Episode 8. Kalangan Elite

1648 Kata
    Aku benar-benar tidak sadar dengan kemunculan Mamaku yang saat ini sedang terpaku memperhatikan tanganku yang masih menempel dap mulut Virza.     Dengan panik, aku segera melepaskan dekapan tanganku. “Kami … t-tidak melakukan apapun kok, Ma.” Jawabku gugub.     “Dian, kamu itu gadis yang mau menikah. Mama sangat tidak suka dengan sikap kamu saat ini. Apa lagi duduk terlalu dekat dengan laki-laki lain seperti ini.” Mama terlihat marah.     “I-ini,” pandangan Virza dan aku saling beradu, “ini sungguh tidak seperti yang Tante pikirkan.” Ia berusaha berkilah.     “Iya, Ma. Tadi benar-benar ada nyamuk di mulutnya, jadi ya reflex saja aku memukulnya.” Aku tertawa palsu.     “Tetap saja tidak boleh seperti itu! Lihat semua orang yang ada di tempat ini sedang bergosip tentangmu.” Mama tampak kesal. “Berdiri! Cepat pindah tempat duduk. Jangan terus-terusan berdekatan seperti itu.”     Aku memperhatikan beberapa pasang mata langsung menunduk menyibukkan diri, ketika aku menatap mereka. “Iya-iya, Ma.” Kemudian, aku pindah pada sofa yang lebih panjang dari tempatku duduk sebelumnya.     “Tidak baik juga dengan sembarangan memukul mulut orang, meski ada hewan apa pun juga di situ!” Mama memelototiku. Kemudian, ia beralih pada Virza. “Maaf ya, jika anak Tante ini berlaku tidak sopan.” Ia menyuguhkan tawa yang seakan dibuat-buat. “Tante sampai lupa, ini teh dan camilannya.” Wanita baya itu meletakkan secangkir teh dan setoples kue kering. “Tante juga belum sempat mengucapkan terima kasih sama ... siapa nama kamu?” Mama duduk tepat di sampingku.     “Saya Virza, Tante,” jawabnya.     “Saya benar-benar berterima kasih, karena Virza sudah menolong anak semata wayang saya ini. Tante rasa Dian sedang sakit saat itu, jadi dia pingsan di jalan. Untung saja ada kamu di sana, bagamaina jika tidak? Tante tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Dian saat itu.” Mamaku tersenyum sangat ramah kepada Virza.     “Tidak perlu berterima kasih seperti itu, Tan. Kemarin hanya kebetulan saja saya di sana dan melihat Diandra berjalan sempoyongan,” ujar Virza.     “Virza tinggal di mana?” Mama meraih cangkir dan menyeruput isinya. “Silakan diminum tehnya.”     “I-iya, terima kasih tante.” Virza ikut mengangkat cangkir, meminumnya, kemudian meletakkannya kembali. “Saya tinggal tidak jauh dari sini kok, Tante.”     “Wah, benahkah! Di mana?” Mama segera meletakkan cangkir yang masih berada di tangannya.     “Di jalan Halmahera nomor tiga.”     Mama membelalakkan mata. “Komplek anak gedongan?”     “Jangan menyebutnya seperti itu! Tante ini terlalu melebih-lebihkan.” Virza terlihat tidak senang.     “Memang terkenalnya seperti itu. Ngomong-ngomong nih, Virza di perusahaan apa?” Mata mama terlihat bersinar.     “Sayang sekali Tante, tidak ada perusahaan yang bersedia terima saya sebagai pegawainya.” Virsa terkekeh kecil.     “Ah … Virza ini, pintar juga berguraunya.” Mama terlihat masih ragu dengan jawaban yang Virza berikan. “Jadi, sekarang kerja apa? Apa mungkin punya perusahaan sendiri? Tante tidak percaya, jika seseorang yang tinggal di kawasan elite seperti itu hanya seorang pengangguran.” Mama tersenyum licik. “Terus terang saja sama Tante! Jangan merendah seperti itu! Perilaku yang tidak jujur kaya gitu, tidak baik loh.”     “Tante ini bisa saja. Tapi benar Tante, saya ini bukan orang kaya. Saya hanya punya usaha restoran saja yang bisa dikelola.” Virza memijit pelan tengkuknya.     Aku mencermati Mamaku yang seketika berubah menjadi wanita bergaya elegan di depan Virza. Aku terus memperhatikan ia yang sedang mengeluarkan isi pikirannya. Mamaku ini merupakan tipikal wanita yang sangat menyukai orang yang berasal dari kalangan atas. Setiap ia menemui seseorang yang bertempat tinggal di komplek gedongan tersebut, maka energi di tubuhnya seakan meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Namun aku tidak tahu, kenapa Mama bisa menikah dengan Papa yang hanya seorang pegawai negeri? Padahal banyak sekali temannya yang berstatus konglomerat. Aku juga sering mendengar mantan pacar Mama yang berasal dari keluarga kaya. Salah satunya adalah Madam Rose yang memiliki sebuah butik besar di kota ini.     “Usaha makanan saat ini memang cepat berkembang. Apalagi yang menawarkan sistem delivery dan bayar di tempat.  Namun usaha sperti itu harus tahan banting dalam persaingan bisnis. Kalau tidak, kamu bisa gulung tikar dini.”     Aku menarik baju Mama, agar tidak sembarangan berucap. Apalagi sampai membuat perasaan lawan bicaranya merasa tidak nyaman, sedangkan kita baru saja mengenalnya.     “Iya, Tante benar. Memang bisnis kuliner dengan makanan siap saji terlalu berat resikonya. Seandainya tidak habis hari itu juga, tidak mungkin saya menyuguhkan makanan yang tidak fresh kepada pelanggan. Ada beberapa masakan yang rasanya pasti akan berubah, kalau kita hanya memanaskannya saja, kemudian menghidangkannya kembali. Itu akan membuat image restoran hancur, jika para penikmat kuliner sampai mengetahuinya.” Virza terlihat seide dengan Mama.     “Kamu benar, Tante jadi ingat pada salah satu teman pemilik yang punya kafe. Tante tahu banget, dulu tempat usahanya cuma sekotak, segini nih,” Mama menggerakkan tangannya menggambarkan sebuah bangunan yang hanya sejengkal, “tapi sekarang sudah melebar, bahkan dia punya beberapa cabang juga. Pernah Tante ke sana mencicipi menu kafenya. Masakannya tidak terlalu enak, tapi Tante heran bisa serame itu, bahkan banyak yang rela mengantri di sana.”     Aku mengambil beberapa cemilan yang Mama bawa. Aku memakannya dengan lahap untuk menutupi keresahanku karena celotehan Mamaku yang terlampau melewati batas untuk seseorang yang baru mengenal.     “Wah, saya tidak bisa, jika harus dibanding-bandingkan dengan teman Tante itu. Saya cuma orang biasa saja.” Virza tampak sedikit terkekeh.     “Setidaknya kamu punya sebuah usaha. Tante juga tidak akan percaya, jika salah satu dari penghuni komplek gedongan seperti itu, hanya memiliki satu restoran kecil saja.” Mama terlihat bersemangat.     “Mama,” aku menyikut perut Mamaku, “tidak baik menjejali orang lain dengan pertanyaan seperti itu. Tidak sopan tahu, Ma.” Aku berbisik pelan pada Mama. “Dia bisa mengira, kalau kita ini mata duitan.”     “Sudah diam saja!” Mama ikut memelankan suaranya.     “Mama–”     “Tidak apa-apa, kan, Virza?” Mama tiba-tiba tertawa dengan raut wajah yang aneh.     “Mama, jangan seperti itu. Malu tahu, Ma!” Aku menahan rasa kesalku.     Virza memperhatikan perdebatan kecilku dan Mama. “Kenapa, Tante?” Ia lantas mengurungkan niatnya yang hendak mengambil cangkir tehnya.     “Begini, tidak masalah, kan, jika tante mengeluarkan bebagai pertanyaan seperti tadi? Apa Virza merasa tidak nyaman dengan Tante, atau Mungkin merasa terganggu?” Mama menatap Virza dengan serius.     “T-tidak apa-apa, Tante. Saya sungguh tidak mempermasalahkannya. Tante boleh bertanya mengenai apa pun juga tentang saya.” Virza terlihat menyuguhkan tawa palsunya.     Aku tersenyum keki. “Tidak seperti itu juga kali, Ma!” Aku melotot pada Mamaku.     “Benar Dian, aku tidak apa-apa.” Virza meminum teh yang ada di dalam cangkirnya.     “Virza saja tidak mempermasalahkannya, tapi kenapa kamu yang ri ….”     Kemudian Mama mengerutkan kening, sambil terus memperhatikanku sejak. Aku sangat tahu tempat tujuan pandang mama. Aku sangat gugup dan merasa khawatir, jika sampai mama meminta untuk membuka penutup hitamku. Saat ini kedua mataku terasa benar-benar bengkak, karena mengeluarkan air mata yang sangat banyak. Ini semua gara-gara Arkha dan juga perempuan murahan itu.     “A-ada apa, Ma?”     “Mama perhatikan kamu bertingkah aneh akhir-akhir ini, Di? Lalu sekarang, kenapa kamu memakai kaca mata hitam di dalam rumah?” Mama merasa heran, kemudian mengangkat kedua alis indah yang didapat dari hasil sulaman dari sebuah salon kecantikan.     Virza juga seketika terlihat panik dan bingung. Dia tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu, padahal tidak. Aku yang ditanya oleh Mamaku, namun aku mendapatinya serba tidak nyaman. Aku memperhatikannya bertingkah aneh, tetapi sikap tegang Virza malah membuatku bisa merasa lebih tenang. Kemudian, aku berusaha mencoba untuk beralasan.     “Saat ini kepalaku terasa sangat pusing, Ma. Mataku terasa silau kalau terkena cahaya, makanya aku memakai kaca mata hitam ini. Mungkin saat ini anemiaku sedang kambuh,” aku berkata, sambil menyentuh tangkai kaca mata yang aku kenakan. “Mama tidak akan pernah tahu rasanya, jika penyakit itu muncul.”     “Mama memang tidak punya riwayat anemia, tapi silau?” Mama melihat ke sekitar. “Bukankah kamu sedang berada di dalam rumah? Tidak ada cahaya matahari yang akan membuat mata kamu merasa seperti itu di sini.” Mama menangkis alasan yang aku berikan. “Mama cukup pintar untuk bisa menerima alasanmu begitu saja.”     “Iya sih, Ma. Tapi –” Virza memangkas kalimatku. “Mungkin Diandra merasa silau terkena cahaya lampu yang terlalu terang ini, Tante.” Virza membantuku untuk berkilah.     “Benarkah itu? Tante kok merasa lampu ruang tamu ini biasa saja, tidak terlalu terang.” Mama memperhatikan lampu yang menggantung di langit-langit ruang tamu.     “Aku juga ingin memang seperti itu. Mungkin itu karena Mama baik-baik saja, tidak sepertiku yang sedang sakit saat ini.”  Aku berusaha meyakinkannya.     “Iya, Dian benar, Tan. Biasanya saat seseorang sedang tidak enak badan, pasti daya tangkap mata akan lebih peka dari keadaan normal.” Virza sekali lagi membantuku.     “Apa benar bisa begitu?” Mama menatapku, lantas aku menganggukan kepala tanda setuju. “Baiklah, Mama percaya. Ini semata-mata, karena Virza telah memberikan alasan yang lebih logis dari pada kamu. Tetapi entah kenapa Mama merasa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan, benar begitu, Di?” Tatapan Mama seakan menyingkap kaca mata hitamku, bahkan aku juga merasa ia sedang berusaha menjangkau isi kepalaku.     “Kenapa Mama berpikir seperti itu? Apa yang bisa aku sembunyikan dari Mama? Lagipula, mana mungkin aku menutupi masalah dari mata tajam Mamaku ini?” Aku memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkanku.     “Kamu ini pintar sekali mencari-cari alasan.” Mama tertawa, lantas beralih pandangan pada Virza. “Apalagi kamu membantunya membuat alasan. Kalian ini terlihat seperti sepasang saudara yang saling membela. Kalau saja Diandra belum bertunangan, pasti Tante akan menjadikanmu sebagai menantu.”     “Benarkah seprti itu, Tante?” Virza ikut tertawa bersama kami.     “Wah! Sepertinya sedang ada tamu asing yang istimewa di sini?!” Aku melihat Virza mengarahkan pandangannya ke tempat di mana suara itu berasal, tempat di belakang tempat dudukku. Aku seperti merasa mengenalnya, hingga membuat jantungku hampir berhenti untuk berdetak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN