"Dariel, mana Evellyn? Kenapa kamu pulang sendirian. Bukannya Mommy sudah memeringati kamu, kalau kamu harus bawa Evellyn pulang kesini," kata Nyonya Retha ketika tidak mendapati Evellyn, hanya Dariel seorang.
"Uuummm ... Evellyn tidak mau ikut tinggal di sini. Katanya, baiknya dia tetap tinggal di rumahnya saja," jawab Dariel santai.
Jasmine tersenyum tipis, lega sekali karena Evellyn tidak ikut pulang bersama suaminya. Ia berharap, selamanya Evellyn tidak akan pernah mau tinggal di tempat ini.
"Anak itu!" desis Nyonya Retha pelan, dia nampak kesal sekali.
"Sudahlah, Retha. Kalau gadis itu tidak mau tinggal di sini, tidak usah dipaksa," sahut Tuan Dave. Demi kebaikan bersama, alangkah baiknya memang Evellyn tinggal terpisah saja.
"Tidak bisa begitu! Mommy akan paska dia," kata Nyonya Retha tegas, dia tetap ingin Evellyn tinggal di sini.
Lekas, Nyonya Retha pun pergi. Ia akan menjemput Evellyn memaksa istri rahasia Evellyn untuk tinggal di Mension.
"Yasudah, Sayang, aku mau istirahat dulu," ucap Dariel yang langsung nyelonong menuju ke kamar. Semalam Dariel memang tidak bisa tidur sama sekali.
Tuan Dave yang merasa udah baikan, dia kembali ke kantor. Sementara itu, Dariel tetap mengambil cuti.
Jasmine menyusul Dariel ke kamar. Kepikiran untuk menyenangkan suaminya di atas ranjang, meksipun Jasmine tidak yakin apakah dirinya bisa atau tidak? Namun, Jasmine akan berusaha.
"Sayang ..., " panggil Jasmine manja, dia duduk di tepi ranjang.
"Apa, Sayang?" sahut Dariel yang langsung duduk disebelah Jasmine, "kenapa?" tanyanya sembari memegang kedua tangan Jasmine.
"Aku kangen," ucap Jasmine seraya mencium bibir Dariel sekilas.
"Aku pun, tapi aku belum berani menyentuh kamu, Sayang." Genggaman kedua tangan Dariel begitu kuat sekali.
"Kenapa? Apa karena kamu tahu kalau aku tidak akan bisa? Iya, kan?" mimik wajah Jasmine terlihat kecewa, ketika mendengar ucapan Dariel seperti itu.
"Bukan begitu maksudku, Sayang. Kamu habis keguguran, habis operasi pengangkatan rahim juga. Jadi ... aku tidak tega jika harus menyentuhmu. Kamu lagi masa pemulihan," ucap Dariel menjelaskan.
"Tapi ... Aku kangen, Dariel."
Jasmine tetap ingin bercinta pagi ini dengan Dariel, sebelum nanti Evellyn yang menguasai Dariel maka sebelum itu terjadi, Jasmine yang harus lebih dulu menguasai suaminya meskipun dia sadar diri kalau dirinya tidak akan mungkin bisa memuaskan suaminya. Namun menurut penjelasan Dokter, meksipun Jasmine tidak punya rahim tapi tidak menghambat untuk bermain di atas ranjang.
"Tunggu kamu setelah benar-benar pulih ya, Sayang," ucap Dariel seraya mencium kening istri pertamanya.
Namun, Jasmine malah mendorong Dariel sampai tidur terlentang di atas ranjang. Kedua tangan Jasmine meraba-raba d**a bidang suaminya.
***
"Evellyn, buka pintunya!" teriak Nyonya Retha seraya menggedor-gedor pintu rumah Evellyn.
Evellyn tercengang mendengar suara teriakan sang — mertua, 'apakah Nyonya Retha akan menjemput aku, ya?' Buru-buru Evellyn membukakan pintu rumahnya.
"A-ada apa, Nyonya?" tanya Evellyn ketika sudah bertatap muka dengan Nyonya Retha.
"Ikut saya!" kata Nyonya Retha seraya menarik-narik pergelangan tangan Evellyn.
"Kemana, Nyonya!" Evellyn menahannya, namun cengkeraman dari Nyonya Retha begitu kuat.
"Kamu harus tinggal di Mension. Kalau kamu dan Dariel jauh-jauhan seperti ini, bagaimana bisa kamu menarik perhatian Dariel."
"Ta-tapi, Nyonya. Saya harus menutup pintu rumah, dan membawa pakaianku."
Nyonya Retha pun langsung melepaskan tangan Evellyn, dia mengizinkan Evellyn untuk ke rumah, mengambil pakaian ganti serta mengunci rumahnya.
Evellyn terpaksa menurut, rasanya akan percuma jika Evellyn menolak. Wanita tua ini pasti akan memaksa dirinya.
Tak butuh waktu lama, tiba juga di Mension. Ini pertama Evellyn menginjakkan kakinya di rumah yang bagaikan istana. Evellyn tidak menyangka, takdirnya akan membawanya menjadi bagian dari keluarga Ethelwyn meskipun bersifat rahasia tapi statusnya di keluarga ini adalah sebagai istri sahnya Dariel juga.
