Aku mendapati ekspresi keterkejutan Virza, setelah mendengar kenyataan tentang masa lalu Mamaku. Aku terus memperhatikan ia yang dengan membelalakkan mata mengamati Madam Virza dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
“Bagaimana mungkin?” Virza menunjukkan raut wajah skeptis. “Mama mau sama orang model kaya dia gitu?” Ia menatap ngeri pada sosok mantan pacar Mamaku.
“Itu masa lalu yang memalukan, jadi jangan di bahas! Mama juga selalu marah, jika Papa mengungkin masa lalunya dengan Madam Rose,” bisikku.
“B-baiklah,” Virza terlihat membuka mulut, lantas menutupnya kembali. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, namun merasa tidak enak. Kemudian tiba-tiba, dia terkekeh pelan. “Dia lebih cocok jadi penjaga rumah sakit jiwa, bukan sebagai pemilik butik,” Virza juga berkata lirih padaku.
“Jangan, sayang sekali kalau seperti itu! Rancangan gaunnya tidak kalah dengan desainer papan atas. Kamu sudah lihat sendiri hasil karyanya?! Aku juga melihatmu terpesona denganku, setelah aku mengenakan gaun ini,” aku menimpalinya.
“Bukan hasil desainnya, Diandra. Tetapi memang yang pakai sudah cantik, makanya terlihat bagus.” Virza tampak terkekeh.
“Hai, hai! Kenapa kalian berdua malah ngerumpi sendiri sih? Eke benar-benar dibikin pusing, kalau terus-terusan seperti ini.” Madam Rose terlihat semakin kesal. “Eh, Ye … Vir-Virza, coba bantu Eke angkat ini karyawan ke sofa. Bikin susah saja!! Sakit tapi masih tetap kerja, tapi untung saja Dian yang di sini. Bagaimana coba, kalau seandainya pelanggan Eke yang lain? Bisa-bisa butik Eke dianggap tidak profesional.” Ia menggerutu sambil mengangkat tubuh pegawainya seorang diri, sedangkan Virza hanya melongo melihatnya. “Baiklah, Eke keluar sebentar ambil minyak angin dulu. Ye berdua, jagain itu karyawan Eke!”
Madam Rose berjalan keluar ruangan meninggalkanku dan Virza bersama dengan karyawannya yang masih terbaring pingsan di atas sofa. Aku dan Virza saling berpandangan, sesaat kemudian suara tawa langsung meluncur leluar dari mulut kami. Aku dan Virza sepertinya sepemikiran, bahwa makhluk itu memang sangat unik, lucu, dan aneh. Aku belum pernah bertemu dengan orang yang memiliki karater seperti Madam Rose. Mungkin di dunia ini, bisa dikatakan satu banding beribu-ribu untuk orang sepertinya. Aku juga merasa amarah Virza kepada wanita itu sepertinya sudah menghilang, hingga kami bisa tertawa bersama berkat Madam Rose.
“Teman … eh, pacar Mama benar-benar memiliki tempramen yang aneh.” Virza tergelak.
“Aku juga baru pertama kali melihatnya seperti itu.” Aku juga ikut tertawa mengiringinya.
Virza berhenti tertawa dan raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. “Aku sampai lupa, bagaimana dengan wajahmu?” Ia menyentuh sudut bibirku dan mengusap-usapnya untuk membersihkan darah yang sepertinya mengering memerah meninggalkan bekas.
“Akhh … adu-duh!! Sakit, Kak!” Aku melenguh. “Ternyata hasil dari pukulan Madam bisa sesakit ini.” Aku tertawa dengan sesekali merasa nyeri.
“Meskipun dia manusia setengah jadi, tapi Madam tetam saja laki-laki. Jadi tenaganya pasti mendekati pria normal.” Virza mengusap pipiku perlahan.
“Tidak baik menyebut orang seperti itu. Dia juga manusia, sama sepertiku dan Kak Virza. cuma, dia sedikit berbeda saja dengan kita,” ujarku.
Aku merasa menyesal telah menertawakannya. Madam Rose adalah teman mamaku yang pernah mengisi hatinya di masa lalu. Jadi sangat tidak sopan, jika aku membenarkan ucapan Virza yang menyebutnya manusia setengah jadi. Aku juga belajar dari mamaku untuk menghargai setiap keputusan dan pilihan orang lain. Walaupun Madam Rose sangat berbeda dengan manusia pada umumnya, akan tetapi dia tetaplah hasil karya Yang Maha Kuasa.
