Episode 11. Wedding Dress

1650 Kata
    Aku kebingungan mencari alasan yang tepat untuk menutupi kesalahan kami. Sangat tidak mungkin jika aku harus memberitahukan, bahwa yang aku ceritakan adalah kisah nyata tentang nama asli sebagai salah satu pemilik butik terbesar di kota ini. Maka dari itu, aku berusaha untuk bisa mengganti topik pembicaraan.     “Ah, M-Madam ... apakah itu gaun pengantinku?!” aku berkata sambil melangkah mendekati gadis mungil yang masih terlihat serba tidak nyaman. “Bagus sekali gaun ini! wah ... cantiknya!! Aku suka desainnya, Madam.” Aku menyentuh setiap hiasan, hingga pernak-pernik yang melekat pada gaun pengantin putih itu. “Madam memang seorang desainer profesional. Aku selalu kagum dengan semua hasil buatan tangan Madam.”      “Tentu saja sangat mempesona, karena Madam sendiri yang turun tangan secara khusus untuk merancang, dan membuat setiap detail dari gaun pengantin milik kamu itu. Sepesial pokoknya, tapi gak pakai telur.” Madam Rose termakan sanjunganku dan menyombongkan kemampuan yang dimilikinya. “Bagaimana, Dian? Apa Ye terpana sama gaun hasil rancangan Madam itu?” Ia tersenyum menatapku yang masih berbinar mencermati keindahan gaun pengantinku.     “Saya suka, sangat suka sekali dengan gaun ini! Madam benar-benar hebat!” Aku mengacungkan kedua ibu jariku. “Saya tidak bisa membayangkan akan memakai gaun pengantin yang seindah ini di pernikahanku nanti.” Bola mataku terus melekat pada gaun tersebut.     “Madam juga punya sesuatu yang sangat sepesial untuk Ye, sebentar ya!” Madam mengalihkan tatapannya pada gadis yang bediri tepat di belakang manikin dari gaun pengantinku. “Ye cepat ambilkan sesuatu yang sepesial! Eke sudah mempersiapkannya untuk Diandra! Go, go, cepat-cepat ambil! Ingat ya, yang sepesial di ruangan Eke!” Madam menggerak-gerakkan tangan menyuruh pelayan itu bergegas dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya.     “Sesuatu yang sepesial? Apa itu, Madam?" Aku mengalihkan pandanganku dari gaun pengantin itu kepada Madam Rose yang sedang memperhatikan tubuhku.     “Sebentar lagi juga Ye tahu. Eke yakin, pasti Dian bakal suka dengan hadiah yang nantinya Madam berikan untuk Ye.” Madam Rose menyentuh daguku dengan lembut.     Aku melirik Virza yang sejak dari tadi terus menempelkan matanya pada setiap gerak-gerik Madam Rose. Aku juga dapat menangkap ekspresi dari raut wajahnya. Aku tahu, bahwa saat ini dia sedang menahan tawa yang hampir meledak.     Beberapa saat kemudian, karyawan butik yang tadi datang bersama dengan Madam Rose akhirnya muncul kembali. Aku melihat gadis itu membawa kotak kaca yang di dalamnya terdapat sebuah tiara yang sangat cantik. Lalu, dia tampak berhenti tepat di depan pemilik butik tempatnya bekerja.     “Nah, ini dia yang Madam maksudkan dengan yang sepesial.” Madam Rose membuka kotak kaca tersebut, lantas mengambil tiara yang berada di dalamnya. “Madam secara khusus memesannya langsung dari teman Eke yang sangat ahli membuat perhiasan. Pasti Ye akan seperti bayangan Madam sebelumnya. Dian akan sangat cocok memakai tiara ini bersama gaun pengantin itu, akan sangat mengesankan. Semua orang jelas sekali tidak akan bisa mengedipkan matanya saat melihat Ye dengan perpaduan ini.” Ia meletakkan tiara tersebut di atas telapak tanganku.     “Kenapa kamu tidak mencobanya saja, Di?” Virza berkata dengan senyumnya yang terlihat sangat manis.     “Kamu benar-benar telah meluluhkan hati Eke.” Madam Rose berjalan mendekati Virza, lantas bergelayut mesra pada lengannya.     Detik itu juga, senyum yang terulas di wajah Virza sirna seketika. Saat ini yang terlihat, hanya rasa tidak nyaman yang tergambar jelas pada wajahnya. Namun aku terpaksa membiarkannya, karena daya tarik gaun itu telah menghipnotisku.     “Bolehkah saya mencobanya, Madam?” Aku menatap Madam Rose dengan tangan kananku menyentuh gaun pengantin itu.     “Tentu saja sangat diperbolehkan! Gaun itu kan memang Madam buat kusus untuk Ye. Jadi, dia milik Dian sekarang.” Madam menatap gadis mungil yang berdiri tepat di samping manekin. “Ye lepas itu gaun, selanjutnya kamu bantu anak Eke yang cantik ini memakainya!” ia memberi perintah pada pegawainya.     Aku melangkah ke area di mana terdapat sebuah cermin besar. Kemudian, karyawan Madam Rose segera menarik tirai panjang yang tergantung sebagai penutup fitting room yang sedang aku gunakan. Selanjutnya aku yang dibantu oleh karyawan Madam Rose, saat ini sedang mengepas gaun pengantin yang telah sebulan aku nantikan. Tidak lupa, Gadis mungil tersebut juga memakaikan tiara cantik yang menurut Madam Rose sangat sepesial itu di atas kepalaku. Aku menatap pantulan cantik dari diriku yang terlihat jelas pada cermin. Aku mencermati keindahan gaun yang saat ini telah menempel sempurna di tubuhku, bahkan setiap lekukannya juga terlihat sangat mengesankan. Gambaran diriku yang tampak anggun, membuatku merasa seperti seorang ratu yang sangat istimewa. Aku sungguh begitu puas dengan gaun hasil desain dari sahabat Mamaku itu. Memakai balutan indah ini di badanku, telah membuatku memimpikan keindahan mahligai cinta yang mengagumkan. Namun sangat disayangkan, aku tidak datang ke tempat ini bersama dengannya, hingga membuat senyum di wajahku seketika menghilang bersama dengan munculnya rasa kecewa yang menyesakkan d**a.     Kemudian Wedding dress rancangan Madam Rose yang memang didesain kusus untukku, kini telah melekat pada tubuh rampingku, hingga membuat mata gadis mungil itu menatapku tanpa berkedip sedikit pun. Sangat jelas terlihat kekagumannya pada diriku yang saat ini terbalut gaun pengantin dengan model terbaru.     “Kenapa lama sekali sih, Dian?! Eke jadi tidak sabar, nih! Madam masuk ya, Sayang?” teriaknya.     Aku beberapa kali mendengar suara hentakan high heels pada lantai marmer. “Tidak Madam!!” aku segera menyahut untuk menghentikannya. “Saya sudah selesai Mengenakannya!” Aku membalikkan badan. “Ehem …,” aku berdeham memberi isyarat. Gadis pegawai tersebut tersenyum, kemudian menyibakkan tirai yang menutupi area fitting room. Selanjutnya, aku memajukan kakiku untuk beberapa langkah.     “Oh My Girl! You are really, really very beautiful!!” sontak Madam Rose menjerit. “Cucok deh, Cin!” celetuknya.     “Aku suka kamu,” Virza berkata dengan sorot mata yang terkesan terpukau.     Seketika aku terhenyak menatap Virza yang terlihat terpesona olehku. Sedangkan Madam Rose seperti tidak menyukai ujaran yang didengarnya, bahkan pegawai mungil itu juga ikut mengerutkan kening.     “Saya rasa Anda berhasil membuat calon mempelai prianya berdecak kagum, Madam,” seloroh pegawai itu.     Madam Rose hanya tampak melongo dengan menatap karyawan wanitanya. Kemudian untuk sesaat, ruangan menjadi sepi seketika.     Namun tidak berselang lama, Virza mulai menyadari kejujuran dari kalimat yang terlanjur menyembur keluar dari mulutnya. “M-maksud saya … gaunnya cantik. Saya suka gaunnya.” Ia tertawa untuk menutupi rasa malunya.     “Tentu saja, siapa yang sudah mendesainnya?” Ia melirik pegawainya.     “Madam Rose!” Ia bersorak dengan alunan suara yang dibuat-buat untuk menjawab pertanyaan dari pemilik butik tempatnya bekerja.     “Yups … betul sekali! Eke telah membuat ball gown dengan memadukan gaya modern vintage, antara kain organza berkualitas dengan taburan kistral swarovski, serta tambahan lace-up di beberapa bagian.” Madam Rose berjalan mendekatiku. “Eke sudah membayangkan, Ye pasti telihat seperti tuan putri kerajaan antah berantah saat pakai gaun ini.” Ia begitu mengagumi hasil karyanya.     