“Ayolah ... jangan malu-malu, Tuan,” kata Evellyn yang langsung menarik tangan Dariel sampai tubuh Dariel terhempas di atas tempat tidur, “aku sangat menantikan momen ini, Tuan, aku tidak peduli apakah Tuan melakukannya tanpa sadar, atau di bawah kesadaran. Yang penting, Tuan memberikan nafkah batin untukku, dan itu artinya tugasku tidak akan lama.” Evellyn menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia juga membuka benang penghalang burung merpati tersebut. Evellyn tersenyum nakal saat Dariel hanya diam saja tanpa ada penolakan sama sekali, seperti pasrah. Tangan Evellyn memegang, naik turun secara perlahan. “Ukurannya sangat sangat super size, Tuan, aku suka. Pertama bagi aku melihat benda seperti ini,” kata Evellyn yang masih memegang benda keramat tersebut yang nantinya akan menge

