Episode 9. Kakak Laki-laki

1756 Kata
    Aku benar-benar tidak asing dengan suara yang baru saja aku dengar. Tentu saja aku merasa begitu, karena itu adalah milik tunanganku. Tidak ada selain ia yang bisa membuatku merasakan remuk redam dalam sakitnya pengkhianatan. Perselingkuhannya pada waktu itu, kini telah terpatri di dalam otakku.     Mamaku mendaratkan pandangan ke arah suara itu berasal. “Ternyata kamu, Mama kira siapa siang-siang begini datang ke rumah?!”     Aku mendapati ekspresi tidak enak pada raut wajah Mama. Sepertinya ia mengira, bahwa Arkha telah mendengar perkatannya mengenai Virza.     “Aku ke sini cuma ingin memberitahukan sesuatu, Mam. Tiba-tiba saja, Arkha ada acara kantor mendadak, jadi tidak bisa menemani Dinda mengambil gaun pengantinnya sekarang.” Arkha berkata sambil melangkahkan kaki, kemudian ia duduk bersebelahan dengan Virza.     “Apa acara kantor kamu sebegitu pentingnya, hingga kamu harus ada di sana? Pernikahan kalian sudah bisa dihitung dengan jari. Lagipula, kenapa kamu tidak mengambil cuti saja? Kasian Dian, jika harus mengurus segalanya seorang diri.” Mama tampak sedih dan merasa tidak senang.     “Apa boleh buat Mam, jadwal Arkha sangat padat. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaanku saat ini. Bagaimana kalau sampai aku dipecat, hanya gara-gara mengurus persiapan pernikahanku? Perusahaan itu tidak memberi kompensasi pada pegawainya yang dengan lalai melepaskan tanggung jawab pada pekerjaannya begitu saja. Semua yang aku lakukan ini juga demi kebahagian Dinda. Aku juga sedang berusaha, agar hidup kami berkecukupan setelah menikah nanti.” Kalimat yang Arkha lontarkan, seakan membuatku merasa muak dengannya.     “Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk mencampuri masalah pribadi kalian berdua. Tetapi menurut saya, sebuah perusahaan pasti akan memberi kebijakan cuti pada karyawannya, apalagi untuk sebuah acara penting seperti pernikahan kalian ini. Saya yakin sekali, Bos Anda pasti dapat memakluminya,” Virza menimpali perkataan Arkha.     “Sepertinya, Anda sedang berlagak menjadi seorang pemilik dari sebuah perusahaan. Tetapi kenyataannya, saya sama sekali tidak bisa mendapatkan cuti beberapa hari ini. Mungkin akan berbeda, jika perusahaan itu adalah milik Anda. Sangat disayangkan, Anda hanya sedang bermimpi saja kali ini.” Arkha tertawa culas, hingga sangat jelas menampakkan raut wajah tidak suka terhadap Virza.     Virza terkekeh, “walaupun kecil, saya telah mempunyai sebuah usaha, serta beberapa pegawai di sana. Jadi, saya sedikit mengerti mengenai pemikiran dari seorang pemilik perusahaan. Saya yakin meskipun hanya sebentar, tapi sebuah perusahaan pasti akan memberikan libur untuk pegawainya yang melangsungkan pernikahan.” Virza membalas tatapan sinis Arkha dengan sebuah senyuman. “Kalau saya boleh tahu, di mana Anda bekerja saat ini?”     “Saya bekerja di sebuah perusahaan yang sangat besar. Orang seperti Anda tidak akan mungkin bisa diterima di tempat itu, bahkan membayangkannya saja akan sangat sulit. Hanya orang-orang terpilih dengan kemampuan yang tinggi seperti saya ini yang diterima di perusahaan tersebut,” Arkha berkata dengan keangkuhannya.     “Mungkin kualifikasi saya memang tidak setara dengan Anda. Saya juga menyadari, bahwa saya hanya segelintir kotoran yang tidak akan pernah layak, jika dibandingkan dengan Anda. Jadi bisakah Anda memberitahu saya, apa nama perusahaan tempat Anda bekerja sekarang ini?” Virza berusaha merendahkan dirinya.     “PT. Artika Prakarsa, saya bekerja di tempat itu.” Arkha terlihat bangga dengan dirinya. “Bagaimana? Kenapa kamu seperti kaget mendengarnya? Perusahaan itu adalah salah satu dari yang terbesar di negara ini. Tetapi karena kecerdasanku, aku bisa dengan mudah menembusnya.” Arkha semakin menunjukkan kesombongannya.     “Ya, kamu benar. Aku memang sangat terkejut, tapi bukan karena kamu telah diterima dengan mudah di perusahaan bergengsi itu. Saya hanya merasa takjub mendengar pemilik loyalitas tertinggi terhadap karyawan, tidak bersedia memberikan cuti kepada pegawai yang akan melangsungkan penikahannya. Seperti Anda dan Diandra, sebagai contohnya.” Virza tampak mengela napas.     “Percaya atau tidak, itulah kenyataannya.” Arkha mengalihkan padangan ke arahku. “Jadi, aku sungguh minta maaf. Bukannya aku tidak mau mengantarmu ke butik, tetapi apalah dayaku yang hanya seorang bawahan yang bekerja di tempat sekejam itu.” Arkha menatapku dengan raut wajah mengiba.     “Aku akan mengambilnya sendiri, pergilah!” kataku datar.     “Tetapi aku heran, Dinda. Ada apa denganmu? Pakailah kaca mata di luar saja, jangan di dalam rumah seperti ini. Kamu terlihat aneh,” Arkha meperolokku.     “Tidak apa-apa, hanya suka saja memakainya,” jawabku ketus.     “Dian saat ini sedang sakit. Dia merasa silau, jika matanya terkena cahaya. Itulah sebabnya dia memakai kaca mata hitam itu.” Mama membelai rambutku. “Kamu tentunya belum tahu, bahwa kemarin Dian pingsan di jalan. Untung saja ada Virza yang menolong dan mengantarkannya pulang dengan selamat. Di zaman sekarang ini, sangat jarang ada orang yang baik sepertinya.” Mama terlihat kagum pada Virza.     “Benar begitu, Dinda?” Arkha tampak terkejut, kemudian ia mengalihkan pandangan kepada laki-laki yang duduk bersama dengannya. “Siapa nama kamu tadi?”     “Virza,” jawabnya singkat.     “Ok! Terima kasih sudah menolong calon istri saya,” Arkha berujar, kemudian beranjak dari tempat duduknya.     “Kamu mau ke mana?!” Mama menatap heran pada sikap Arkha yang tampak sangat berubah.     “Arkha mau ke kantor, Mam. Aku takut akan terlambat menghadiri rapat, kalau tidak segera pergi sekarang juga.” Arkha melirik jam tangannya.     “Lalu, bagaimana dengan Dian? Tidak mungkin dengan kondisi seperti ini, dia harus mengambil gaunnya sendiri. Lokasi Butik tersebut cukup jauh dari sini? Apa kamu setega itu membiarkannya pergi sedirian?” Mama tampak merasa kesal.     “Haduh ... gimana ya, Mam?” Arkha tampak sedang berpikir, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Virza. “Begini saja deh, bagaimana kalau Virza saja yang mengantarnya? Tidak ada salahnya, jika dia harus menolong Dinda sekali lagi?!” Arkha melirik Virza.     “Tetapi mereka belum lama saling mengenal? Bagaimana mungkin, kamu seenteng itu memberi kepercayaan pada pria lain? Lagipula Mama merasa tidak enak, jika terus merepotkan Virza.” Mama menatap Arkha dengan raut wajah menahan amarah.”Sudah-sudah, besok saja mengambil gaunnya!”     “J-jangan berpikir seperi itu, Tan! Saya tidak merasa keberatan, apalagi merasa direpotkan jika memang harus mengantar Diandra. Keadaannya juga tidak memungkinkan untuk pergi mengambil gaun itu sendiri. Saya akan dengan senang hati, jika diizinkan untuk membantu dan mengantar Diandra ke Butik itu.” Virza menawarkan dirinya.     “Besok? Aku tidak bisa janji ada waktu untuk menemaninya. Lagipula aku yakin, Virza pasti bersedia mengantar Dinda. Jadi sekarang Mama bisa tenang, percayakan saja Dinda kepada Virza. Aku sangat percaya, bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Diandra selama dia bersama laki-laki itu. Ayolah, Mam!” Arkha memohon sambil tertawa.     “Bisa-bisanya kamu tertawa disaat mempercayakan calon istri kepada laki-laki lain. Mama sangat tidak suka dengan sikap kamu ini!" Mama menatap Arkha dengan penuh emosi.     Aku tidak ingin kekesalan mama semakin berlanjut. “Sudahlah, Ma. Jangan menahannya lagi! Aku bisa pergi sendiri. Biarkan saja dia pergi!” ujarku sedikit ketus.     “Mama tidak setuju! Lebih baik kamu pergi dengan lain, dari pada Mama harus mendapatimu pingsan di jalan seperti kemarin.” Mama menatap lembut pada Virza. “Kalau memang tidak merepotkan, Tante minta tolong kamu antarkan Dian ke Butik. Tante juga berterima kasih untuk yang kedua kalinya, dan meminta maaf karena sudah merepotkan, serta menyita waktu kamu saat ini.” Ia tersenyum ramah kepada laki-laki yang telah dianggapnya begitu baik.     “Baiklah, Mam. Arkha pamit ke kantor.” Arkha hendak mencium tangan calon mertuanya, namun Mama menepisnya. Kemudian ia berjalan mendekatiku, lantas mengusap rambutku. “Sayang, aku pergi dulu ya! Maaf tidak bisa menemanimu hari ini,” ia berujar dan berlalu pergi.     Aku merasa bahwa Arkha tidak lagi menganggap penting acara pernikahaan kami. Pikiran dan hatiku juga berargumen mengenainya yang memang tidak lagi mencintaiku seperti dahulu. Saat ini yang tertangkap oleh kedua mataku yang tersembunyi di balik kaca mata hitam ini, hanyalah seorang laki-laki yang menjijikan. Aku mendapatinya sebagai seorang pria yang sombong, serta pandai bersilat lidah. Ia terkesan sedang bersembunyi di balik topeng seorang pendusta. Aku memang bisa diam, akan tetapi hatiku tidak akan pernah bisa memaafkan perselingkuhan itu. Saat ini aku merasa berjuang seorang diri menuju ke kursi pelaminan. Aku seperti sebatang kara mengejar sesuatu yang selalu diimpi-impikan oleh semua pasangan yang saling mencintai.     Aku benar-benar lelah, hingga ingin mengakhiri hubunganku dengannya. Tetapi, masalah seperti ini sudah terlanjur melibatkan kedua belah pihak keluarga. Seandainya kami masih dalam masa pacaran, aku pasti akan membuangnya sangat jauh ke kubangan berlumpur yang penuh dengan kotoran hewan. Namun, tidak ada lagi yang dapat aku lakukan. Sekarang aku hanya bisa menelan pahitnya permainan kehidupan yang sedang menyulam satu per satu benang nasib yang menyedihkan. Aku hanya bisa meratapi, betapa tragisnya kisah cintaku yang penuh dengan luka. Pernikahanku hanya tinggal menghitung hari, hingga aku tidak bisa lagi untuk melangkah mundur dari tanah beranjau tempatku berpijak. Aku hanya bisa menerima, serta merelakan hilangnya kebahagiaan yang selama ini aku inginkan.     “Kenapa kamu diam saja seperti patung? Cepatlah segera bersiap! Kasihan Virza, kalau harus berlama-lama menunggumu seperti itu.” Mama menatapku, kemudian tersenyum kepada Virza.     “T-tidak apa-apa, Tante! Saya hari ini free, tidak ada pekerjaan yang sedang menunggu saya saat ini,” ujarnya.     “Kamu ini benar-benar orang yang sangat baik. Tante jadi merasa kagum pada sifatmu ini.” Mama melangkah mendekati Virza, lantas menggenggam tangannya. “Baiklah, karena Dian adalah satu-satunya anak Tante dan tidak ada anak laki-laki di keluarga ini. Bagaimana kalau Virza menjadi anak tertua Tante dan tentunya juga sebagai Kakaknya Diandra?” Mata mama tampak berbinar.     Aku tersentak kaget dengan kata-kata yang terlontar keluar dari mulut mamaku, tampaknya Virza juga merasakan yang sama denganku. “Mama ini apa-apaan sih?! Jangan aneh-aneh deh, Ma.” Aku merasa tidak enak dengan Virza yang baru saja aku kenal, kini terlihat salah tingkah.     “T-tidak apa-apa, Diandra. Lagipula, aku juga anak tunggal. Aku akan merasa sangat senang bisa memiliki adik perempuan secantik kamu dan Mama sebaik Tante.” Senyum Virza benar-benar bisa membuat hatiku menjadi tenang.     “Kalau begitu, mulai sekarang Virza jangan panggil Tante. Tetapi panggil saja dengan sebutan Mama, sama seperti Dian.” Mama meraih tangan Virza, lantas menggenggam erat dengan kedua tangannya.     Sesuatu yang terjadi beberapa hari ini, telah membuatku benar-benar sulit untuk bisa percaya. Aku yang sudah menyaksikan tunanganku b******u mesra dengan kekasih gelapnya tidak lama ini. Namun sekarang secara tiba-tiba, aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat tampan, dan luar biasa baiknya. Sedangkan Arkha yang selama ini aku kenal, telah berubah menjadi sosok asing yang terlanjur mengikatku.     Aku merasa hidup ini memang lucu. Ketika aku terjatuh, ada seseorang yang bersedia dengan suka rela menangkapku, padahal dia tidak memiliki hubungan apa pun denganku. Kemudian saat ini, ketika aku berbohong kepada mamaku, ada seseorang yang bersedia membuat kebohongan lain untuk membelaku. Selanjutnya di saat aku bersedih dengan sikap yang ditunjukkan oleh tunanganku, ada seseorang yang dengan senyum manisnya telah membuat hatiku menjadi tenang. Itulah Alvirza Mahendra, yang sekarang ini telah menjadi kakak laki-lakiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN