Episode 10. Butik Madam Rose

1628 Kata
    Aku dan Virza telah sampai di salah satu butik ternama tempatku memesan gaun pengantin satu bulan yang lalu bersama dengan Arkha. Di hadapanku saat ini, berdiri Sebuah bangunan dengan dua lantai yang terkesan elegan. Kemudian di tengah- tengah sliding doors terdapat tulisan ‘open’ pada bagian atas, serta ‘push’ di bagian bawah yang sepertinya tebuat dari bahan akrilik berkualitas. Selanjutnya, kami memasuki butik tersebut. Di dalamnya terpampang rapi sederet berbagai model pakaian pada sisi kanan dan kiri ruangan, lantas beberapa patung dengan gaun pengantin yang sangat menakjubkan berdiri begitu eksentrik di bagian tengah.     Aku mengarahkan mata menyusuri setiap sudut ruangan untuk mencari pemilik butik tersebut, namun yang terlihat hanya para pegawai yang sedang sibuk melayani beberapa pasang pelanggan. Tidak berselang lama, Madam Rose, pemilik butik tersebut langsung datang menghampiriku yang sebelumnya tidak aku sadari kemunculannya.     “Eke sudah menunggu ka...,” Madam Rose memperhatikan laki-laki yang bersamaku. “Siapa dia?” Jarinya menyentuh hidung Virza, hingga membuat pria tersebut mundur beberapa langkah. “Kenapa bukan Arkha yang datang bersamamu?” Ia terlihat heran, lantas tampak celingukkan mencari orang yang dimaksudkannya. “Mana Laki, Ye?”     “Arkha sangat sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai ia lupa dengan pernikahan kami, Madam.” Aku tersenyum masam menyembunyikan kesedihanku.     “Mana mungkin sama pernikahan sendiri bisa lupa. Itu Laki apa Banci?” Madam Rose menggerakkan mulut tidak beraturan. “Lalu, laki-laki ini? Teman kamu? Seharusnya, kamu datang ke sini sama Mama kamu saja! Tidak baik loh, anak gadis yang mau menikah pergi dengan laki-laki selain calon suaminya.” Ia melirik Virza dengan raut wajah tidak suka.     “Apanya yang tidak baik?! Memangnya ada masalah, jika kami berdua seperti sekarang ini? Lagipula, saya dan dia tidak melakukan sesuatu yang buruk. Saya malah berhutang padanya, karena telah bersedia mengantarkan saya datang ke tempat Madam.” Aku menyanggah asumsi dari pemilik butik tersebut.     “Madam tidak ada maksud menuduh Ye macam-macam. Hanya saja pemikiran orang-orang yang pada rempong itu bisa dipastikan akan mengira, Ye ada main sama cowok ganteng ini.” Madam Rose mengalihkan pandangannya. Kemudian, ia menyentuh tubuh Virza dengan gemulai.     Aku yang sejak dari tadi merasa kesal dengan perkataan Madam Rose, tiba-tiba saja merasa ingin tertawa, ketika melihat Virza tampak begitu risih pada perilaku luar biasa yang terus diterimanya dari pemilik butik. “Madam, sebenarnya dia ini kakak laki-laki saya.”     “Kakak?!” Madam Rose mencermati setiap jengkal tubuh Virza. “Dia? Kakak laki-laki,” ia mengarahkan jari telunjuknya padaku dan Virza, “benarkah?” Ia mengerutkan keningnya tanda tidak percaya. “Sejak kapan Mona punya anak laki-laki? Bukankah anak dia itu cuma Ye, si cantik Diandra?” Madam Rose bergerak genit, sambil memainkan rambut yang meggulung di depan d**a.     “Anak Mama memang cuma saya, Madam.” Aku sedikit terkekeh.     “Terus dia? Kamu sendiri yang tadi menggamblangkannya sebagai kakak.” Madam Rose menampilkan sorot mata penuh keseriusan.     “Bukan seorang kakak kandung, melainkan anak angkat Mama.” Aku perhatikan pemilik butik itu manggut-manggut. Kemudian, aku mengalihkan pandanganku kepada Virza. “Ah iya, Kak Virza, inilah Madam Rose, pemilik butik yang telah mendesain gaun pengantinku.” Aku melihat Virza mengulurkan tangan kepada wanita setengah jadi itu.     “Saya Virza –kakak laki-laki Diandra, senang bisa mengenal Anda.” Virza berusaha bersikap sopan dengan senyum keramahan. Madam Rose menyambut uluran tangan Virza dengan sikap genitnya. “Perkenalkan, Eke pemilik tunggal butik besar ini. Kamu boleh panggil Eke, Madam Rose.” Ia berkata dengan logat yang dipermanis, serta bentuk mulut yang seperti dibuat-buat. “Eke suka deh sama cowok-cowok ganteng macam Ye, gemesin ih.” Ia mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Virza. Tanpaknya rasa tidak suka Madam Rose kepada Virza, sirna seketika setelah aku mengatakan bahwa ia adalah kakak laki-lakiku. Ia dengan tingkah yang manja, terus saja berusaha agar bisa menempel pada pria kekar yang datang bersamaku. Sedangkan Virza, ia terlihat jijik berada didekat manusia yang terbentuk dari sebagian wanita dan setengahnya seorang pria.     “Ok, Ye berdua ikuti Madam! Kita ambil gaun Dian yang telah Eke desain dengan sangat sepesial. Madam jamin, tidak akan ada yang bisa menyamai keahlianku dalam mendesain gaun itu.” Madam Rose hampir membalikkan badannya, namun terhenti ketika matanya menangkap sosok indah laki-laki yang berdiri di sampingku. Kemudian ia seketika berbalik kembali dan berkedip centil pada Virza. “Diandra-Diandra, Ye bisa geser sedikit?!” Ia memperhatikanku yang berada sangat dekat dengan Virza.     “Memangnya ada apa, Madam?” Keningku berkerut dan aku merasa ada yang aneh dengannya.     Kemudian Madam Rose berjalan, lantas ia berhenti tepat di antara aku dan Virza. Tubuh padat pemilik butik itu membuatku terpaksa bergeser sedikit menjauhi laki-laki yang diinginkannya. Aku perhatikan tingkahnya yang membuat tawaku seakan tertahan. Aku melirik ia yang tampak menggapit lengan Virza dan menyenderkan kepala pada bahu laki-laki tersebut dengan manja.     Seketika aku menangkap raut wajah Virza yang memperlihatkan rasa tidak suka. Ia terlihat pucat saat mendapati makhluk yang tidak lagi sejenis dengannya, namun masih dalam sepesies yang sama, terus saja menempel di tubuhnya. Tetapi anehnya, ia tidak menepis kegenitan tersebut, malah seakan memilih menahan semua yang dirasakannya saat ini. Aku menjadi tidak enak dengan Virza, namun kejadian langka ini cukup bisa menghibur hatiku yang masih perih. Melihat mereka berdua, sejenak bisa membuatku lupa dengan tunanganku yang telah dengan tega membagi cintanya.     “Seperti ini baru benar!” Madam Rose melirikku dengan posisi kepala masih bersender pada lengan Virza. “Ye, jauh-jauh sana!” Gerakan tangannya seakan mengusirku. “Kamu jangan dekat-dekat sama cowok ganteng ini, nanti bisa menimbulkan fitnah! Beda kalau dia sama Eke. Madam jamin tidak akan ada orang yang perduli, meski kami terus menempel kaya perangko seperti ini.” Madam Rose menarik lengan Virza, agar ia berjalan mengikutinya.     Aku bergumam, “apa Madam sungguh tidak sadar?” Aku memperhatikan sekeliling kami. “Saat ini semua mata sedang tertuju ke arahnya dan Virza. Bagaimana mungkin tidak akan menjadi pusat perhatian, jika manusia seperti Madam Rose bertingkah polah seperti itu? Apalagi dengan cowok sekeren dan seganteng Kak Virza. Aku rasa saat ini semua orang sedang menertawakan dan memandang buruk pada mereka berdua.” Aku terus berkomat-kamit sambil mengikuti Madam Rose dan juga Virza, serta memperhatikan para mata yang tidak bisa lepas dari setiap gerakan mereka.     Tidak perlu waktu yang terlalu lama, maka aku tiba di sebuah ruangan yang sangat terang dengan kaca yang cukup besar berukuran melebihi tinggi tubuhku yang hanya 160 senti meter.     “Kalian tunggu sebentar! Eke mau ambil dulu baju pengantin punya Dian,” ujar Madam Rose.     “Aku lihat, kamu sangat dekat dengan Madam Rose,” Virza berkata kepadaku dengan perasaan risih yang masih terpampang jelas pada raut wajahnya.     “Cukup dekat, sih. Dia teman kuliah Mama,” ujarku.     “Teman kuliah Mama?! Tapi, bagaimana bisa Mama punya teman seperti itu?!” Virza tampak sedikit terkejut mendengarnya.     Kemudian aku mendekatkan mulut pada telinga Virza, lantas berkata lirih, “aku kasih tahu, dia itu dulu laki-laki tulen, tapi entah kenapa bisa berubah jadi seperti itu?! Mama sendiri juga heran dengan perubahannya beberapa tahun ini.” Aku tersenyum sendiri, ketika mulai teringat cerita Mama tentang temannya sambil menunjukkan foto mereka saat masih muda.     “Benarkah seperti itu?” Virza menautkan alisnya.     “Hhmm … kamu tahu tidak? Sebenarnya, Madam Rose itu bukanlah nama aslinya.” Aku terkekeh sendiri.     “Iya, aku sering dengar mengenai itu. Orang-orang seperti mereka, biasanya memakai nama samaran atau nama pengganti.” Virza mengusap-usap dagunya yang berbulu tipis.     “Kak Virza benar. Rosidin nama aslinya,” kalimatku terhenti karena menahan tawa. “Kemudian setelah dia sukses dan penampilannya berubah 360 derajat, Madam merasa nama itu tidak layak lagi untuknya.” Aku kembali terkekeh.     “Dari Rosidin, sekarang berubah jadi Madam Rose?!” Tawa Virza mulai meledak bersamaku.     Kemudian gurauan kami terhenti, ketika Madam Rose tiba-tiba muncul bersama dengan seorang gadis yang membawa gaun pengantin berwarna putih. Kami menahan tawa sambil melekatkan padangan pada Madam Rose, perempuan yang berperawakan seperti pria, namun terlihat sangat cantik dan elegan. Sebenarnya bukan karena penampilan luar dari Madam Rose, tetapi perubahan nama yang menurut kami cukup nyambung, hingga membuat tawa kami sempat menyembur keluar.     “Apa yang sedang kalian tertawakan?!” Madam Ros bertopang dagu dengan salah satu tangannya. Seketika, Aku merasa isi pikirkanku dan Virza tampaknya senada. Kami masih ingin tertawa, tetapi kami merasa tidak enak kepada Madam Rose yang terus memandang kami dengan tatapan penuh curiga.     “Saya tertawa, karena cerita Diandra, Madam.” Virza melirikku dengan tatapan jahil. “Benarkah ceritanya selucu itu, sampai-sampai kamu tertawa dengan sangat lantang?” Madam Rose mengalihkan pandangan kepadaku.     “Iya, Madam. Dia sedang bercerita tentang Anda.” Virza kembali terkekeh. “Tentangku?” Dahi Madam Rose tampak menggulung. “Kalian pasti menjelek-jelekkanku, benarkan?” Ia menatapku.     “Ti-tidak, Madam. Mana mungkin Dian seperti itu terhadap teman Mama,” aku berusaha berkilah.     “Coba Ye jelaskan, apa yang Dian ceritakan tentang Eke?” Madam Rose menatap Virza dengan sangat serius.     “Kenapa harus saya?” Virza menunjuk dirinya sendiri.     “Masa saya harus tanya karyawan Eke ini?!” Madam Rose membuka kipas lipas kecil yang di tentengnya. “Bagaimana? Apa kamu tahu mengenai yang mereka bahas tentang Eke?” Ia sedikit melotot pada gadis mungil yang terlihat gelagapan.     “S-saya, Madam?” Pegawai Madam Rose mendaratkan pandangan matanya secara bergantian kepada aku dan Virza. “Saya baru saja datang bersama Madam, jadi bagaimana mungkin saya bisa tahu mengenai yang mereka perbincangkan?”     “Jadi di antara kalian bertiga, siapa yang mau berterus terang padaku sekarang?” Madam Rose terlihat kesal.     Aku merasa aneh dengan Madam Rose yang menyangkut pautkan pegawainya yang tentu saja tidak mengerti mengenai alasan kami tertawa. Dia baru saja muncul bersama Madam Rose dan tidak sedang bersama kami sebelum itu. Aku merasa kasihan dengan gadis mungil tersebut.     “Diandra sepertinya mau mengatakan sesuatu, Madam.” Virza sepertinya juga merasa tidak tega dengan pegawai Madam Rose.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN