Raldo melangkah keluar dari kamar mandi. Duduk di pinggir tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna putih. Ia menghentikan kegiatannya ketika melirik benda pipih miliknya yang ada di atas nakas dari sudut matanya. Tergerak, ia segera mengulurkan tangannya dan mengambil ponselnya itu. Menyalakan benda pintar untuk memastikan jika pesan yang ia kirim untuk Airin sudah terkirim. Ceklist dua tapi belum berubah biru. Membuat pria itu mendengus kesal. “Di mana kamu, Honey? Mengapa belum juga membaca pesan yang aku kirim sejak semalam?” tanyanya sambil meremas ponselnya sendiri karena kesal. Sudah dari semalam kekasihnya itu masih saja belum membaca pesan yang ia kirim dari ponselnya. Tak hanya satu, tapi entah berapa pesan yang pria itu kirim kan sejak

