Air mataku terus mengalir, entah apa yang aku tangisi saat ini, yang pasti aku hanya ingin mengeluarkan semua sesak yang mengganjal di d**a. Semakin lama pandanganku mulai kabur, tapi aku masih bisa melihat dari balik bias-bias air mata. Aku memergoki wajah Ale yang terkejut, sekaligus tidak senang dengan keberadan Virza yang begitu dekat denganku. Ia pun berbalik, lalu kembali masuk ke dalam ruangan di mana Arkha menjalani perawatan. Aku benar-benar sudah tidak perduli lagi tentang anggapan semua orang mengenai diriku. Saat ini hanya aku yang bisa merasakan sakitnya berjuang seorang diri untuk mempertahankan hubungan yang jelas-jelas telah rapuh, bahkan kini mungkin hancur tidak bersisa. Batinku mengeluh, “salahkah aku, jika menginginkan lagi cinta yang selama ini telah aku dapat

