Virza berdiri tegak, duduk tepat di sampingku, merangkulku, hingga meletakkan kepalaku agar bertumpu pada d**a kirinya. Kemudian, ia menggenggam sebalah tanganku dan meremas-remasnya dengan lembut. Aku seperti mendapatkan ketenanganku kembali hanya dengan bersandar padanya. Ia seperti seorang malaikat yang sedang mengusir kesedihan yang telah merengkuhku. Aku sangat berterima kasih, karena keberadaannya sudah mengurangi dukaku. “Jangan kamu simpan sendiri segala masalah yang saat ini menindihmu! Jika kamu tidak sanggup untuk menanggungnya, maka lebih baik lepaskan saja semua yang telah membuat luka di hatimu. Aku akan membantumu membawa beban berat itu. Biarkan aku mencoba meringankan rasa sakitmu, berbagilah denganku.” Virza tersenyum manis, perhatiannya membuatku tidak bisa meno

