaian dinas itu kedalam koper, karena besok malam dirinya akan kembali ke tempat tinggalnya. Ia belum mengetahui tentang dirinya yang akan tinggal di Mension.
Sementara itu, Jasmine tampak gelisah. Dia begitu takut jika Evellyn berbuat licik agar Dariel menyentuh Evellyn. Ia belum mengetahui jika suaminya cek in di kamar yang berbeda.
[Aku tidak bisa tenang, Sayang. Aku kepikiran Evellyn, dia kan licik. Aku takut dia melakukan sesuatu diluar dugaan kita], itulah isi chat Jasmine kepada Dariel.
Kebetulan Dariel lagi memainkan ponselnya. Ada chat w******p dari istri pertamanya, lekas Dariel membuka dan langsung membalasnya.
[Kamu tidak usah khawatir, Sayang. Si Ellyn itu tidak akan pernah bisa berbuat licik padaku, sebab malam ini aku berada di kamar hotel yang berbeda. Jadi kamu tidak perlu takut], balas Dariel.
[Kamu tidak takut kalau Si Ellyn itu ngadu ke Mommy kalau kamu tidak ke kamar hotel?]
[Tidak akan, dia tidak akan pernah berani ngadu. Kamu tenang saja, oke]
Meskipun begitu, tetap saja tidak membuat Jasmine merasa tenang. Dia kepikiran akan Evellyn yang malah mengadu kepada Nyonya Retha.
'Semoga saja Evellyn tidak mengadu sama Mommy. Kasian Dariel, dia pasti kena omel lagi sama Mommy. Tapi... Kenapa Dariel tidak melakukan bayi tabung saja? Kalau memang dia tidak mau menyentuh Evellyn.' Monolog Jasmine sampai kepikiran kearah sana.
"Nanti saja deh, aku akan bahas soal bayi tabung ini. Tidak enak juga jika harus bahas lewat telepon," gumamnya.
Jasmine memutuskan untuk tidur saja, meksipun kedua matanya sangat sulit untuk terpejam.
***
Pukul 06:10, di Hotel.
Evellyn baru saja sampai di hotel, semalaman dia menemani adiknya di ruang ICU. Kedua mata Evellyn terlihat membengkak, sebab semalam Evellyn tidak bisa tidur sama sekali, ia malah menangisi kondisi sang — adik yang sampai saat ini masih belum melewati masa kritisnya, masih belum ada perkembangan sama sekali.
"Dari mana kamu?" tanya Dariel berdiri dibelakang Evellyn, ketika Evellyn hendak masuk ke kamar hotel.
"Dariel, a-aku habis dari — "
"Tidak usah kamu jawab. Saya tahu kamu habis dari mana," ucap Dariel tersenyum kecil.
Deg
Pupil mata Evellyn terbuka lebar, dalam hati kecilnya ia berkata, 'apa jangan-jangan Tuan Dariel tahu kalau aku habis dari rumah sakit?'
"Wanita sepertimu pasti habis ju-al di-ri, iya' kan? Berapa pria yang sudah kamu layani, hah? Sampai pulang sepagi ini!" Dariel geleng-geleng kepala, senyuman seringai kembali terukir disudut bibirnya.
Hati Evellyn rasanya nyeri sekali ketika dituding seperti itu oleh Dariel. Ternyata di mata Dariel, Evellyn memang wanita hina.
Kedua mata Evellyn terlihat memerah dan berembun. Evellyn tidak bisa melakukan pembelaan, rasanya percuma juga pasti Dariel tidak akan percaya.
Evellyn masuk ke kamar hotel, dia terus menyeka air mata yang hendak menitik. Tidak mau terlihat cengeng dan lemah di depan Dariel.
Disusul oleh Dariel, dia juga masuk kedalam kamar hotel.
"Bersiaplah, mulai hari ini kamu akan tinggal di Mension. Dan ingat, jangan ngadu sama Mommy dan Daddy tentang saya yang belum pernah menyentuh kamu, Ellyn!" ucap Dariel memberikan warning kepada Evellyn.
"Tidak usah, Dariel. Aku tinggal di tempat tinggal aku saja, terima kasih atas tawarannya," ucap Evellyn menolak untuk tinggal satu atap dengan Dariel.
"Kau pikir ini keinginan saya? Jangan GR dulu. Ini permintaan Mommy," ucap Dariel.
