Alfar merenung. Cowok itu menyesap teh manis hangatnya sambil menatap ke jendela. Tatapannya menerawang, mengingat kembali sikap aneh milik Amira dan temannya yang bernama Riska tadi di kantin kampus, setelah keduanya mendengar nama kakak tirinya. Begitu Alfar menaruh cangkirnya ke meja, dia menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri. “Apa mereka kenal sama kak Altair?” “Hm? Siapa yang kenal sama gue?” Suara itu membuat Alfar tersentak dan menoleh. Altair Sanjaya, kakak tirinya, baru saja muncul di ruang keluarga dan duduk di sofa di hadapannya. Cowok tampan itu mengambil cangkir di atas meja dan meminum teh manis tersebut tanpa meminta izin dulu kepada adiknya. “Dari mana, Kak?” “Ada sedikit kerjaan mendadak di kan