Aku kembali menatap cermin, lantas memutar setengah badanku ke kiri dan ke kanan. “Aku kira ini sejenis mutiara dan ternyata bukan.”     “Ye jangan salah, itu mutiara bukan yang asal comot dari sembarang perut kerang. Teman Eke ahlinya soal perhiasan. Dia membuatnya khusus, karena Eke yang memintanya. Pokoknya untuk Mona, aku bakal kasih segalanya yang terbaik deh.” Madam Rose memebetulkan posisi gaunku, agar lebih enak di mata.     Aku memperhatikan sebuah tiara emas dengan rentetan mutiara yang bertengger di atas kepalaku. Aku memang terlihat mengagumkan dengan perpaduan gaun yang tiada duanya, sekaligus mahkota cantik yang begitu mempesona.     Aku menahan tawa membayangkan gelagat lucu dari teman Mama yang terkagum-kagum dengan dirinya sendiri. Kemudian aku kembali memperhatikan pantulan diriku pada cermin. “Apakah benar gaun rancangan Madam Rose ini yang telah membuatku begitu menarik? Aku rasa tidak, karena aku memang sudah cantik dari sebelum mengenakan gaun ini.” Aku melirik gadis manis pegawai Madam Rose yang sejak dari tadi terus saja memperhatikanku. Sedetik kemudian, kami berdua saling menatap dan tersenyum bersama.     “Bagaimana? Ini terlihat sangat cocok denganmu? Ye suka tidak sama gaunnya?” Madam Rose terlihat menanti jawabanku.     “Gaun buatan Madam benar-benar membuat saya tampak berbeda.” Aku memperhatikan setiap detail dari gaun yang kukenakan. Kemudian, aku menatap pemilik butik tersebut. “Saya sangat menyukainya. Terima kasih, Madam.” Aku memperhatikan kembali gaun yang melekat di tubuhku. “Ini pasti akan sangat mahal. Apa aku sanggup membayarnya? Padahal aku hanya memesan yang sederhana saja, karena budget kami memang terbatas.” Aku menatap sedih pada gaun yang sangat indah ini.     “Itu urusan Madam sama Mama kamu. Jadi, Ye tidak perlu ambil pusing masalah uang. Tidak perlu berterima kasih juga, karena hanya melihat gaun rancangan Eke yang menempel dengan sangat fantastik di tubuh Dian saja sudah bisa membuat Madam sangat puas.” Laki-laki yang beralih menjadi seorang wanita tersebut tersenyum sambil memainkan rambutnya. “Eke benarkan, Virza? Dian terlihat sangat menawan hati.” Ia mengalihkan pandangannya kepada Virza.     Aku melihat Virza yang hanya diam terpaku seolah bola matanya tersangkut pada diriku. Ia seperti sedang berada di dalam dunianya sendiri. Matanya berbinar-binar menatapku, seolah-olah ia telah menemukan sebuah berlian area persawahan terendam air. Baru kali ini aku benar-benar merasa bangga dengan diriku sendiri. Di dalam balutan gaun pengantin yang sangat glamour ini, aku telah membuat seorang laki-laki tampan tidak bisa mengedipkan matanya, meski hanya untuk sekejab saja. Andaikan saja Arkha berada bersamaku saat ini, apakah ia juga akan menunjukkan sikap yang sama? Apa ia akan bisa melupakan Anggita setelah melihatku mengenakan gaun ini? Sangat disayangkan, saat ini aku hanya bisa menelan ludahku sendiri menahan perih.     “Hai, Ganteng!! Hallo … Virza!!” Madam Rose berusaha menyadarkan Virza yang sedang terhanyut, namun laki-laki itu sepertinya tidak sedikit pun bergeming.     “Hai!!” Madam Rose mengeluarkan suara laki-lakinya yang terdengar garang. “Mata Ye itu, jangan lupa kedip-kedip! Gak boleh melihat milik orang seperti itu! Dian sudah ada yang punya. Ye tidak boleh terperangkap dalam pesonanya! Jangan jatuh cinta sama gadis orang!” Madam Rose tertawa melihat Virza yang terlihat panik menutupi rasa malu atas sikapnya. “Lebih baik sama Madam saja! Apa Eke harus membuat gaun yang serupa dengan milik Dian buat gaet cowok macam Ye ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN