Aku sudah lelah menangis, sampai-sampai tangisku mengering meninggalkan sembab pada mata. Aku merasa lega setelah beberapa hari ini menyimpan kesedihan seorang diri. Aku hanya bisa terdiam dalam dekapan Virza, hingga seolah-olah kehangatan tubuhnya terus membangkitkan energi yang mengalir di dalam diriku. Aku telah menjadi calon pengantin dari Arkha Pramudya, tetapi kenapa aku seperti ini dengan pria lain? Dia adalah sosok yang aku kenal belum lama ini. Dia hanyalah seorang laki-laki yang berusaha mengoleskan obat penyembuh di atas goresan pisau yang ditimbulkan oleh tunanganku. Aku merasa begitu aman, jika bersama dengannya.
Namun aku tidak ingin seperti ini terus dengan Virza. Aku merasa tidak sepantasnya terlena dengan sihir kenyamanan yang berasal dari pelukan pria lain. Aku tidak ingin label tukang selingkuh yang sudah aku sematkan untuk Arkha, kini akan berbalik padaku. Akhirnya, aku melepaskan diriku dari rengkuhan hangatnya. Aku menarik napas dalam-dalam. Dengan sapu tangan milik Virza, aku menekan-nekan kedua kelopak mataku, hingga seolah membenamkan hatiku yang masih terasa pedih pada sehelai kain kusut itu. Selanjutnya aku menyandarkan punggung pada sofa empuk yang menempel di tubuhku.
Kemudian tanpa aku sadari, Madam Rose kembali muncul bersama dengan pegawai mungilnya. “Eh-eh ... kenapa gadis cantik Eke menangis?!”
Aku menegakkan tubuh, membenarkan posisi dudukku, dan kain tersebut terlepas dari genggamanku. Aku yang merasa bingung, seketika secepat kilat berusaha menutupinya dengan membentangkan sapu tangan pada wajahku. Aku tidak ingin Madam Rose terlalu lama mencermati raut mukaku.
Kemudian Virza juga tampak terkejut dengan suara yang berasal dari balik punggungnya, hingga ia termangu menatap Madam Rose yang terlihat panik mendapati petaka di mukaku saat ini. Virza sepertinya berniat mengutarakan sesuatu, namun mulutnya hanya tampak berkomat-kamit saja.
“Virza!! Ini pasti ulah kamu, benarkan?!” Madam Rose menarik lengan Virza, hingga laki-laki itu berdiri tegak dari tempat duduknya. “Kamu apakan Gadisku?!” Ia terlihat sangat menakutkan dengan sikap kelelakian yang sangat jelas terpancar dari ekpresinya.
Aku sangat terkejut melihat perubahan Madam Rose, mataku merekam sisi lain dirinya yang sama sekali belum pernah aku lihat. Dari tingkah polahnya yang selama ini tertangkap oleh mataku, aku belum pernah mendapati kepribadiannya yang seperti saat ini. Wanita ini benar-benar terlihat seperti seorang pria. Aku memergoki seseorang yang memiliki kepribadian ganda.
“Kenapa diam saja? Cepat jelaskan padaku! Kenapa Dian menangis?!” Ia mengeluarkan suara aslinya yang garang. “Aku tidak akan pernah membiarkan seorang pun menyakiti anak Mona! Kamu dengar itu?!” sentaknya, sambil mengangkat kerah baju Virza.
Seketika itu juga timbul kekagetanku melihat seorang wanita berstatus pria telah menampakkan kemarahanya yang begitu besar, hingga memunculkan tenaga yang sangat kuat. Aku merasa takut, sekaligus bingung mengambil langkah yang tepat untuk menghadapinya. Tapi sepertinya, kemarahan Madam Rose semakin menjadi-jadi. Aku berusaha meredam emosi pemilik butik itu, namun gagal. Langsung saja dengan panik aku berdiri di antara mereka
“Duag!!”
Pukulan tangan Madam Rose yang seharusnya mendarat di wajah Virza, kini dengan telak mengenaiku dagu kiriku. Seketika itu juga mataku menjadi buram untuk sesaat, hingga aku terhempas jatuh ke lantai. Kemudian tanpa aku sadari, ternyata darah segar mengalir keluar dari sudut mulutku. Aku merasa seakan linglung dengan sekeliling yang tampak berputar di mataku.
Madam Rose melangkah mundur dan berteriak histeris dengan suaranya yang sudah kembali normal. Ia merasa terlihat terkejut dengan segala yang terlanjur terjadi. Sedangkan gadis kecil pegawainya itu, tiba-tiba saja tergeletak tidak sadarkan diri.
“Aku sudah bersabar dengan sikapmu yang menjijikkan itu! Tapi tidak untuk sekarang, dasar Banci!!” Virza mengangkat kepalan tangannya.
Aku memejamkan mataku dan segera berdiri. “Kak Virza! Stop!!” Aku mehan tangan Virza agar tidak terangkat semakin tinggi. “Please!” Aku memohon padanya. “Jangan membuat suasana menjadi semakin panas! Aku mohon!” Aku menatapnya dengan mengiba.
“Aku tidak perduli, meski harus membunuh manusia jadi-jadian ini!” Virza menyingkirkan tubuhku, namun aku kembali menghadangnya. “Minggir kataku!! Aku harus memberi pelajaran pada makhluk tidak jelas itu! Dasar manusia tidak berperasaan.” Virza menjadi naik darah. “Dian, menyingkirlah dariku! Aku tidak ingin, jika kamu sampai terluka karenaku.”
“B-bukan salah Eke, jika pukulanku mengenainya,” Teriak Madam Rose membela diri. “A-aku sungguh tidak tahu dia mendadak muncul di tengah-tengah. Sumpah, Eke benar-benar tidak sengaja.” Ia terlihat seperti tidak ingin dipersalahkan atas segala ulah yang telah ditimbulkannya.
Virza melayangkan tinjunya. “Kau ini sungguh–!”
“Diam kalian berdua!” teriakku kesal. “Kak Virza, turunkan tanganmu! Duduk!” Aku menunjuk pada sofa kuning tulang yang berada tepat di belakangnya. “Sudah Madam, diam! Aku tidak mau lagi ada keributan di sini. Kepalaku pusing, wajahku juga ngilu. Apa itu belum cukup bagi kealian berdua? Apa Kak Virza dan Madam mau bergantian memukulku, biar kemarahan kalian bisa reda?” Aku menyemburkan kekesalanku pada kedua makhluk yang tidak tampak serupa.
Aku mendengus dengan kasar sambil menatap Virza yang masih menampakkan sorot mata sinis yang tertuju pada musuhnya. Ia terlihat seperti harimau yang setiap saat bisa menerkam mangsanya. Laki-laki yang sejak dari tadi menahan ketidaknyamanannya terhadap perilaku wanita setengah pria itu, sepertinya meledak melihatku tersakiti.
Sedangkan Madam Rose tampak masih terus menggerutu dengan tingkah centilnya. Sesekali aku memergokinya melirik aku dan Virza. Ia seakan tidak terima, jika terus di persalahkan atas kejadian yang menimpaku beberapa menit yang lalu.
“Madam, dengarkan dulu penjelasan Dian! Bukan Kak Virza yang membuat Dian menangis.” Aku beralih menatap Virza. “Madam percayalah, Kak Virza tidak mungkin berbuat buruk padaku.” Aku kembali menatap pemilik butik tersebut. “Tidak mungkin, jika seorang Kakak tega menyakiti adiknya sendiri. Madam telah salah sangka padanya.”
“Benarkah itu?” Madam Rose menatap Virza dengan sorot mata bengis. “Kamu jangan sekali-sekali membela laki-laki seperti dia, nanti dia bisa ngelunjak!” ucapnya ketus. Lagipula, kalian baru saja mengenal dan dia bukan Kakak kandung kamu,” sanggahnya.
“Sekarang malah jadi Madam yang membuatku menangis.” Air mataku tanpa terasa mengalir.
Virza dengan cepat berdiri dan menghampiriku. Kemudian, ia mengusap-usap punggungku dengan lembut. “Diandra benar, saya hanya mencoba menenangkan perasaaannya, agar tidak terus-terusan menangis.” Virza tampak masih berusaha menahan amarah.
“La-lalu kenapa Dian menangis, kalau bukan Ye penyebabnya? Di ruangan ini tidak ada orang lain lagi selain kamu dan Dian. Ye ini jangan coba berkilah dariku!” Madam terdengar culas.
“Kau ini … dijelasin salah, tidak dijelasin malah bikin ulah. Sebenarnya, mau kamu apa? Ayo, ngomong sekarang!!” Virza kembali baik pitam. “Apa aku harus memukul kepalamu yang penuh dengan pikiran gila itu?!”
