Bayu baru saja masuk ke dalam ruangannya. Berjalan menuju meja kerja yang terletak di depan jendela besar, lalu mendudukkan dirinya di sana. Memeriksa beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya. Beberapa kali ia melihat ke arah pintu masuk, menanti seseorang yang sampai saat belum juga terlihat batang hidungnya. Untuk sekian kalinya ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sudah pukul 9, tapi kenapa Airin belum datang juga?” gumam Bayu. Ia menekan tombol telepon yang ada di meja kerjanya. Meminta agar sekretaris datang ke dalam ruangannya. Terdengar pintu diketuk dari luar, lalu terbuka setelah mendapat perintah dari dalam. “Tuan memanggil saya?” tanya sang sekretaris. Bayu mengangkat wajahnya, melihat wanita cantik yang menjabat sebagai sekretarisnya itu.

