“Sedang apa kamu di sini?” Airin membuka pembicaraan antara keduanya, setelah sejak sepuluh menit yang lalu dirinya dan Bayu hanya saling diam. “Tadinya aku hanya lewat, saat melihatmu ada di sini sendirian, entah kenapa aku tertarik untuk menemanimu,” jawab Bayu jujur. Airin menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar ucapan Bayu. “Menemaniku?” tanyanya heran. Bayu terkekeh, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Maksudku ... aku hanya takut jika nanti kamu diganggu orang karena duduk sendirian di sini,” kelitnya agar tidak terlihat malu di hadapan Airin. Airin tertawa lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman. “Tidak akan ada orang yang menggangguku di sini. Aku selalu datang ke sini setiap sore,” cicit Airin. Cahaya mentari sore terlihat menyapa lembut wajah

