Episode 15. Pengakuan

1564 Kata
    Di ruangan yang sunyi ini, aku melihat Virza yang bertingkah seakan ingin mencoba mengatakan sesuatu kepadaku. Namun sepertinya, ia tampak ragu untuk melakukannya. Aku beberapa kali memergokinya yang tampak tidak bisa tenang dengan sesekali melirikku, serta seperti mencoba untuk bersuara. Aku merasa Virza sedang memikirkan sesuatu, tentunya itu pasti tentang diriku. Apakah dia berpikir, bahwa aku adalah seorang gadis yang tidak setia? Mungkinkah ia telah menganggapku seorang gadis gampangan? Seorang gadis yang hampir saja menerima ciuman darinya dengan begitu mudahnya. Aku benar-benar tidak menyukai diriku saat ini.     Meskipun aku berusaha menghentikan suara-suara yang berkesinambungan di dalam kepalaku, namun anehnya suara tersebut tidak berkurang, tapi malah semakin bertambah. Aku merasa ada dua kubu yang berlawanan di dalam otakku yang saat ini saling berperang melemparkan argumentasinya masing-masing. Aku calon istri Arkha, tetapi aku tidak mengerti dengan diriku sendiri yang terus memikirkan laki-laki lain. Sekarang ini aku hanya berpusat pada seseorang yang sedang berada tidak jauh dariku. Sedangkan tentang tunanganku, hatiku merasa ingin membuangnya ke tempat yang sangat jauh, hingga sekilas terlintas di batinku niat untuk melemparkan calon suamiku itu bersama dengan kekasih rahasianya ke dalam jurang yang tidak berdasar. Aku bahkan sempat menginginkan untuk bisa menukar mempelai priaku dengan Virza. Aku juga berpikir, jika seandainya yang bersama Anggita adalah Virza, maka aku pasti akan bisa berada di sini bersama dengan Arkha. Tetapi itu sangat tidak mungkin, semua hanya hayalanku yang tidak akan pernah akan terjadi. Gadis p*****r itu mengenal calon tunanganku, bukan seorang yang menjadi kakak laki-lakiku. Sedangkan yang tertulis di kartu undangan pernikahan kami adalah namaku dan Arkha, bukanlah Virza.     “Dian–”     “Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini tentangku. Asal kamu tahu, aku bukan wanita seperti itu. Aku adalah seorang gadis yang berperinsip sebagai sebuah tumpuan hidupku. Semua yang kita lakukan tadi, aku sama sekali tidak sadar dengan segala yang terjadi. Jadi aku minta, kamu tidak berpikir negatif tentangku. Aku juga tidak ingin kita mengungkitnya lagi. Aku harap semua telah selesai hanya sampai di sini.” Aku berusaha membela diri.     “Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti dengan yang kamu katakan. Untuk peristiwa yang telah terjadi, aku sungguh meminta maaf. Semua itu benar-benar di luar kendaliku. Aku memang telah salah dengan kelancangan yang tidak seharusnya, hingga membuatku melakukan perbuatan itu pada seorang gadis yang akan menjadi milik pria lain. Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang telah aku lakukan, tapi aku bisa memberi tahumu dengan pasti, bahwa saat itu aku hanya mengikuti kata hatiku saja.” Virza tampak menghela napas. “Namun kali ini, aku tidak sedang membahas tentang mulut kita yang hampir bertaut. Aku hanya ingin mengungkapkan sesuatu yang terus membuatku merasa sesak untuk bernapas, hingga aku seakan tidak nyaman, jika sedang bersama denganmu.” Virza beranjak dari tempat duduknya. Kemudian ia berdiri tempat di hadapanku, lantas berjongkok, dan memegang tanganku. “Diandra, dengarkan aku! Aku hanya akan mengatakannya sekali saja, saat ini, sebelum kamu menikah. Lalu setelah itu, kamu akan benar-benar menjadi milik orang lain, dan aku,” ia terlihat sedih, “aku tidak dapat melangkah lebih jauh lagi dari ini. Aku tidak bisa untuk terus menjatuhkan harga diriku. Hanya untuk kali ini saja, maka aku akan mengacuhkan segala kepantasan yang ada.” Pancaran sorot mata penuh kesedihan yang terlihat, seolah menelan duniaku.     “Kak Virza … katakan saja, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu?” Aku merasa seperti seakan ada yang menabuh gederang di dalam diriku.     “Aku ... apa kamu masih ingat saat pertama kali kita bertemu?” Ia tersenyum penuh arti.     “Aku tidak terlalu yakin. Saat itu aku sedang tidak sadarkan diri, namun samar-samar sepertinya aku sempat menatap wajahmu.” Aku berusaha menggali ingatanku.     Senyum Virza terasa menyejukkan. “Aku terus memperhatikanmu di kejauhan. Kamu begitu cantik, hingga membuatku meninggalkan mobil begitu saja dengan mesin yang masih menyala. Lantas aku mengikutimu, melangkah semakin mendekat, hingga kamu tergeletak pingsan di dalam pelukanku. Sejak saat itu, aku telah jatuh hati padamu. Kamu sungguh telah membuat jantungku bergetar dari pertama aku melihatmu berjalan sempoyongan di persimpangan jalan waktu itu. Kemudian aku mulai berpikir, mungkin saja aku bisa mendekatimu dengan perlahan, hingga suatu saat, aku bisa sedikit demi sedikit mengambil hatimu. Selanjutnya, kita akan memiliki hubungan yang lebih dari sekedar untuk saling mengenal.”     “Bukankah hubungan kita sekarang ini sudah lebih dari itu? Kamu saat ini sudah menjadi seorang Kakak di hidupku. Kamu sudah mulai menjadi orang yang berarti untukku,” ujarku.     “Tidak … Diandra, bukan ikatan seperti itu yang aku maksudkan. Aku menginginkanmu sebagai pemilik dari hatiku. Aku mengharapkamu menjadi seorang istri yang sangat berharga untukku. Tetapi, tampaknya aku telah sangat terlambat. Jantungku seakan berhenti berdetak ketika aku mengetahui, bahwa pernikahanmu sudah ditetapkan. Aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa menjadi seorang kakak sudah lebih dari cukup. Bisa berada dekat denganmu, menjagamu, dan melindungimu, semua itu telah menjadi sebuah kesempatan yang sangat bernilai untukku. Tetapi ternyata hatiku menolaknya, cintaku terus menginginkan sesuatu yang lebih dengamu. Aku terlalu mengharapkan rasa ini tidak hanya bertepuk sebelah tangan. Aku sangat menginginkan bisa memiliki dirimu seutuhnya.”     Kesedihan yang tersirat dari suaranya, seakan bisa menembus hatiku. “Tapi, Kak–”     “Iya, aku tahu ini salah, Di. Tidak sepantasnya aku mengatakan ini kepada wanita yang sebentar lagi akan menikah, tetapi aku tidak sanggup untuk menahannya. Aku bukan seorang ahli yang bisa menentukan tempat untuk cintaku berlabuh. Aku tidak mampu mengendalikan segala yang aku rasakan padamu. Hatiku terus berkata ingin nemilikimu, Diandra. Tapi semua tidak mungkin terjadi, kamu telah menjadi milik orang lain, dan aku hanya mengharapkan kesempatan yang sia-sia saja. Sekarang aku cuma sekedar ingin mengungkapkan semua yang aku rasakan kepadamu, tidak untuk lebih dari itu.”     “Maafkan aku, Kak. Mungkin aku akan memilihmu, jika kamu datang di hidupku lebih cepat dari sebelum aku mengenalnya.” Aku merasa tidak rela melepaskan laki-laki sebaik Virza.     “Mungkin memang sudah menjadi takdir kita dipertemukan seperti ini, jadi kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirnya. Diandra, jodoh bukanlah kita yang mengatur, namun aku akan berusaha untuk mengikhlaskanmu. Kamu juga tidak perlu menghiraukan semua yang telah aku katakan padamu saat ini, di tempat ini. Aku akan baik-baik saja, asalkan aku masih bisa dekat denganmu, meskipun hanya sebagai seorang Kakak untukmu. Kamu tidak perlu memperdulikanku, hingga merasa tidak nyaman setelah ini. Anggaplah seperti kamu sedang bermimpi, dan jika terbangun nanti, maka semua hanya akan menjadi sebuah kenangan. Namun aku minta, jangan lupakan tentang hari ini. Meski kamu akan menganggap semuanya sebagai kenangan yang buruk, tapi aku ingin kamu mengingat, bahwa telah tercipta seorang laki-laki yang akan selalu ada untukmu.” Virza menantapku dengan pandangan aura kemesraan yang penuh cinta.     “Meskipun kita belum lama saling mengenal, dan kamu juga orang yang cukup aneh, namun aku merasa aman bersama denganmu. Aku yakin kamu laki-laki yang baik, hingga wanita yang nantinya akan mendapatkamu, pasti akan sangat beruntung. ” Air mataku mulai menggenang.     Virza menegakkan tubuhnya dan kembali duduk di sampingku. “Ah ... leganya! Aku sudah tidak sanggup, jika harus memendam rasa ini lebih lama lagi.” Virza menatapku. “Apa kamu tahu seperti apa rasanya menahan perasaan seperti itu?” Ia menatapku dan aku menggelengkan kepala. “Rasanya, seperti ada berjuta bom waktu yang setiap saat akan meledak di jantungmu, hingga membuat tubuhmu menjadi hancur tidak berbentuk. Menyembunyikan cinta itu sangat sulit dan membuatku selalu merasa resah. Mungkin penyebabnya karena aku seorang yang suka dengan keterusterangan, jadi segala sesuatu yang ditutup-tutupi pasti akan menjadi semakin menyakitkan buatku.” Ia seperti telah melepas beban berat yang ditanggungnya. Kemudian dia tersenyum kepadaku dengan mata berninar, namun itu tidak dapat menutupi kemuraman yang terpancar dari rona wajahnya.     “Kenapa kamu berterus terang seperti ini denganku, Kak? Kenapa kamu tidak menyimpan saja semuanya sendiri?” Aku mulai terisak. “Sebentar lagi aku akan menikah dengan laki-laki yang sangat aku cintai, dan tentunya dia juga mencintai ....” Aku tidak bisa lagi melanjutkan kata-kataku. Saat ini air mata telah mengambil alih, hingga tangisku sepertinya lebih lihai mengungkapkan semua yang aku rasakan, dari pada sebuah kejujuran dari mulutku sendiri.     Seketika Virza kembali berlutut di hadapanku. “Di–Dian ... aku sungguh tidak bermaksud membuat kamu merasa sedih karena pengakuanku ini. Aku hanya sekedar mengungkapkan segala yang ada di benakku. Aku cuma ingin membebaskan sesuatu yang terus mengganjal di hatiku. Aku sungguh sudah sangat senang bisa menjadi seorang Kakak buatmu. Sudahlah, Di. Aku mohon jangan menangis! Aku akan baik-baik saja, meski pengakuan cintaku tidak berbalas.” Virza menghapus air mataku yang terus terjatuh.     “Aku menangis bukan karena kamu, tapi aku mengkhawatirkan pernikahan yang aku sendiri bahkan tidak tahu lagi akan jadi seperti apa. Saat ini aku sedang meratapi kebahagianku yang telah menghilang. Aku menyesal telah melewatkan waktu yang begitu lama bersama dengannya. Di sini ada kamu yang mengatakan cinta padaku, sedangkan di sisi lain, aku kehilangan dia yang mencintaiku.” Air mataku semakin membanjir.     Aku mendapati mata Virza yang membelalak untuk sesaat. “Kenapa kamu berkata seperti itu?” Virza terlihat panik sambil mengusap air mataku dengan sapu tangannya. “Dari awal kita bertemu, aku memang sudah merasa kamu sedang terluka, namun penyebab dari luka itu kamu simpan sendiri di dalam hatimu.” Ia menggenggam tanganku. “Diandra, luapkan saja semuanya padaku. Aku bersedia menjadi tempat untukmu berbagi duka. Ceritakanlah padaku, apa yang sebenarnya terjadi denganmu?” Virza kembali berjongkok di hadapanku.     “A–aku ... tidak, Kak. Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku tidak bisa!” Tangisku semakin hebat, hingga membuatnya menjadi terlihat semakin bingung menghadapiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN