Airin duduk di kursi pantry dapurnya. Sejak tadi gadis itu terdiam sendiri, menyangga wajahnya dengan sebelah tangan. Ia terus saja teringat dengan percakapannya bersama Bayu semalam. Meski pikirannya tidak setuju dengan apa yang Bayu katakan tentang hubungannya bersama Raldo, tapi dalam hati kecil gadis itu membenarkan ucapan pria itu. Bayangan Raldo memintanya untuk datang ke pesta pernikahan kekasihnya itu terlintas lagi dalam ingatannya. Sebenarnya Airin sendiri tidak merasa yakin dengan keputusannya untuk datang ke acara itu. Tapi ia juga sudah terlanjur berjanji pada Raldo untuk selalu mendukung keputusannya. Termasuk menghadiri pesta pernikahannya yang akan berlangsung akhir minggu ini. “Apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri tidak tahu bagaimana sakitnya nanti ketika aku melihat