"Ya, bilang saja sama Tante Retha kalau saya tidak bisa menerima tawarannya," kata Evellyn, tetap tidak mau tinggal di sana.
Evellyn hanya takut kalau kebohongannya terkuak, jika dirinya dan Dariel memang belum pernah melakukan penyatuan.
"Jangan memperikat. Baiknya kamu nurut saja."
"Tidak mau, Tuan, maaf, saya ingin tetap tinggal di tempatku saja," tolak Evellyn.
Ia meraih kopernya, semalam Evellyn memang sudah berkemas-kemas. Evellyn menyeret kopernya, gegas ia pun keluar dari kamar hotel.
'Sok nolak, sok jual mahal padahal saya tahu kalau Sebenarnya dia itu ingin tinggal di Mension, dia sok pura-pura nolak saja,' desis Dariel.
Ia sama sekali tidak mengejar Evellyn, Dariel memutuskan untuk berkemas juga, ia ingin segera sampai di rumah. Dariel lega sekali, dia merasa dirinya bisa menghirup udara segar karena sudah terbebas. Ya meksipun belum benar-benar bebas dari Evellyn.
"Kalau Evellyn sering jual di-ri, otomatis lama kelamaan dia akan hamil. Terpaksa deh nanti aku akui anak haram itu jadi pewaris ku," gumamnya lagi.
Terdengar suara ringtone, ada telepon masuk dari Nyonya Retha. Malas sekali harus menjawab telepon dari Mommy-nya, sudah Dariel duga pasti akan membahas Evellyn.
"Haloo, Mom!" sahut Dariel nada lemas, Dariel terpaksa menjawab telepon dari Mommy-nya.
"Evellyn mana?"
"Di kamar mandi, kenapa?" dusta Dariel.
"Jangan lupa, pagi ini kamu ajak dia kesini," ucap Nyonya Retha mengingatkan.
"Ya, ya, ya, Mom, Dariel pasti akan mengajak dia," ucap Dariel terdengar kesal.
"Biak, Mommy tunggu!"
Nyonya Retha mematikan teleponnya, dia tidak sabar sekali ingin memperalat Evellyn agar Jasmine tidak betah di sini. Lewat Evellyn, Nyonya Retha akan membuat Jasmine cemburu.
Dariel yang tadinya tidak akan menyusul Evellyn, karena paksaan dari Mommy-nya, terpaksa Dariel pun harus menyusul Evellyn.
"Bikin repot saja!" desisnya kesal.
Evellyn sudah berada di dalam taksi, mulai besok juga Evellyn akan mulai masuk kerja. Evellyn tidak mau memancing kecurigaan karyawan di sana, akan tetapi Dariel masih mengambil cuti, perusahaan ia serahkan dulu kepada asisten pribadinya, orang yang dia percayai.
Dariel sama sekali tidak tahu tempat tinggal Evellyn.
"Astaga ... aku kan tidak tahu dia tinggal di mana?" Dariel tidak mungkin juga meminta alamat tempat tinggal Evellyn kepada asistennya.
"Baiknya aku pulang saja ke rumah. Biar Mommy saja yang bujuk si Ellyn," gumam Dariel.
Padahal Nyonya Retha sudah persiapkan untuk menyambut kedatangan Evellyn, wanita tua itu semakin menunjukkan kepada Jasmine kalau dia lebih berpihak kepada Evellyn dibandingkan Jasmine.
"Selamat pagi menantu. Gimana, apakah mental kamu sudah siap?" Nyonya Retha tersenyum mengejek.
"Siap kok! Kenapa tidak?" jawab Jasmine acuh. Sebenarnya dia belum siap sama sekali. Wanita mana yang mau tinggal satu atap dengan madunya, Jasmine hanya berusaha untuk menguatkan dirinya saja.
"Yakin? Mommy sarankan ya, Daripada sering makan hati, baiknya kamu pergi saja. Tinggalkan Dariel, dan biarkan Dariel bahagia dengan Evellyn, wanita yang jelas-jelas akan memberikan pewaris.untuk keluarga ini."
"Maaf Mommy, sampai kapankah, Jasmine tidak akan pernah meninggalkan Dariel," ucap Jasmine tegas.
"Dasar wanita tidak tahu kalau!" desis Nyonya Retha pelan, namun terdengar jelas oleh Jasmine.