"Sekarang, kamu pergi ke kamar utama yang terletak di atas sana," tunjuk Nyonya Retha, "kamu harus lebih berkuasa di sini dibandingkan Jasmine. Kamu harus buat Jasmine mengalah, kamu yang lebih berhak menempati kamar utama."
"Tapi, Nyonya. Aku hanya istri kedua. Lagipula, status aku juga dirahasiakan. Rasanya, tidak berhak berkuasa. Baiknya, aku tidur di kamar lain saja."
"Apa kau bilang?" Kedua tangan Nyonya Retha mencengkram mulut Evellyn, "kau berani melawan saya? Ingat ya, Evellyn, saya bisa melakukan apa saja diluar dugaan. Jangan pernah kau melawan apa yang saya minta. Sekarang, kau pergi ke sana, ke kamar utama. Kau harus buat Jasmine pindah, dan kau yang harus menempati kamar itu," ucap Nyonya Retha melotot.
"Ba-baik, Nyonya!" terpaksa Evellyn menurut, dari pada dirinya diperlakukan kasar lebih dari ini, maka baiknya Evellyn nurut saja.
Gegas, Evellyn melangkahkan kakinya menuju ke kamar utama. Terlihat, kamar itu terbuka lebar. Ragu, Evellyn melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Evellyn membuka pupil matanya sempurna ketika dia berdiri di ambang pintu, dia melihat aktivitas panas antara Jasmine dan Dariel.
'Astaga... apakah Jasmine sengaja? Dia sengaja tidak menutup dulu pintunya?'
Terlihat Jasmine yang sedang memanjakan burung merpati milik Dariel. Jasmine memasukannya kedalam mulutnya, menganggap kalau milik Dariel yang nantinya akan mengeluarkan bibit-bibit unggul pewaris Ethelwyn itu permen lolipop.
"Ssshh, Aahkh, Sayang.... " Dariel sampai merem melek.
Evellyn yang melihatnya, dia sampai menelan ludahnya kasar. Ini pertama kali Evellyn melihat pedang sakti pencipta pewaris Ethelwyn yang ukurannya sangat WAW.
Buru-buru Evellyn bersembunyi dibalik dinding, napasnya kembang kempis. Suara lenguhan Dariel begitu kuat, sampai membuat Evellyn menggigit bibirnya.
"Kapan aku bisa seperti itu?" gumam Evellyn berkata dalam hati.
Evellyn tidak tega harus mengganggu kegiatan antara Jasmine dengan Dariel.
Yang dirasakan Jasmine saat ini, sebenarnya tidak ada gelora sama sekali. Jasmine hanya berusaha untuk menyenangkan suaminya saja.
"Sayang, rasanya mau keluar!" ucap Dariel.
Jasmine semakin cepat menggerakkannya, lolipop besar itu keluar masuk, masih memasukkan kedalam mulut.
Tidak sampai temu kangen antara burung merpati itu dengan sangkar emas, karena Dariel tidak mau membuat bekas operasi di perutnya Jasmine bedah lagi.
Hingga bibit-bibit pewaris Ethelwyn pun keluar, Jasmine menyapu bersih bibit pewaris itu menggunakan lidahnya.
Evellyn masih berdiri, dia masih menunggu keduanya selesai bermain.
"Makasih, Sayang," ucap Dariel seraya mencium kening Jasmine.
Dariel sangat menghargai usahanya Jasmine, meksipun dia sebenarnya tahu kalau Jasmine tidak memiliki hasrat sama sekali, terlihat dibuat-buat saja. Dariel sedih dengan kondisi istrinya, tapi bagaimana pun keadaannya, Dariel akan tetap mempertahankan Jasmine.
Dariel sudah mengamankan asetnya, keduanya tidur miring saling berhadap-hadapan.
"Apakah sudah selesai?"
Deg
Suara Evellyn sontak mengejutkan Dariel dan Jasmine.
"Ellyn!"
"Sekarang kamar ini adalah kamarku. Untuk Nona Jasmine, baiknya Anda segera keluar dari kamar ini," ucap Evellyn seraya menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.
"Apa-apaan ini!" Dariel langsung turun dari tempat tidur, dia menghampiri Evellyn.
"Keluar!" usir Dariel yang langsung menarik-narik paksa pergelangan tangan Evellyn dibagian kanan.
"Tidak mau!" Evellyn menepis tangan Dariel yang mencengangkan tangannya, "aku tidak mau keluar dari kamar ini, karena kamar ini akan menjadi kamarku." Terpaksa Evellyn berani melawan, karena dia merasa akan mendapatkan perlindungan dari Nyonya Retha, sebab Nyonya Retha lebih menyeramkan dibandingkan Dariel, Evellyn baiknya menuruti perintah Nyonya Retha saja daripada nanti Nyonya Retha melakukan hal hal diluar dugaannya.
"Kau ini!"
Hendak Dariel akan menampar pipi Evellyn, namun di tahan oleh Jasmine.
"Kamu tidak perlu mengotori tangan mu , Sayang," ucap Jasmine yang langsung memeluk Dariel dari arah belakang, dia akan menunjukkan kepada Evellyn kalau Dariel adalah miliknya.