Tanpa aku sadari, suasana berubah menjadi lebih romantis. Virza terus menyentuh ujung mulutku, hingga meraba lembut bibirku. Seketika itu juga, mata kami saling beradu. Kemudian untuk sesaat kami terhanyut dengan suasana yang memanas. Ruangan menjadi sunyi seketika. Bahkan aku telah lupa, bahwa aku sedang berada di butik milik teman Mama. Selanjutnya Virza semakin mendekat, hingga jarak wajah kami hanya tinggal beberapa senti meter lagi untuk saling bersentuhan. Lalu aku bisa merasakan hembusan napas Virza yang menghangat, hingga beberapa saat berlalu, dan mulut kami hampir beradu. Selanjutnya aku pejamkan kedua mata dan merasakan kedua tangan Virza dengan lembut menyentuh wajahku. Saat ini aku benar-benar terhanyut bersama dengannya. Saat ini aku seperti melupakan segala status yang menggantung hidupku.
“Kenapa aku terbaring di sini? Apa yang sedang kalian lakukan?”
Aku langsung beranjak menjauh dari Virza. Kemudian membalikkan badan menghadap pada pemilik suara yang menyadarkan kekhilafanku. Aku benar-benar seperti tersihir olehnya. Aku yang tadinya terbawa suasana dengannya, hampir saja melakukan kesalahan, dan melanggar prinsipku. Seandainya tadi aku telah berciuman dengan Virza, itu berarti aku sudah mengkhianati kesetiaanku pada Arkha. Jika perbuatan itu benar terjadi, pasti aku akan menjadi seseorang yang telah menodai sebuah hubungan yang tulus dan suci, hingga seperti menjilat ludahku sendiri.
Aku merasa wajahku saat ini mulai memanas karena menahan malu. Aku melirik Virza dengan kepala yang masih tertunduk. Aku mencuri pandang pada Virza yang sepertinya merasa serba salah, hingga ia terlihat mengacak-ngacak pelan rambutnya yang tertata rapi.
“Kenapa kalian hanya diam saja di situ? Bisakah kalian membantuku berdiri? Aku tidak bisa mengingat segala yang telah terjadi. Kepalaku terasa sakit sekali.” Loli memegang keningnya.
“Ah iya, maaf. Kami tidak begitu mendengarmu,” kataku gugup.
Aku membantu pegawai itu menegakkan badan. Sepertinya aku harus berterima kasih kepadanya, karena kesadarannya telah membuatku tidak terlanjur menjadi seorang pengkhianat. Berkat Loli, aku masih bisa memegang prinsipku, bahwa hubungan harus berdasar pada cinta, kesetiaan, kejujuran, dan saling terbuka mengenai segalanya. Meski pun hanya sepihak, setidaknya masih ada di dalam ikatanku, dan aku akan menjaganya.
“Apa kamu baik-baik saja?” Aku melihatnya berdiri sempoyongan. “Kamu tidak amnesia, kan?” Aku mengkhawatirkan Loli yang telah mengalami benturan cukup keras di kepalanya.
“Aku baik-baik saja, terima kasih. Sepertinya saya harus menemui Madam untuk meminta izin pulang lebih awal, kepalaku terasa sangat berat dan terasa sakit.” Pegawai itu mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. “Ma-maaf, di mana Madam Rose? Saya tidak melihatnya di sini?” Loli menatapku dan Virza secara bergantian sambil memegang kepalanya.
“Madam sedang keluar mengambil minyak angin untukmu, tadi kamu sempat jatuh pingsan.” Virza berusaha menjelaskan situasi yang telah terjadi di luar kesadaran gadis itu, namun sepertinya ia masih sibuk menjelajah dengan melihat ke sisi lain dari tempat kami berada.
“Begitukah? Baiklah, saya akan keluar mencarinya.” Ia berjalan dengan lunglai.
“Apa aku perlu mengantarmu? Kamu terlihat tidak sedang baik-baik saja.” Aku merasa khawatir dengan pegawai tersebut.
“Ah, terima kasih. Saya merasa baik-baik saja. Saya akan mencarinya sendiri. Maaf jika saya sudah banyak merepotkan kalian.” Loli memaksakan diri untuk tersenyum.
Kemudian pegawai wanita itu hendak beranjak pergi melewati pintu ruangan, namun seketika tubuhnya bertubukan dengan badan Madam Rose.
“Ma-Madam–”
“Ye mau ke mana?” Madam Rose mendorong tubuh pegawainya yang masih menempel padanya. “Jangan dekat-dekat sama Eke!”
“I-iya, maaf Madam.” Loli terlihat ketakutan.
“Aku heran sama Ye. Kalau sakit itu di rumah saja, jangan malah bikin susah orang di sini!” sentaknya.
“Ma-maafkan saya, Madam.” Suara gadis itu terdengar terbata-bata.
“Apa perlu Eke pecat Ye? Bikin malu saja!” ujarnya.
“J-jangan, Madam! Aku butuh uang buat Ibu saya yang sedang sakit.” Loli terlihat panik.
“Makanya jaga kesehatan! Jangan malas kerja, apalagi sampai pingsan di butik ini!” ucap Madam Rose ketus.
“S-saya pingsan, ka-karena melihat Madam pukul pelanggan,” Loli mengutarakan kejadian yang sebenarnya.
“Jadi Ye berani nyalahin Eke, karena kerjamu yang tidak professional itu?” Madam Rose terlihat sangat marah.
“Ma-maafkan saya, Madam. Saya yang telah lalai dalam bekerja. Saya janji lain kali tidak akan pernah terjadi lagi yang seperti ini.” Loli membungkukkan badan. “Saya mohon Madam bersedia memberi kesempatan sekali lagi. Jangan pecat saya, Madam!”
“Eke tidak mungkin membiarkan karyawan seperti Ye, yang dengan berani membantah kalimat Eke. Loli, Ye itu Cuma bawahan dan Eke yang punya butik ini. Apa Ye sadar dengan ucapanmu barusan?”
“Saya memang bukan pegawai yang baik. Saya benar-benar minta maaf,” suara Loli terdengar parau.
Aku merasa kasian melihat gadis muda itu memohon-mohon dan mengiba pada Madam Rose. Ia terlihat begitu ketakutan dan merasa tertekan. Gadis itu tampak seperti seseorang yang sangat berat melepaskan pekerjaannya. Aku mengerti dengan yang sedang Loli rasakan saat ini, tidak banyak perusahaan yang bersedia menerima karyawan begitu saja. Terlepas dari pekerjaan yang satu, tidak akan mudah beralih pada pekerjaan yang ke dua.
Kemudian, aku melangkah mendekati mereka. “Madam, kasihan Loli. Aku juga meminta kesempatan untuknya. Apa Madam tega melepas pekerjaan seorang anak yang mengkhawatirkan Ibunya? Bukankah Madam juga seorang wanita? Bagaimana perasaan Madam, jika anak perempuan Anda memohon-mohon seperti ini pada orang lain?”
“Ba-baik … k-kamu ikut denganku. Madam punya sedikit titipan untuk Ibu kamu di rumah. Setelah itu, kamu boleh pulang lebih awal. Madam tidak akan memotong gaji kamu,” Madam berkata sambil melirikku. “Tapi hanya untuk hari ini, tidak ada lain kali lagi, jika kamu melakukan kesalahan yang sama seperti sekarang ini.”
“Sa-saya mengerti, terima kasih, Madam.” Loli beralih menatapku. Terima kasih juga untuk bantuan Anda.” Ia membungkukkan tubuhnya di depanku.
“Ti-tidak perlu seperti ini.” Aku merasa tidak enak dengannya.
“Terima kasih terus. Sudah-sudah, sekarang Ye ikut Eke.”
Kemudian Madam Rose dan Loli pergi meninggalkan ruangan tempat kami berada. Aku kembali melangkahkan kaki perlahan, lantas duduk pada sofa tersebut. Seketika itu juga, rasa kikuk dan serba tidak enak muncul kembali di antara kami. Detik berlalu meninggalkan menit-menit yang terus dikejar waktu, untuk sesaat ruangan menjadi sunyi. Sesekali hanya lirikan kami saja yang saling berbenturan, namun seketika itu juga kami langsung memalingkan wajah di arah yang berlawanan. Aku masih merasa malu menatapnya, mungkin Virza juga merasakan yang sama denganku. Aku mencuri pandang memperhatikan ia yang melangkah mendekati sofa. Kemudian ia duduk, mengambil sapu tangan yang tergeletak di lantai dan memainkannya. Kami berdua hanya saling membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ada niatku untuk mengawali, namun aku kembali menelan kalimatku. Rasa kikuk ini benar-benar membuatku tidak nyaman bersama dengannya.