Meskipun Madam Rose sudah menegur, tapi Virza masih tidak menarik sorot matanya yang terjatuh padaku. Kemudian Madam Rose melangkahkan kaki mendekati Virza, lantas melingkarkan lengan pada leher laki-laki yang wajahnya tampak masih salah tingkah itu. Kemudian ia mengecup pipi Virza, hingga hampir saja mendaratkan bibir tebalnya pada mulut pria yang saat ini sedang tertawan oleh pesonaku.
Sontak Virza terkejut, seketika itu juga dia langsung melepaskan lengan Madam Rose dari lehernya. Ia mendorong tubuh wanita tersebut, lantas dengan sigap melangkah mundur, agar bisa sedikit lebih jauh dari makhluk yang dianggapnya aneh itu. Ia sepertinya merasa risih dan tidak nyaman dengan sikap Madam Rose terhadapnya, hingga memunculkan ekspresi kengerian pada wajah tampannya. Beberapa kali ia terlihat menggosok-gosok pipi, hingga wajahnya berubah memerah. Aku dan pegawai mungil itu pun tertawa beriringan melihat tingkah mereka berdua. Aku terus memperhatikan Virza yang tampak menghindar, sedangkan Madam Rose terus menempel.
“Madam jangan bersikap seperti itu terus dengan saya! Anda benar-benar membuat saya merasa tidak nyaman.” Virza memperlihatkan raut wajah tidak senang.
“Ini cowok keren, sih. Tapi Eke rasa pendengarannya bermasalah. Salah satu cowok ganteng yang otaknya tidak dipakai buat mikir. Ini, nih … yang jadi masalah.” Madam Rose menunjuk pada kedua mata Virza. “Bola mata Ye itu, tidak boleh nyantol ke Diandra! Dia itu sekarang sudah ada yang punya. Ye dengar apa tidak, sih? Dasar laki-laki mata keranjang!” Kemudian, senyum centil menghiasi wajahnya. Ia meraih lengan Virza, lantas bergelayut dengan mesra. “Bagaimana, kalau Ye terpesonanya sama Madam saja? Madam tidak kalah cantik kok dengan Dian.” Ia semakin mempererat genggaman tangannya, ketika Virza berusaha membebaskan diri. “Dan yang pasti, Eke masih single, belum ada hak miliknya. Ibarat tanah, masih belum ada sertipikatnya.”
“I-iya, Madam memang cantik, tapi jangan seperti ini!” Virza berusaha melepaskan tangan Madam Rose yang semakin rapat. “Malu sama mereka yang sekarang sedang melihat kita berdua,” ujarnya beralasan. Apa Anda tidak merasa malu seperti ini dengan saudara dari pelanggan Anda?”
“Sudah deh, jangan malu-malu seperti itu! Lagipula, di sini hanya ada pegawai Eke dan Dian. Jadi, Ye jangan berpura-pura lagi merasa tidak senang telah mendapatkan perlakuan istimewa dari makhluk secantik Eke.” Madam Rose semakin mesra dengan merapatkan tubuhnya pada lengan Virza.
“Saya sangat tidak nyama dengan perlakuan Anda terhadap saya.” Virza berusaha melepaskan pelukan Madam Rose.
“Tidak apa-apa, lama kelamaan pasti juga akan menjadi nyaman, hingga Ye ngejar-ngejar Eke minta jatah lebih.” Madam melingkarkan lengannya pada leher Virza.
“S-saya bisa kasar sama Madam, kalau Anda seperti ini terus!” Virza mulai sedikit meninggikan suaranya.
“Eh … jangan seperti itu! Tidak baik bersikap kasar dengan teman Mama angkat kamu.” Madam Rose mulai mendekatkan wajahnya.
Virza seketika memalingkan wajahnya. “L-lihat itu, Madam!” Ia berteriak membuat Madam Rose dan juga kami tersentak kaget. Kemudian, ia menunjuk ke arah gaun yang saat ini masih aku kenakan. “S-sepertinya ada yang kurang dengan wedding dress-nya?!” Ia berusaha mengalihkan perhatian.
“Apa yang kurang?” Madam Rose melepaskan tangannya, lantas berjalan mendekatiku tanpa sedetik pun melepaskan pandangan dari gaun pengantin yang aku kenakan. “Menurut Eke tidak ada yang kurang. Bagaimana menurut Ye, Dian?” Madam Rose menatap mataku.
