“Kak! Kak Brian!” Teriakan Lisa itu membuat Brian buru-buru berlari ke sumber suara. Di ruang tamu, dia bisa melihat Elang masuk bersama dengan Amira yang berada di dalam gendongannya. Lisa mengikuti mereka berdua dari belakang dengan wajah dan tatapan khawatirnya. Tak lama, Riska muncul dari dapur. Raut wajahnya sama khawatirnya dengan Lisa dan Brian. Mereka bertiga segera mengelilingi Elang yang menaruh Amira di sofa. Amira yang gemetar, memucat dan menangis. “Lis, bisa tolong bikinin teh manis hangat buat Amira?” tanya Elang sambil tersenyum. Sebagai jawaban, Lisa mengangguk. Setelah Lisa pergi, Brian dan Riska menatap Elang dan Amira dengan tatapan menuntut. “Kenapa? Ada apa, Lang? Kenapa si Amira sampai kayak gini?” tany