“Dari tadi Ye maki-maki Eke terus. Padahal Eke sudah sangat suka sam Ye, Virza. Tapi kalau begini, cinta Eke sama kamu bisa luntur.”
“Buang saja cinta kamu itu ke laut, sekalian nyemplung sana, biar di makan Hiu hidup-hidup. Aku gak sudi menerima pernyataan cinta dari makhluk macam kamu!” sentaknya.
“Ih … kejamnya, Ye sangka Eke ini makanan ikan? Enak aja kamu menyamakan wanita secantik Eke dengan perumpamaan menjijikkan itu.”
“Aku mohon kalian berhentilah!” Tangisku semakin meledak. “Madam dengarkan Dian! Aku menangis bukan karena Kak Virza, tapi karena Arkha tidak bisa menemani saya ke sini. Seharusnya dia melihat betapa cantiknya aku dengan gaun buatan Madam.” Aku terisak. “Dia seringan itu dan dengan tega menyerahkan tanggung jawabnya kepada laki-laki lain.” Tangisku semakin menjadi. “Aku sedang sedih saat ini, tapi kalian malah memberiku hiburan seperti ini.”
Madam Rose menggenggam tanganku. “D-Dian, sudah jangan menangis!” Ia mengusap air mata yang terus membasahi pipi. “Madam tidak akan berdebat lagi dengan Virza. Cup, cup … anak gadis Eke yang cantik.” Wanita itu memelukku.
“Madam yang telah salah mengira,” ucapku.
“K-kenapa jadi Madam yang disalahkan terus? Dian juga sih, Kenapa Ye tidak bilang dari tadi? Lagipula, Arkha mungkin benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Bukankah ia melakukannya untuk kebahagian rumah tangga kalian?” Madam Rose menghela napas. “Tetapi dia juga telah salah, karena membiarkan pria lain bersama dengan mempelai wanitanya begitu saja.” Madam Rose menatapku dengan iba. “Kamu juga salah, kenapa tidak menyusun jadwal yang tepat, biar kalian bisa bareng datang ke sini?!”
“Aku lagi yang salah, Madam?” Aku kembali terisak.
“I-iya bukan kamu, Madam yang salah. Sudah jangan menangis lagi, malu dilihat orang!” Kemudian ia melepaskan pelukannya, lantas melangkah ke arah Virza. “Maaf ya, Virza. Eke hampir saja merusak wajah Ye yang ganteng. Kalau Eke tahu pokok permasalahannya sejak awal, tidak mungkin yang seperti ini bakal terjadi.” Madam Rose menyentuh wajah Virza. “Loli, cepat Ye ambilkan obat untuk … eh, kenapa ini anak malah tidur di sini?” Madam Rose berjalan mendekati pegawainya yang sedang pingsan. “Hai, Loli!! Wake up!!” teriaknya. “Ye jangan enak-enakkan tidur di saat kerja! Pegawai Eke satu ini, benar-benar bikin malu saja.” Ia menendang-nendang pelan pada tubuh Loli yang tergeletak di lantai.
Tangisku seketika terhenti melihat tingkah aneh yang dilakukan oleh Madam Rose. “M-Madam, jangan begitu! Dia tidak lagi sedang tidur.” Aku berusaha menghentikannya yang terus saja mengutak-atik badan pegawainya dengan kaki.
“Lalu, ada apa dengannya?” Madam Rose mengerutkan kening sambil menatap Loly.
“Dia pingsan, Madam!” Virza menimpali dengan ketus.
“Pingsan? Bagaimana mungkin pegawai Eke sampai tidak sadar seperti ini?” Madam Rose terlihat kesal. “Benar-benar … Eke sudah berkali-kali memperingatkan semua pegawai di sini. Kalau mereka merasa tidak enak badan, lebih baik jangan masuk kerja. Eke jadi merasa seperti penjajah yang telah memaksa karyawannya kerja romusa.” Madam Rose menghela napas dan kemudian berkacak pinggang. “Ye berdua, jangan sekali-sekali berpikir, kalau Eke ini bos yang kejam! Eke benar-benar sudah memberi kelonggaran untuk semua pegawai Eke di butik ini.” Madam Rose menatap aku dan Virza secara bergantian.
“Teman Mamamu ini memang agak gila,” Virza berbisik di telingaku.
“Bukan cuma sekedar teman, tapi mantan pacar,” imbuhku dengan suara lirih.