“Menurut saya, gaun ini sudah sangat sempurna. Aku bahkan tidak pernah menyangka bisa memiliki ini di acara pernikahanku.” Aku memperhatikan gaun yang terpasang di tubuhku saat ini.
“Jadi, apa yang kurang?” Madam menatap Virza dengan sangat serius.
Virza tampak berpikir untuk sejenak. “Bukankah biasanya pengantin mengenakan tudung di kepalanya?” Virza tampak tersenyum aneh. “Heels juga harusnya senada dengan gaun Madam yang luar biasa itu, benarkan?”
“Tudung?!” Madam Rose mengamati kepalaku dan aku sama sekali tidak mengerti dengan apa dimaksudkan oleh Virza.
Untuk sejenak ruangan berubah menjadi kembali sepi. Tidak ada sedikit pun dentingan suara yang terdengar. Saat ini aku hanya bisa melihat berpasang-pasang mata sedang memperhatikanku dari ujung kepala, hingga ujung gaun yang aku kenakan. Tampaknya mereka sedang terhanyut dalam pemikiran masing-masing. Tetapi menurutku sendiri, gaun ini sudah sangat sempurna, dan aku belum pernah melihat gaun yang seindah ini. Akan tetapi sangat disayangkan, gaun seindah ini berada di dalam pernikahan yang tidak lagi diharapkan.
“Iya Virza, Ye benar. Bagaimana Madam bisa melupakannya? Gaun tanpa tudung itu bagaikan langit malam tanpa bintang, sangat tidak sempurna. Sama sekali tidak bisa jadi cucok kalau begini.” Madam Rose terlihat semakin lebih serius, melangkah mendekat, dan menyentuh gaunku.
“Akhirnya ….” Terpancar aura kelegaan di wajah Virza.
“Tapi menurut saya, ini sudah sangat sempurna, Madam. Gaunnya sudah terlihat ramai, jadi tidak perlu lagi memakai tudung seperti yang Kak Virza maksudkan.” Aku berkilah, agar tidak menjadi semakin berlama-lama berada di butik Madam Rose.
“Hemm ... tidak, Sayang. Madam memang harus memberikan tudung yang cocok dengan gaun yang Ye kenakan. Dian dan Virza tunggu di sini sebentar, Madam akan pilihkan tudung yang sangat indah.” Madam tersenyum kepada ku dan setelah itu mengedipkan sebelah matanya kepada Virza. “Untuk heels-nya, kamu baru bisa ambil besok ke sini.”
“Ke sini?! Kembali lagi ke butik?” Wajah Virza seketika berubah pucat.
“Tidak perlu! Lusa pasti akan Madam kirim saja ke rumah Dian,” ujarnya.
“Syukurlah,” raut muka Virza langsung kembali menjadi cerah. “Carikan tudung yang panjang Madam! Biar nanti Dian tidak bisa kabur dari pernikahannya.” Virza tampak menyeringai memamerkan deretan gigi putihnya.
“Bukan aku yang akan kabur dari pernikahan, tetapi mungkin saja mempelai prianya yang akan melarikan diri dariku,” sergahku sambil tersenyum masam.
“Mana mungkin ada mempelai pria yang akan kabur, jika ada gadis secantik kamu yang menjadi mempelai wanitanya?”
Madam Rose tertawa, kemudian melenggang pergi bersama pegawainya dengan membiarkan gaun pengantin yang masih menempel pada tubuhku. Sekarang yang tertinggal hanyalah aku seorang diri dan Virza di ruangan ini. Seandainya saja Arkha ada di sini bersama denganku, aku pasti akan sangat bahagia. Tapi sangat mustahil, karena semua ini hanya tinggal menjadi sebuah harapan yang akan segera terkubur.
“Jangan dianggap serius! Aku hanya bercanda saja. Mana mungkin ada laki-laki yang dengan bodohnya kabur meninggalkan mempelai wanita secantik kamu, Diandra. Seandainya aku yang jadi mempelai pria, aku pasti akan memborgol tanganku denganmu, agar tidak ada cowok lain yang akan merebutmu dariku.” Virza membantuku berjalan menuju ke sofa berwarna kuning tulang. “Kamu terlalu cantik untuk disia-siakan.”
“Kamu ini bisa saja, Kak. Seandainya Arkha berpikir seperti itu, mungkin saat ini dia pasti akan ada di sini bersamaku, dan bukannya kamu.” Aku tersenyum menimpali perkataan Virza.
“Kalau begitu, sepantasnya aku harus berterima kasih kepada calon suamimu.” Virza membantuku untuk duduk. “Aku sangat senang bisa menemanimu di sini.”
“Berterima kasih? Untuk apa?” Aku mengerutkan kening merasa tidak mengerti.
“Iya, seandainya dia tidak mengizinkan aku mengantarmu, pasti aku tidak akan bisa melihatmu yang begitu cantik dengan gaun ini.” Tatapan lembut Virza seolah menggetarkan hatiku.
“K-kakak ini, paling bisa ya membuat aku tertawa.” Kami akhirnya tertawa bersama dan sesaat kemudian, kami pun terdiam untuk sejenak.
“Tetapi Di, aku benar-benar tidak mengerti dengan tunangan kamu itu. Bukankah ini adalah hari-hari penting untuk pernikahan kalian? Tetapi, kenapa dia malah mempercayakan kamu kepadaku? Padahal aku dan kamu baru saja saling mengenal.” Virza bertanya dengan pandangan mata yang tampak menerawang seperti sedang membayangkan sesuatu.
“Aku rasa, dia sudah tidak terlalu berantusias lagi dengan pernikahan kami. Mungkin saja, dia bahkan sudah tidak menginginkanku ada di kehidupannya lagi.” Aku berusaha menahan air mata yang hampir saja menetes.
Virza sepertinya menyadari guliran air yang telah menggenang di pelupuk mataku. Kemudian dia mengambil sesuatu di dalam saku celananya, lantas menyerahkan sebuah sapu tangan berwarna putih dengan garis abu-abu padaku. Ia terlihat begitu mengkhawatirkanku dengan perhatiannya yang luar biasa.
“Untuk apa sapu tangan ini? Aku tidak sedang berkeringat. A-aku juga tidak sedang menangis.” Aku berusaha menahan air mataku, tetapi gagal.
Seketika itu juga aku memalingkan wajah, agar Virza tidak melihat tangisku yang membanjir. Tetapi tampaknya perkiraanku salah. Ia berdiri, kemudian melangkah, setelah itu membungkuk tepat di hadapanku. Tanpa bersuara sepatah kata pun, Virza menyeka air mataku dengan sapu tangan yang diambilnya kembali dari tanganku. Aku menangkap wajahnya tepat sebelum kepalaku tertunduk malu. Dia terlihat menatapku dengan sorot mata sayu, serta memberi senyum penenang hati. Virza mengusap wajaku dengan tangan kanan dan menggenggam tanganku dengan tangan kirinya. Aku benar-benar merasa seperti terlindung dari sebuah malapetaka besar yang saat ini menyelubungiku.
“Aku ada di sini, sudah jangan menangis!” Virza menepuk pelan punggungku.
Sekarang bersama denganku ada laki-laki lain yang menjagaku, namun sangat disayangkan dia bukanlah tunanganku. Di tempat ini bersama denganku, ada Virza yang bersedia menghiburku. Sedangkan Arkha, tunanganku, di mana dia berada? Aku bahkan tidak bisa percaya, bahwa dia sekarang sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Aku tahu semua yang dia ucapkan hanya sebuah alasan untuk menutupi kepalsuannya. Aku merasa, mungkin saat ini dia sedang sibuk berselingkuh dengan w************n itu. Air mataku semakin deras mengalir, isak tangis semakin menjadi, hingga Virza mengambil langkah untuk merengkuhku masuk ke dalam dekapannya.
Seperti inilah yang seharusnya Arkha lakukan padaku. Tidak semestinya, ia hanya memberiku kekecewaan yang menyakitkan, serta meninggalkan luka yang teramat dalam di hatiku. Arkha yang sekarang, ia cuma bisa membuatku dirundung kesedihan, hingga mengganti rasa bahagiaku dengan kepiluan. Siapa sebenarnya yang telah menjadi mempelai priaku saat ini? Arkha ataukah Virza yang sangat begitu perduli denganku? Dia ataukah laki-laki ini yang bersedia memberikan perhatiannya untukku? Aku semakin menyesal memiliki hubungan dengannya, memilih ia menjadi tunanganku, hingga aku merasa jatuh terpuruk ke dalam kesedihan saat ini. Andaikan Virza adalah calon suamiku, aku pasti akan membalas pelukannya dengan sangat erat. Namun saat ini, aku hanya bisa mematung dalam kesedihan yang teramat dalam.